Cinta Karena Mandat (Revisi)

Cinta Karena Mandat (Revisi)
Bab 130


__ADS_3

Minggu pun tiba, Bima menjemput Jihan di rumahnya. Ia menunggu Jihan yang masih bersiap-siap. Tak lama Jihan keluar. Tampak fresh dengan kemeja coklat dan rok jeans panjang. Rambut diikat ke atas, seperti kuncir kuda. Sepatu hitam dan tas hitam.


"Pamit dulu sama mamah ya?" Kata Jihan. Bima masih bengong melihat penampilannya. "Mas"


"Eh iya, kenapa?" Jihan tersenyum. "Pamit sama mamah" Bima mengangguk.


Setelah berpamitan Bima membukakan pintu mobil untuk Jihan. Membuat Jihan tersanjung. "Makasih pak pol"


"Sama-sama" Bima segera ke arah kursi kemudi dan mengemudikan mobil menuju rumahnya.


Di dalam mobil, Jihan lebih banyak diam, daripada bicara dengan Bima. "Kenapa sih? Kok diam terus?" tanya Bima.


Jihan menghela nafasnya dan menempelkan tangannya ke pipi Bima. "Dingin banget! Kamu sakit yank?"


Jihan menggeleng. "Grogi mas" Bima tersenyum. "Kenapa harus grogi?"


"Mau ketemu calon mertua pastilah grogi sayang. Nanti kalau aku ditanya sesuatu terus aku gak bisa, Mamah bakalan ilfeel gak ya sama aku mas?"


Bima mengangkat bahunya. "Entah" jawabnya membuat Jihan semakin frustasi. "Kok gitu sih?"


"Tenang sayang, Mamah gak bakal ngapa-ngapain kamu"


Jihan kembali menghela nafasnya berat. Bima menahan tawanya. "Ih, jangan tertawa begitu dong mas"


"Mas gak ketawa lho. Mas tahan lho. Udah ah, bismillah, sholawat, banyak berdoa jadi nanti pas ditanya gak gugup, jawabnya lancar. Paham cah ayu ku?" Jihan tersenyum dan mengangguk. Entah mengapa, setiap dirinya gugup, Bima pasti selalu bisa menenangkannya.


Mobil.telah terparkir sempurna di halaman rumah Bima. Jihan melihat rumah yang mewah. Berlantai dua. "Mas, ini rumah kamu?" tanya Jihan. Bima pun mengangguk. "Ayo masuk" Bima meraih tangan Jihan untuk digenggam.


Jihan menahannya. "Kenapa lagi?" Jihan menggeleng. "Aku insecure sama kamu, ternyata kamu anaknya orang berada"


Bima tergelak tawanya akibat ucapan Jihan. "Kenapa mesti insecure? Dengar sayang, ini harta orang tuanya mas, bukan milik mas Bima mu ini. Milik mas mu baru mampu menempati rumah dinas alias asrama polisi itu. Sudah ah, dari tadi kebanyakan alasan kamu ah"


Jihan masih ragu. Bima memantapkan hati Jihan. "Jangan pesimis sebelum mencoba, karena itu sama halnya seperti pengecut"


Jihan tersenyum dan menghela nafasnya. Ia masuk bersama Bima ke dalam rumahnya. "Assalamualaikum" ucap mereka berdua.


"Waalaikum salam" jawab seorang wanita yang masih terlihat cantik di usia senjanya. "Mah" Bima memanggil wanita itu dengan sebutan Mamah, ya itu adalah Mamah Renita, Mamah dari Bima.

__ADS_1


Bima menyalami, memeluk, dan mencium kening mamahnya. Jihan juga ikut menyalami Mamah Renita. "Apa kabar kamu Bim? Ini? Ini yang berhasil membuat anak Mamah move on?" tanya Mamah Renita penuh dengan senyuman.


"Jihan tante" Mamah Renita tersenyum. "Ayo silahkan duduk"


"Gimana kabar kamu Jihan? Anak mamah gak pernah jahil sama kamu kan?" Jihan duduk di depan Mamah Renita. Sedangkan Bima duduk di sebelahnya. Jihan menggeleng. "Mas Bima baik kok tante"


"Tante, mamah!" protes Mamah Renita. "Kamu kerja?" Jihan mengangguk. "Kerja dimana?"


"Di samsat kota Mah" jawab Jihan. "Bim, tolong suruh bi Atun bikinkan minum sama cemilan yang tadi sudah mamah buat bawa sini ya"


Bima mengangguk dan berlalu menuju dapur. Tinggal Mamah Renita dan Jihan di ruang tamu. Membuat jantung Jihan berdegup tak beraturan.


"Jihan, kenal anak Mamah dimana?" tanya Mamah Renita. Deg. Jihan tak siap dengan pertanyaan itu. Pasalnya, ia pertama kali bertemu dengan Bima saat dirinya sedang kacau hingga mabuk.


Aduuuhhh,.... kenapa pertanyaan ini yang terlontar sih?? Aku harus jawab apa dong? Kalau bohong takutnya nanti bakalan ketahuan, tapi.... kalau jujur, Mamah mas Bima bakal ilfeel gak ya sama aku?? Harus gimana nih... Jihan membatin tak berani menjawab pertanyaan Mamah Renita.


"Jihan"


"Eh, i-iya mah, gimana tadi?"


Mamah Renita tersenyum. "Ketemu sama Bima dimana?"


Bima kembali membawa kentang goreng kesukaannya. Dan menyajikannya di atas meja. "Mabuk mah" jawab Bima, membuat Jihan melotot ke arahnya. "Ha? Mabuk??" tanya Mamah Renita yang terkejut pula.


Jihan mengangguk. "Iya, Mah, maafin Jihan"


"Kenapa bisa sampai mabuk?" tanya Mamah Renita lagi. "Karena putus cinta" ledek Bima. Jihan memukul lengannya.


Mamah Renita malah tertawa. "Beneran Jihan?" Jihan mengangguk. "Ya Allah.... jangan diulangi lagi! Mamah gak suka calon mantu Mamah mainnya ke tempat begituan! Jihan Jihan, seperti gak ada lelaki lain saja kamu sampai merusak diri kamu. Mamah gak mau tahu ya, kalau sampai Mamah dengar kamu mainnya ke bar lagi, batal jadi mantu mamah"


Jihan memaksakan senyumnya. "I-iya mah, gak lagi-lagi kok, Jihan janji gak bakalan main ke tempat begituan lagi. Tapi.... kalau karaoke boleh kan mah?"


Bima dan Mamah Renita tertawa. "Gak boleh! Kalau mau karaokean tuh, di lantai dua, lengkap semua" Mamah Renita tetap melarang Jihan. Jihan kembali memaksakan senyumnya.


Minuman datang, Mamah Renita mempersilahkan Jihan untuk meminumnya. Dengan cepat Jihan menghabiskan minumannya. "Busyet..... haus banget yank?" tanya Bima.


Jihan mencubit lengannya. "Oh ya Jihan, papahnya Bima gak bisa menemui kalian, beliau sedang ada urusan di Sleman"

__ADS_1


"Iya mah, gak papa" Mamah Renita tersenyum. "Sini" mamah Renita menyuruh Jihan pindah posisi di sampingnya. Jihan ragu. Bima menatapnya dan mengangguk. Akhirnya Jihan berpindah.


"Mamah senang, kamu berhasil memenangkan hati anak Mamah, kamu anaknya baik, ceria, tapi suka cemburuan. Bima banyak cerita sama Mamah tentang kamu. Mamah percaya pilihan Bima tak mungkin sembarangan. Jadi... jangan rusak kepercayaan Mamah ya sayang? Dijaga hubungannya, jadi pribadi lebih dewasa. Kalau sudah siap, bilang sama mas mu, kapan kamu siap untuk dilamar keluarga kami. Oke Jihan?"


Jihan menjadi terharu akan ucapan Mamah Renita. Ia mengangguk dan memeluk Mamah Renita. Mamah Renita dan Bima tersenyum melihatnya. "Makasih ya Mah, Jihan kira bakalan susah dapat restu dari camer"


"Sama-sama. Gak semua orang tua itu kolot sayang. Ada yang seperti itu, tapi banyak juga yang lebih berpikiran terbuka. Karena bahagia, kita yang tentukan. Bukan berdasarkan kriteria yang orang lain inginkan, melainkan kita sendiri yang memilih dan memantapkan akan pilihan itu"


Jihan mengangguk. "Bu, makanannya sudah matang" Bi Atun datang dan memberitahukan bahwa makanan telah siap. "Makasih Bi, ayo makan dulu. Bisa masak kan?"


Jihan mengangguk. "Bisa mah, tapi masakan sederhana"


"Ya gak papa, penting bisa dulu. Kamu berapa bersaudara nduk?" Mamah Renita bertanya tentang keluarga Jihan.


"Jihan anak tunggal Mah, sama seperti mas Bima. Tapi, Papah Jihan sudah meninggal saat Jihan umur 6 tahun"


"Ooo... Maaf mamah gak tahu, Bima gak pernah cerita soalnya" jelas Mamah Renita. Mereka duduk di ruang makan. "Ayo, monggo Jihan"


Jihan mengangguk. Ia mengambil piring Bima. "Mau nasinya seberapa mas?" tanya Jihan. "Satu centong cukup yank" balas Bima.


Mamah Renita tersenyum melihat kemesraan antara anaknya dan calon mantunya. Jihan telaten dalam melayani Bima. "Mamah mau nasi seberapa?" tanya Jihan.


"Setengah centong saja, Mamah gak bisa makan banyak-banyak. Tahu makanan kesuakaan Bima kan?" Jihan menggeleng.


"Lhoh, kamu gak bilang Bim?" Bima menggeleng sambil menyuapkan nasinya. "Bima itu paling suka kentang goreng, paling gak suka bakso"


Jihan mengangguk. Mereka makan dengan tenang hingga makanan di piring mereka sudah tak tersisa.


.


.


.


Like


Vote

__ADS_1


Komen


Tip


__ADS_2