
Tim itu kembali ke Semarang. Sigit, Ali, Bima, dan Luna kembali ke polres untuk memberikan laporan pada Kapolres mereka. Sedangkan Hamka dan Damar kembali ke Polda.
Selesai memberikan laporan kepada masing-masing atasan, mereka diberikan libur. Mereka memilih pulang ke rumah masing-masing.
Waktu masih menunjukkan pukul 9 pagi, Sigit membereskan rumah. Setelah pekerjaan itu beres dia pun merebahkan dirinya ke ranjang. "Lemes juga ternyata gak sahur" katanya. Ia mulai mengantuk, perlahan, ia menutup matanya, sampai masuk ke alam mimpi.
Ali juga melakukan hal yang sama. Ia membersihkan rumah. Berharap jika nanti istrinya pulang, marahnya sedikit reda karena pekerjaan rumah beres. Hampir 2 jam ia membersihkan rumah, lalu melihat ponselnya.
"Coba telpon saja deh" katanya sambil memencet kontak bernama jodohku. Tersambung, Ali menunggu sang pemilik nama kontak mengangkatnya. Namun sayang, harapannya pupus bersamaan berakhirnya nada dering itu.
Ia menghela nafasnya dan duduk di tepi ranjang. "Semarah itukah kamu sama Abang, Dek? Sampai gak mau mengangkat telpon dari Abang?" Akhirnya Ali memilih merebahkan dirinya ke ranjang. Memejamkan matanya sebentar untuk melepas penat.
Waktu berlalu tanpa terasa. adzan dzuhur berkumandang, para insan bergegas menjawab panggilan Allah. Melaksanakan kewajiban sebagai muslim.
Selesai sholat, Ali melihat bahan makanan di kulkas. "Buat opor ayam ah..." Ia segera meracik bumbu, mengeluarkan ayam dari kulkas. Kelihaian tangan Ali yang cekatan memainkan pisau membuatnya cepat menyelesaikan pekerjaan itu.
Melakukan pekerjaan lain yaitu mengangkat pakaian dan menyetrikanya. "Capeknya.... Hmmm, maaf ya dek kalau Abang bikin kamu marah...." katanya pada diri sendiri. Waktu menunjukkan pukul 2 lewat 30. Saatnya menjemput Hana.
Ia bersiap dan berpamitan pada kakek. "Kek, Ali dan Hana mau buka di luar. Ali sudah masakkan untuk kakek dan Maryam. Gak papa kan kek?"
Kakek tersenyum. "Gak papa, bujuk istrimu, kinta maaflah terlebih dulu" Ali mengangguk dan segera bergegas ke RST. Ia menghubungi Hana kembali. Tersambung dan akhirnya diangkat oleh Hana.
"Assalamualaikum, dek"
Waalaikum salam! Jawab Hana dengan nada jutek. Ali hanya tersenyum sambil mengemidi. "Abang perjalanan ke RST, tunggu disana ya sayang" tak ada sahutan dari Hana. "Ya sudah, Abang lagi nyetir, Abang tutup telponnya ya sayang.... Wassalamualaikum"
*W*aalaikum salam
Lalu lintas agak lenggang, Ali melajukan mobilnua lebih cepat agar tak telat. Jika sampai terlambat, maka sama saja ia mencari masalah baru. "Alhamdulillah,.... untung jam 3 pas sudah sampai sini" Ali segera turun dan bergegas menuju ruangan Hana. Disana masih ada asisten Hana dan menyapa Ali.
"Eh, pak Ali, assalamualaikum pak, dokter Hana sudah menunggu dari tadi"
"Waalaikum salam, ekspresinya datar? Jutek? Atau tersenyum?"
__ADS_1
"Jutek pak! Saya permisi ya pak, assalamualaikum"
"Waalaikum salam"
Ali menelan salivanya, menghela nafas panjang, dan mengetuk pintu Hana. tok tok tok "Masuk" kata Hana.
"Assalamualaikum" ucap Ali memasuki ruangan Hana. Hana melihat Ali dengan tatapan tajam dan masih marah.
"Waalaikum salam, buruan balik! Adek belum masak!" kata Hana sambil menyahut tasnya. Ali memutar kursi Hana dan berlutut di depan perutnya.
"Ngapain malah jongkok begitu?? Awas ah!"
"Assalamualaikum anak Ayah dan Ibu, nak, bantuin Ayah minta maaf ke Ibu, tolong bilang ke Ibu, Ayah tahu Ayah salah, Ayah minta maaf, dan Ayah akan berhenti merokok bagaimanapun caranya. Bantuin Ayah nak, Ibu kalau marah ngeselin dan nakutin" katanya sambil mengelu-elus perut Hana yang sudah membuncit itu.
Ali mencium perut Hana, dan ada respon tendangan dari dalam. Hana dan Ali terkejut sekaligus bahagia karena ini adalah tendangan pertama calon bayi mereka. Meskipun belum kuat, tapi mereka dapat merasakannya. "Alhamdulillah, dek, anak kita merespon. Sayang, bisa dengar Ayah dan ibu? Kami disini mencintai dan menyayangimu. Tolong bilangkan maaf ke ibu nak"
Hana membersihkan air mata yang sudah menggunung di pelupuk matanya. Ali mendongak dan ikut menghapusnya. "Abang minta maaf sayang, Abang tahu abang salah, Abang akan buktikan ke kamu dan anak kita bahwa abang akan berhenti merokok"
"Tahu apa saja kesalahan Abang? Tahu gimana khawatirnya Adek semalaman gusar gak bisa tidur nunggu kabar dari abang? Udah lah bikin emosi gegara rokok, tambah gak pamit lagi!"
"Besok-besok diulangi lagi?" tanya Hana lagi. Ali menggeleng. "Gak akan"
"Bener?" Ali mengangguk. "Kalau sampai begini lagi Abang minta dihukum apa?"
Ali berpikir. "Apa ya?"
"Kalau sampai terjadi lagi, gak ada jatah buat Abang!" Ali tertawa masih dalam posisi berjongkok. "Iya, hukum abang sesukamu. Abang memang pantas mendapatkan hukuman dari kamu"
Hana membelai rambut Ali dan mencium kening suaminya itu. "Bang, Adek marah bukan tanpa sebab. Adek gak pengen Abang merusak tubuh Abang sendiri dengan hal yang tidak berguna. Abang sama halnya menyakiti diri sendiri. Tapi, adek juga salah, Adek terlalu memaksakan kehendak Adek. Maafin adek juga ya bang, kurangilah rokoknya bang, perlahan berhentilah"
Ali tersenyum dan mengangguk. "Iya sayang, Abang maafin. Abang belajar berhenti merokok. Tolong, kalau Abang khilaf diingatkan ya?" Hana mengangguk.
"Ayo pulang, Adek belum masak"
__ADS_1
"Abang sudah melakukannya, tapi kita makam di luar saja ya? Abang ingin kencan dengan kalian"
Hana mengambil tasnya. "Memang mau kemana?" Ali berdiri dan menggenggam tangan istrinya. "Pengen makan apa nanti buat buka?"
"Ayam goreng dikasih sambel yang pedes" Ali mengangguk. Mereka segera bergegas menuju sebuah resto di jalan x. Hampir 45 menit perjalanan itu karena macet. Mereka melihat penuh sekali di resto itu.
"Masih ada tempat gak ya?" tanya Ali, mereka segera turun dan bertanya terlebih dahulu. Muti melihat Hana. "Han!" panggilnya sambil melambaikan tangan.
Hana tersenyum, "Bang, ada Mbak Muti dan Mas Si"
"Oh, kalau gitu kami gabung saja sama sepupu kami mas, terima kasih" kata Ali, ia menggandeng Hana dan menuju meja Sigit dan Muti.
"Disini juga?" tanya Ali. Mereka mengangguk.
"Gak masak, jadinya kesini deh. Udah baikan?" tanya Muti. Hana dan Ali tersenyum dan mengangguk.
"Nah, gitu kan enak lihatnya. Lagian nih ya Al, merokok itu banyak mudharat alias keburukannya daripada kebaikannya" Tutur Sigit.
Hana bercerita tentang tendangan anaknya. Membuat Muti tak sabar agar segera bisa mendapati tendangan itu. "Seperti berkedut gitu mbak.... pokoknya rasanya Masyaallah..... Dia ini nih kayaknya nanti jadi bolo kurawane Bang Ali deh. Tiap apa yang dikatakan sama Abang bakalan direspon sama dia"
"Masyaallah Han... ih, gak sabar deh akunya"
"Sama, mas juga gak sabar buat buka puasanya" celetuk Sigit. Semua memandang curiga kepadanya. "Maksudnya buka puasa ini lho...." Mereka kembali tertawa.
.
.
.
Like
Vote
__ADS_1
Komen
Tip