
Hana merasa lapar. Ia menuju dapur Ali. Melihat isi kulkas. Kosong. Ia melihat isi lemari makanan. Hanya ada mie instan. "Tiap hari apa Abang makannya beginian terus? Kasihan.... Kalau begini aku harus bisa masak nih! Wajib! Minta ajari mbak Muti saja daripada Maryam. Pasti lebih sabar kalau sama mbak Muti" ucap Hana pada dirinya sendiri.
Ia mulai menyalakan kompor. Memasak air dan mengambil 2 bungkus mie dalam lemari makanan itu. Ali sudah selesai mandi. Ia berganti baju di dalam kamar mandi. Saat keluar, ia mencium bau sedap. "Ada yang masak mie nih"
Dengan cepat ia menuju dapur. "Dek, lagi ngapain?" tanyanya sambil melihat Hana meracik bumbu mie itu. "Bikin mie, lapar. Nih adek sudah buat 2 piring"
Ali menggoda Hana. "Katanya gak bisa masak, nah ini bisa masak mie" Hana berdecak dan menatap tajam ke Ali.
"Nyindiiiirrr..... menghina....." jawab Hana membuat Ali tertawa. Mie pun matang. Hana membawanya ke meja makan dan mengambil garpu 2 buah.
"Ayo makan" ajak Hana. Ali segera duduk di sebelahnya. Mereka menikmati mie itu. "Abang setiap hari hanya makan mie? Kok di kulkas kosong gak ada bahan makanan? Gak baik lho bang makan mie terus. Nilai gizinya kurang"
Ali tersenyum. "Cie mulai perhatian. Abang biasanya beli makan di luar dek. Kemarin pas ibu disini ya diisi kulkasnya, habis ya sudah, abang belum beli lagi. Tenang, abang juga paham kok kalau makan mie gak boleh sering-sering"
"Oooh.... Adek kirain. Setelah makan antarkan adek pulang ya bang? Sekalian nengokin mbak Muti juga" Ali mengangguk. "Iya, bahaya kalau kamu lama-lama disini"
Hana tersedak saat Ali berkata seperti itu. "Ehm... maksud Abang?" Ali hanya tersenyum. "Ih abang!"
"Bahaya dek, kita ini belum muhrim. Kalau Abang gak bisa mengendalikan diri Abang gimana?"
Hana diam tak menjawab pertanyaan Ali. Mereka segera menghabiskan makanan itu. Hana hendak mencuci piringnya tapi dilarang oleh Ali. "Nanti bisa kemalaman"
"Ya Allah, cuma nyuci piring 2 bang, sama gelas 2 memang butuh waktu sejam? Ngece adek lagiii....." Ali tertawa mendengarnya. "Mbuh lah karepmu"
.
Muti sudah sampai di rumahnya sejak siang tadi. Sigit membereskan rumah dibantu oleh mamah Anin. Sedangkan Muti beristirahat di kamar. Sore menjelang. Sigit membantu istrinya untuk membersihkan diri. Ia menyiapkan air panas untuk Muti. Lalu menggendong Muti masuk kamar mandi. Membuat para orang tua yang disana menggodanya.
"Bedanya manten anyar sama yang lawas yp ngene iki. Romantis. Mau ke kamar mandi saja digendong. Nah kalau kita suruh menggendong istri kita? Alaaahhhhh, encok boyok ku" terang Ayah Tristan.
"Ooo.... maksud Ayah, Bunda berat gitu? Seperti apa? Karung beras?" tatap tajam Bunda Tari ke Ayah Tristan.
__ADS_1
"Ya gak karung beras juga Bun, hehehe. Peace"
Sigit memandikan Muti. Mengkeramasi rambut istrinya. Sedangkan Muti menyabuni dirinya. Setelah selesai, ia membantu istrinya untuk memakai baju. "Makasih sayang" kata Muti memberikan kecupan di pipi Sigit. Sigit tersenyum. "Sama-sama"
Mereka mengobrol sebentar. Tak lama adzan maghrib berkumandang. Hana dan Ali datang saat iqomah sedang berlangsung. Semuanya melaksanakan ibadah sholat maghrib kecuali Hana. Selesai itu mereka makan malam bersama. "Han, besok terapinya sore. Jam 2 siang kita berangkat dari sini" kata Sigit.
Hana mengangguk. "Ashiap! Mbak Mut, besok mulai ajari aku masak dong. Ya? Setelah subuh aku langsung kesini deh buat belajar masak"
Sigit melotot sambil menautkan alisnya. "Gak! Gak ada gak ada! Subuh! Enak saja! Subuh itu kami sedang melakukan ibadah"
"Ya kan gak pas adzan subuh juga mas Si, aku kesininya. Tahu aku kalau adzan subuh itu pada sholat" Semuanya tertawa karena jawaban polos dari Hana. "Kenapa sih? Ada yang lucu?"
"Han, mereka itu mau ibadah yang lain. Ibadah plus plus" jawab mami Salma. Membuat Hana baru paham atas kepolosannya. "Lupa aku kalau mereka sudah sah. Hahahaha"
"Malam saja Han, selepas maghrib gitu. Boleh kan mas?" Sigit mengangguk. "Yes!" kata Hana senang.
"Kenapa gak minta ajarin Maryam sih?" tanya mamah Anin. Hana menggeleng. "Maryam kalau jadi guru galak! Sekali gak bisa langsung marah budhe. Bukannya bisa masak, malah perang di dapur nanti"
Handoko mengangguk. "Ya sudah, Ayah pamit ya? Jaga diri kalian baik-baik. Muti, manut apa kata suami" Muti mengangguk. "Ayah juga jaga diri disana. Jaga kesehatan. Buruan dikenalin itu si tante Amira sama Muti sebagai mamah barunya Muti. Hihihi"
"Hush! Ngawur kamu! Sudah ah, assalamualaikum"
"Waalaikum salam" Muti dan Sigit mengantarkan Ayahnya hingga mobil itu tak nampak lagi. Mereka kembali ke dalam rumah. Muti hendak membereskan meja makan itu. Tapi dilarang oleh Sigit.
"Nanti mas yang bereskan. Kamu siap-siap gih" kata Sigit sedikit malu. Muti malah menggodanya. "Mau aku pakai baju atau polosan biar cepet? Hmmm"
"Dandan yang cantik dan wangi, mau kamu polosan atau pakai baju bakalan tak buat lama. Hahahah. Buruan sana"
"Hahahah. ngebetnya suamiku" Muti segera masuk ke kamarnya. Ia menuruti kata suaminya. Sigit membersihkan meja makan dengan cepat. Muti sudah bersolek dan memakai parfum. Mengganti bajunya dengan lingerie seksi miliknya yang dibelikan oleh Mamah Anin.
Sigit masuk ke kamar. Dilihatnya istrinya masih di depan cermin. Alamak! Seksi sekali dia!. Ia segera naik ke ranjang. Muti mengikuti suaminya naik ke ranjang. Sigit memeluk Muti. "Wanginya" puji Sigit. Muti memainkan jemarinya di dada Sigit yang masih tertutupi kaos itu.
__ADS_1
"Sekarang?" tanya Sigit sedikit canggung. "Besok! Tahun depan! Ya sekarang lah mas..."
Sigit mengubah posisinya. Ia berada tepat di atas Muti. Membuka kaosnya. Mulai mencium wajah Muti. Mereka berciuman, menautkan satu sama lain bibir dan lidah mereka. Saling melu*mat. Sigit menjejaki leher jenjang milik istrinya itu. Meninggalkan beberapa bekas kepemilikan disana. Ia bermain di area belakang telinga. Membuat Muti semakin nikmat.
Tangan Sigit mulai bergerilya pada dada Muti. Meremasnya, memilinnya. Lalu dengan cepat ia membuka lingerie milik Muti. Sigit menghisapnya. Membuat Muti semakin nikmat. "Aaaahhhh.... enak mas" katanya. Sigit tak menghiraukannya. Ia terus melancarkan aksinya.
Sigit meninggalkan jejak kepemilikannya disana. Ia semakin turun ke bawah menikmati setiap jengkal tubuh Muti. Meninggalkan banyak jejak kepemilikan disana. Muti semakin menikmati sentuhan dan kecupan Sigit. Ia mendesah pelan. Sigit melepaskan celananya dan juga milik Muti.
Ia tersenyum sebentar, mengecup bibir Muti sekilas dan mencoba menyatukan milik mereka masing-masing. Muti menahan nafasnya saat ada benda yang mencoba menerobos masuk ke dalam dirinya.
"Tahan sebentar yank" Muti hanya mengangguk pasrah. Beberapa kali hentakan belum juga berhasil. Sigit mulai mengecup bibir Muti lagi. Dan usahanya berhasil.
"Aaahhhhh" Sigit tersenyum senang. Ia mulai memainkan temponya. Meremas milik Muti dan memilinnya. Membuat hormon estrogen dan progesteron dalam tubuhnya meningkat. "Mmmmmmhhhhhhh...... Aaahhhhh........"
Sigit tak memberi jeda kepada Muti. Ia mengatur temponya. Kadang cepat dan lambat. Hingga ia benar-benar mencapai puncak. Ia semakin mempercepat temponya. Hingga mereka sama-sama mencapai puncak. Tubuh mereka sama-sama mengejang. "Aaaaahhhhhhh......." Lenguhan panjang lolos dari keduanya.
.
.
.
Like
Vote
Komen
Tip
Othor gak bisa buat yg lebih hareudang. Susah lolosnya.... 😅
__ADS_1