Cinta Karena Mandat (Revisi)

Cinta Karena Mandat (Revisi)
Bab 100


__ADS_3

Rencana mulai dijalankan. Mereka bergantung pada om Tompel. Butuh nyali besar untuk menjadi penyusup di sarang penyamun seperti itu. Om Tompel bekerja dengan sangat hati-hati. Ia tak mau grusa-grusu alias terburu-buru. Alhasil, Sigit dan kawanannya pun harus lebih sabar menunggu terbongkarnya kedok Arsya.


Mia melakukan tugasnya sesuai perintah tuan mudanya. Mencari dan menjaring gadis-gadis belia yang mau digaji tinggi. Iming-imingan yang sangat mudah menggoyahkan iman. Karena sejatinya, semua orang butuh uang untuk memenuhi kebutuhannya.


Hotel itu semakin ramai, pundi-pundi uang pun mengalir deras di rekening milik Arsya. Sigit meminta bantuan temannya yang juga intel di Jakarta dan Malang. Ia meminta data tentang hotel x milik Arsya.


"Jangan diungkap dulu, serahkan semua bukti yang kalian punya, dan aku akan menggabungkannya dengan milik ku, aku punya rencana yang sangat bagus. Kemungkinan dia untuk berkelit sungguh minim" jelas Sigit kepada dua orang temannya melalui panggilan video itu.


"Oke, kami percaya sama kamu Git, dalam hal strategi kamu paling handal. Aku akan segera mengirimkan bukti yang aku punya padamu. Email mu masih aktif?" tanya Nanda, polwan manis yang bekerja di Jakarta. Sigit mengangguk.


"Aku juga akan mengirimkan padamu. Dan kasus ini akan sampai markas besar dong. Mega prosti*tusi. 3 kota jadi tempat sasarannya" timpal Heigi kawan Sigit yang berada di Malang.


"Terima kasih kawan-kawanku. Pasti. Aku pastikan dia akan menjalani hukumannya" kata Sigit mantap.


Sigit mengakhiri panggilannya, ia mendekati istrinya yang sibuk memilih bahan makanan.


"Yank, gak usah masak. Kita diundang makan-makan di rumah Luna. Pakdhe Tristan ulang tahun" Muti menoleh. Menutup kembali kulkas.


"Kok gak bilang? Gak bisa kasih kado deh buat pakdhe" kata Muti.


"Luna ngasih tahunya mendadak yank" Muti menghela nafasnya. Ia melihat bahan makanan kembali. "Ngapain sih tengak tengok kulkas? Mending tengokin mas yuk!" kata Sigit semangat.


Muti menggeleng. "Nanti malam sajo ya cinta.... sekarang mau bikin puding dulu buat pakdhe. Acaranya jam berapa?"


"Habis maghrib. Gak bakalan sempat deh"


"Ngremehin! Lihat saja nanti" Sigit bergelendot manja di lengan Muti. "Alaahhhh..... gak usah ya gak usah" Sigit merebut bahan itu dari tangan istrinya dan menggendongnya masuk ke kamar.


Muti tertawa dibuatnya. "Dasar komandan bucin!" Sigit tersenyum dan mencium bibir Muti. "Salah sendiri bikin aku bucin"


Mereka masuk ke kamar dan mulai melepaskan baju satu per satu. Sigit mulai mencumbui istrinya. Diciumnya setiap jengkal tubuh istrinya. Saat akan melakukan penyatuan tiba-tiba saja ada yang mengetuk pintu rumah mereka.


tok tok tok. Sigit membiarkannya. Ia masih akan melakukan penyatuan. "Mas, ada tamu"


"Biarin"


"Kalau penting?" kata Muti. Sigit menjatuhkan tubuhnya di atas tubuh istrinya. "Siapa sih?? Ganggu saja ih! Gak tahu apa orang udah kepalang tanggung!" Muti tertawa mendengarnya.

__ADS_1


Ketukan pintu itu semakin keras. Terdengar seorang perempuan memanggil nama Sigit dari luar. "Kayak suara mbak Luna" kata Muti.


Sigit segera memakain pakaiannya kembalu. Begitu pun dengan Muti. "Kalau benar itu Luna, aku kasih hukuman dia karena mengganggu ibadah kita!"


"Hahaha, kamu aneh ih, masih sore sayang"


"Adeknya mas kalau sudab pengen gak peduli mau pagi siang sore malam sayang" Sigit membuka pintu kamar menuju pintu utama. ceklek.


Sigit memutar bola matanya malas. "Ngapain sih Lun?? Ganggu saja!"


Luna menautkan alisnya bingung. "Ganggu? Maksudmu?"


"Mbuh! Ngapain??"


Luna menggeser tubuh Sigit secara paksa. "Assalamualaikum, Muti.... bantuin aku bikin sesuatu untuk Ayah yuk!" Ia nyelonong masuk dan menuju kamar Muti. Matanya hampir lepas karena Muti sedang berpakaian. "Eh maaf"


Muti tersenyum "Gak papa mbak, mas Sigit kebiasaan gak tutup pintu lagi"


Luna tersenyum jahil. "Aku tahu nih.... pasti lu tadi mau bikin ponakan buat aku kan? Hahahah, dasar otak mesum! Masih sore juga!" kata Luna sambil menoyor kepala Sigit.


"Eits, aku kesini bukan pakai seragam. Weeeek..." Luna menjulurkan lidahnya menang. Muti tertawa dengan tingkah kedua sepupu itu. "Muti, bantuin buat sesuatu buat Ayah dong.... please...." Muti mengangguk.


"Kita buat puding saja ya mbak. Masih cukup kok waktunya. Mari kita mulai. Aku bantuin mbak Luna dulu ya sayang.... jangan ngambek.... Nanti malam double deh...." Sigit tersenyum menang. Luna mendelikkan matanya. "Benar ya?" jawab Sigit. Muti mengangguk.


Luna bergidik ngeri mendengarnya. "Kenapa? Nanti juga lu gitu! Makanya cepetan kawin!" ejek Sigit


"Hush! Kawin kawin! Nikah! Pengen sih, tapi belum nemu pasangannya" hardik Luna.


Muti menautkan alisnya. "Mas Bima ada tapi mbok tolak mbak, nyari yang bagaimana sih? Nyari Danang?"


Luna gelagapan. "Apaan sih Mut? Ayo ah, mulai buat pudingnya"


"Ketahuan kamu masih cinta sama Danang mbak, gelagatmu saja seperti ini" kata Muti. Luna hanya diam. "Bahannya apa saja nih?"


Muti menunjuk bahan-bahan yang ada di meja. Mereka mulai membuat puding. Luna yang mengerjakan semuanya dan Muti hanya memberikan instruksi.


"Dia pernah tanya aku ke kamu Mut?" tanya Luna tetiba membuat Muti sedikit bingung. Muti mencerna kembali pertanyaan Luna. Dan barulah ia paham.

__ADS_1


"Oh, Danang maksudmu mbak?" Luna mengangguk. "Iya, dia pernah nanya kabar kamu, terakhir minggu kemarin"


"Dasar cowok bodoh! Besok lagi gak usah dijawab Mut, biarin!" kata Luna jengkel. Muti hanya tersenyum.


"Kamu gak kangen sama dia mbak?" Luna menggeleng. "Sudah ah, gak usah bahas dia lagi. Ini sudah mendidih"


"Matikan apinya mbak, tuang pelan-pelan ke wadah ini" Luna melakukan perintah Muti. Mereka menunggu hingga dingin. Selanjutnya Muti menghias puding itu dengan menyuntikkan pewarna makanan membentuk bunga di dalamnya.


Luna berdecak kagum. "Aku kira kamu cewek playgirl yang manja, ternyata.... salut aku sama kamu. Lain kali ajarin masak ya?"


Sigit muncul dari kamar mandi. "Bayar!"


Luna menoleh. "Pelit!"


"Sudah jadi.... kita simpan di kulkas"


Waktu sudah menunjukkan setengah 6 petang. Muti bersiap-siap. "Aku numpang sholat dan mandi ya? Aku sudah bawa baju ganti kok"


Muti mengangguk. Sigit berdecak. "Bayar!"


"Pelit! Sewa om Tompel 1 bulan ke depan gratis! Cerewet!" Sigit dan Muti tertawa mendengarnya.


.


.


.


Like


Vote


Komen


Tip


Mana nih dukungan buat othor? Vote nya kencengin boleh dong kakak..... othor selalu turuti permintaan kalian lhooooo

__ADS_1


__ADS_2