
Ali dan Hana saling berpandangan. Beberapa saat menjadi hening. Hingga ada panggilan masuk ke ponsel Ali. Telpon dari Sigit. Ali menerima panggilan itu. Sigit menanyakan kebenaran kabar tentang Galih.
"Hmm, Galih gugur. Gimana keadaan Muti? Hmm, syukurlah. Hana lagi sama aku. Terapi? Hmm, oke nanti aku sampaikan sama dia. Waalaikum salam" panggilan berakhir. Mereka saling diam. Ali merasa bersalah telah berkata seperti itu kepada Hana.
Dilihatnya Hana tertunduk. Ali memberanikan diri meraih tangan Hana. Menggenggam tangan Hana. Mengecupnya. Hati Hana berdesir hebat karena kecupan itu. "Maafin abang, karena abang salah sangka sama adek. Abang.... Abang cemburu dek. Hati abang panas melihat adek menangisi lelaki lain"
Hana menoleh ke Ali. "Tapi bisa kan diungkapkan? Jangan hanya diam bang, ngomong apa yang Abang rasakan, biar adek juga tahu isi hati abang. Jangan hanya diam dan marah. Adek bukan peramal yang tahu segala isi hati orang bang"
Ali menahan tawanya karena Hana berkata seperti itu. "Jangan tertawa!" kata Hana judas. "Iya, maaf ya? Bagi lelaki, jika cemburunya itu diungkapkan harga diri mereka bisa jatuh dek"
"Oooo jadi lebih penting harga diri abang ketimbang perasaan adek? Adek juga sakit kali bang didiemin abang kayak tadi. Abang mau adek diemin gak adek ajak ngomong gak adek kasih kabar?" Ali menggeleng. "Jangan"
"Makanya! Jangan seenaknya main ngediemin anak orang!" ucap Hana kesal. Ali pasrah mendapatkan kemarahan Hana. "Mau mengantarkan adek pulang gak nih??! Atau adek pulang sendiri??"
"Ih, jangan dong dek, Abang antar. Abang janji besok-besok kalau lagi cemburu ngomong sama adek. Maafin abang ya?" Hana diam dan menatap lurus ke depan. "Dek... Abang dimaafin kan?"
"Iya! Ayo pulang!" Ali mengangguk dan mulai melajukan mobilnya kembali. "Dek, besok kamu terapi sama Muti di Ambarawa"
Hana menautkan alisnya bingung. "Terapi apa?" Ali menggeleng. "Abang juga gak tahu, kata Sigit terapi untuk trauma kalian"
Hana mengangguk. "Ya sudah"
"Besok selesai terapi ketemu sama orang tua Abang lagi ya? Mau kan?" Hana mengangguk.
.
Luna menyelonjorkan kakinya di sofa. Tubuhnya lelah, ia juga sedih melihat 2 orang anggota kepolisian yang merupakan rekannya gugur. Yang satu dianggap sebagai pahlawan sedangkan satunya lagi dianggap sebagai pengkhianat.
__ADS_1
Tiba-tiba saja air matanya menetes. "Yud Yud, kenapa harus kamu orangnya? Kenapa harus kamu yang menjadi pengkhianat diantara kami? Kamu itu anggota yang cerdas, ceria, easy going. Tapi, kenapa kamu menjadi begini?"
Bunda Tari datang bersama Ayah Tristan. "Assalamualaikum" ucap mereka. Mereka heran melihat anaknya menangis. "Kenapa menangis Lun?" tanya Ayah Tristan.
"Waalaikum salam, Ayah sama Bunda sudah kembali? Gak papa Yah, hanya sedih saja dengan kejadian ini. Yudi, dan Galih. Dua junior Luna yang sama-sama ceria, cerdas, tapi bernasib tragis. Luna merasa kehilangan mereka" jelas Luna. Bunda Tari memeluk putrinya. "Semua yang terjadi adalah takdir nak"
Luna mengangguk. Danang datang dengan menenteng makanan. "Assalamualaikum"
"Waalaikum salam" Danang menyalami Ayah dan Bunda. "Bawa apa sih? Repot-repot segala" kata Bunda.
"Makanan dari kafe Bun, pasti pada belum makan kan?" jawab Danang. Bunda Tari merebut bungkusan itu. "Calon mantuku perhatian sekali.... Ayo eksekusi"
Bunda Tari berjalan ke dapur untuk menyiapkan makanan itu. Ayah Tristan masuk ke kamar untuk berganti pakaian. "Ayah ganti baju dulu. Lun, buatkan Danang minum"
Luna mengangguk. "iya Yah, mau minum apa Nang?" tanya Luna.
"Gak usah, kamu baik-baik saja kan?" tanya Danang. Luna tersenyum dan mengangguk. "Lalu kenapa.seperti habis menangis?"
Danang menggeleng. "Sini, nangis disini" Danang menepuk bahunya. Luna tersenyum dan bersandar di bahu Danang. "Hmm, nyaman" kata Luna membuat Danang mengulas senyumnya.
"Semua yang telah terjadi hari ini banyak memberi kita pelajaran berharga Lun, sejatinya hati manusia itu akan menjadi murni jika ditaburi dengan hal baik. Tapi sebaliknya, hati akan menjadi suram jika selalu disuntikkan dendam dan amarah. Itu pelajaran penting yang kita dapat dari sosok Yudi.
Sedangkan Galih, rela berkorban demi Hana. Tak memperdulikan keselamatannya sendiri. Hingga akhirnya dia tewas karena tembakan. Darinya kita belajar, mencintai seseorang tak melulu diungkapkan dengan kata-kata. Yang penting adalah bukti dari rasa cinta kita. Galih mungkin tak pernah mengungkapkannya pada Hana. Mungkin karena dia sudah punya pacar, atau dia memikirkan Hana yang dulu ia lukai. Itulah definisi cinta dalam diam. Tapi darinya kita belajar pengorbanan"
Luna tersenyum mendengar ucapan Danang. "Kamu puitis banget sih" Danang tertawa. "Orang lagi ngomong serius malah dibilang puitis! Dasar kamu ya"
Ayah Tristan hendak menuju ruang tamu lagi tapi dicegah oleh Bunda Tari. "Jangan terlalu khawatir sayang, Luna sudah dewasa. Dia bukan bayi ataupun anak-anak yang jika kita bentak akan langsung diam. Ayah hanya perlu mengawasi dari jauh. Siapkan mental Ayah karena bentar lagi besanan sama Ana. Hihihihihi"
__ADS_1
Ayah Tristan menatap tajam Bunda Tari. "Kenapa emaknya harus si Ana sih? Kenapa bukan yang lain?? Heran Ayah, dunia sempit banget sih ketemunya itu muli ituuuu mulu"
Bunda Tari tertawa cekikikan. "Ya namanya juga takdir, memang bisa diubah?" Ayah menggeleng. "Nah itu Ayah tahu, sudah sih Yah, besanan ya besanan. Semoga saja Ana sudah berubah menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Jadi nanti ketemu besan kan bisa saling cerita bukan saling lempar sandal maupun piring"
"Hahahahah, seru tuh Bun, lempar piring sama sandal" Bunda Tari ikutan tertawa membuat Danang dan Luna menoleh ke belakang. "Ayo makan, kami sudah lapar" kata Ayah.
Mereka mengangguk. "Bunda sama Ayah ngetawain apaan sih?" tanya Luna. "Ini, kami sedang merancang jurus baru"
Danang dan Luna saling berpandangan. "Jurus baru?" tanya mereka kompak. Ayah dan Bunda Tari mengangguk. "Iya, jurusnya namanya ajian lempar sandal dan lempar piring"
"Ha?" tanya Luna bingung. "Sudah makan dulu. Percuma kami jelaskan, otak kita sedang lapar, nanti jadinya malah gak mudeng dan lemot"
"Mbuh lah Bun" jawab Luna akhirnya. Mereka menikmati makanan yang dibawa oleh Danang. Bunda Tari memuji kelezatan masakan dari kafe Danang. Membuat Danang tersenyum.
Aku semakin jatuh hati padamu Lun, jatuh terlalu dalam di jurang cintamu. Aku tak tahu nantinya akan bagaimana, yang pasti aku tidak akan bisa keluar dari jurang ini jika jatuhku semakin dalam. Ya Allah, persatukanlah kami dan juga keluarga kami ya Allah, sungguh, aku mencintai ciptaan-Mu yang satu ini. Dia tak pernah bisa lepas dari bayang kehidupanku. Tak pernah hilang dari lubuk hatiku. Aluna Lestari, kamu adalah penguasa hati ini.
"Nang, malah bengong, ayo makan" Luna membuyarkan lamunan Danang.
.
.
.
Like
Vote
__ADS_1
Komen
Tip