Cinta Karena Mandat (Revisi)

Cinta Karena Mandat (Revisi)
Bab 71


__ADS_3

Maryam sudah tidur di sofa panjang itu. Sigit senyam senyum sendiri melihat foto dirinya dan Muti. Dia tersenyum ke arah Muti yang tidur miring menghadap ke arahnya. Dia mendekatkan dirinya ke wajah Muti dan.... cup.


Muti tersenyum dan membuka matanya lagi. Meraih tangan Sigit dan mengecupnya. Lalu menggenggam erat dan ditempelkan ke pipinya. "Apa?" tanya Sigit sambil menahan senyumnya.


"Kapan aku boleh pulang mas?" tanya Muti. "Ya sabar to sayang, lukamu saja belum kering. Besok kita tanya sama dokter Ais"


Muti tersenyum dan mengangguk. Sigit membelai rambut Muti dengan lembut. Saling tersenyum dan menatap. "Kalau kamu gak lagi sakit sudah tak ajak tarung kamu di atas ranjang"


Muti menahan tawanya. "Ngebet ya pak Komandan galak? Iya kan? Pasti iya!" goda Muti. Sigit mengangguk. "Iya lah!"


Muti tak bisa lagi menahan tawanya. Ia tertawa terbahak-bahak sampai Sigit harus menutup mulutnya. "Jangan keras-keras ah, nanti Maryam bangun. Kamu geser sana dikit kek, biar mas bisa baring di samping kamu"


"Cie yang sudah ngebet gak tahan..... Makanya dulu kalau ditawarin mau! Hahaha"


Sigit menyentil kening Muti keras, membuat Muti kesakitan. "Dosa!" Muti semakin tertawa. "Geser yank!" perintah Sigit dengan berbisik.


Muti mengubah posisinya menjadi berbalik membelakangi Sigit. Sigit naik ke bed Muti dan memeluknya dari belakang. "Maaf ya mas, belum bisa melayani kamu" kata Muti sambil memainkan jemari Sigit.


"Gak papa, keadaannya kan lagi gak memungkinkan yank. Cepat sembuh ya marmutnya mas, nanti kita jalan-jalan lagi. Touring ke.... mana ya enaknya?"


"Touring plus naik gunung yuk mas, pasti seru tuh! Kita ajak Hana dan mas Ali, sekalian Danang dan mbak Luna. Maryam sama Habib juga" kata Muti semangat.


Sigit tersenyum dan mengeratkan pelukannya. "Boleh, tapi nanti setelah aku berhasil menaklukan kamu. Hahaha. Mau bulan madu dimana kamu? Hmm?"


Muti berpikir sebentar "Lombok? Atau Malang? Atau Bali? Atau Raja Ampat Papua?"


Sigit mulai mendusel-duselkan kepalanya ke tengkuk Muti membuat Muti kegelian. Tapi Muti menahannya. Ia tahu suaminya sedang berhasrat tapi ditahannya. Ia malah kasihan dengan Sigit. "Terserah kamu maunya kemana, Mas akan turutin. Asal kamunya bahagia" jawab Sigit dengan suara parau.


Bibir Sigit mulai bergerilya di tengkuk Muti. Hembusan nafas Sigit sangat terasa di belakang telinga Muti. Muti hanya diam dan membiarkan suaminya. Tangan Sigit mulai meraba-raba bagian depan Muti. "Gak usah jauh-jauh mau naik gunung mana. Mas sudah punya dua" katanya.


Muti menahan tawanya. Sigit mulai melancarkan aksinya. Meremasnya. Memilin sesuatu disana. Membuat darah Muti bergelora. "Mas, kita lagi di rumah sakit sayang. Di sofa ada Maryam yang sedang tidur" kata Muti mengingatkan.

__ADS_1


Tapi percuma saja, Sigit benar-benar sedang berhasrat. Ia tak mempedulikan ocehan Muti. Hingga ada suara ketukan pintu. Sehingga membuat Sigit menghentikan aksinya.


Sigit berdecak kesal. "Siapa sih ah!?? Heran deh!" Sigit turun dari bed dan berjalan menuju pintu. Muti tersenyum geli melihat tingkah suaminya.


Ternyata perawat yang sudah membawa suntikan. "Maaf mengganggu istirahatnya pak, waktunya Bu Muti untuk injeksi obat dulu"


Sigit mengangguk. "Silahkan mbak" Sigit mempersilahkan perawat itu untuk menyuntikkan obat untuk Muti. Dirinya melihat Maryam yang sudah tak karuan bentuknya. Rambut menutupi wajah, tangan terjuntai di lantai, kaki menempel tembok dan iler yang kemana-mana.


"Heran aku kenapa si Habib bisa cinta banget sama adekku. Bentukan gak ada feminimnya sama sekali kok yo disukai. Bib Bib, bentukane calon bojomu! Foto sek ah, aib mu ditangan abanh dek. Hahaha" Sigit meraih ponsel yang ada di sakunya dan mengambil gambar Maryam yang sangat hancur ketika tidur.


Tak hanya foto, Sigit juga mengambil video suara ngorok dari Maryam. "Hihihi, jadikan nada dering bagus nih!" Perawat selesai memberikan obat untuk Muti. Dia pamit kepada Sigit.


"Masih ada injeksi obat lagi tidak mbak?" tanya Sigit. Perawat itu menggeleng. "Nanti jam 6 pagi pak. Malam ini sudah selesai. Monggo kalau mau lanjut istirahatnya"


Sigit mengangguk. "Berarti saya kunci gak papa ya?" Perawat itu mengangguk. "Tidak papa pak, dikunci saja"


Sigit mengangguk. "Oke makasih mbak" Perawat itu keluar dan Sigit mengunci pintunya. Ia berjalan ke arah Muti lagi dan menutup tirainya. "Kenapa ditutup?"


"Hmm? Gak papa. Geser lagi" perintah Sigit. Muti menggeser tubuhnya. Kali ini ia tak membelakangi Sigit. Ia berhadapan dengan Sigit. Mereka saling berpelukan dalam bed sempit itu.


Ia menghentikan tangan Muti. "Geli yank, ayo bobok. Biar kamu cepat sehat"


"Yakin gak mau melanjutkan yang tadi?" tanya Muti. Sigit hanya diam. Tiba-tiba saja Sigit berbaring Miring dengan menyangga kepalanya menggunakan satu tangan. Ia menatap Muti yang juga menatapnya.


Sigit mengubah posisinya berada di atas Muti Dengan sedikit miring. Ia mencium kening Muti lama. Muti memejamkan matanya. Sigit menciumi seluruh wajah Muti, mulai dari kelopak mata, pipi, hidung, hingga bibir.


Ciuman di bibir itu menjadi sedikit oanas, Sigit mulai memainkan lidahnya. Lidah mereka saling bertaut. Sigit menjelajahi seluruh ruang mulut Muti. Sigit semakin turun ke bawah. Menikmati curug leher itu. Sigit meninggalkan bekas disana. Muti menikmati setiap sentuhan dan ciuman yang diberikan oleh suaminya.


Ia mendesah pelan. Sigit menikmati sesuatu di dadanya dengan sangat hati-hati agar tak menyenggol luka itu. Tangan Sigit bergerilya mencoba membuka sesuatu milik Muti dibawah sana.


Tiba-tiba saja ponselnya berdering. Membuatnya frustasi dan membaringkan tubuhnya di samping Muti. Muti menahan tawanya.

__ADS_1


"Siapa lagi sih ah!?? Tadi perawat, sekarang telpon!" Sigit melihat panggilan masuk di ponselnya. "Luna ngapain lagi jam segini telpon? Gak tahu waktu banget sih??"


Muti hanya tersenyum.dan memperhatikan suaminya. "Assalamualaikum. Ngapain sih malam-malam telpon? Emang besok gak bisa?" cerocos Sigit menerima panggilan Luna.


Hahahah, maap deh maap. Aku cuma mau tanya, pasword laptopmu apa? Aku mau buka berkas para belia itu


Sigit menyebutkan pasword laptop itu. "Ada lagi gak?"


Mak galaknya! Udah itu doang. Emang kamu lagi ngapain sih? Tidur?


Wajah Sihit merona. "Eng-enggak lagi ngapa-ngapain. Sudah.ah! Ngantuk nih! Assalamualaikum"


Sigit mengakhiri panggilan itu tanpa menunggu balasan salam dari Luna. Muti cekikikan dengan sikap suaminya. Ia hendak turun dari bed. Muti mencegahnya. "Gak mau lanjut?" gida Muti.


Sigit berdecak. "Gak lah, sudah badmood akunya. Dari tadi banyak gangguan"


Muti tertawa. "Ya kamunya juga lucu. Ini rumah sakit sayang. Sabar ya? Bentar lagi pulang kok"


Sigit mengangguk. Ia menyadari memang dirinya yang tidam tahu tempat dan situasi. "Tidurlah"


"Peluk dong" rengek Muti. Sigit tersenyum dan memeluk Muti. Mereka memejamkan mata bersama dengan saling berpelukan.


.


.


.


Like


Vote

__ADS_1


Komen


Tip


__ADS_2