Cinta Karena Mandat (Revisi)

Cinta Karena Mandat (Revisi)
Bab 121


__ADS_3

Jihan memberanikan diri untuk menuju rumah dinas Bima. Ia mengemudikan mobilnya menuju alamat yang diberikan Sigit. "Mas Si tega amat sih? Masa aku disuruh kesini sendirian. Mana rumahnya sama semua warnanya. Gak ada nomornya lagi. Hadehhh...."


Jihan melihat-lihat rumah itu. "Mana sih ah, daritadi gak ketemu-ketemu" kesalnya. Ia melihat segerombolan polisi sedang duduk santai sambil bercengkrama.


"Tanya mereka saja kali ya?" Jihan menepikan mobilnya dan turun. Bertanya pada gerombolan itu. Takut? Pasti, malu? iya lah malu masa gak!!


"Permisi pak, numpang tanya rumahnya pak Bima sebelah mana ya?" tanyanya.


Bima yang saat itu berada disana mendongak melihat orang yang menanyakan dirinya. Membuatnya menjadi bahan ledekan teman-temannya.


"Cie.... Bima, sore-sore ada saja yang nyariin. Bima yang ini bukan mbak?" kata seorang rekan Bima. Jihan mengangguk. "Iya ini orangnya! Akhirnya ketemu juga kamu pak!"


Para polisi itu tertawa saat Bima dipanggil pak. Bima berdiri dari duduknya. "Gua balik duluan!" pamitnya.


"Digandeng atuh Bim, jangan malu-malu" Bima tersenyum kecut mendengarnya. Jihan berpamitan pada para gerombolan polisi itu. "Mari pak" katanya sambil tersenyum.


Jihan mengikuti langkah kaki Bima. "Ngapain kesini?" tanya Bima tak bersahabat. Jihan memanyunkan bibirnya.


"Galak amat sih! Rumahmu sebelah mana pak?" tanya Jihan lagi. Bima berdecak sebal karena panggilan Jihan.


"Kamu kira aku bapakmu?"


"Ha? Ya terus harus panggil apa dong? Situ lebih dewasa dari saya, masa harus saya panggil dek! Lebih gak sopan lagi dong!" terang Jihan.


Mereka sampai di samping mobil. Adzan maghrib berkumandang. Bima dan Jihan sama-sama diam. Bima merebut kunci mobil Jihan. Lalu keduanya masuk ke mobil. Bima mengemudikan mobilnya hingga ke depan rumahnya.


"Tahu darimana alamatku?" tanya Bima sambil turun dari mobil. Jihan mengambil bingkisannya untuk Bima dan ikut turun bersamanya. Bima membuka pintu rumahnya. Jihan mengikutinya masuk ke dalam.


"Assalamualaikum" ucap Jihan. "Waalaikum salam" jawab Bima. Jihan memberikan bingkisannya pada Bima. "Tahu dari Mas Si. Aku mau mengembalikan kaosmu itu. Sama ada makanan. Maaf ya mas, sudah gebukin kamu dan neriakin kamu maling" terang Jihan sambil mengerdip-kerdipkan matanya.


Bima menjadi salah tingkah karena ulah Jihan. "Hmmm, sudah kan? Sana balik"


Jihan memanyunkam bibirnya. "Numpang sholat" katanya. "Gak ada mukena"


"Aku bawa kok di mobil"


"Ya kalau gitu sholat di masjid saja" tolak Bima. Jihan berdecak. "Pelit! Awas saja, aku aduin kelakuanmu ke Mas Si!" kata Jihan sambil menjulurkan lidahnya.


Bima menahan senyumnya. "Ngadu sana! Palingan juga komandanku lebih percaya sama aku" tantang Bima. Jihan merasa diremehkan membuatnya kesal. Ia mencubit perut Bima sangat keras.

__ADS_1


Membuat Bima berteriak kesakitan. "Aaaa....... sakit sakit sakit....."


"Sukurin! Heran aku, galak banget sih sama aku! Udah dibaik-baikin juga masih galak!" omelnya sambil melepaskan cubitan itu. Bima masih meringis kesakitan. Jihan hendak pergi. "Mau kemana?" tanya Bima.


"Nyari masjid! Ada orang pelit yang rumahnya gak boleh ditumpangi buat sholat!" Bima menahan tawanya.


"Ambil mukena kamu sana, ayo sholat bareng" kata Bima dan meninggalkan Jihan untuk mengambil wudhu. Ha? Dia ngajakin aku sholat bareng? Gak salah nih? Tenang Jihan tenang, jangan baper.


"Buruan! Jadi numpang sholat gak nih?" kata Bima. Jihan mengangguk. Ia segera mengambil mukenanya yang ada di dalam mobil.


Mereka sholat berjama'ah. Selesai sholat Jihan merasa perutnya mulas. "Mas, bisa numpang kamar mandi gak? Perut aku mulas nih" katanya. Bima mengangguk. Dengan cepat Jihan menuju kamar mandi. Buang hajat disana.


"Huh, lega" katanya sambil keluar tak memperhatikan jalan. Dan alhasil dirinya tersandung batas antara kamar mandi dan ruangan lain. Membuatnya terjatuh dan menjerit kesakitan. Bruk "Aaaa.... kakiku..... huhuhuhu"


Bima yang sedang membereskan perlengkapan sholatnya menjadi kaget. Ia menuju kamar mandi dan melihat Jihan terduduk di lantai. "Astaghfirullahal adzim. Kamu kenapa sih?" tanya Bima sambil melihat keadaan Jihan. "Kok bisa jatuh sih?" tanya Bima.


Jihan menyalahkan pembatas lantai itu. "Itu tuh, sejak kapan sih dia ada disana" Bima menyentil keningnya. "Bego jangan dipiara nduk! Dari sebelum aku tinggal disini juga udah begitu! Walah, bengkak begini. Kesleo nih pasti. Coba gerakin kakinya"


Jihan menggeleng. "Sakit...." rengeknya sambil menangis. Bima tak tega melihat keadaan Jihan. Akhirnya dia membopong Jihan duduk di sofa. Ia melihat lagi keadaan kaki Jihan. "Mau diapain?" kata Jihan.


"Ya mau diobatin lah" Bima mulai memutar-mutar bagian engsel kaki. Membuat Jihan meringis menahan sakit. Tanpa aba-aba, Bima menekuk dan menarik kaki Jihan. Membuat Jihan langsung reflek menjambak Bima.


"Ya kamu tanpa aba-aba langsung main putar dan tarik. Kan sakit..."


"Coba gerakin" perintah Bima. Jihan mencoba menggerakkan kakinya. "Masih sakit?" Jihan mengangguk. "Gak sesakit tadi sih. Makasih ya mas"


"Sama-sama. Mobil aku biar disini saja lah. Biar aku pulang naik taksi, kalau buat nginjek gas belum bisa deh kayaknya"


"Ngomong saja minta diantar" sahut Bima. "Ih, gak kok"


"Aku antar saja lah. Mau pulang sekarang?" tanya Bima. Jihan mengangguk.


"Bentar yo, aku mau makan dulu" Bima meninggalkan Jihan dan menuju dapur. Bima makan di depan tv duduk di samping Jihan.


"Siapa yang masak?" tanya Bima. Jihan menunjuk dirinya sambil tersenyum. "Enak kan?"


Bima menggeleng. "Asin, ini pasti garam sekilo kamu tuang semuanya" Jihan tersenyum kecut. "Asin kok telap telep alias lahap. Bohong mu kurang handal bos!" jawabnya.


Bima tertawa. "Nah, gitu kan cakep to, lebih banyakin senyum daripada juteknya" Bima menoleh ke Jihan. "Apa?" tanya Jihan.

__ADS_1


"Barusan muji aku? Hati-hati, nanti kesengsem sama senyum mautku lhoh"


Jihan berpura-pura mual. "Cowok dimana saja sama! Tukang gombal!"


"Emang aku lagi gombalin kamu? Apa kamu yang mulai baper? Hmm?" Bima menaik turunkan alisnya. Jihan tertawa.


"Buruan ah makannya, nanti aku dicariin sama orang tua aku lho"


"Iya bawel ih, udah ngrepotin, cerewet lagi" Protes Bima. Bima selesai makan. Ia mengambil jaket dan tas selempangnya. Jihan mencoba berdiri tapi kesusahan.


"Peka dikit napa? Gendong kek"


"Diiih... ngelunjak! Jalan!" Jihan memanyunkan bibirnya. Akhirnya ia berjalan sambil tertatih. Ia mengomel kesal pada Bima.


Bima yang sudah berada di samping mobil hanya menahan tawanya. Mobil mulai melaju meninggalkan rumah dinas. "Alamatmu dimana?"


"Jalan x, perumahan GBP blok A 65" Bima mengatur GPSnya. Membuat Jihan menautkan alisnya. "Ngapain pakai GPS? Kan ada aku yang bisa ngasih kamu petunjuk jalan"


Bima menggeleng. "Malas tanya sama kamu" Bima menjulurkan lidahnya. Jihan memasang wajah cemberut dan bersidekap.


Tak lama Bima sampai di depan rumah Jihan. "Nih kunci mobilnya, aku balik ya? Makasih makanannya"


"Cukup tahu saja sih, ada cowok super duper cuek bebek. Beneran aku aduin kamu ke Mas Si" Jihan berusaha turun sendiri dari mobilnya. Saat membuka pintu mobil, Bima sudah berjongkok membelakanginya.


"Minggir!" katanya. "Ayo aku gendong" Jihan tersenyum tipis. Ia akhirnya naim ke punggung Bima dan digendong sampai depan rumahnya.


.


.


.


Like


Vote


Komen


Tip

__ADS_1


__ADS_2