
"Assalamualaikum" ucap Muti dan Sigit langsung masuk rumah dinas Ali karena pintunya memang tidak ditutup. Mereka terperangah dan melotot tak percaya. Muti sampai menutup mulutnya.
"Hayo lagi ngapain hayo....." goda Sigit melihat wajah Ali yang sedang mendekat ke wajah Hana. Muti menutup mulut suaminya. "Sepertinya kita masuk di waktu yang salah mas" ucapnya.
"Mas selalu masuk di waktu yang tepat. Nyatanya masuk di kamu....." Muti menutup mulut suaminya lagi. Lalu memukul lengan Sigit.
Hana dan Ali sama-sama salah tingkah. Wajah mereka sama-sama malu. Merah padam akibat ketahuan hendak melakukan sesuatu. Ali segera bangkit dan meninggalkan Hana sendirian. Sigit menyusulnya di belakang.
Muti tertawa melihat ekspresi Hana. "Hihihi, mas Ali bahaya juga ya ternyata. Tadi kalian mau ciuman ya?" tanya Muti secara gamblang. Membuat Hana semakin malu. Ia meninggalkan Muti sendirian tanpa jawaban menuju dapur.
Muti mengekor di belakangnya. "Sstt...."
"Apa ih?" tanya Hana sambil membuka kulkas. Ia melihat kulkas dengan isi penuh. Ayam, udang, sosis, ikan, nugget, telur, bayam, kangkung, selada, sawi putih, dan cabai. Hana malah bingung dibuatnya.
Muti masih mencari tahu jawaban Hana. "Han"
"Apaan mbak Mut?"
"Tadi kalian hampir ciuman?" tanya Muti sambil memilih bahan makanan yang ada di kulkas itu. Ia mengambil ayam dan juga kangkung. Hana akhirnya mengangguk malu. Muti tertawa cekikikan. "Ehm, gak usah malu gitu kali Han. Yang mulai mas Ali?"
Hana mengangguk lagi. "Sudah ah, jangan dibahas lagi. Ayo mbak ajari aku masak" Muti malah mengeraskan tawanya. Membuat Hana memanyunkan bibirnya karena malu.
"Oke-oke, kita masak tumis kangkung sama ayam goreng bawang" kata Muti. Ia mulai mengajari Hana. Ia menyuruh Hana mencuci semua bahan yang akan mereka gunakan. Muti mengabadikan moment itu untuk Hana.
"Nanti foto-foto ini dicetak dan ditempel di buku Han, pas masak ingat, yang dibutuhkan apa saja" ucap Muti mulai menyiang kangkung. Hana mengangguk semangat.
__ADS_1
"Pokoknya hari ini aku yang masak ya mbak? Kamu jadi instruktur saja. Aku.... pengen masakin abang sesuatu" katanya dengan wajah merona. Muti mengangguk.
Sedang di halaman, Ali sedang duduk di rumput. Sigit duduk disampingnya. Ali mengeluarkan rokoknya. Sigit hanya melihatnya. "Rokok?" tanya Ali. Sigit menggeleng.
"Berhenti merokok Al, Hana bisa ngamuk 7 hari kalau kamu masih merokok seperti ini" Sigit memberi peringatan kepada Ali. Pasalnya memang Hana tak suka jika ada pria perokok.
Ali menyulut rokoknya. Ia tersenyum. "Aku juga tahu kali Git. Aku sudah coba mengurangi. Biasanya sehari 4 batang, sudah hamoir semingguan ini hanya 2 batang per hari. Perlahan tapi pasti"
"Hana tahu itu?" Ali menggeleng. "Aku kalau di depan dia memang tidak merokok Git"
"Jujur saja, sebelum dia marah besar. Cewek kalau sudah marah besar bahaya Al. Dugaanmu tentang Yudi benar" kata Sigit mengingat kembali kata Muti yang mengatakan bahwa ada satu orang yang belum tertangkap.
Ali mendengarkan dengan serius cerita Sigit. "Darimana kita akan mulai mencari tahu sosok kakaknya Yudi? Kita sudah menggeledah rumah Yudi tapi nihil kan?" tanya Ali.
Sigit mengangguk. "Aku akan minta bantuan kakek dan orang-orangnya Luna. Aku takut jika mereka terluka lagi" Ali mengangguk.
"Lu jatuh cinta lagi ya Al sama Hana?" Ali tersenyum sambil tertunduk malu. Ia mengangguk.
"Awal aku ketemu sama dia, ada yang beda yang aku rasa di hati ini Git. Judes, galak, jutek, semua tergambar jelas saat kami bertemu di Banaran. Kamu sengaja kan bikin Hana ditinggalin Maryam?" Sigit mengangguk dan tertawa.
"Hari itu aku bagaikan dapat durian runtuh. Menang undian. Tiba-tiba suruh nikahin anak orang yang sama sekali gak tahu asal-usulnya. Pikirku awal itu, ya sudah lah jalani saja dulu. Daripada membuat hati papinya Hana kecewa. Karena sorot mata beliau memang mengatakan jujur ingin anaknya dijaga dan dilindungi oleh orang yang tepat" jelas Ali.
Sigit mengangguk setuju. "Om Raka waktu itu ngobrol sama papah, dan menanyakan jati dirimu. Papah menceritakan semuanya tanpa ada yang dikurangi ataupun ditambah. Om Raka sangat yakin kamu itu bisa menjaga putrinya, dan langsung menodongmu dengan pilihan untuk menikahi Hana. Gue ikut senanh Al, akhirnya lu mau buka hati lagi untuk perempuan. Insyaallah, Hana itu anaknya legowo. Bisa menerima keadaan. Dan malah semangat jika gagal. Lihat sendiri kan bagaimana usaha dia menutupi rasa traumanya?"
Ali mengangguk. Hana keluar dan memanggil mereka untuk masuk. "Ayo makan malam dulu, selesai isya' kita pulang" katanya. Ali dan Sigit mengangguk.
__ADS_1
Mereka menuju meja makan. Muti melayani suaminya. Begitu pula dengan Hana. Ia menirukan Muti untuk melayani Ali. "Siapa yang masak?" tanya Ali tergiur oleh makanan di depannya.
Muti menoleh dan menunjuk Hana. "Calon bojomu, aku hanya jadi pengawas" Ali tersenyum mendengarnya. "Serius Muti?" Muti mengangguk.
Sigit mulai melahap makanan di.depannya. Ia mengangguk-anggukan kepalanya. "Enak mas?" tanya Muti. Sigit mengangguk.
Hana melihat Ali yang hanya diam tak mengeluarkan pendapatnya. Ali tahu jika Hana menantikan jawabannya. "Enak kok dek. Ayo makan" Hana tersenyum senang. Mereka makan dengan tenang dan sesekali bercengkrama.
Mereka pamit pulang, karena hari semakin malam. "Hati-hati lu Si bawa mobilnya" ucap Ali.
"Iya"
Merek masuk mobil dan meninggalkan rumah dinas Ali. Hana dan Muti memilih tidur.
.
.
.
.
Like
Vote
__ADS_1
Komen
Tip