Cinta Karena Mandat (Revisi)

Cinta Karena Mandat (Revisi)
Bab 19


__ADS_3

Angin menerpa tubuh mereka. Hawa dingin dan sejuk menyapa. Mendung gelap merapatkan barisan menutup seluruh ruang langit.


"Kita menepi dulu ya Mut, kayaknya mau hujan" Kata Sigit melihat suasana yang menyambut mereka saat memasuki kota Jogja. Muti diam saja.


"Hmm, pasti tidur lagi nih" Sigit menepikan motornya ke sebuah ruko yang sedang tutup tapi bisa untuk tempat berteduh. Dia menoleh ke belakang dan melihat Muti tertidur lelap sambil memeluknya.


Sigit turun dari motornya dengan menyangga tubuh Muti dengan satu tangan lalu dengan cepat berbalik arah dan menyangga kedua bahu Muti. "Hei, bangun. Kita istirahat dulu"


Muti membuka matanya perlahan. "Kita sudah sampai mas?"


"Turun dulu. Mau hujan. Kita neduh sebentar karena mas lupa bawakan kamu jas hujan" tutur Sigit. Muti mengangguk.


Muti dan Sigit duduk berdampingan berteduh. Hujan turun dengan derasnya. Membuat Muti sedikit merinding karena dingin. Sigit tersenyum. "Maaf ya gara-gara aku ajakin touring malah kedinginan"


"Ih, apaan sih? Aku juga seneng kok diajak kamu pergi. Mas, sepertinya mbak Niken masih mencintaimu" Sigit tersenyum kecut mendengarnya.


Dia menyandarkan tubuhnya pada tembok ruko itu. "Hahaha, urusan dia masih mencintaiku atau tidak. Bagiku, sekali aku direndahkan selamanya tak akan pernah aku mau mengemis lagi"


Muti berpikir jauh. Tentang Humam. Apa dulu Humam mikirnya kayak mas Sigit ya?. "Mas, apa semua cowok bakalan begitu kalau sudah ditolak oleh keluarga perempuan?"


Sigit mengangkat bahunya. "Kalau mas bakalan begitu. Tapi gak tahu deh yang lain. Kenapa? Mikirin mantan kamu yang ditolak sama Ayah kamu?"


Seakan tahu isi pikiran Muti, Sigit langsung mengungkapkannya. "Kalau lagi sama aku jangan pikirkan cowok lain. Itu sama saja kamu sedang selingkuh"


Muti tersenyum jahil. Dia menyentuh pipi Sigit dengan jari telunjuknya. "Cemburu ya? Ya kan? Pasti iya, gak usah dijawab karena sudah kelihatan di jidat kamu ada tulisannya, Aku cemburu" kata Muti.


"Diiih, ge er! Mana ada aku cemburu" lata Sigit sambil membuang muka. "Hilih, bilang cemburu saja kok susah banget sih kamu mas"


Hujan sudah reda. Sigit segera berdiri dan memakai perlengkapannya kembali. Muti masih mencecarnya dengan pertanyaan cemburu atau tidak. "Mas, akui dong kalau kamu cemburu"


Sigit tak menjawab. Dia memakaikan helm pada Muti. "Ih, maksa! Buruan naik! Gak naik aku tinggal nih"


"Hish! Dasar! Komandan nyebelin!" Muti dengan kesal naik ke atas jok motor Sigit. Sigit tersenyum melihat tingkah Muti. Membuatnya semakin gemas dengan tingkah perempuan itu.


Sigit tersenyum. "Pegangan"


"Iya ih, bawel banget!" Muti memeluk perut Sigit. "Udah? Puas?"


"Hahahah, gitu saja ngambek. Kan kata kamu cemburu hanya untuk orang yang tingkat pedenya ngedrop. Ngapain aku cemburu sama orang yang jelas-jelas sudah kalah olehku?"

__ADS_1


Muti diam. Sigit mulai melajukan motornya kembali. Menuju ke pantai Baron. Suasana Gunung Kidul yang menyejukkan menyambut mereka. "Adem" kata Muti.


"Adem karena apa? Hawanya, atau adem karena dekat sama aku? Hayo ngaku hayo"


Muti geram dengan Sigit yang sejak tadi menggodanya. Dia mencubit perut Sigit dengan keras. Membuat Sigit mengaduh. Dia menggenggam tangan Muti.


"Ishh, lepasin ah!" Sigit menggeleng. "Kamu lagi mengemudikan motor mas"


"Bisa kok pakai tangan satu. Salah sendiri main cubit, sakit tahu!"


"Bahaya, iya gak lagi-lagi deh nyubit kamu. Langsung aki gigit saja nanti"


"Hahahaha, maunya kamu tuh!" Sigit melepaskan tangan Muti dan mengemudikan motornya lebih cepat. Selang setengah jam mereka sudah sampai di pantai itu.


Sepi, hanya beberapa pengunjung yang berkunjung kesana. Padahal, itu adalah hari minggu. Mungkin karena sudah sore, atau memang sepi? Entahlah. Sigit membeli tiket masuk. Saat akan menuju pantainya, Sigit bertemu dengan Bella.


"Bang Sigit?" Bella menghampirinya dengan senyum sumringah.


Sigit melihat heran. "Bella? Kok bisa disini?" Bella hendak memeluk Sigit tapi dengan cepat Muti menengahi mereka. "Mas Sigitnya lagi alergi sama cewek centil! Peluk aku saja"


"Ih, apaan sih?? Siapa kamu? Nglarang-nglarang bang Sigit untuk aku peluk?" jawab Bella sengit.


Bella tak percaya dengan penuturan Sigit. Ia hendak menanyakan. Tapi Sigit dan Muti sudah melenggang pergi. "Bang Sigit sama perempuan begitu? Aih, menang aku kemana-mana. Body lebih seksi aku, cantik lebih cantikan aku sih"


Muti melepaskan tangannya secara paksa. "Kenapa ditarik sih tadi? Aku kan mau unjuk kebolehan tadi"


Sigit menautkan alisnya. "Unjuk kebolehan? Maksudmu jambak menjambak atau mungkin tampar menampar? Begitu"


"Kalau dia maunya begitu ya aku ladeni. Siapa lagi sih dia?? Tadi mbak Niken, sekarang si Belek. Nanti siapa lagi?? Kamu playboy ya?"


Sigit tertawa. Dia gemas sekali melihat Muti yang kesal dan memanyunkan bibirnya. "Gemesin banget sih kamuuuuu" Sigit mencubit hidung Muti.


"Aaaaaa, sakiiiiit mas" Muti membalikkan tubuhnya. "Tuh, kan berdarah" Sigit panik.


"Ha? Berdarah? Coba mas lihat? Sepertinya gak terlalu keras, kenapa bisa sampai berdarah sih?" Sigit mencoba melihat hidung Muti.


Muti tersenyum menang. "Tapi bohong, papale papale, wkwkwkwk" Muti berlari menjauh dari Sigit.


Sigit berkacak pinggang dan tersenyum kecut. Dia dikelabui oleh Muti. "Awas ya kamu marmut! Tunggu mas! Tak tangkap kamu!" Sigit mengejar Muti. Membuat Muti berlari semakin kencang dan tertawa kencang.

__ADS_1


"Stop mas, aku capek. Hah hah hah hah. Haus" Kata Muti memegang tenggorokannya yang serasa terkecat karena haus.


Sigit mengatur nafasnya. Dia menunjuk sebuah kedai yang menjual es kelapa muda. "Mau itu?"


Muti mengangguk. "Tanpa es ya?" Sigit mengangguk. "Tunggu disini, mas belikan dulu"


Muti duduk menghadap pantai. Menyelonjorkan kakinya. "Dibalik sikap galakmu, ternyata ada segudang perhatian untukku mas" Dia tersenyum melihat kembali ke arah Sigit.


Sigit kembali menghampiri Muti dengan dua buah kelapa muda. "Nih yang tanpa es" Sigit menyodorkan milik Muti.


"Makasih mas" Muti segera meneguknya. "Ah segarnya"


Sigit memperhatikan Muti. "Jangan ngelihatin kayak begitu. Bucin sama aku baru tahu rasa kamu mas"


Pipi Sigit merona. "Kamu kali yang bucin sama aku. Hitung, berapa kali kamu cemburu"


"Diiih, gak ya, aku gak cemburu" Muti mengelak.


Sigit melihat ke atas langit, Matahari tak tampak tertutup mendung. "Padahal aku pengen lihat matahari terbenam. Tapi sayang tertutup mendung"


"Lihat aku saja kan pemandangannya indah"


Mereka sama-sama tertawa. Saling memandang, lalu saling membuang muka ke arah berlawanan.


Semoga cinta segera hadir diantara kita. Batin mereka berdua, tanpa mengeluarkan sepatah kata.


.


.


.


Like


Vote


Kome


Tip

__ADS_1


__ADS_2