
Papah Bagas mendapatkan kabar dari penghulu. "Alhamdulillah" ucap Papah Bagas. "Ada apa pah?" tanya Muti.
"Pak penghulunya bisa jam 10, baju kalian masih di rumah Muti? atau dimana?"
"Iya di rumah Muti pah" jawab Sigit. "Ya sudah, Ayah pulang dulu untuk mengambil baju kalian" kata Ayah Indra.
"Bang, biar kami saja yang ambil bajunya. Abang disini saja temani Muti" kata Mamah Anin. "Kalian gak capek?"
Mamah Anin menggeleng. "Demi mereka kantuk pun tak jadi bang, Abang istirahat saja"
"Benar kata mamah Yah, Ayah istirahat saja. Biar Sigit yang menemani Muti" Ayah Indra mengangguk. Papah Bagas dan Mamah Anin pamit untuk pulang mengambil baju mereka.
Muti sudah terlelap. Sigit menyenandungkan sholawat dan menggenggam tangan Muti. "Cepat sembuh marmut nakalku, mas kangen dijahilin sama kamu" ucap Sigit sambil mengulas senyumnya.
Sigit ingin memejamkan matanya tapi tak bisa. Ia ingin terus melihat wajah Muti. Ia merapatkan kursinya dekat nakas tempat tidur Muti. Menggeser perlahan agar tak menimbulkan suara. Ia menoleh ke belakang dan dilihatnya Ayah Indra tidur membelakangi dirinya.
Dirinya tersenyum melihat Muti yang sedang terpejam. "Besok kita jadi halal yank, aku menjadi muhrim kamu. Aku akan jadi imam kamu. Aku tidak akan pernah melepaskanmu, aku berjanji, aku akan selalu menjagamu dan mempertahankan hubungan kita. Jadi makin gak sabar kan akunya. Huft. Mutiara Insani, kenapa bisa sih aku tergila-gila sama kamu? Hmm?"
Muti tersenyum dan membuka matanya. Sigit terbelalak melihat Muti membuka mata. "Kok bangun? Atau jangan-jangan kamu belum tidur ya?"
Muti mengangguk. "Kamu tuh jaim banget sih sama aku? Kenapa muji-muji akunya gak disaat aku melek? Kenapa selalu saat aku tidur? Heran aku"
Sigit tersenyum mendengar ocehan Muti. "Mas kan sudah pernah bilang to? Mas mu ini bukan tipe lelaki romantis. Mas mu ini tidak pandai mengungkapkan apa yang dia rasakan. Mudeng?" Muti mengangguk.
"Mas cinta sama kamu, sayang sama kamu, takut kehilangan kamu"
Muti mengedip-kerdipkan matanya dan tersenyum malu. "Buktinya apa?"
Sigit menautkan alisnya bingung. "Apa ya? Perlu dikasih kembang gitu? Atau apa?" Muti menggigit bibirnya sendiri. "Apa ih?" tanya Sigit.
Muti menjadi kesal. Ia memanyunkan bibirnya. "Gak pekaan banget sih?? Heran akunya, mesti ngasih kode pakai apa lagi? Sandi morse? Atau apa?" katanya kesal. Sigit menahan tawanya.
"Ingat lagi sakit, jangan marah-marah terus" Sigit sedikit mendekatkan wajahnya ke wajah Muti. Lalu perlahan menatapnya. Semakin dekat. Muti menjadi grogi. Keringatnya keluar.
__ADS_1
Sigit semakin mendekatkan wajah mereka. Semakin dekat dan menepis jarak. Mata Sigit menatap mata Muti. Membuat Muti semakin sesak untuk bernafas. Sigit menutup matanya dan menempelkan bibirnya pada bibir Muti.
Membuat Muti tercengang dengan perlakuan Sigit terhadap dirinya. Sigit mencium bibir Muti, dan sedikit melu*matnya. Setelah itu ia kembali duduk di kursinya. "Tidur yank, besok hari penting kita. Meskipun keadaannya lagi begini tapi acara besok adalah acara yang sakral. Mas sudah menuruti keinginanmu, jadi sekarang tidurlah"
Muti tersenyum. "Mas, yang barusan kamu nyium aku beneran?" tanyanya senang tapi tak ingin berisik. Sigit tersenyum dan mengangguk. "Mas tergoda sama kamu"
"Aku gak lagi mimpi kan mas?"
"Enggak sayang" kata Sigit.
"Coba lagi mas, biar aku bisa percaya kalau itu memang bukan mimpi" Sigit menjitak kepala Muti. "Itu maunya kamu!"
Muti memanyunkan bibirnya kesal. "sekali saja" Sigit menggeleng. "Bobok gih... mas bangungkan Ayah nih biar kamu kena jeweran karena godain mas terus"
Muti nyengir. "Ojo to sayang, ya sudah aku bobok deh, makasih ya sayang. Selamat malam mas Sigit, I love you"
"I love you too marmut. Mas bacain surat Ar-rahman mau? Biar kamu bisa tidur" Muti mengangguk. Sigit mulai mengambil nafas dan melantunkan surat itu. Merdu, seperti sedang berada di Mekkah. Mambuat Muti semakin mengagumi calon suaminya. Perlahan, matanya terpejam. Rasa kantuk menyelimutinya. Dan akhirnya dia terlelap.
"Humam?" panggilnya. Ia menoleh ke arah derap langkah terdengar. Ada seorang pria lagi. "Yudi?" Ia menoleh ke belakang karena mendengar suara cambukan.
Tubuh Muti lemas, dia terduduk di lantai. Ingin berdiri tapi tak mampu. Ia mulai ketakutan. Wanita dibelakangnya mulai mencambuk dirinya. Humam dan Yudi tertawa melihatnya.
Muti meringis merasakan sakit di tubuhnya. "Tolong hentikan..." Muti menangis dalam rintihan itu. Sigit mencoba membuka matanya. Ia melihat Muti sedang menangis dengan mata terpejam.
Ia menggoyang-goyangkan tubuh Muti, hingga Muti terbangun. "Kamu kenapa sayang?" tanya Sigit. "Kamu mimpi buruk?" tanya Sigit lagi. Muti mengangguk.
Sigit mengambilkan air minum untuk Muti, lalu diminumnya air itu. Membuatnya sedikit lega. "Aku takut gelap mas, bisa tolong nyalakan lampunya?"
Sigit mengangguk dan menghidupkan lampu itu. Muti bercerita kepada Sigit mimpi yang ia alami. Membuat Sigit iba akan hal itu. "Ada mas disini. Tidurnya dengan lampu terang begini saja ya?"
Muti mengangguk. "Ya sudah, sekarang baring lagi" Muti membaringkan lagi dirinya di bed itu. Sigit menggenggam erat tangan Muti.
.
__ADS_1
Sama halnya dengan Muti, Hana mengalamai gangguan dalam tidurnya. Mami Salma mencoba menenangkannya, Hana malah menangis. Papi Raka sedih melihat keadaan putrinya.
"Hana sedang dalam keadaan tidak baik Mi, ingat kasus dulu? Dan sekarang Hana sedang berada dalam fase itu" ucap Papi Raka. Mami Salma mengangguk.
"Tidurnya sambil dipeluk mami begini yuk, Mami temankan kamu tidur. Mau kan? Besok hari penting buat mas Si lho Han, besok mas Si akad di Ambarawa. Kita harus berangkat pagi, dandan, nyiapin segala keperluan ini itu, iya kan? Hana gak mau datang ke pernikahan mas Si?"
Hana mengangguk. "Itu artinya, Hana sekarang harus tidur"
"Sama Mami" rengek Hana seperti anak kecil. Mami Salma tersenyum dan mengangguk. Ia mengecup kening anaknya. "Iya sama Mami, yuk tidur"
Hana dan Mami Salma berbaring di ranjang. Papi Raka keluar dan menutup pintu kamar itu. Kakek Umang, papah Bagas, Mamah Anin dan Maryam menunggu dengan cemas. "Muti kayak gitu juga gak ya pah? Mamah malah jadi khawatir dan gak tenang banget begini deh" kata mamah Anin.
Papah Bagas menenangkannya. "Ada Sigit. Fia bersama orang yang menyayanginya. Jangan khawatir mah. Ka, gimana Hana?"
Papi Raka menghela nafasnya. "Dia seperti dulu lagi kak, aku takut dia mengalami krisis kepercayaan diri lagi"
Kakek Umang menguatkan papi Raka dengan mengelus-elus punggungnya. "Hana anak yang kuat, dia pasti bisa melewati ini. Apalagi sekarang dia akan ditemani oleh Ali. Krisis kepercayaan diri itu tidak akan berani mendekat kepadanya"
Papi Raka tersenyum mendengarnya. Semua saling menguatkan dan memberi rasa tenang. Itulah arti sebuah keluarga.
.
.
.
Like
Vote
Komen
Tip
__ADS_1