Cinta Karena Mandat (Revisi)

Cinta Karena Mandat (Revisi)
Bab 70


__ADS_3

"Memang warna hitam itu banyak kenangan untuk Muti?" tanya dokter Laras. Muti mengangguk. "Kenangan apa itu? Tante boleh tahu?"


Muti mengangguk lagi. "Dulu Muti punya pacar, kami sama-sama penyuka warna hitam. Sudah lama kami pacaran. Banyak kenangan yang terjadi. Kaos couple, sepatu couple, topi, jaket, gantungan kunci, satung hp, semuanya sama. Itu bagi Muti, adalah kenangan yang indah. Tapi, saat berkenalan dengan Ayah, beliau tidak merestui kami. Ayah bilang bahwa dia bukan orang baik. Muti tidak percaya te, Muti hanya percaya sama dia. Hingga akhirnya kemarin Muti disiksa sendiri olehnya. Muti menyesal pernah benar-benar jatuh hati sama dia.


Sakit rasanya setiap melihat bekas tusukan dan bekas cambukan ini. Seakan ingat akan dia tante. Kenapa harua dia yang menjadi jahat? Hiks huhuhuhu"


Dokter Laras menggenggam tangan Muti. Terasa dingin. "Apa.... Muti masih mencintai dia?"


Muti menggeleng. "Tidak te, Muti hanya menganggap dia sebagai teman dan sahabat. Tapi, apa yang dia lakukan ke Muti membuat Muti kecewa. Muti benci dia! Muti gak mau lagi bertemu dengan dia! Hiks Huhuhuhuhu.... hiks huhuhuhu"


Dokter Laras terdiam mendengarkan Muti. Ia memberi kesempatan Muti untuk menangis lebih lama. Setelah agak tenang, dokter Laras memutuskan untuk mengakhiri sesi sharing itu. "Nak, dengarkan tante. Sejatinya manusia itu adalah saling memaafkan dan saling membantu, Hablum minan naas. Mungkin sekarang, orang yang Muti maksud sedang butuh bantuan dari Muti untuk bisa berubah. Karena orang juga bisa berubah nak. Dengarkan tante. Saat Muti dikelilingi keluarga dan orang yang sangat spesial untuk Muti. Mereka menyayangi Muti. Jadikan mereka yang membuat luka bagi Muti adalah kenangan. Meskipun itu pahit. lepaskan dendam itu, dan jaga hati Muti untuk selalu tenang. Paham sayang? Lupakan kesedihan dan kekecewaan itu. Pikirkan hal yang membahagiakan untuk Muti" Muti diam dan melaksanakan yang diperintahkan oleh dokter Laras. Lalu sedikit mengulas senyum.


"Kenapa tersenyum?" tanya dokter Laras.


"Senang te, karena sekarang Muti punya orang yang selalu bisa buat Muti bahagia"


"Siapakah dia?"


"Mas Si, galak sih tapi ngangenin. Nyebelin sih tapi pedulinya minta ampun, dia selalu ngalah sama Muti, mulutnya pedes sih tapi manis. Hihihi" dokter Laras menautkan alisnya bingung. "Pedes manis kayak makanan saja. Maksudnya gimana sih? Tante gak mudeng"


"Kalau ngomong kadang pedas tante, tapi kalau lagi nyium rasanya manis" dokter Laras dan Hana tertawa mendengarnya.


"Oke, Muti sekarang sudah sah menjadi istri mas Si, kebahagiaan dekat dengan Muti, kesedihan dan kekecewaan memudar seiring berjalannya waktu. Mas Si selalu ada disini. Mas Si yang selalu menggenggam tangan Muti. Oke, hari ini cukup segini dulu. Besok 2 hari lagi kita sharing lagi, dengan tepukan 3 kali dari tante Muti akan terbangun dengan badan yang lebih fresh dan lebih ceria" Dokter Laras bertepuk tangan 3 kali. Membuat Muti membuka matanya dan tersenyum.


"Gimana? Lebih plong? Atau masih ada yang mengganjal?"

__ADS_1


Muti tersenyum. "Lebih enakan sekarang tante. Tapi Muti masih takut gelap" katanya. Dokter Laras tersenyum. "Gak papa sayang. Perlahan tante bantu. Yang penting adalah adanya kemauan dari kamu. Oke?"


Muti mengangguk. "Besok 2 hari lagi tante kesini" Mereka mengangguk.


Hana mendekat dan tertawa. "Mbak Mut, rasa mulutnya mas Si pedas manis dong ya? Berarti benar dong selama ini yang selalu godain Mas Si itu kamu duluan? Hahahaha"


Muti menutup wajahnya malu. "Jangan bilang yang lain dong Han, mbak malu nih"


"Hahahah, gak janji"


Dokter Laras membuka kuncian pintu dan membuka tirai. Yang ada di luar menunggu dengan tegang. Dokter Laras menjelaskan keadaan mereka. "Mereka berada dalam rasa trauma, kecewa dan sedih. Tapi mereka juga punya sumber kebahagiaannya. Mas Si dan Bang Ali. Tolong bantu mereka agar tidak selalu sendirian. Karena mereka butuh seseorang yang membuat mereka nyaman membantunya keluar dari fase ini. Selalu temani mereka, jika pun tidak bisa, jangan dibiarkan sendirian. Karena takutnya, trauma itu bisa membuat mereka celaka. 2 hari lagi saya akan kemari lagi. Mereka tipe orang yang mau langsung mengungkapkan isi hatinya"


Semua bernafas lega mendengarnya. "Muti dan Sigit sudah sah, tinggal kamu Al, cepat urus nikah kantor dan agama. Biar Hana juga tidak ketakutan terus menerus" kata mamah Anin.


"Iya tante, nikah kantornya sedang diproses. Nikah agamanya nunggu surat pindah nikah dulu. Kan Hana dan Ali bukan warga asli sini" jelas Ali. Mamah Anin mengangguk.


Ali menyeret Sigit untuk sedikit menjauh. "Mayat Yudi tidak ada yang mau mengambil. Saat ini masih di rumah sakit"


Sigit memijat kepalanya. "Maksudmu kita ambil itu mayat dan kita kuburkan?" Ali mengangguk. "Mereka semua bagaimana Al? Dia dalang dari semuanya"


"Feeling aku mengatakan bukan dia otak semuanya. Ingat buku diary nya? Kakaknya yang saat ini belum kita tahu dimana keberadaannya. Mayat Yudi tidak akan diambil olehnya, karena Yudi menurutku hanya dijadikan umpan" jelas Ali. Membuat Sigit berpikir keras.


"Kita tidak boleh lengah menjaga semuanya. Masih ada serpihan yang mungkin malah bukan serpihan lagi, yang bisa melukai kita. Oke lah, ambil mayat Yudi dan kuburkan. Bagaimana pun, dia juga junior kita. Huft...." jelas Sigit. Ali mengangguk dan segera menghubungi seseorang. Ali menyuruh orang itu mengambil mayat Yudi dan dikuburkan.


.

__ADS_1


Malam menjelang, para orang tua pulang ke rumah dan yang berjaga adalah Maryam dan Habib. Orang tua Habib beserta Dokter Laras dan Pak Duta datang menjenguk Muti.


"Tumben Ayah pulang cepat?" tanya Habib kepada ayahnya. "Iya dong, Ayah kan mau lihat calon mantune Ayah"


Maryam tersenyum. "Enak bang Farid setelah ini dapat cucu dari Habib. Anak-anakku kok yo durung ono sing pengen nikah yo?" kata pak Duta.


"Sabar to pah"


"Lha Aylin? Bukannya dia yang sudah punya pasangan duluan?" tanya dokter Laras. "Itulah, calonnya nanti-nanti terus kalau suruh nikahin. Kan aku jadi ragu" kata pak Duta.


"Sudah.... jangan itu melulu yang dibahas. Cerita yang lucu-lucuan saja yuk? Muti, Sigit, sebentar lagi kalian akan lihat kebobrokan dari dua pria ini" kata dokter Laras.


"Seru nih"


Dua pria itu berdecak. "Bobrok kok dipamerin!"


"Hahaha, ayo ceritakan hal memalukan yang pernah kalian lakukan" kata dokter Aia


"Apa ya? Apa bang?" tanya pak Duta. "Ah ini, barongsai magic com sama kera sakti. Wes itu pol memalukan dan bobrok"


"Ha?" Sigit Muti dan Maryam. Mereka mulai menceritakan kisah lucu mereka dulu. Semua tertawa mendengarnya.


.


.

__ADS_1


.


Cukup mengobati kerinduan dengan pak farid dan pak duta ya. nanti lagi. othor beberes dulu


__ADS_2