
Selesai apel pagi, Sigit melakukan tugasnya sebagai penegak hukum. Memeriksa berkas laporan. Masih ingat para belia yang terkena razia di bar?
Salah satu dari mereka ada yang mengaku bahwa mereka dibawa oleh seseorang. Luna memberikan rekaman kesaksian salah seorang gadis belia tersebut kepada Sigit.
Kami dibawa oleh seseorang. Dia menawarkan gaji besar jika kami mau bekerja dengannya. jawab gadis belia itu.
Berapa gaji yang kalian dapatkan ketika bekerja seperti itu? tanya Luna
Lumayan, jika hanya menemani kami akan diberi 3 juta, jika kami sampai melakukan hubungan badan sekitar 15 sampai 20 juta akan masuk otomatis ke rekening kami
*Waw, fantastis ya, itu untuk semalam?
Ya, dalam semalam. Makanya kami mau melakukannya. Kami butuh. Butuh untuk menyambung hidup*
*Apakah kalian tidak menyesal melakukan itu? Bagaimana dengan masa depan kalian? Kalian masih muda, masih bisa mendapatkan pekerjaan yang jaaaauuuh lebih baik
Hahahaha, pekerjaan yang lebih baik? Heh bu polwan, aku kasih tahu ya, kami mencari kerja kesana kemari tak ada yang mau menerima lulusan SD seperti kami. Minimal lulusan SMA yang mereka cari. Lalu apa lagi yang perlu kami pikirkan untuk masa depan kami?
Apakah kalian tidak menyesal setelah tertangkap seperti ini*?
Gadis belia itu hanya diam. Luna mencari pertanyaan lain.
Bagaimana ciri-ciri orang itu? Apakah dia bekerja sendirian atau dia masih ada bosnya? tanya Luna sebagai penyidik dalam rekaman itu.
Aku tidak tahu apakah dia bekerja sendirian atau ada bosnya. Dia mirip seperti orang china. Matanya sipit. Rambutnya cepak. Dia punya tanda lahir di pipi sebelah kiri. Dia agak kurus dan tinggi. Dia punya kalung yang selalu dipakainya dengan inisial A dan M. Tutur gadis itu.
Bisakah kamu menjelaskan kepada temanku wajah orang itu? Biar bisa digambar
Gadis itu menjelaskan kepada Galih spesifikasi orang yang membawa mereka ke bar. Luna memberikan gambar itu.
"Pelacakan identitas masih dalam proses Ndan" Sigit mengangguk. "Gadis itu tidak tahu siapa nama orang yang membawanya?"
Luna menggeleng. "Mereka mengenalnya sebagai malaikat tampan. Disitu bisa kita lihat kan? Memang orangnya ganteng. Dari sketsa itu maksudku"
"Coba Hana suruh menggambar juga, apakah nanti hasilnya akan sama atau bisa berbeda?"
Luna mengangguk. "Nanti sepulang praktek dia akan kemari"
Sigit mengangguk. "Jam berapa dia selesai bekerja?"
"Jam 3 sudah selesai"
"Oke. Aku nanti sepulang piket akan langsung ke Ungaran. Sepertinya gak akan bisa ikut razia"
"Iya Pak Dodit sudah memberitahuku. Aku juga penasaran. Kalau begal gak mungkin. Pasti lebih dari seorang begal" kata Luna sangat yakin.
__ADS_1
.
Pukul 3 sore, Hana sudah dalam perjalanan ke polres kota Semarang. Dia memberitahukan kepada Luna bahwa sebentar lagi akan sampai. Dia ingin Luna menjemputnya di gerbang.
Karena Hana tak mengenal lingkungan itu, maka dia ingin dijemput oleh Luna. Tak berselang lama. Hana sudah tiba dan Luna menghampirinya.
"Tinggal tanya sama petugas pos susah amat sih?" tanya Luna heran. Hana hanya nyengir kuda.
Hana dibawa ke ruangan Sigit. Disana sudah ada seorang lelaki berseragam polisi juga sedang menunggu.
"Hai Han. Kenalkan ini Galih. Bisa aku minta bantuan kepada kalian berdua kan?" Hana menoleh kepada polisi itu.
Deg
"Kak Hana?" sapa Galih.
"Ga-Galih? Galih Pamungkas kan?" Hana tak percaya dengan yang dilihatnya. Adik kelas yang dia taksir saat di bangku SMA ada di hadapannya.
Luna dan Sigit saling berpandangan seakan paham. "Ooo, Galih yang pernah kamu taksir tuh Galih ini?" Sigit mulai kejahilannya.
"Hish. Mas Siii! Jangan bongkar aib dooong!" protes Hana kesal.
Sigit dan Luna tertawa. Galih hanya tersenyum tipis. "Kok Sigit gak tahu sih?"
"Ya kan memang kami beda SMA mbak Lun. piye sih?" kata Hana lagi. "Udah, ayo buruan gambar"
Hasil yang mereka buat, sama persis. Sigit mengutus Luna untuk mempercepar pelacakan identitas. "Gambarnya yang satu aku bawa. Yang ini tadi saja lah. Yang punya kalian, serahkan ke Luna. Aku harus buru-buru ke polsek Ungaran. Lih, tolong antarkan Hana pulang ya"
"Eeeh, gak usah mas. Aku naik taksi online saja" Hana menolak. Sungguh, ia sudah tak mau berhubungan dengan Galih, mengingat dulu dia disebut perebut pacar orang. Padahal, hal itu sama sekali tak ia lakukan.
Galih paham mengapa Hana menolak. Dia juga tak ingin memperumit keadaan. "Maaf Ndan, saya tidak bisa mengantarkan kak Hana, saya harus melacak gambar ini. Saya permisi dahulu Ndan" Galih memberi hormat kepada Sigit dan berlalu.
Hana menghela nafasnya kasar. "Kenapa harus ketemu lagi sih? Huft. Mas, kalau aku kamu partnerkan sama dia, maaf aku gak bisa. Terlalu sakit aku mengingat kejadian waktu itu. Dan dia hanya diam tanpa memberikan kesaksian apapun"
Flash back On
Hana sedang mengajari Galih yang satu tim dengannya dalam lomba olimpiade kimia. Mereka belajar bersama, banyak menghabiskan waktu bersama.
Perasaan Hana muncul begitu saja, tapi ia sadar diri. Karena Galih sudah memiliki pacar. Ingin menjaga jarak, tapi tak bisa karena mereka harus membedah soal-soal yang kemungkinan besar keluar di olimpiade.
Siang itu, Hana berjalan di koridor sekolah hendak pulang. Dia dihadang oleh 8 orang gadis, mereka adalah adik kelasnya, dan salah satunya adalah pacar Galih.
Galih pun ada disana. Dia di bully oleh gadis-gadis itu. Dirinya didorong, dijambak, hingga tersungkur. Dituduh bahwa ia merebut Galih dari pacarnya.
"Aku gak ada apa-apa sama Galih. Aku berani sumpah. Galih, tolong jelaskan sama mereka yang sebenarnya" bela Hana terhadap dirinya sendiri.
__ADS_1
Pacar Galih maju dan mencengkeram kerah seragam Hana. "Kamu pikir aku percaya? Dasar ja*la*g!" Saat akan ditampar seorang guru lewat di koridor itu.
Menghentikan aksi mereka. Mereka semua dibawa ke ruang BP dan disidang disana. Orang tua mereka juga dipanggil oleh kepala sekolah.
Mereka diperingatkan jika kejadian itu terulang lagi, maka mereka akan dikeluarkan dari sekolah.
Flash back Off
"Ya sudah, ini terakhir kali kamu bertemu dengan Galih. Mas janji tidak akan melibatkan kamu lagi. Makasih ya adek mas paling comelll" Sigit mengeluarkan coklat dari laci kerjanya.
Hana tersenyum dan segera meraihnya. "Jangan bilang ini untuk Muti?" Sigit menggeleng. "Mas punya banyak, dari para fans. Hahaha"
"Dasar!"
"Ya sudah, aku mau keluar, ayo sekalian!"
Hana mengangguk. "Aku pesan taksi dulu"
Saat sedang memesan taksi Yudi masuk dan melihat ada gadis asing disana. Dia melakukan aksinya.
"Sore Ndan! Saya mencari ponsel saya, sepertinya ketinggalan disini" Yudi mencari-cari ponselnya. "Permisi mbak, coba berdiri dulu, siapa tahu terselip di kursi"
Sigit menautkan alisnya bingung "Memang tafi kamu masuk sini?"
Yudi tak menanggapi omongan Sigit. "Bisa tolong dihubungi ndak ya nomor ponsel saya?" kata Yudi kepada Hana.
Hana bukan gadis bodoh. Dia meraih telepon yang ada di ruangan Sigit. "Berapa nomornya?"
Yudi tertawa. "Aiiih, gagal saya mau minta nomor ponsel mbaknya" Sigit baru sadar jika itu hanya modus Yudi.
"Push up 10x" perintah Sigit. "Siap! 86!" Yudi mulai push up. Hana tertawa melihatnya.
"Belum lulus jadi buaya, kamu itu masih jadi mencawak!" Sindir Hana
.
.
.
Like
Vote
Komen
__ADS_1
Tip