Cinta Karena Mandat (Revisi)

Cinta Karena Mandat (Revisi)
Bab 162


__ADS_3

Pagi itu Muti sedang memasak, tiba-tiba saja perutnya kencang dan sakit menjalar sampai pinggang. Ia meringis manahan sakit dan mencoba untuk duduk. Ia mengatur nafasnya. Menghubungi Hana dan menanyakan rasanya kontraksi seperti apa.


Setelah mendapatkan gambaran dari Hana, ia yakin bahwa dirinya sedang mengalami kontraksi. Ia memilih untuk izin dari kantor dengan memberitahu Jihan.


Sigit yang baru pulang dari piket, melihat istrinya seperti sedang menahan sakit. "Yank, kok belum siap-siap?"


"Aku ijin gak masuk kerja mas, kayaknya aku udah kontraksi deh mas"


Sigit langsung panik. Ia mengambil tas dari dalam lemari. Memasukkannya lagi. "Kamu kenapa sih sayang?" tanya Muti.


"Ini apa aja yang dibawa?" tanya Sigit. "Telponkan Mamah dulu, tanya sampai mana. Ke rumah sakitnya nanti saja kalau aku sudah mengeluarkan lendir darah" tutur Muti.


Sigit mengangguk. "Hape mana hape?" tanyanya saking bingungnya. "Di saku celanamu mas"


"O iya" Sigit mengeluarkannya, "Nelpon siapa tadi?"


"Ck, siniin hapenya" Muti merebut ponsel Sigit dan menghubungi mertuanya, menanyakan sampai dimana. "Muti tunggu ya Mah, anak Mamah nih malah kayak orang bingung"


"Hmm, waalaikum salam" Muti mengembalikan ponsel milik suaminya. Ia memilih membersihkan dapur. Sigit melarangnya. "Jangan, biarkan mas yang bersihkan. Duduk lah, mana yang sakit, mau mas pijitin?"


Muti mengangguk. "Rasanya sakit banget yank?" tanya Sigit sambil memijit pinggang Muti. Muti mengangguk. "Kayak orang mulas, tapi gak pengen pup gitu"


"Ya Allah... kasihan sekali istriku..."


"Makanya jangan suka bikin istri kesel.... kalau istrinya mau sesuatu tuh diturutin"


"Memang mas pernah gak nurutin kamu?" tanya Sigit. Kontraksi kambali datang. Muti meremas-remas pahanya. Sigit tak tega melihatnya. "Masih sakit yank? Ke rumah sakit aja yuk sekarang?"


Muti menggeleng. "Tunggu Mamah dan Mimi mas, aku pengen ada mereka juga yang menemaniku" Sigit menghela nafasnya. "Nanti kan mereka nyusul bisa Yank"


"Nanti saja mas, aku kuat kok"


"Ya sudah lah kalau kamu maksa" Muti mencoba bertahan. Sigit tak tega melihatnya. Hampir 2 jam dan akhirnya Mamah Anin dan Mimi Amira datang. Mamah Anin langsung mencuci tangan dan memakai sarung tangan medis. Memeriksa menantunya.


"Tarik nafas sayang" kata mamah Anin. Muti melakukan yang dikatakan mertuanya. Mamah Anin memastikan sebentar dan mengeluarkan jarinya. "Udah buka 2cm, ini lendir darahnya sudah mulai keluar kok. Ketubannya masih utuh. Piye? Mau ke rumah sakit sekarang atau nanti?"


"Nanti saja mah" Muti mengalami kontraksi, Mamah Anin membantu memberi semangat padanya. "Istighfar nak, yuk banyakin dzikir" Sigit mengambil wudhu dan memegang mushafnya.


Ia membacakan surat Maryam bagi istrinya. Mimi Amira menyuapi Muti. "Sedikit lagi, biar nanti ada tenaganya pas ngejan"


Muti menggeleng. "Muti gak nafsu Mi"

__ADS_1


"Jangan bilang gitu, yok dipaksain demi dedek lho" Mamah Anin yang baru saja selesai wudhu dan hendak ikut membaca surat Maryam dipanggil Ibu oleh Muti.


"Ibu Sani!" serunya. Semuanya menoleh dan terdiam. "Astaghfirullah.... Muti ngigau atau gimana tadi Mi?"


Mamah Anin tersenyum. "Kamu gak mengigau nak, Mamah dulu pernah mengalami kejadia. yang serupa dengan kamu pas nikah sama papah, Ayahnya Mamah datang tersenyum sama mamah"


Mimi Amira memeluk putri sambungnya itu. "Mimi Ada disini untuk kamu sayang, semangat ya nak, demi dedek. Yok paksain makan. Ibu ada disini menemani kamu, itu tandanya kamu tidak boleh membuatnya kecewa. Harus semangat!"


Muti mengangguk. Muti akhirnya mau makan dan minum, ia juga bergerak aktif untuk membantu penurunan janinnya. 4 jam kemudian Mamah Anin mengecek kembali kondisi menantunya. "Sudah buka 3cm, semangat! Tinggal 7 cm lagi!" katanya.


Muti menghela nafasnya dan mulai mengeluh. "Kok lama ya mah"


"Sayang, istighfar, jangan bicara seperti itu. Pikirkan dan ucapkan kata-kata positif" kata Sigit dan mendekat ke istrinya, mencium perut Muti dan mengajak janinnya berkomunikasi.


"Dedek.... dedek bentar lagi ketemu mamah sama papah ya nak? Seneng gak? Papah sama Mamah sudah gak sabar nih..... yuk bantu semangatin mamah yuk. Adek disini mau lahir Mah, adek bentar lagi ketemu sama Mamah, bentar lagi Mamah ada temennya kalau ditinggal papah kerja, ya nak yak?" tendangan kuat terasa di pipi Sigit.


Mereka semua tersenyum. "Tuh kan, anaknya aja semangat lho. Yok Mamahnya harus makin semangat! Mau coba gym ball gak nak? Mamah bawa tuh" Mamah Anin menawarkan kepada Muti.


Muti mengangguk. Mamah Anin mengeluarkan gym ballnya. "Pompa Git" Sigit mengambil pompa dan mulai memompanya.


Muti mulai duduk di atas gym ball sambil mengikuti gerakan seperti yang ada di video. Semakin lama, kontraksi Muti terus mengalami kemajuan. Ayah Indra dan Papah Bagas baru saja sampai. "Kok belum dibawa ke rumah sakit?"


"Anaknya minta nanti-nanti saja pah" jawab Mamah Anin.


"Bawa ke rumah sakit sekarang" Sigit bergegas mengambil kunci dan membawa istrinya ke rumah sakit. Mamah Anin dan Mimi Amira mengecek perlengkapan bayi dan ibu serta Ayahnya.


Mereka berangkat ke rumah sakit. Sampai disana, Muti langsubg ditangani di IGD, dipasangkan infus dan dibawa ke ruang bersalin karena pembukaannya sudah 4. Dokter Fiqy yang menghampiri Muti dan keluarganya. "Piye? Pacu yo? Iso iki lahiran normal. Mbokne semangat ngene kok" kata dokter Fiqy.


Muti dan Sigit mengangguk. "Assalamualaikum dokter Fiqy? Masih ingat saya?" tanya Mamah Anin. Dokter Fiqy mencoba memutar memorinya kembali.


"Waalaikum salam, masyaallah.... Bidan Anin! Barakallah..... Bidan yang selalu memberi saya pasien karena gak mau kena rapor merah sama sekali"


Mamah Anin tertawa. "Ya kan urusan nyawa dok, kalai ada rapor merahnya kan menggores selamanya"


"Ini anak?"


"Anak mantu dok, jadi ini mantu saya dipacu dok?" Dokter Fiqy mengangguk. "Baru buka 4, tapi portionya tipis ya? Pasti wes mbok cek kan?"


"Sampun dok, iya, tipis, nggih manut sama dokter mawon yang terbaik gimana"


"Yang terbaik ya minta sama Allah, kowe ki ah. Yawes tak tinggal dulu. Ngko dadi asistenku yo?"

__ADS_1


Mamah Anin dan yang lain tertawa. Sigit menunggui istrinya, memberikannya semangat. Semuanya berada di luar untuk mendoakannya. "Mas, sakit" rengek Muti. Sigit mengecup tangannya.


"Sabar ya sayang, bentar lagi kok"


"Bentar-bentar terus!"


"Sssttt.... gak baik ngomong begitu. Istighfar yank, dedek, sayang.... yuk nak.... keluar yuk... lahir yukk.... papah sudah pengen banget mengadzani kamu sayang...."


Waktu semakin berlalu. Adzan Ashar berkumandang. Muti ingin sekali meneran. "Mas, panggilin bidannya kek, aku udah mau pup ini"


Sigit mengangguk. Ia segera memanggil salah satu bidannya. Bidannya datang dan memeriksa pembukaan Anin. "Lengkap!" kata bidan itu. Mereka membagi tugas. Ada yang menyiapkan alat, ada yang menghubungi dokter.


Dokter Fiqy datang dan memimpin persalinan. "Iya.... terus mbak Muti.... pintar..... minum dulu. Yok ngejen lagi..... Hek......." dokter Fiqy ikut-ikutan mengedan. Dan dalam beberapa kali mengedan, lahirnya seorang bayi.


"Alhamdulillah.... barakallah.... tepat! Genduk ayu" kata dokter Fiqy sambil membersihkan sisa air ketuban di tubuh bayi mungil itu.


Tali pusar dipotong dan diletakkan di dada Muti. "Ben IMD sik yo" Sigit melihat banyak sekali darah yang keluar dari jalan lahir isteinya membuatnya pusing dan jatuh pingsan.


"Lho lah, mas pol semaput" kata dlkter Fiqy santai. Salah satu bidan memberitahu keluarganya dan Sigit akhirnya dibawa keluar.


Muti telah dipindahkan ke ruang perawatan dan Sigit baru sadar. Ia disuruh Papahnya mengambil wudhu untuk mengadzani putrinya.


Sigit menangis sambil melantunkan adzan itu di telinga putri mungilnya. "Assalamualaikum Shazia"


"Siapa mas?"


"Shazia, mas kemarin malam dapat mimpi kalau mas gendong anak perempuan, samar-samar ada yang manggil Shazia. Kita tambahkan belakangnya"


Muti mengangguk. Mereka berdiskusi tentang nama bayi mungil itu. "Shazia Mutiara Kareema" kata Sigit. "Panggilannya Zia" Semua mengangguk setuju.


.


.


.


Like


Vote


Komen

__ADS_1


Tip


__ADS_2