
Hari berlalu dengan cepat. Muti dan Hana masih harus melakukan terapi tapi saat ini sudah dijadwalkan seminggu sekali dan mereka akan ke Magelang. Pernikahan Hana dan Ali pun tinggal menghitung hari, tinggal 3 hari lagi mereka akan melangsungkan akad nikah.
Para sepupu Hana membantu Hana dan Ali mempersiapkan semuanya. Para tetua pun telah hadir lagi di Semarang. Tak lupa orang tua Ali dan keluarga besarnya. Hana diperkenalkan dengan kakak-kakak Ali. Hana senang, karena kedua kakak Ali sangat hangat terhadapnya.
Di lain sisi, Luna sedang melakukan sesuatu. Ia mengikuti saran Sigit untuk menyadap ruangan Danang dan juga apartemen Danang. Pikirannya sangat terganggu dengan masalah ini. Bahkan saat menemani Hana foto prewedding, dirinya tak bisa fokus sama sekali. Hal itu karena Danang tak menghubunginya sejak kemarin.
Ia khawatir. Ia mengirim pesan, tapi hanya dibaca oleh Danang. Panggilannya diabaikan oleh Danang. Hingga ia memutuskan untuk mencari Danang di apartemennya. Ia meminta Sigit dan Muti menemaninya, karena pikirnya, jika terjadi sesuatu dengan Danang, sudah ada yang akan membantunya.
"Atau mungkin Danang di rumah mamahnya kali ya mbak Lun?" tanya Muti, karena sedari tadi mereka memencet bel apartemen Danang tak ada yang keluar. Akhirnya mereka memutuskan untuk mencari Danang di rumah orang tuanya.
"Ya sudah, coba kita samperin kesana saja lah ya. Kamu tahu rumahnya kan Mut?" tanya Luna. Muti mengangguk. Mereka menuju parkiran.
Tak diduga dan tak disangka, mereka melihat Danang sedang bersama Mamahnya di parkiran. Sedang terjadi keributan kecil disana. Hingga Luna, Muti, dan Sigit diam untuk menyaksikan yang sedang terjadi.
"Kamu itu anak Mamah, kamu harus bisa menghancurkannya Danang. Kamu tahu? Mamah dulu dihancurkan dan dipermalukan oleh keluarganya Luna. Mamah senang, akhirnya kamu berhasil mendapatkan hatinya Tristan. Dan sekarang adalah waktu yang tepat untuk membalaskan rasa sakit hati mamah.
Mamah ingin, nanti saat kamu disuruh menikahi Luna, bilang iya. Siap gitu. Tapi pas hari H nya, kamu gak usah datang. Biar keluarga itu malu, pernikahan biar batal. Biar mereka gak punya muka di depan orang-orang. Hahahah" Mamah Ana senang membayangkan hal yang menjadi rencananya.
Deg. Jantung Luna tetiba sakit mendengar rencana yang keluar dari mulut Mamah Ana. Begitu pula dengan Sigit dan Muti, mereka tercengang bukan main.
Danang mengusap wajahnya kasar. "Tapi mah...."
"Gak ada tapi-tapi! Mamah gak terima penolakan!"
Danang pasrah dan mengangguk. "Iya mah"
"Iya apa?" tanya mamah Ana
"Iya Danang akan turuti maunya mamah" katanya pasrah. Luna sudah tak tahan lagi. Ia maju dan bertepuk tangan kepada kedua orang itu. Membuat Danang dan Mamah Ana kaget dibuatnya. Luna tertawa sambil menangis. Ia menghapus air matanya.
__ADS_1
"Lun...." ucap Danang terpotong.
"Stop! Jangan sebut namaku lagi dengan mulut kotormu itu. Waahhh.... rencana kalian hebat juga ya untuk membuat malu seseorang? Sangat rapi dan profesional"
"Lun.... dengarkan dulu...."
"Cukup Nang! Apa arti semuanya? Apa arti perhatian dan sikap romantismu selama ini ke aku? Bodoh aku! Bodoh jatuh hati sama kamu! Aku pikir kamu cowok baik-baik dan tulus sayang dan cinta sama aku! Tapi nyatanya apa? Waaahhhh, hebat kamu! Kamu baru saja menghancurkan sebuah hati dengan kepercayaan dan harapan yang besar terhadapmu.
Selamat! Kamu baru saja menjadi pemenang atas permainanmu! Kamu berhasil mendapatkan hatiku dan hati keluargaku! Tapi kamu juga berhasil membuat semuanya hancur!" Luna menghapus kembali air matanya. Danang bingung harus bagaimana.
"Lun, aku tulus sama kamu"
"Hahahahah, tulus? Tulus untuk membohongi dan menghancurkan maksudmu? Ya, kamu berhasil. Kamu memang hebat. Tante, anda memang seorang sutradara hebat yang pernah saya kenal. Eh, maaf, kita belum kenal kan ya tante? Perkenalkan saya Aluna Lestari, anak dari Tristan dan Tari. Jika anda pikir kami akan hancur, anda salah tante. Kita lihat siapa yang akan lebih hancur? Saya dan keluarga saya? Atau tante dan anak tante?" tantang Luna terhadap Mamah Ana.
Mamah Ana tertawa devil. "Benarkah? Mari kita bertaruh, siapa yang akan hancur! Dari air matamu saja sudah terlihat kalau kamu rapuh! Jika sebuah tiang rapuh, sebentar lagi akan roboh! Nang, mamah pulang dulu. Anak mamah memang hebat. Bisa menghancurkan mereka yang menghina mamah"
Sigit geram melihat Danang, ia mengepalkan tangannya dan langsung melayangkan tinjunya kepada Danang. Bugh bugh bugh.
Muti membiarkan suaminya. Ia malah mengejar tantenya. "Tante tunggu!"
Mamah Ana menoleh. "Tante memang kejam! Muti tak menyangka tante akan melakukan hal itu. Kita lihat tante, Danang akan lebih menderita karena tidak bisa bersama dengan mbak Luna. Dan tante, tante akan sangat menderita karena melihat Danang menderita. Muti bisa jamin hal itu tante" Muti berbalik arah meninggalkan tantenya yang mematung.
"Heh Muti! Jangan sok kamu! Anak kemarin sore tahu apa kamu??! Aku tidak akan hancur!"
Sigit menghajar Danang habis-habisan. Sedangkan Luna, entah kemana dia. Ia sudah berlari meninggalkan Danang, Sigit, dan Muti.
Muti melerai suaminya. "Sudah mas, dia bisa mati kalau kamu seperti itu" katanya. Sigit mengatue nafasnya. "Biarkan dia mati! Dia pantas menerima itu!"
"Mas, mbak Luna kemana??" tanya Muti kebingungan dan celingukan. Danang terkaoar sendirian. Sigit dan Muti meninggalkannya. Ia menangis. Berteriak histeris hingga satpam apartemen datang menemukannya sudah tak sadarkan diri.
__ADS_1
"Ya Allah pak Danang!" kata Satpam itu. Ia segera menghubungi temannya untuk membantu mengangkat Danang.
Sigit dan Muti mencari Luna. Muti mencoba menghubungi ponselnya tapi sudah tidak aktif. Sigit mencoba bertanya pada orang-orang di rumah, tapi kata mereka Luna belum pulang. Sigit dan Muti benar-benar kelimpungan kesana kemari.
"Mas, coba ingat-ingat deh, mbak Luna kalau lagi sedih biasanya dimana?" Sigit diam dan memejamkan matanya. Karena seingat Sigit, Luna tak pernah bersedih jika sedang bersamanya.
Ia membuka matanya dan menoleh ke Muti. "Mungkin gak sih yank kalau Luna datang ke SMA nya?" Muti menggeleng.
"Daripada kita penasaran lebih baik kita cari kesana saja mas" kata Muti.
.
Sedang di dalam ruangan kelas itu. Luba duduk di bangkunya dulu. Ia menangis melepaskan beban yang sedari tadi ditahannya. Ia menangis sesenggukan mengingat kata-kata Mamahnya Danang yang merencanakan untuk membuat keluarganya malu.
"Kalau ku tulus sama aku, kenapa kamu jawab permintaan mamah kamu dengan kesanggupan iya Nang? Kenapa? Aku kecewa sama kamu! Aku muak sama sikap kamu! Aku.... hiks.... huhuhuhu.... aku terlanjur cinta sama kamu Nang. Hiks huhuhuhu..... huhuhuhu...."
.
.
.
Like
Vote
Komen
Tip
__ADS_1