
2 minggu sudah puasa mereka lewati. Muti yang sedang hamil, tetap semangat dalam berpuasa. Tapi, akhir-akhir ini dirinya merasa sangat mengantuk. Setiap selesai sahur, dirinya yang biasanya menunggu hingga adzan subuh berkumandang, kini tak mampu lagi. Ia akan langsung tertidur setelah selesai sahur.
"Yank, bangun dulu yuk. Sholat subuh jama'ah" Sigit membangunkan istrinya. Muti hanya menjawabnya dengan gumaman.
"Hmm"
"Ya Allah.... ayolah"
Muti mengubah posisinya menjadi miring dan memeluk guling. "Kamu duluan saja mas, aku masih ngantuk berat"
Sigit tak tega lagi untuk membangunkannya. Ia memberikan kesempatan bagi Muti untuk tidur sebentar lagi. Akhirnya ia sholat seorang diri.
Selesai sholat Sigit bertadarus sebentar, lalu melihat jam sudah menunjukkan pukul 5 dini hari. Ia membangunkan Muti lagi. "Sayang, bangun dulu. Ini sudah jam 5 pagi nduk cah ayu.... Ayo bangun sholat dulu, setelah itu mau tidur lagi gak papa"
"Bentar mas, 5 menit lagi" jawabnya. Sigit menghela nafasnya. Ia kembali memberi kesempatan bagi Muti untuk tidur sebentar lagi. Ia mematikan lampu dan membuka jendela rumah. Kembali membangunkan Muti yang sekarang pada posisi telentang dan mulut menganga lebar.
Sigit tertawa melihatnya. "Hahahah, ya Allah ini bocah..... tidur sampai ternganga-nganga. Bangun dulu yank, sholat"
"Bentar yank 3 menit lagi" kata Muti masih dengan mata terpejam dan bermalas-malasan. Sigit punya ide untuk membuatnya terbangun. Ia diam beberapa saat dan membiarkan istrinya terpejam. Lalu mengagetkan istrinya. "Astaghfirullah! Yank! Setengah 6! Dosa lho gak sholat subuh!"
Seketika Muti langsung bangun. Tapi, terhuyung lagi sambil memegang kepalanya. "Pusing pusing pusing"
Sigit menggendongnya menuju kamar mandi. "Wudhu, daritadi dibangunin buat sholat susah benar" Muti mengambil wudhu dengan malas, lalu melaksanakan sholat subuh 2 rakaat.
Sigit menungguinya hingga selesai. "Mas...., ngantuk banget nih...."
"Jangan tidur lagi yank, nanti telat kerja. Sabtu kan cuma setengah hari, nanti sambung tidur lagi. Oh ya, bukber jam berapa?"
"Jam 4 mereka sudah tak suruh kumpul, pasti nanti pada molor" kata Muti. Sigit mengangguk. "Pesan makanan saja ya?"
Muti menggeleng, "Sudah dimasakkan sama mamahnya Jihan. Aku minta tolong suruh masakkan sayur bening, pecelan tempe, sama pecelan apa sih nama ikan yang diasap itu?"
Sigit berpikir. "Panggangan?"
"Mungkin itu" Sigit mengangguk. Ia mulai menyapu ruangan. Muti tersenyum melihatnya. "Kamu memang papah siaga ya mas, makasih ya sayang?"
Sigit menghentikan menyapunya. Ia tersenyum kepada Muti. "Sudah kewajiban Mas buat jagain kalian berdua" Ia mendekat ke perut Muti dan mengecupnya. "Sehat terus di dalam ya anak papah dan mamah"
__ADS_1
"Iya pah" kata Muti membelai rambut Sigit dan tersenyum. Waktu berlalu dengan cepat, mereka berangkat kerja. Melakukan aktivitas seperti biasanya.
Muti mengirim chat ke grup.
Muti : Gaes..... nanti jangan lupa bukber di rumahku, kutunggu lho yoooo.....😊
Hana : Siap bos! Nanti aku dan Maryam bawa es campur 😋
Luna : Aku sama Mas Danang bawa gorengan
Jihan : Aku sama mas Bima bawa kurma dan air mineralnya. Sama menu utamanya yes!
Shanum : Aku bawa apa dong??
Hana : Mbak Shan, bawakan aku gethuk dong. Tetiba pengen itu ik
Shanum : Oke siap!
Amaris : Yah...... enaknya yang bisa bukber.... pengen..... tapi apa dayaku?? 😁
Sedang di Polres Sigit bertemu kembali dengan Niken. Sigit tak habis pikir dengannya, masih berani menemuinya setelah ia dipermalukan oleh Muti.
Luna dan Ali dipanggilnke ruangan Sigit untuk menemaninya. "Niken kenapa jadi begitu sih Lun?"
"Tahu tuh mas, frustasi banget apa gimana sih??"
Mereka sampai di ruangan Sigit. Disana Niken duduk berhadapan dengan Sigit. "Kok ada mereka sih Git?"
"Lhoh, kenapa? Kan katanya mau curhat, ya sudah curhat saja. Aku memang sengaja memanggil mereka kemari. Kamu nih gak kapok ya Ken"
Niken berdecak sebal. "Aku maunya cerita sama kamu doang! Bukan sama mereka"
Luna geleng kepala tak habis pikir mendengarnya. "Mbak Niken, memang temannya situ cuma Sigit doang? Memang yang lain gak ada? Atau suami deh, kan bisa dijadikan teman sharing. Kenapa harus Sigit?"
Sigit menghela nafasnya. "Ken, aku ini sudah beristri, dulu dan sekarang itu berbeda. Jika dulu kamu yang menempati ruang di hatiku, tapi, sekarang tempatmu sudah digantikan oleh istriku, aku sangat amat mencintainya, dan sekarang, dia sedang hamil anak ku, tolong! Sadarkan posisimu, kamu itu sudah bukan siapa-siapa lagi bagiku. Sebatas teman pun bisa dibilang tidak, karena aku memang sudah benar-benar tak mengharapkanmu"
Niken merasa sedih, merasa dirinya hanya dipermainkan oleh Sigit. Ia menangis. "Kamu jahat banget sih Git? Dia merebut kamu dariku!"
__ADS_1
Ali memutar bola matanya malas. "Simpan air mata kamu Ken, bukan Muti yang merebut Sigit darimu, tapi kamu sendiri yang melepaskan Garuda itu. Karena Ayahmu mementingkan pangkat daripada cinta. Jadi, nikmatilah apa yang sudah kalian dapatkan. Saranku untukmu, pertahankan jika memang masih bisa dipertahankan. Terima kekurangan dan kelebihan orang yang mendampingimu, bukan malah mencari pria lain untuk kamu jadikan teman curhat"
Niken mencerna setiap kata dari Ali. Tiba-tiba saja Muti datang dan masuk ke ruangan Sigit. "***...salam....mualaikum...." Muti terkejut mendapati Niken yang berada di ruangan Sigit.
"Nih, mumpung ada istri aku disini, silahkan kamu curhat apa yang menjadi kegundahan hatimu" Sigit menghampiri istrinya dan menyuruhnya duduk di sampingnya.
"Ternyata omonganku kemarin belum cukup membuatmu jera ya mbak Niken? Aku pikir wajah polosmu itu tidak akan berani mengganggu suami orang lho, ternyata oh ternyata. Perlu aku laporkan provost bahwa ada seorang polwan yang coba menggoda suamiku? Bisa, gampang itu. Kamu lupa aku anaknya siapa? Hanya Kapolda? Jauh dibawah Ayahku yang seorang Panglima" Muti sudah sangat geram dengan sikap Niken. Ali dan Luna sampai melotot mendengar ucapan Muti.
Kerena Muti yang mereka kenal adalah Muti yang rendah hati, tak pernah sekalipun menyombongkan pangkat Ayahnya. Tapi, kali ini, Muti menunjukkan sisi lainnya. Ia menjadi sedikit angkuh akan kepangkatan. Muti meraih ponselnya dan menghubungi Ayahnya.
Ia meloud-speaker percakapannya dengan sang Panglima. "Assalamualaikum Yah"
Waalaikum salam, ada apa nak
"Muti mau minta bantuan sama Ayah, tolong pindahkan polwan bernama Niken Sasmita ke tempat yang jauh dari Semarang, karena dia sedang berusaha menggoda....." percakapan Muti terputus karena Niken langsung merebut ponsel Muti.
Sigit sudah tak bisa lagi menahan amarahnya. "Sadar kamu Ken! Kamu dengar aku baik-baik! Jika kamu masih berani menggangguku, aku pastikan kamu pindah dari Salatiga! Aku sendiri yang akan melaporkanmu ke provost!!! Pergi kamu!!!" Sigit merebut ponsel Muti dan menyeret Niken keluar dari ruangannya.
Sigit kembali dan menenangkan dirinya. Ali dan Luna meninggalkan pasangan itu. Ali menuju pos penjagaan. "Bim, kasih tahu semua anggota yang jaga disini, kalau ada perempuan bernama Niken Sasmita datang kesini ingin bertemu Komandan, suruh mereka mencegahnya"
Bima mengangguk. "Siap bang, memang ada apa?"
"Gak papa, demi kedamaian rumah tangga" Ali kembali masuk ke ruangannya.
.
.
.
Like
Vote
Komen
Tip
__ADS_1