Cinta Karena Mandat (Revisi)

Cinta Karena Mandat (Revisi)
Bab 105


__ADS_3

Sigit mengantarkan Muti ke kantornya seoerti biasa. Mereka duduk berdua dalam satu mobil. Tapi. Sigit merada ada yang aneh dengan istrinya. Sedari tadi keluar dari rumah hanya diam membisu.


"Ehmm..... yank?" panggil Sigit. Muti menoleh. "Ada apa mas?" jawabnya.


"Kamu kenapa? Kok mas perhatikan ada yang aneh" terang Sigit. Muti hanya tersenyum tipis. Sigit membelai pipi Muti yang halus itu. "Kenapa sih sayang? Mas ada salah kah?"


Muti menggeleng, tiba-tiba saja ia menitikkan butiran bening itu dari sudut matanya. Sigit menolehnya sebentar. Meraih tisue dan memberikannya pada Muti. "Ada apa sih? Ha? Jangan buat mas khawatir dong. Coba cerita ke mas kalau kamu ada masalah. Si Galang gangguin kamu? Atau Jihan marah dan salah paham lagi sama kamu?"


Muti menggeleng. "Salah gak sih mas kalau aku iri sama Hana? Kok dia sudah hamil dan aku belum?"


Sigit menautkan alisnya. Ia menepikan mobilnya sebentar lalu menghadap ke arah istrinya. "Yank, kenapa berpikiran seperti itu? Jodoh, maut, rezeki semuanya sudah ada yang mengatur, dan sumbernya itu satu. Allah Ta'ala. Lalu kenapa kamu iri? Masih banyak diluar sana yang seperti kita, belum diberikan rezeki untuk memiliki momongan.


Yang perlu kita lakukan adalah memperbanyak do'a dan berikhtiar. Urusan hamil atau tidak, biarkan menjadi ketetapan Allah. Jangan mendikte Allah. Rasa cinta dan sayangnya mas ke kamu itu gak berkurang sedikitpun sama kamu sayang. Malah semakin bertambah dan semakin besar tiap harinya. Jadi, jangan iri terhadap rezeki orang lain. Yang perlu kita lakukan hanya fokus dengan tujuan kita. Jangan ngurusi orang lain. Paham istriku yang imut?" Sigit mengusap-usap kepala Muti yang sudah tertutup hijab itu.


Muti menghapus air matanya. Ia mengangguk dan tersenyum ke arah suaminya. Mereka berpelukan sesaat. "Sudah galaunya? Mepet nih sudah waktunya apel"

__ADS_1


"Sudah. Ayo berangkat. Maaf ya pagi-pagi sudah galau" Sigit tersenyum. Ia mulai melajukan mobilnya kembali menuju kantor Muti. "Besok mas, Ali, dan Bima akan ikut rombongan mengantarkan Arsya dan kawan-kawannya ke Jakarta. Nanti kamu di rumah kakek saja gak papa kan?"


Muti mengangguk. "Hati-hati ya sayang. Mampir ke rumah Ayah kalau sudah beres urusannya"


"Iya, nanti jangan galau-galau lagi ya? Nanti malam kencan yuk? Berdua saja. Mau?" Muti mengangguk bersemangat. Ada saja cara suaminya membuatnya tersenyum kembali.


"Memang kita mau kemana sayang?" Sigit memikirkan sesuatu.


"Makan, nonton, belanja? Rasa-rasanya mas belum pernah membelikan kamu sesuatu selain hape kamu"


Mobil menepi di pinggiran gerbang kantor Muti. Mereka telah sampai di kantor. "I love you too istriku. Masuk gih, mas buru-buru nih"


Muti menyalami Sigit. Sigit memberikan morning kiss seperti biasanya. "Semangat ya kerjanya, jangan lupa makan siang dan sholat" Muti mengangguk.


"Hati-hati mas, kamu juga jangan lupa makan dan sholat. Nanti selepas kerja kencan jangan lupa!" Sigit memberikan hormat pada istrinya. "Siap ibu negara!"

__ADS_1


Muti segera turun dari mobil. Mobil melaju meninggalkan Muti yang langsung masuk kantor.


.


.


.


Like


Vote


Komen


Tip

__ADS_1


Maaf othor sibuk. Segini dulu gak papa ya? Nanti lagi oke?? happy reading all


__ADS_2