
Deg deg deg deg deg deg. Detak jantung Sigit berpacu cepat. Wajahnya tiba-tiba merona merah. "Ah, ngaco kamu. Mana mungkin mas nyium kamu sebelum sah? Hahaha, gak mungkin lah"
"Kan aku bilang mimpi sayang. Tapi kalau mimpi aku diwujudin jadi nyata juga gak papa sih. Ehehehhe. Tapi kenapa kalau mimpi rasanya bekas banget ya? Kayak ada manis-manisnya.... gitu" Sigit geleng kepala dan tersenyum mendengarnya.
"Lagi sakit juga, masih.... saja godain mas. Iya, mas tadi ngasih nafas buatan buat kamu. Mas takut kehilangan kamu, pakdhe Tristan nyuruh mas ngasih nafas buatan buat kamu karena gak ada oksigen disana. Kenapa? Suka kamu? Hmm? Senang kamu dicium sama Mas? Mas nangis dan panik karena kamu gak sadarkan diri kok kamu malah cengar cengir seperti ini" jelas Sigit.
Muti tersenyum malu dan menutup wajahnya dengan telapak tangannya. "Ih, kamu curi-curi kesempatan ih. Ada berkahnya juga aku diculik ya? Jadi bisa dicium sama kamu. Ya sudah deh, besok mau diculik lagi. Tapi, diculik sama pak polisi ganteng nan manis satu ini saja. Hahahah"
Semua menoleh ke arah Muti dan Sigit. "Wah, sudah sehat itu anaknya pak, sudah tertawa keras begitu kok" cibir dokter Ais.
"Saya mah obatnya gampang dok, tinggal dipepetin saja terus sama sumber energinya. Pasti sembuh, ya kan mas Si???" kata Muti menggoda Sigit. Sigit malu bukan main. Wajahnya benar-benar bukan merona lagi, melainkan menjadi merah padam.
"Maaahhh..... Muti nih godain Sigit melulu" adu Sigit kepada mamah Anin. Mereka semua tertawa dengan tingkah konyol kedua calon pengantin itu.
"Dasar kalian itu ya? Yang perempuan suka benar godain anak mamah sih? Hmm?" ucap mamah Anin.
"Witing tresno jalaran soko mandat dadine bucin yo iki (Tumbuhnya cinta terjadi dari mandat jadinya bucin ya ini), tapi gak papa, papah senang akhirnya kalian saling mencintai dan saling bisa menghargai kehadiran satu sama lain" papah Bagas mengacungkan jempol untuk mereka.
Mereka kembali tertawa. Dokter Ais pamit karena dia harus visite ke pasien lain. "Maryam, pak Bagas, pak Indra, bu Anin, mas Sigit, mbak Muti, senang bisa berkenalan dengan kalian. Besok kita jumpa lagi ya? Karena besok jadwal mbak Muti sharing is caring istilahnya ya, untuk memperbaiki mental. Besok acara akadnya jam berapa?" tanya dokter Ais sebelum pergi.
"Insyaallah jam 10 pagi dokter besan. Nunggu keputusan dari pak penghulunya, karena jadwal beliaunya juga padat" jawab Papah Bagas. Dokter Ais mengangguk.
"Insyaallah, terapinya siang hari pak, biar lebih leluasa. Ya sudah, Bib, jaga benar-benar calon mantu Bunda, sampai dia nangis, kamu yang Bunda jewer!" pesannya kepada Habib. Habib memberi hormat kepada mamahnya.
"Siap! Habib akan menjaganya seperti Ayah menjaga Bunda. Ngawal jodoh sampai halal. Hehehe" Dokter Ais tersenyum. "Ya sudah, Bunda pamit. Monggo semuanya. Assalamualaikum"
"Waalaikum salam" jawab semuanya.
.
__ADS_1
Galih sudah terbujur kaku dalam peti itu. Ali dan Hana baru saja sampai di bandara. Mereka langsung ikut bergabung dalam barisan pelayat yang akan mengantarkan kepergian Galih. Upacara penghormatan terakhir akan segera dimulai.
Semua pasukan disiapkan oleh komandan mereka. Terdengar deru suara drumb band untuk mengiringi kepergian Galih. Peti sudah dipanggul oleh pasukan itu. Semua memberikan penghormatan terkahirnya kepada pahlawan yang gugur dalam tugasnya.
"Hormat...... grak!" semua memberikan penghormatan. Air mata begitu saja lolos dari mata para pelayat. Mereka benar-benar kehilangan sosok Galih. Seorang polisi yang cerdas, memiliki kemampuan khusus dalam menggambar wajah seseorang hanya dengan cerita saja. Gugur demi menegakkan kebenaran.
Tubuh Hana bergetar. Ada rasa yang mengganjal di hatinya. Ada sesal yang menderanya. Aku sudah memaafkanmu Lih, maaf terlambat mengucapkan ini.
Flash Back On
Setelah selesai menggbar sketsa itu, Hana hendak pulang. Dirinya bertemu lagi dengam Galih di lorong kantor polisi itu. Hana berhenti. Mereka saling tatap dalam jarak itu. Tak ada kata yang terucap dari mulut keduanya.
Hingga Hana melangkahkan kakinya melewati Galih. Tangannya dicekal. "Kak" panggil Galih.
"Tolong lepaskan tangan kamu" Galih menuruti permintaan Hana. "Ada apa?" tanyanya.
Hana hanya diam mendengarkan ucapan Galih. "Kak, aku minta maaf. Tolong jawablah"
Hana berbalik menghadap Galih. Tangannya bersidekap di depan dada. "Kamu tahu apa yang aku alami setelah itu? Aku menjadi krisis kepercayaan diri. Dan sekarang kamu minta maaf? Adilkah? Anggaplah kita tidak pernah saling kenal"
Hana melangkah pergi meninggalkan Galih yang masih mematung memikirkan ucapan Hana.
Flash Back Off
Ali melihat tubuh Hana bergetar. Hampir saja jatuh tapi Ali menyangganya. "Kamu gak papa?" tanya Ali. Hana mengangguk.
Ada perasaan kecewa yang terbersit dalam hati Ali. Mungkinkah kamu masih menyukainya? Kenapa kamu sesedih ini? Sungguh, hatiku panas melihatmu menangisi pria lain Han. Ada aku di sampingmu. Tapi mengapa seperti tak berwujud?
Jenazah Galih sudah akan masuk pesawat. Seorang kowad bersimpuh di depan peti itu. "Aku sayang sama kamu bang, jadi inikah tanda pamitmu padaku? Ku ikhlaskan kepergianmu. Selamat jalan pahlawan. Tunai sudah janji baktimu pada negerimu" Kowad itu mencium peti itu. "Selamat jalan Galih Pamungkas" Kowad itu berdiri dan menghapus air matanya. Ia memberikan penghormatan terakhirnya pada sang pahlawan yang merupakan kekasihnya itu.
__ADS_1
Jenazah Galih masuk dalam pesawat, Shanum, Komandan Agung beserta istrinya ikut mengantarkannya terbang pulang ke Kalimantan. Menuju rumah duka, hingga ke peristirahatan terakhirnya.
Hana melihat kowad itu. Ia yang sedikit mendengar cerita dari Maryam menduga bahwa itu adalah pacar Galih.
Para pelayat membubarkan diri. Ali berjalan meninggalkan Hana dibelakangnya. Membuat Hana sedikit bingung. Mereka masuk ke mobil. Ali langsung tancap gas mengantarkan Hana pulang.
Hana merasa ada yang janggal dengan sikap Ali. "Bang" ucapnya. Ali hanya menoleh tanpa menjawab panggilan Hana.
"Abang kenapa?" Ali tetap diam. "Bang!" bentak Hana. Ali membanting setir ke bahu jalan dan berhenti. Hana terperangaj dengan sikap Ali. "Abang kenapa sih? Ha? Adek ada salah sama Abang?? Ngomong!" kata Hana meminta penjelasan dari Ali.
"Han, aku tanya sama kamu sekali ini, dan tidak akan aku ulangi" Hana semakin terkejut karena Ali tidak memanggilnya seperti biasa. Nada bicara Ali dipenuhi emosi.
"Apa kamu masih mencintai Galih?" tanya Ali dengan jelas dan penuh penekanan. Hana menautkan alisnya. "Mencintai Galih? Kamu apa-apaan sih Bang? Kamu cemburu?"
"Jawab pertanyaanku, jangan malah balik tanya" ucap Ali. Hana menghapus air matanya, tangannya menangkup wajah Ali. Mata mereka saling bertemu. Beradu pandang. "Lihat dan saksikan sendiri kejujuran dari ucapan dan sorot mataku. Aku tidak mencintai Galih. Aku hanya menyesal belum mengatakan aku sudah memaafkannya. Puas bapak penyidik Ali Zayyed Abdullah yang terhormat?"
.
.
.
Like
Vote
Komen
Tip
__ADS_1