Cinta Karena Mandat (Revisi)

Cinta Karena Mandat (Revisi)
Bab 25


__ADS_3

Sigit menjemput Muti di kantornya. Dia sudah terlambat 35 menit. Itu karena dia sibuk dengan kasus para belia tadi dan juga sekarang, saat akan menuju kantor Muti jalanan macet. Karena sore itu memang jam pulang kantor.


"Mas masih dijalan, tunggu sebentar ya. Macet" Sigit mengirim pesan suara itu kepada Muti.


Tak lama, dia sampai di area parkir kantor Muti. Muti menghampirinya. "Kurang lama jemputnya!" kata Muti judas.


Sigit nyengir kuda. Menampilkan giginya yang rapi. "Maaf, mas tadi ada urusan bentar"


"Ya kalau telat jemputnya bilang dong mas, aku sampai bolak-balik lihat parkiran kayak setrikaan tau gak sih!" Muti melipat tangannya di depan perut.


Sigit tak ingin urusan menjadi runyam. Dia hanya diam. Mereka menuju polsek Ungaran. Muti diam dalam perjalanan. Membuat Sigit tak nyaman. "Mut, kok diam?" tanyanya.


"Capek" jawab Muti datar sambil menyandarkan kepalanya pada sandaran mobil.


"Kenapa maksa ikut?"


"Capek ngomelin kamu tapi kamunya gak peka, beri kabar ke aku apa susahnya sih mas? Kamu tahu gak? aku mikir kamu kenapa-napa di jalan. Ada apa-apa sama kamu. Nunggu kabar dari kamu" cerocos Muti tak kuasa menahan rasa kesalnya.


Sungguh, omelan itu membuat hati Sigit berdesir. Tak menyangka, gadis playgirl seperti Muti menunggu kabar darinya. Dia tersenyum ke arah Muti. "Tadi kan aku juga sudah kirim pesan suara ke kamu"


Muti berdecak. "Jam berapa itu kasih kabarnya? Aku nunggu kamu dari jam 4 lho. Tahu ah! Percuma ngomel! Toh kamunya juga gak akan peka! Baru kali ini lho, ada cowok cuek kayak kamu! Biasanya mereka yang ngabari aku. Ini gak, aku kayak cacing kena air garam, kelimpungan sana sini!"


Sigit diam mendengarkan ocehan Muti. "Ya terus...." ucapan Sigit terpotong.


"Stop! Gak usah dijawab lagi! Aku mau tidur!" Muti memejamkan matanya. Sigit menahan tawanya. Satu tangannya tak bisa diam. Mencapai puncak kepala Muti dan mengelusnya. "Mulai nanti malam, aku akan kasih kabar ke kamu. Makasih ya, sudah mengkhawatirkan aku"


Muti menyingkirkan tangan Sigit dari kepalanya. Sigit menggenggam tangan Muti dan mengecupnya. Muti kaget dan membuka matanya.


Wajah mereka sama-sama malu. "Sudah lah bikin kesel! Nyuri kesempatan lagi buat nyium tangan aku!" kata Muti sambil membuang muka ke samping jendela.


Sigit malah menggodanya. "Pengennya sih nyium yang lain, tapi gak bisa. Belum halal. Cuma sebatas ini beraninya. Hahahaha"


Muti tak tahan digoda oleh Sigit. Dia malah merasa tertantang. Dia mendekatkan dirinya ke arah Sigit. "Ngapain??" tanya Sigit takut.


"Mana yang mau kamu cium? Silahkan! Toh nantinya juga aku jadi istri kamu. Mana? Sini? Sini? Sini? ataauuu sini?" Muti menunjuk kening, pipi, hidung, dan bibirnya. Membuat Sigit tak berani menatap Muti. Hanya mampu melirik melalui ekor matanya.

__ADS_1


Muti makin menepis jarak diantara mereka. Sigit semakin grogi. "Mut, jangan mancing! Aku ini pria normal lho. Kalau kamu begini terus, jangan salahkan aku kalau aku gak bisa menahan diriku"


Muti tertawa melihat ekspresi Sigit yang ketakutan. "Kalau gak bisa nahan ya lepaskan saja" semakin menggoda Sigit.


"Duduk yang benar ah! Aku lagi nyetir nih!" Muti kembali duduk dengan tenang. Sudah puas ia menggoda calon suaminya. Mereka sama-sama tenang. "Kamu sudah makan?" tanya Sigit.


Muti menggeleng. "Belum. Kamu juga belum kan? Lukamu masih sakit mas?"


"Belum, rasanya tuh ketat gitu lho" Tak terasa mereka sudah sampai di polsek Ungaran.


Sigit dan Muti langsung disambut oleh Ali. "Kita lihat cctv dulu ya? Sebelum lihat mayatnya. Aku ingin menunjukkan sesuatu kepada kalian"


Muti dan Sigit mengangguk. Mereka masuk ke ruang control cctv. Ali menunjukkan sebuah cctv yang terjadi pagi tadi.


Flash back On


Seorang lelaki masuk mengendap melewati pos penjagaan. Lalu, menuju bagian dapur. Saat itu kepala bagian dapur sedang mengerjakan yang lain. Jadi tak curiga pada kedatangan seseorang itu.


Hingga saat akan memasukkan sebuah bubuk ke dalam sambal yang sudah dituangkan dalam wadah kecil untuk para tahanan, barulah kepala bagian dapur sadar.


Flash back Off


"Kami belum memindahkan tahanan ke rutan. Mungkin dia adalah suruhan juga seperti para tersangka itu. Dan ini makin menguatkan analisa kita bahwa mereka bukan kawanan begal" tutur Ali.


Sigit mengangguk setuju. "Kemana petugas jaga pos saat itu? Kenapa bisa sampai kosong?"


Ali hanya menggeleng. "Entahlah mereka kemana saat itu. Yang pasti sudah kami beri teguran"


Muti agak takut dengan yang dilihatnya. Dia berpikir bahwa keselamatannya dan Sigit sedang dalam incaran. Entah siapa yang melakukannya dan dengan tujuan apa, sekarang dirinya baru sadar mengapa Ayahnya selalu memantau keadaannya.


"Sebelum kita ke rumah sakit, aku ingin lihat dulu profil para tahanan itu" Muti penasaran.


Ali mempersilahkan mereka masuk ke ruangannya dan menunjukkan profil itu kepada Muti. Muti melihat satu per satu wajah para pelaku itu. "Mana yang kamu buka maskernya saat itu?" tanya Sigit.


Muti menggeleng. "Yakin?" tanya Sigit lagi. Muti mengangguk. "Aku masih ingat betul orang yang aku buka maskernya itu punya tahi lalat besar di tengah hidungnya"

__ADS_1


"Yakin itu tahi lalat? Bukan upil?"


"Ih, joroknya! Beneran mas, tahi lalat itu" Muti mencubit lengan Sigit. Saat seperti itu masih bisa bercanda.


Ali hanya tersenyum menyaksikan keromantisan itu. "Ehm, masih ada aku lho disini. Jangan bikin iri dooong"


"Hahahah, ya jangan iri. Makanya nikah lagi" kata Sigit. Dari ucapan Sigit, Muti bisa mengetahui bahwa Ali seorang duda. Ali hanya tersenyum kecut mendengarnya.


"Nyari perempuan yang mau sama polisi dengan gaji kecil itu susah! Mereka kebanyakan menuntut gaji besar. Rumah mewah. Alah mbuh lah. Jangan bahas itu" seru Ali kemudian.


Sigit dan Muti hanya diam mendengarkan penuturan Ali. "Ayo lah, langsung ke rumah sakit saja" Mereka mengangguk dan segera ke rumah sakit.


.


Di rumah sakit umum daerah, pihak kepolisian berjaga di depan kamar mayat. Mereka saling memberi hormat. Muti agak takut. Dia bersembunyi di belakang tubuh Sigit. "Takut" katanya.


Sigit tersenyum jahil. "Iya, sembunyi aja. Nanti kalau tiba-tiba matanya melek Ha!"


Muti memukul bahu Sigit. "Hish!"


Ali membuka bagian wajahnya. Seperti yang dikatakan Muti, terdapat tahi lalat besar di tengah hidungnya. "Mut, lihat dulu benar dia atau tidak?" ujar Sigit.


Muti mengintip dari balik badan Sigit. "Iya, itu orangnya! Tuh kan tahi lalat bukan upil!"


.


.


.


Like


Vote


Komen

__ADS_1


Tip


__ADS_2