
Sigit bangun di sepertiga malam. Mengambil wudhu dan bersiap untuk sholat malam. Begitu khusyuk. Bersujud kepada sang kuasa. Memohon doa, agar diberi pencerahan oleh-Nya.
Memang benar perjodohan ini karena mandat, tapi ia juga ingin, jodohnya mencintainya sepenuh hati, karena dia mengingat ucapan Muti, yang sampai kapanpun tak akan pernah bisa mencintainya.
Selesai sholat dia mengirim chat kepada Luna untuk meminjam perlengkapan touring. Setelah mengirim chat itu, Sigit kembali memejamkan matanya. Tapi tak bisa. Akhirnya dia bermain game hingga subuh.
Selesai subuh kantuk menyerangnya. "Hoam, ah, ngantuk banget sih. Tidur bentar deh" Sigit kembali memeluk guling kesayangannya. "Hmm, nyaman banget sih kamu kasur" Dia mulai memejamkan matanya.
Tak berselang lama, dia sudah masuk ke alam mimpinya. Entah berapa jam ia tertidur, hingga mamahnya masuk pun ia tak tahu.
"Sigit! Bangun nak! Sudah jam 10 lewat 30 menit. Kamu janji apa sama Muti? Dia telpon mamah, nanyain kamu kemana? Sigit! Hishh, persis kayak papahnya, tidur kayak kebo kalau lagi gak tugas" Anin menggelitiki hidung Sigit dengan cotton bud membuat Sigit menggeliat dan hendak bersin.
"Ha... ha... ha... hasyimmmmm" Sigit bersin latena merasa hidungnya gatal. Dia terduduk dan membuka matanya. "Mamah nih ah, kebiasaan kalau bangunin anaknya pakai cara aneh"
Anin berkacak pinggang. "Sayang, sudah jam 10 lewat 30 menit, kamu ada janji apa sama Muti? Dia telpon mamah karena telpon kamu gak diangkat terus"
Sigit segera turun dari ranjangnya dan menyambar handuk di kursinya. Berlari secepat kilat ke kamar mandi. Sayang, Hana sudah ada disana sejak 30 menit lalu.
Sigit tak sabar, dengan keras dia menggedor pintu kamar mandi dor dor dor, "Siapa di dalam?"
"Hanaaaaa"
"Buruan Han, mas mau pergi nih! Urusan penting!" Sigit sudah gusar. Pasalnya, Hana kalau mandi suka lama. Dan Sigit mendengar, saat ini Hana malah bernyanyi.
"Hanaaaaaaa, jangan nyanyiiiii, buruan selesaikan mandimu!" Sigit kembali ke kamarnya. Mengirim chat kepada Muti.
Me : Tunggu sebentar, aku bangun kesiangan. Maaf ya, jangan marah ✌
Marmut Playgirl : 😠😠😠
Dia melihat Hana melintas di depan kamarnya menandakan kamar mandi kosong. Segera dia berlari ke kamar mandi lagi. Hampir saja dia keduluan lagi oleh tantenya.
"Sigit dulu tante, bisa ambruk bangunan kota lama kalau Sigit belum mandi juga tante" ujarnya mendahului Salma.
"Aduh Sigiiiiit, tante kebelet nih"
"Bentar doang kok tante, hanya 5 menit"
Sigit mandi dengan cepat. Saat akan selesai dia lupa tak membawa handuknya yangbia lemparkan ke ranjanh tadi. "Aduuh, Sigiiiit! Kenapa bisa lupa bawa handuk sih?" Akhirnya dia keluar memakai sarung dan kaos yang ia kenakan tadi malam.
Segera berganti baju dan berpamitan dengan semuanya. "Alaaaah, masih ke rumah Luna lagi ambil perlengkapan touring"
__ADS_1
Makin lama waktu yang ia butuhkan untuk sampai ke rumah Muti.
.
Muti menghapus make upnya, hatinya benar-benar dongkol karena ulah Sigit yang sampai sekarang belum tiba juga di rumahnya.
"Dasar komandan nyebelin! Dia sendiri yang ngajak, dia sendiri yang lupa. Lihat, sampai jam 11 belum ada nongol. Heran alu, dia itu dandan atau ngapain sih??" Omel Muti pada cermin di depannya.
Indra yang sedang menonton tv mendengar deru motor masuk ke halaman rumah Muti. Dia segera melihat siapa yang datang. "Oh, calon mantu. Aku pikir siapa" Indra menuju pintu dan membukakan pintunya.
"Assalamualaikum, om" Sigit menyalami Indra.
"Waalaikum salam, panggilnya Ayah, sudah mau jadi mantu kok masih panggil om"
Sigit hanya tersenyum "Marmut.... eh, maksud Sigit, Muti ada gak Yah?"
Indra mengangguk dan melihat penampilan Sigit. "Kalian mau touring?" Sigit mengangguk.
"Ayo masuk, Muti ada di kamar" Sigit dipersilahkan masuk oleh Indra dan dipersilahkan duduk. Indra segera memanggil Muti.
"Muti, ini mas mu datang, cepat keluar" Indra mengetuk pintu kamar anaknya.
Muti membuka pintu sambil memperlihatkan wajah kesalnya. "Bilang sama dia Yah, Muti udah tidur siang"
Muti berdecak dan akhirnya menemui Sigit. Dia duduk berjarak dari Sigit. "Maaf, aku kesiangan. Jadi kan kita ken....can?"
Muti diam membisu. Sigit merapatkan duduknya dengan Muti. "Mut, jadi atau tidak?"
"Ih, kok diam saja sih? Jawab dong, ini perlengkapan touring punya Luna. Kalau jadi ayo, kalau gak ya mas pulang saja lah"
Muti membuang muka. "Muti, jawab dong!"
Sigit pasrah, dia menyandarkan dirinya ke sofa dan menghela nafas. "Terserah kamu lah, kalau gak mau gak papa" Hendak berdiri, Muti meraih tangannya. Sigit duduk kembali.
"Kenapa? Hmm?" tanya Sigit tak melepaskan genggaman tangannya.
"Kamu nyebelin mas! Aku nunggu kamu daritadi tahu gak?" Muti mulai bersuara.
"Iya mas nyebelin. Mas minta maaf, kalau gak jadi pergi gak papa kok"
"Hish! Cewek kalau marah itu mbok ya dirayu biar hatinya itu luluh! Kalau kamu mah enggak! Malah kamu yang kesel! Aku makin kesel!" Sigit tertawa.
__ADS_1
"Pengen dirayu? Dirayunya gimana? Mas gak bisa ngerayu"
"Tau ah! Gak peka!" kata Muti melepaskan genggaman tangan Sigit.
Sigit meraih kembali tangan Muti dan mengecupnya. "Ayo kita kencan, maaf membuatmu lama menunggu. Ini pakaiannya, mas tungguin kamu. Mau balas dendam dengan dandan lama juga silahkan"
Rasanya, jantung Muti hampir lepas dari para otot yang menyangganya. Pertama kalinya tangannya dicium dan dia merasakan getaran dalam hatinya. Padahal, dengan yang lain tidak seperti itu. Wajahnya merona seperti udang rebus. Benar-benar membuatnya merasakan gejolak yang berbeda. Gejolak yang lebih hebat saat dia mencintai Humam.
"Ehm, malah bengong. Ganti baju sana. Dandan jadi jeng kelin saja seperti semalam"
Muti mengambil perlengkapan yang dibawa Sigit dan segera berganti baju. Adzan dzuhur berkumandang. Sigit diajak Indra untuk sholat terlebih dahulu. Muti ikut menjadi makmum di belakangnya.
Selesai sholat, Muti segera bersiap. Dia memakai semua perlengkapan yang Luna pinjamkan untuknya. Seperti jaket anti hujan, helm, sepatu riding, dan sarung tangan.
Muti segera keluar setelah siap. "Yakin gak mau makan dulu?" tanya Indra. "Nanti di jalan saja Yah, saya bawa Muti dulu Yah, sekitar jam 9 malam sudah saya antarkan pulang lagi"
Indra mengangguk. Sigit menyalami calon mertuanya, begitu juga dengan Muti yang menyalami Ayahnya. Mereka menuju halaman.
Sigit membantu Muti memakai helm. "Maskernya pakai dulu" perintah Sigit. Muti segera memakai maskernya. Lalu Sigit memasangkan helm dan menguncinya.
Muti segera naik ke atas motor. Lalu mereka berlalu dari kediaman Muti. "Pegangan Mut"
"Ogah! Aku masih marah sama kamu"
"Bahaya sayang, pegangan" tanpa sadar Sigit mengucapkan panggilan barunya kepada Muti.
"Tadi kamu panggil aku pakai sebutan apa mas?" Sigit baru menyadarinya. "Muti" jawabnya singkat.
"Pegangan, bahaya kalau gak pegangan, mas pakai motornya dengan kecepatan tinggi lho nanti"
Muti mengalah dan melingkarkan tangannya di perut Sigit. Mereka berdua sama-sama tersenyum tapi tak nampak karena helm.
.
.
.
Like
Vote
__ADS_1
Komen
Tip