Cinta Karena Mandat (Revisi)

Cinta Karena Mandat (Revisi)
Bab 58


__ADS_3

Binsik selesai. Mereka kembali ke rumah. Habib mandi keringat. Ia dipinjami baju Sigit untuk ganti. "Nih pakai baju Abang dulu"


Habib mengangguk dan berlalu ke kamar mandi. Maryam datang menghampiri Abang dan Papahnya. "Kalian gak jahil kan?"


Mereka hanya tersenyum dan menaik turunkan alisnya. "Kira-kira?"


"Hish, abang! Kasihan dia! Dia baru selesai sifht lho, pastilah capek. Bisa gak sih jangan pada jahil!" Maryam kesal dengan jawaban Sigit.


Habib keluar dari kamar mandi. Maryam memberikannya minuman. "Minum dulu mas, maafin mereka ya? Mereka memang begitu, suka jahil"


Habib menegak habis minuman itu. "Tenang, mas gak diapa-apain kok sama Abang dan Papah kamu"


"Tuh! Dengar kan?? Makanya jangan suudzon"


Papah Bagas hanya tersenyum. "Bib, habis ini jadi imam. Kamu tahu kan Maryam seorang kowad? Lalu bagaimana jika kamu ditinggal tugas?"


"Tergantung dari Maryam pah. Jika Maryam tetap ingin menjadi kowad saya siap ditinggal. Tapi jika mundur dari kesatuannya saya bahagia sekali" terang Habib.


Papah Bagas dan Sigit menatap Maryam. "Kamu sudah siap meninggalkan dunia tentaramu?" tanya Sigit. Maryam mengangguk.


"Oke, 3 bulan setelah resepsi Sigit suruh orang tuamu untuk datang melamar anak Papah"


Habib dan Maryam saling pandang senang. "Serius pah?" Papah Bagas mengangguk. "Tapi lihat nanti, bisa tidak jadi imam yang baik? Papah itu tidak masalah kamu mendekati anak Papah. Tapi ya begitulah resiko abdi negara. Yang menjadi prioritasnya bukan keluarga melainkan negara. Harus sabar dan ikhlas menerima keadaan jika kamu memilih bersama Maryam"


"Iya om, terima kasih. Sejak dekat dengan Maryam saya sudah memikirkan konsekuensi yang harus saya jalani kelak. Awalnya memang kami ragu, sempat putus nyambung tapi akhirnya dapat solusi untuk masalah ini. Intinya adalah jika kita mencintai seaeorang, kita tidak boleh egois. Harus saling mengalah, dan lebih banyak berkomunikasi"


Sigit tersenyum mendengar ucapan Habib. "Kamu lebih dewasa dari umurmu ternyata, pantas Maryam betah sama kamu"


Adzan berkumandang, mereka sepakat untuk menunaikan sholat terlebih dahulu. Habib menjadi imam untuk anggota keluarga itu. Sigit menyenandungkan iqomah, Habib mengambil tempat paling depan.


"Shaf tolong dirapatkan" Papah Bagas tersenyum mendengarnya. Sepertinya sudah biasa menjadi imam.


"Allahu akbar" Habib bertakbiratul ikhram. Mereka larut dalam khidmat. Melaksanakan kewajiban sebagai umat.

__ADS_1


"Assalamualaikum warahmatullah" Habib membaca salam menandakan sholat sudah selesai. Mereka menyalami masing-masing mukhrim dan makhramnya. Habib memimpin doa.


Dilanjutkan makan siang. Mereka makan dengan sesekali bercanda. Ali baru saja tiba. "Assalamualaikum" ucapnya saat masuk rumah.


"Waalaikum salam" jawab semuanya. Maryam melihat siapa yang datang. "Oalah, calon manten. Ayo masuk bang, makan siang dulu"


"Papinya Hana ada gak Mar?" tanya Ali. Maryam mengangguk. "Papinya Hana, coba namanya siapa?" tanya Maryam. Ali nyengir dan menggeleng.


Maryam tepok jidat. "Mau nikahin anaknya, nama bapaknya gak tahu. Piye sih bang? Hahaha. Namanya om Raka Atmajaya, maminya Salma Ardhitama, adik dari papah"


Ali mengangguk. "Bisa tolong panggilkan gak Mar? Abang sudah telat nih, adek eh maksudku Hana sudah gondok ke Abang gegara telat. Buruan, biar bisa abang kumpulkan hari ini"


"Orangnya lagi makan bang.... masa orang makan disuruh ngisi berkas? Nanti sih, tunggu sebentar. Kak Hana ngambek biarin saja. Nanti juga moodnya bagus lagi. Kak Hana tuh gak bisa marah lama-lama"


Papi Raka bersama Mami Salma keluar melihat tamu yang datang. "Oh calon mantu toh, mana berkasnya?" pinta Raka. Ali menyalami mereka berdua dan menyerahkan berkas nikah kantor itu.


"Hana masih di rumah sakit?" tanya Mami Salma. Ali mengangguk. "Masih tan, habis ini baru saya jemput Hana"


"Sudah mau jadi mantu kok panggilnya begitu? Panggil kami seperti Hana memanggil kami. Papi dan Mami" ucap mami Salma. Ali mengangguk.


Ali merogoh ponselnya di kantong seragamnya. Ia menelpon Hana. "Assalamualaikum dek, Abang sudah di parkiran. Mau dijemput..." ucapan Ali terpotong karena Hana sudah menutup telponnya.


Hana berjalan dengan muka kesal menuju mobil Ali. "Waduh, wajahnya kenapa masam begitu?" Ali melihat jam tangannya. "Telat hampir 2 jam pantas lah dia mukanya begitu muram. Tenang Al, pasang wajah manismu"


Hana membuka pintu mobil dan masuk. Ia memasang seatbelt tanpa melihat wajah Ali terlebih dahulu. "Dek...."


"Hmm?!!" jawab Hana. Ali melajukan mobil meninggalkan rumah sakit. "Maaf ya Abang telat jemputnya. Tadi macet di jalan, terus ke rumah dulu minta tanda tangan papi. Jadinya jemputnya telat deh"


Hana menghela nafasnya. "Huft... Sudah lah jangan dibahas lagi"


Ali menoleh sebentar ke Hana. "Senyum dong, nakutin tahu kalau wajah kamu muram begitu. Hehehehe"


"Apa sih?!" Hana tersenyum malu kepada Ali. "Hahaha, gitu kan cantik"

__ADS_1


"Gombal ih" jawab Hana. "Kita kemana dulu nih bang?"


"Ke rumah sakit bhayangkara dulu, habis itu foto gandeng, ikut pulang ke Ungaran sebentar. Abang mau memperkenalkan kamu sama Bapak dan Ibu, mereka masih perjalanan dari Rembang. Kemungkinan sampai nanti ba'da ashar. Ngumpulin berkas, lalu tinggal nunggu dipanggil untuk sidang pra nikah"


Hana mengangguk. "Kamu sudah makan Bang?" Ali menggeleng. "Belum, kamu sendiri?" Hana menggeleng.


"Ya sudah nanti makan setelah foto gandeng saja ya?" kata Ali. Hana mengangguk. Tak lama mobil terparkir sempurna di halaman rumah sakit bhayangkara itu. Ali langsung menuju pendaftaran.


Mereka akan melakukan serangkaian tes kesehatan. Agak sedikit memakan waktu, hampir 1 jam mereka di rumah sakit itu. Selesai itu, mereka menuju studio foto untuk melakukan foto gandeng.


"Mau makan dimana?" tanya Ali. Hana menggeleng. "Perutku sakit bang, sepertinya mau menstruasi deh. Coba ke masjid sebentar bang, adek mau cek dulu"


Ali mengangguk. Hana segera keluar dan menuju toilet masjid. Dan benar saja, ia sedang menstruasi. Ia kembali ke mobil. "Gimana?" tanya Ali.


"Iya bang, adek mens. Nanti mampir swalayan bentar ya? Adek mau beli pembalut" Ali mengangguk. Hana mengusap-usap perutnya. "Sakit dek?"


Hana mengangguk. "Lha gimana? Apa abang antar pulang saja?" Hana menggeleng. "Gak enak sama Bapak dan Ibu bang, adek gak papa. Nanti sekalian beli obat untuk mengurangi nyerinya. Kalau kurang minum air putih memang begini ok"


Tak lama, ada swalayan dan sebelahnya adalah apotek. Hana turun membeli pembalut, Ali turun membelikannya obat. Selesai dengan urusan itu, mereka kembali ke mobil. Melanjutkan perjalanan ke Ungaran.


"Dek, telpon papi dulu, kamu ikut ke Ungaran" Hana mengangguk dan mengirim chat ke papinya. "Sudah. Kamu lapar gak Bang? Adek tadi beli roti nih, mau adek suapkan?"


Ali terkejut mendengar ucapan Hana. Hatinya berdesir. Wajah keduanya sama-sama merona. "Ha?" jawab Ali.


.


.


.


Like


Vote

__ADS_1


Komen


Tip


__ADS_2