Cinta Karena Mandat (Revisi)

Cinta Karena Mandat (Revisi)
Bab 143


__ADS_3

Selesai buka bersama, mereka bercengkrama saling canda. Jihan melihat Marya, Luna, Habib, dan Danang masih sibuk dengan daftar tamu undangan mereka. Membuatnya sedikit iri.


Muti melihat sorotan mata Jihan. "Han, kenapa?" tanya Muti.


"Hmm? Gak, gak papa. Eh, aku cuci piring ya? Kasihan Mas Si kalau suruh cuci piring segitu banyaknya sendirian" Kata Jihan langsung menuju dapur. Shanum yang sedang semangat beberes ikut mengekor di belakang Jihan.


"Jihan kenapa mbak Mut?" tanya Hana. Muti mengangkat bahunya. "Gak tahu tun Han. Tapi, kayaknya dia agak iri melihat mereka sibuk ngurus pernikahan mereka"


Hana mengangguk. "Oo... memang Bima belum ngurus ini itu?"


Muti mengangkat bahunya lagi. "Entah, aku pun gak tahu Han. Jihan jarang cerita ke aku kalau Bima sudah mempersiapkan segalanya atau belum"


"Bim, kapan tanggalnya kamu sama Jihan?" tanya Hana langsung pada intinya. Bima tersenyum.


"Segera mbak" jawabnya singkat. "Iya, segera itu kapan?" paksa Muti.


Bima hanya menyengir. "Ih, Bima sih begitu kalau ditanya. Gak jelas" Imbuh Muti lagi.


Adzan isya' berkumandang. Mereka segera berwudhu. Melakukan sholat jama'ah isya' dan tarawih bersama di masjid dekat rumah Muti.


Selesai tarawih Bima dan Jihan berpamitan terlebih dahulu. Sedangkan yang lain memilih tetap tinggal di rumah Muti.


"Mau kemana sih buru-buru?" tanya Sigit. Bima yang sedang memasukkan perkakas milik mamah Jihan hanya tersenyum.


"Gak kemana-mana kok Ndan, cuma mau ngajak jalan dia aja" jawab Bima. Jihan yang sudah menyelesaikan perhitungan biaya catering langsung menyusul Bima.


"Hati-hati pulangnya. Bilangin makasih sama mamah" ucap Muti sambil cipika-cipiki.


"Iya, nanti aku bilangin. Pamit ya semuanya...." Jihan melambaikan tangannya kepada yang lain.


"Bim, buruan dihalalin ah temen aku, jangan cuma dijadikan mainan lho ya? Awas kalau sampai bikin dia sedih!" Muti mengancam Bima. Bima hanya tertawa dan memberikan hormat pada istri komandannya itu.


Mobil melaju meninggalkan rumah Muti. Jihan lebih banyak diam. Pikirannya sedang gundah gulana. Bima heran dengan sikap Jihan.


"Kenapa sih? Hmm? Kok diem...." tanya Bima sambil mengelus-elus rambut Jihan. Jihan menyingkirkan tangan Bima.


"Gak papa, capek aja" jawabnya singkat. "Capek kenapa sayang? Mana yang capek? Mau mas pijitin?" Bima masih mencoba merayu Jihan.


"Gak perlu, aku mau pulang aja"

__ADS_1


"Lhah, mas mau ngajak kamu ke toko perhiasan kok" Jihan tiba-tiba langsung semangat. "Mau ngapain disana mas?" tanyanya menahan kegirangannya.


"Mau beli cincin dan seserahan"


Jihan semakin mengembangkan senyumnya. "Buat aku ya?" Bima menoleh dan tertawa. "Geer kamu! Bukan! Buat sepupu mas, dia minta tolong ke mas karena dia sibuk banget. Dia percayakan semuanya sama mas"


Seketika hati Jihan bagaikan dihantam palu besar. Kecewa. "Oohhh...." jawabnya. Tak lama, mereka sampai di sebuah mall.


"Nyarinya disini saja ya? Kan sekalian nyari buat seserahannya. Ukuran calonnya sepupunya mas se kamu, jadi nanti tolong cobain cincin dan seserahannya mas pasrahkan semua ke kamu. Mau kan bantuin mas?"


Jihan mengangguk terpaksa. Bima menggandeng tangan Jihan, tapi Jihan menolaknya. "Gak enak dilihat orang mas" alasannya. Bima hanya mengangguk.


Jihan dan Bima masuk terlebih dahulu ke sebuah toko perhiasan. Jihan dan Bima melihat model cincin yang ada disana. "Mau yang kayak apa?" tanya Jihan.


"Terserah pilihan kamu"


Jihan berdecak. "Yang mau nikah siapa, yang repot siapa!" jawabnya. Bima hanya tersenyum. "Yang ikhlas"


"Iya iya! Mbak mau yang itu!" Jihan menunjuk sebuah cincin emas dengan diamon-diamon kecil melingkari setengah bagiannya, yang untuk lelakinya hanya ada satu diamond di bagian tengahnya.


"Bagus gak?!" tanya Jihan sewot. Bima mengangguk. "Coba dulu" Jihan mencobanya dan pas.


"Bungkus mbak" kata Bima. "Mas bayar dulu. Kamu duduk aja disitu dulu" Jihan merebahkan dirinya di sofa besar di toko itu. Wajahnya cemberut. Kesal. Bima membayar tagihannya.


"Sudah? Mana cincinnya?" tanya Jihan. "Diukir nama dulu, langsung bisa jadi kok. Kita cari seserahan dulu, alat sholat, sepatu, tas, make up, baju couple, peralatan mandi, dan pakaian dalam"


"Itu semua juga ukuran aku??" Bima mengangguk. "Aneh ih" katanya. "Yang ikhlas dong sayang"


"Iya iya!"


"Kamu kenapa sih?? Kayaknya kok uring-uringan"


Jihan berjalan keluar dari toko tanpa.menjawab pertanyaan Bima. Ia mulai berburu barang-barang yang Bima sebutkan. Memilih desaign yang bagus dengan harga mahal, memberi pelajaran bagi Bima. "Biarin aja duit sepupunya habis! Salah sendiri gak bisa mandiri"


Jihan sudah mendapatkan semuanya. "Kamu mau apa?" tanya Bima. "Mau pulang! Capek!"


"Iya, habis naruh barang di asrama mas antarkan pulang" Jihan kembali berdecak. "Antarkan dulu aku pulang!"


"Gak bisa, nanti mas gak ada yang bantuin nurunin barangnya. Ayo ambil cincin dulu" Jihan semakin kesal dengan kelakuan Bima. "Sumpah! Gak peka banget sih kamu mas!" umpat Jihan. Bima menoleh.

__ADS_1


"Ngomong apa?"


"Eng-enggak, gak papa" jawab Jihan gelagapan. Mereka sudah mengambil cincinnya, lalu segera kembali ke mobil. Bima melajukan mobil menuju asrama polisi. Jihan tetap cemberut. Tak berselang lama, mereka.twlah tiba di depan asrama Bima.


Jihan membantunya menurunkan barang-barang belanjaannya. Setelah selesai, Bima merebahkan dirinya di sofa. "Ayo antar aku pulang!"


"Bentar yank, capek. Tolong buatkan mas minum" Jihan berdecak. "Yang ikhlas" kata-kata andalan Bima muncul lagi. Jihan menuju dapur untuk membuatkan minum.


Bima mengeluarkan dua kotak kardus undangan pernikahan. Jihan kembali dan memberikan minumnya pada Bima. Ia penasaran dengan nama mempelai di undangan itu. Ia membukanya satu. Betaoa terkejutnya dia. Sampai menitikkan air mata haru bahagia.


Bima tersenyum. "Uring-uringannya sudah? Lega? Jangan kamu pikir mas gak melakukan yang Luna dan Maryam lakukan cah ayu.... mas hanya tidak ingin kamu capek ngurus ini itu. Tanggal ini adalah tanggal yang kita sepakati, bersiaplah untuk pengajuan nikah kantor. Dan semua barang yang tadi kita beli adalah untuk seserahan kita"


Jihan memeluk Bima. Ia menangis haru, tak menyangka bahwa Bima telah melakukan semuanya tanpa ia ketahui. "Makasih mas"


"Sama-sama"


"Kalau tahu seserahan itu untuk acara kita gak bakalan aku milih yang mahal-mahal" Bima tertawa. "Memang kenapa kalau kemahalan?"


"Eman-eman duit e.... mending tak buat holiday" Bima semakin tertawa dengan ucapan Jihan.


Bima membelai rambut Jihan. "Mas kan sudah pernah bilang, kapanpun kamu siap minta dinikahi, mas akan langsung mempersiapkan semuanya. Salah sendiri gak ngomong-ngomong"


Jihan mencubit lengan Bima. "Aaaawwww.... sakit yank! Ih kamu nih.... tuh kan merah....."


"Maaf..." Bima tertawa. "Gemesin kalau uring-uringan. Apa tiap hari tak bikin cemberut saja terus??"


"Hahahaha, kalau aku keriput kamu sendiri yang rugi" kata Jihan


.


.


.


Like


Vote


Komen

__ADS_1


Tip


Habis ngamok2 kasih yang manis duyuuuuu.... biar makin baper kalian! Hahahah. Malam ini othor ada acara, jadi gak tahu bisa up lagi apa gak. hehehe 😘😘😘😘


__ADS_2