Cinta Karena Mandat (Revisi)

Cinta Karena Mandat (Revisi)
Bab 69


__ADS_3

Penghulu membacakan doa seperti biasanya. Muti dipapah oleh Hana dan Luna menuju tempat akad. Sigit tersenyum ke arahnya. Mereka disuruh menandatangi buku nikah itu. Ayah Tristan bertindak sebagai fotografer. Mengambil gambar untuk diabadikan sebagai kenangan.


Sigit memasangkan cincin kawin di jari manis Muti. Pun sebaliknya. Muti menyalami Sigit. Sigit mencium kening Muti. Membuah Ayah Indra terharu hingga menitikkan air mata.


Akad telah selesai, Danang dan Ali beserta keluarganya baru datang. Semuanya saling bersalaman. Danang bertanya. "Lhoh, sudah selesai?"


Luna mengangguk. "Yaaaaaahhh... telat deh" Kata Ali menyesal tak bisa mengikuti prosesi akad tadi.


"Kan sudah ibu bilang, ijin saja, telat kan? Padahal ibu mau lihat Sigit mengucapkan ijab tadi" kata Bu Murni.


"Ya kan gak bisa bu, Ali tadi kan harus koordinasi tugas dulu bu. Piye Git? Lancar?" tanya Ali.


"Yo lancar to yo" bangga Sigit. "Apaan? Bohong deh bang, orang disuruh ngucapin ijab qobul nya eeee.... bang Si malah bilang Sah! Gundule lancar, dari Hongkong??!" Maryam tak terima dengan pernyataan Sigit.


Membuat semuanya tertawa lagi. "Itu kan grogi, tapi setelahnya kan lancar dalam satu tarikan nafas"


"Iya deh iya lancar. Iyain saja sudah...." Maryam mengalah. Dokter Ais berbicara dengan mamah Anin. "Besan, ini terapinya mau dimulai kapan?" tanyanya.


"Sekarang saja kali ya? Biar nanti siang mereka bisa istirahat. Kasihan ponakan saya tadi malam lho jeng, gak bisa tidur" kata mamah Anin kepada dokter Ais. Dokter Laras mengangguk. "Oke, berarti nanti saya minta ruangan ini tidak boleh dimasuki oleh orang selama 1 hingga 2 jam kedepan. Tergantung dari mereka sejauh mana mau cerita ke saya"


"Meskipun untuk pemberian obat gitu? Kan mantu saya masih harus injeksi obat juga bu Laras" kata mamah Anin.


"Biar saya nanti yang menginjeksi, budhe tenang saja" Hana ikutan nimbrung. "Ya sudah kalau begitu"


Pak penghulu pamit pulang bersama pak modin. Papah Bagas bersama papi Raka mengantarkan mereka hingga ke parkiran. Semua orang disuruh keluar dari ruangan Muti. Dokter Ais meminta kepada perawat obat untuk Muti.


Muti sudah berganti baju agar lebih nyaman. Ruangan dikunci oleh dokter Laras. Tirai ditutup. Membuat suasana kamar sedikit gelap. Jantunh Muti dan juga Hana berpacu cepat. Mereka takut gelap.


Dokter Laras menangkap ekspresi dari keduanya. "Takut gelap kah?" tanya dokter Laras. Mereka mengangguk. Dokter Laras tersenyum. Ia menyalakan saklar lampu. "Satu saja ya? Lebih baik?"

__ADS_1


Mereka tersenyum. "Okay, siapa dulu yang mau sharing sama tante? Panggilnya tante Laras saja ya?"


"Hana dulu te, boleh kan mbak Mut?" tanya Hana. Muti mengangguk. "Iya kamu dulu saja"


"Oke, kita pindah ke sofa. Muti tinggal dulu ya" Berjalan menuju sofa dan duduk berdampingan. Laras mulai menggenggam tangan Hana. "Han, tarik nafas dalam dulu, coba pandangi satu titik di atap itu. Pandangi terus, hingga titik itu terasa nyata. Terus pandangi titik kecil itu. Titik itu semakin lama semakin besar semakin tambah besar hingga membuat Hana mengantuk. Semakin lama semakin besar lagi dan mata Hana semakin mengantuk dan Hana tertidur"


Hana sudah terpejam. Tapi masih bisa mendengarkan suara dokter Laras. "Han, coba Hana bayangin lagi di tempat kesukaan Hana, Hana bahagia dan tertawa" Dokter Laras sedikit memberi jeda untuk Hana. "Hana sedang dimana?" tanya dokter Laras lagi.


"Hana lagi di pantai tante, lihat sunset, hehe"


"Sama siapa?"


"Ih malu, Hana lagi sama.... bang Ali"


"Ooo, bang Ali itu siapanya Hana?"


"Calon suami Hana" jawab Hana lugas. "Senang di pantai sama bang Ali?" Hana tersenyum dan mengangguk. "Di pantai itu kadang mendung ya? Coba bayangkan sekarang pantai itu mendung, hujan lebat, dan ada suara geledek. Suasana menjadi gelap"


"Memang Hana diapakan dama orang itu?"


"Hana dan mbak Muti diikat di kursi mulut dilakban dan diberi penutup kepala. Disana gelap, lalu seseorang bilang dan menyuruh kami untuk dicambuk. Hiks, huhuhuhu" Hana masih menangis dengan terpejam.


Dokter Laras mencoba melepaskan genggamannya tapi Hana menolak. Ia semakin erat menggenggam tangan dokter Laras. "Jangan tinggalkan Hana, Bang, hiks huhuhu.... Hana takut bang...."


Dokter Laras tersenyum. "Bang Ali disini, tidak akan meninggalkan Hana. Bang Ali adalah sumber cahaya bagi Hana. Bang Ali yang selalu menemani Hana untuk bangkit dan melupakan trauma ini. Mendung gelap ini menjadi sahabat Hana. Dia baik. Dia menyimpan keindahan tersendiri. Bang Ali selalu bersama Hana di dalam sini" Dokter Laras menunjuk dada Hana.


"Sekarang Hana tarik nafas dalam, cambukan itu hilang dengan mengeringnya bekas luka. Memori Hana yang menyakitkan perlahan memudar. Yang tersisa hanya memori indah. Perlahan Hana bangun dengan kondisi yang lebih segar dari sebelumnya. Dengan tepukan di bahu Hana bangun" Dokter Laras menepuk bahu Hana dan Hana terbangun.


Dokter Laras tersenyum ke arah Hana. "Gimana? Lebih plong?" Hana tersenyum dan mengangguk. "Makasih tante" Hana memeluk dokter Laras.

__ADS_1


"Sama-sama. Nanti dua hari kita sharing lagi" Hana mengangguk. Dokter Laras beralih ke Muti.


Hana menunggu di sofa itu. Dia menenangkan dirinya dan menguatkan dirinya. Dokter Laras tersenyum. Ia mengangkat telapak tangannya tepat di atas kepala Muti. "Lihat telapak tangan tante, tarik nafas dalam. Disitu muncul satu titik dan makin lama makin jelas. Warna hitamnya semakin besar. Tiba-tiba warna hitam itu jatuh menimpa mata Muti dan membuat Muti mengantuk. Makin lama makin kuat rasa kantuk itu. Dan Muti ingin sekali tidur"


Sesaat kemudian Muti tertidur. "Muti, bayangkan Muti di sebuah ruangan, dengan warna kesukaan Muti, dengan benda kesukaan Muti dan segala pernak perniknya. Kamu sangat senang dengan itu. Kamu bersama dengan orang yang kamu sayangi"


Muti tiba-tiba menangis. Laras heran melihatnya. "Muti? Ada apa?" tanya dokter Laras. Muti masih menangis dan semakin sesenggukan. Dokter Laras membiarkannya.


"Luapkan nak, ceritakan jika memang itu bisa membuatmu lega"


Muti hanya menangis tanpa berkata. Dokter Laras mencoba mencari cara lain. "Muti suka gelap? Jika iya tolong mengangguk agar tante tahu" tanya dokter Laras.


Muti mengangguk. "Muti suka warna hitam tante. Tapi, sekarang warna hitam itu jahat sama Muti. Dia menangis tapi hanya diam. Ayah.... Maafkan Muti" ungkapnya kemudian.


Dokter Laras mencoba menggali lagi pernyataan Muti. "Kenapa warna hitam itu jahat?"


"Karena kemarin Muti menjadi takut. Luka ini, bekas cambukan di tubuh Muti, itu semua karena dia! Dia yang dulu Muti banggakan! Dia yang dulu Muti pertahankan! Hingga Muti membangkang kepada Ayah. Hiks huhuhuhu"


.


.


.


Like


Vote


Komen

__ADS_1


Tip


Maaf baru up. Seharian ini othor mubeng kesana kemari kayak kitiran. Huftttt


__ADS_2