
Hari pernikahan Maryam dan Habib, serta Danang dan Luna pun tiba. Semua sudah sibuk sedari pagi. Maryam dan Luna dirias para MUA. Sedangkan Danang dan Habib masih sibuk menghafalkan ijab qobul mereka.
Akad akan berlangsung pukul 9 pagi. Muti dan Hana lebih banyak bersantai karena mereka memang dilarang ikut-ikutan sibuk. "Mbak, gimana? Udah ngerasain gerakannya belum?" tanya Hana.
Muti mengangguk bersemangat. "Sudah, ya Allah Han.... istimewa banget tertanya rasanya..... Masyaallah.... Mas Si sampai seneng banget ngasih kecupan di perutku agar dia gerak"
Hana tersenyum ikut bahagia. "Sama mbak, calon baby ku juga kalau disapa Ayahnya langsung merespon. Apalagi kalau dia lagi murotal. Hmmm..... jangan ditanya.... Gak mau diem. Tapi, sekarang nih punggung aku ya Allah....."
"Kenapa?"
"Tiba-tiba saja tuh ya, langsung sakit. Menjalar sampai perut bagian bawah"
Muti mengangguk. "Terus? Udah kamu periksain ke dokter?"
"Udah, kata dokter gak papa. Kehamilan tua begitu. Gitu doang katanya"
"Berarti nanti aku juga mengalami hal yang sama dong ya?"
Hana mengangguk. Azka datang membawakan makanan bagi kedua bumil itu. "Bumil-bumil cantik makan dulu.... Biar keponakan aku semuanya nanti anteng saat ijab" Hana dan Muti tersenyum dan mengucapkan terima kasih untuk adiknya itu.
Seorang lelaki menghampiri Azka. "Assalualaikum" sapanya.
Azka menoleh. "Wa....alaikum salam. Eh, mas...." kata Azka sedikit gugup. Muti dan Hana saling lirik dan menggoda Azka. "Roman-romannya habis ini ada yang nyusul ke pelaminan nih"
Azka menyengir. "Diem ah" katanya. "Ada apa?" tanya Azka pada Hilal.
"Ini, mau ngasihkan blangkon Habib yang ketinggalan. Kamarnya yang mana ya?"
"Oh, mari tak antarkan" Azka mengajak Hilal menuju kamar pengantin pria. "Cie..... kita dikacangin doang!" kata Muti dan Hana bersamaan.
Azka tersenyum malu digoda oleh kedua kakaknya. Mereka berjalan berdampingan. "Kamu.... apa kabar?" tanya Hilal. Azka tersenyum "Baik, mas Hilal sendiri apa kabar?"
"Alhamdulillah baik, maaf ya jarang chat, lagi sibuk belajar soalnya"
Azka mengangguk. "Gak papa, kan memang lebih penting belajarnya daripada chat-chatan"
Hilal tersenyum. "Kamu libur berapa hari?" tanya Hilal. Azka menautkan alisnya. "Memang kenapa?"
"Gak, gak papa. Cuma tanya aja"
Azka mengangguk. "Aku ambil cuti dua hari" Hilal mengangguk. "Boleh ngajak jalan?" tanya Hilal.
"Ha?"
__ADS_1
"Boleh ngajak jalan?" ulang Hilal.
"Maksudnya? Ngajak jalan aku?" Hilal mengangguk. "Mau kemana?"
"Terserah"
"Kapan?"
"Setelah resepsi selesai? Aku hanya dapat libur sehari doang" jelas Hilal. Azka mengangguk.
Mereka telah sampai di depan kamar pengantin pria. Azka mengetuknya dan mempersilahkan Hilal masuk. "Assalamualaikum adek Mamas....." sapa Hilal kepada Habib.
"Waalaikum salam. Mamas..... Ya Allah, katanya gak bisa libur" Habib memeluk Kakaknya.
"Hehehe, bohongin kamu doang. Masa iya adeknya Mas nikah Mamas gak pulang? Eh, ada titipan dari Archee, Aylin dan Amaris. Yang bisa datang hanya Adel tuh"
Hilal memberikan amplopan kepada Habib. "Hmmm, dasar Si kembar 4 yang sibuk! Ya sudah lah, bilangkan makasih sama mereka ya Mas" Hilal mengangguk.
"Nih, blangkon pakai acara ketinggalan pula"
"Ya namanya lupa gimana?" Azka berdahem. "Aku tinggal dulu ya?" katanya.
Hilal mengangguk. "Nanti aku chat, makasih ya Az"
"Sama-sama" Azka meninggalkan mereka berdua. "Humai dimana Mas?"
"Terus Mamas sama Azka gimana?" Hilal hanya tersenyum. "Doakan saja ada jalan jodonya"
"Cie.... beneran kepincut nih sama kowad!" Mereka tertawa bersama. Waktu akad pun tiba. Danang dipanggil terlebih dahulu oleh penghulu. Ayah Tristan menjadi wali dari putrinya sendiri.
"Bismillahirrahmanirrahim, Danang Putra Arkananta, hari ini saya nikahkan dan saya kawinkan kamu, dengan putri saya yang bernama Aluna Lestari, binti diri saya sendiri Tristan Aditama, dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan uang senilai 8 juta rupiah dibayar tunai!"
Danang mengambil nafas dan mengucapkan ijab qobul dalam satu tarikan nafasnya itu. "Saya terima, nikah dan kawinnya Aluna Lestari dengan mas kawin...."
"Stop!" kata Papah Bagas. "Bintinya belum ikut disebut"
Ayah Tristan mengulangi lagi dan Danang menjawabnya. "Saya terima nikah dan kawinnya, Aluna Lestari Binti Tristan Aditama dengan maa kawin seperangkat alat sholat dan uang tunai senilai 8 juta rupiah dibayar tunai!"
"Sah!" ucap kedua saksi itu. Luna dibawa keluar dan tersenyum melihat Danang. Seperti biasanya, mereka diberikan buku nikah, penyematan cincin kawin dan mengucapkan hak dan kewajiban sebagai suami istri.
Ayah Tristan menangis bahagia, akhirnya, putrinya bisa selalu tersenyum. Gantian Habib dan Maryam.
Habib berhadapan dengan Papah Bagas. Mereka saling berjabat tangan. "Bismillahirrahmanirrahim. Baihaqi Habib Makarim, hari ini saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan anak saya yang bernama Maryam Ayu Ardhitama binti saya sendiri, Bagas Ardhitama dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan sebuah rumah dibayar tunai!"
__ADS_1
"Saya nikahkan dan saya kawinkan...."
"Heeeehhhhh..... dijawab Bib, bukan diulangi lagi. Memang papah mau kamu nikahkan sama siapa?" sahut papah Bagas. Membuat semuanya tertawa. Akhirnya diulangi lagi. "Saya terima nikah dan kawinnya Maryam Ayu Ardhitama binti Bagas Ardhitama dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!"
"Sah....." ucap semuanya. Maryam juga melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Luna.
Setelah akad selesai, mereka langsung berganti pakaian untuk resepsi. Luna yang mendapatkan bagian jam lebih dulu. Membuat Habib dan Maryam bisa bersantai sejenak.
"Alhamdulillah sah!" kata Habib. Maryam tersenyum. "Dek, sekarang bisa?"
"Gak bisa sayang. Tunggu selesai acara resepsi. Mau berapa ronde juga ayok" kata Maryam. Habib memanyunkan bibirnya.
"Hahaha"
"Cium bibir boleh?" Maryam menggeleng lagi. "Nanti mas.... ini make upnya eman-eman"
"Aaahhh..... tahu gitu kemarin kita aja yang resepsi duluan!"
Maryam tertawa mendengar ocehan suaminya. Muti dan Sigit mengetuk pintu kamar mereka. Mereka memberikan selamat oada adiknya itu. Sigit memberikan hadiahnya. Dua buah tiket liburan ke Korea selama 1 minggu full. "Ini dari Abang sama Mbakmu, selamat ya adek kecilnya Abang. Gak kerasa sekarang kamu sudah jadi milik orang lain" Sigit memeluk Maryam.
"Makasih Abang, Abang selalu terdebes dalam hal royalti. Wkwkwk"
Sigit menjewer telinganya. "Titip jagain adek Abang ya Bib, dibimbing jadi istri yang sholehah. Kalau bandel jewer saja telinganya"
Habib menganggik dan memeluk Sigit. "Makasih untuk hadianya bang, Insyaallah aku akan bimbing Maryam jadi istri sholeha seperti mbak Muti"
Muti memeluk Maryam. "Selamat ya afek ioar ku yang paling bisa mbak andalkan"
"Makasih mbak, jagain ponakan aku dari kelakuan bapaknya yang gak pernah puas main di atas ranjang ya mbak...."
Mereka kembali tertawa. "Mau unboxing sekarang Bib?" Habib menghela nafasnya lesu. "kenapa?"
"Kan masih harus resepsi.... " terang Habib. Mereka kembali tertawa. "Welcome di surga dunia Bib"
.
.
.
Like
Vote
__ADS_1
Komen
Tip