Cinta Karena Mandat (Revisi)

Cinta Karena Mandat (Revisi)
Bab 45


__ADS_3

Fitting baju mulai dilakukan. Ada 3 model yang ditunjukkan Ellida untuk Muti dan Sigit. Muti tertarik dengan kebaya berwarna putih dengan model cucak rowo itu, alias menjuntai panjang. Dipadukan dengan kain jarik berwarna coklat. Ia mencobanya. Masih belum menggunakan make up. Ia keluar dan menunjukkannya pada Sigit yang saat itu juga sedang mencoba beskabnya.


"Mas, yang ini saja bagaimana? Aku jatuh cinta sama yang ini, di badanku juga pas" kata Muti berjalan ke arah Sigit dengan dibantu Ellida memegangi bagian belakang kebaya yang menjuntai.


Sigit menoleh dan tak berkedip menyaksikan penampilan Muti. "Masyaallaaaaaaaaaaahhhhhhh.......... cantik banget sih calon bojoku. Bungkus mbak!" Muti tersenyum senang.


"Oke, sekalian di make up yuk. Pakai adat Jawa Tengah atau mana nih?" tanya Ellida.


"Jawa Tengah" sahut mereka kompak. "Cieeeeee kompaknyaaaa. Enak ya kalau sudah mau halal. Aduuuhhh, bikin iri deh kalian" goda Ellida.


Mereka tertawa. Muti mulai dirias. Di tangan para MUA itu wajahnya disulap menjadi semakin cantik dan mangklingi. Hampir 2 jam proses make up pun selesai. Sigit melihat Muti dari pantulan cermin.


Ia tersenyum melihat Muti. Cantik banget sih marmutku, rasanya pengen hari ini deh ijabnya.


"Kalian gak sekalian cari untuk resepsinya?" tawar Ellida kepada Muti dan Sigit. Muti menggeleng.


"Kami untuk resepsinya cari di Semarang saja El, gak enak sama Mamah mertua, kemarin sudah janjian sama butik langganannya" terang Muti. Ellida tersenyum dan mengangguk. "Gak papa, rejeki juga harus dibagi hehehe. Oke saatnya prewed"


Ellida memanggil fotografernya. Mereka bersiap, fotgrafer itu mengarahkan berbagai gaya kepada Sigit dan Muti. Hampir 1 jam, hasil cepretan pun jadi.


Muti dan Sigit melihat hasil cepretan itu. "Bagus semua ih" kata fotografer itu. "Mau dicetak sekalian tidak?"


"Nunggu gak mas? Soalnya kami ini harus segera pulang ke Semarang" fotografer itu menggeleng. "Nunggu beberapa jam saja sih kalau mau dicetak 48R"


"Oke, cetak sekalian mas. Disini ada jasa pembuatan undangan elektronik gak ya? Kami ini sebenarnya belum mempersiapkan apapun karena ada sedikit masalah kemarin" tutur Sigit.



"Ada dong, dia tuh fotografer sekaligus punya jasa pembuatan undangan" tutur Elli. Sigit mengangguk dan akhirnya berdiskusi dengan fotografer itu.


Muti melepas kebayanya dibantu Ellida. "Calonmu belum ngapa-ngapain kamu kan?" Muti tertawa. "Dia itu susah digodanya, gimana mau diapa-apain dulu?"


Elli nyengir kuda. "Kirain! Habisnya, masa belum nyiapin apapun"


"Yang sukanya jahil godain tuh aku. Tapi, susah banget meruntuhkannya. Hahaha. Kemarin ada salah paham sampai Ayah masuk rumah sakit" jelas Muti.


"Ooo gitu. Tak buatkan nota dulu" Muti mengangguk. Tak lama Sigit menghampirinya. "Sudah yank?" tanya Muti. Sigit mengangguk. "Itu undangan kita sebar nanti setelah akad, tadi mas sudah diskusi dengan Papah, resepsinya diadakan 2 minggu setelah akad" jelas Sigit.


"Oke" kata Muti. Elli kembali dengan membawa nota. Ia hendak menyerahkannya kepada Muti tapi diminta oleh Sigit. "Sini, mas lihat dulu"

__ADS_1


Sigit membaca tagihannya. "Bisa pakai debit card kan?" Elli mengangguk. "Mari silahkan saya antarkan" Sigit memberikan debit cardnya. Lalu ia mengetikkan pinnya, struk pembayaran keluar. Transaksi selesai.


Mereka dijamu oleh Elli sambil menunggu foto mereka jadi. Makan siang di butik dengan nenu sederhana. Saling bertukar cerita dan bercanda gurau bersama.


Foto pun jadi. Sigit hendak membayar hasil jepretan itu. "Ini sudah sepaket dengan baju dan makeupnya mas" terang Elli.


"Ha?" Sigit membaca struk pembayaran tadi, hanya 7 juta sudah mendapatkan paket super komplit. "Beneran mbak El?" Elli mengangguk.


"Itu sudah dipotong diskon. Sudah jangan kaget. Saya titip sahabat saya ya? Dia anaknya sebenarnya baik kok. Jangan dipandang dari playgirl atau tidaknya dia. Tapi lihat dari hatinya" tutur Elli.


"Pasti mbak El, terima kasih atas semuanya" jawab Sigit. "Makasih banyak ya El. Moga makin sukses usahanya, makin lancar, cepetan dikasih jodoh" Muti mendoakan Elli dan memeluk sahabatnya itu.


"Aamiin aamiin aamiin ya rabbal 'alamin. Jangan disia-sia tuh calon suamimu. Ganteng, manis, baik, gak pelit lagi" puji Elli membuat Sigit tersenyum.


Akhirnya, proses fitting baju selesai. Mereka kembali ke rumah dan menunjukkan hasil fitting mereka kepada Ayah Indra. Membuat suasana hati Ayah Indra semakin senang.


"Yah, boleh tidak sore ini Muti dan mas Sigit ke Bandung, lalu pulang ke Semarang?" tanya Muti. Ayah Indra mengangguk. "Boleh dong. Ayah sudah ada yang menjaga. Ada om Handoko dan yang lainnya"


Muti memeluk Ayahnya. "Makasih Ayaaah"


Mereka bersiap untuk ke Bandung. Membawa keperluan mereka untuk disana. "Berkas nikahnya jangan lupa. Itu sudah ada surat pindah nikah juga Muti, sudah diuruskan semuanya sama om Handoko" kata Ayah Indra.


"Sudah siap?" tanya Sigit. Muti mengangguk. "Sudah, ayo berangkat"


Mereka berangkat menuju Bandung. Muti tidur di dalam mobil. Sigit hanya tersenyum melihatnya. Perjalanan memakan waktu hampir 2,5 jam karena macet dimana-mana. Tak terasa mobil Sigit sudah memasuki halaman rumah dinas Papahnya.


Mamah Anin mendengar deru mobil.dan melihat siapa yang datang. "Sigit? Kenapa ya?" Mamah Anin langsung membukakan pintu untuk Sigit.


"Assalamualaikum mah" ucap Sigit turun dari mobil dan menyalami mamahnya. "Waalaikum salam. Ada apa? Muti mana?"


Sigit berdecak. "Anaknya pulang malah ditanya ada apa. Gak seneng Sigit pulang? Tuh, calon mantu mamah masih tidur"


"Senang, gimana keadaan Ayah kalian?"


"Baik, Ayah sudah bisa ditinggal. Kami malam ini menginap disini. Sigit ingin mengenalkan Muti kepada kalian sebagai calon mantu"


Mamah Anin tersenyum. "Bawa masuk, tidurkan di kamarmu"


"Siap mah" Sigit segera menggendong Muti dan membawa ke kamarnya.

__ADS_1


Sigit mandi dan setelah selesai mandi, ia mendapati Muti sudah berada di dapur dengan Mamahnya menggunakan daster rumahan milik mamahnya. Senyum mengembang di bibirnya.


Makin cantik saja sih kalau pakai daster. Apalagi kalau polosan ya. Hihihihi. Sigit membayangkan yang tidak-tidak.


Papah Bagas pulang, mencari keberadaan istrinya. Karena biasanya ia akan disambut oleh istrinya. Ia melihat Sigit sedang bersidekap dan menyender pada tembok.


Papah Bagas mengagetkannya. "Ba!"


Sigit kaget dan ia salah tingkah, hingga bahunya menabrak tembok saat akan menuju kamarnya. Muti dan Mamah Anin tertawa melihatnya.


"Papah sudah pulang? Maaf mamah gak dengar, lagi masaka sama calon mantu. Mereka malam ini menginap sini" Mamah Anin mencuci tangannya dan menyalami papah Bagas.


"Hmm, berkas nikah kalian sudah papah lengkapi semua. Git?" panggil papah Bagas. Sigit keluar setelah berganti baju.


"Iya?"


"Segera setelah masuk, menghadap Kapolres mu, Papah sudah menghubunginya. Katanya, berkas itu ia tunggu sudah lama, tapi tak kunjung kamu kumpulkan"


"Ya jelas lah pah, Sigit saja tidak tahu apa-apa kok. Ya sudah, besok Sigit dan Muti langsung menghadap pak Kapolres. Jangan suruh ke luar kota dulu orangnya" pinta Sigit.


"Iya, dia kosong 5 hari kedepan. Jadi gunakan kesempatan itu. Papah juga sudah minta sama kakek Umang untuk urusan nikah agama. Kakek yang akan membantu kalian untuk urusan itu"


Mereka mengangguk.


.


.


.


Like


Vote


Komen


Tip


Maaf mbak Raisa, pinjem foto bentar biar readersq ada gambaran. Hehehe. Othor belun bisa ngasih jadwal up ya gaes. Dunia nyata othor menuntut othor lebih sibuukkk

__ADS_1


__ADS_2