
"Ajak mbak Muti gak nih mas Si?" Hana menawarkan kepada Sigit. "Jangan lah, aku nih stress gara-gara perjodohan ini kok malah dia kamu suruh ikut"
"Mas Si, aku bingung sama kamu. Mbak Muti tuh sebenarnya baik lho orangnya, dia menjadi seperti itu karena untuk pelampiasan. Kamu gak tahu kan kalau mantannya Muti itu langsung mutusin dia setelah terjadi penolakan dari om Indra? Kesimpulan aku sih Muti mikirnya itu cowok gak mau berjuang, makanya dia mainin cowok lain deh"
"Itu kan gak adil banget Han" sahut Luna dari belakang.
"Memang mbak, gak sepantasnya sih Muti melakukan itu. Ya intinya, dia itu sebenarnya baik kok. Auranya aja sudah kelihatan"
Sigit dan Luna tertawa. "Seperti peramal siapa tuh yang lagi viral, mbak yu?" tutur Luna.
"Hish, kalian ini, kalian meremehkan kemampuanku ya?" Hana tak terima.
Sigit teringan akan sesuatu. "Eh, Han, ngomong-ngomong soal kemampuan kamu, kita mau minta tolong, gambarin sketsa wajah orang yang jadi target operasi kita"
Hana menautkan alisnya. "Memang gak ada di kepolisian yang lebih jago?"
"Ada sih, gimana kalau kalian kolaborasi aja? Biar cepet jadi itu sketsa" sahut Luna. Sigit tahu yang dimaksud.
"Maksud kamu Hana kamu suruh kolaborasi sama Galih?" Luna mengangguk.
"Oke tuh" Sigit setuju dengan ide Luna.
.
Mereka telah sampai di kafe itu. Luna enggan turun, tapi dirinya diseret oleh kedua sepupunya. "Dia bilang ke rumah sakit Lun, tenang aja sih, gak bakalan ketemu. Kita manggung bentar. Aku pengen melepas stress" ucap Sigit.
Ya, Sigit jika sedang galau ataupun stress dia akan bermain gitar dan menyanyikan sebuah lagu. Mereka masuk dan memilih tempat duduk.
Ternyata Danang ada disana dan membantu karyawannya karena pengunjung rame. Danang memberikan buku menu kepada mereka. "Monggo pak Sigit, mau pesan apa?"
"Lhoh, pak Danang katanya ke rumah sakit?" tanya Sigit. "Gak jadi pak, papah batal bertemu klien, kemalaman soalnya"
Sigit hanya mengangguk. "Lun, Han, mau pesen apa?"
"Hana pesan ini aja ya mas Danang, sama minumnya ini" Hana menunjuk steak ayam dan milkshake strawberry kesukaannya.
"Aku mau steak sirloin medium rare ya mas, sama minumnya lemon tea aja" Sigit mengatakan pesanannya.
"Mbaknya?" tanya Danang sengaja tak menyebut nama Luna. Sungguh, hati Luna sakit saat Danang memanggilnya seperti itu. Sigit dan Hana juga terkejut dengan sikap Danang.
"Saya samakan saja dengan punya Sigit" tanya Luna melempar buku menu itu ke meja. Moodnya seketika rusak.
"Sejak kapan kamu doyan sirloin? Sejak kapan juga kamu suka minum lemon tea? Yang kata kamu itu minuman paling aneh karena rasa tehnya menjadi hilang karena lemonnya?" Danang bertanya pada Luna.
"Disini aku pelanggan, aku bebas memesan apa yang aku mau" tandas Luna. Hana dan Sigit menjadi saksi peetengkaran itu.
"Benar memang, tapi kamu akan membuat makanan itu mubadzir, pesan seperti yang kamu suka saja"
Luna berdecak. "Terserah kamu mau kamu beri apa"
__ADS_1
"Oke, cappucino dengan eskrim vanilla dan nasi goreng seafood" Danang menyebutkan makanan kesukaan Luna. Ya, Danang masih mengingat itu semua. Dia ingat saat pulang sekolah dan mengajaknya ke kafenya disuguhi makanan itu dan mencicipinya Luna langsung melepeh makanan itu. Sigit dan Hana tersenyum mendengarnya.
"Cieee, kalian nih memang cocok. Udah mbak Lun, jangan cuek-cuek begitu, nanti hilang baru tahu rasa lhooo. Apalagi hilangnya diambil orang" goda Hana kepada Luna.
"Hish, apaan sih!" Luna sebal mendengarnya. Danang membuatkan makanan pesanan mereka. Sedangkan Sigit mengajak Luna dan Hana bernyanyi.
"Gak ah, badmood aku" Akhirnya Sigit dan Hana naik ke panggung. Menyanyikan lagu yang mewakili perasaan Luna.
"Sebuah lagu dari Tiara Andini, maafkan aku terlanjur mencinta" Sigit mulai memainkan gitar itu dan Hana masuk ke intro.
.
Mereka mulai menikmati makanan yang telah tersaji. "Perut kita nih memang perut karetm Habis makan, ini makan lagi. Bahaya kalau nongkrong sama kalian terus" Ucap Sigit.
Mereka tertawa. "Bahaya, kantongmu bisa jebol. Gitu kan maksud kamu?" tanya Luna. Sigit memgangguk.
Jauh di sisi kanan Luna, seorang pria ikut tersenyum melihat Luna tersenyum. Mereka saling curi pandang, jika ketahuan mereka akan buang muka seakan tak terjadi apapun.
Selesai makan mereka segera meninggalkan kafe. Kembali ke rumah.
.
Sigit menyandarkan tubuhnya di ranjang. Berpikir jauh menerawang di atas langit-langit rumah. Tak menyangka dengan apa yang terjadi di hidupnya. Yang sebelumnya tenang tak dipusingkan dengan yang dinamakan pernikahan, sekarang dirinya dilanda kegalauan.
Mengingat semua kalimat dari setiap orang yang menyatakan bahwa Muti itu sebenarnya baik. "Apa iya kamu itu baik? Apa iya kamu otu jodohku?" Sigit menyunggingkan senyum ketika ingat pipinya dikecup oleh Muti.
Sigit membuka ponselnya. Melihat postingan Hana dan Luna. "Alamaaaakkk, kenapa foto ini dipasang di status wa sih?" Dia tersenyum melihat foto dirinya dan Muti yang berpenampilan seperti pelawak itu.
"Imut banget kamu dandan begini sih, makin gemeeeesssshh aku sama kamu Marmut" tak lama ada chat masuk.
Marmut Playgirl : Mas, suruh mbak Hana dan mbak Luna hapus postingan mereka dooong, aku malu tahuuuuu
Me : Gak ah, biarin saja, lucu tahu
Marmut Playgirl : Ih, maaasss, ayolah. Kamu gak malu apa?
Me : Gak, sudah biarkan saja. Kamu masih melek aja. Ngapain jam segini belum tidur?
Marmut Playgirl : Belum ngantuk. Kamu gak pengen dengar suara aku untuk pengantar tidur
Me : Tuh kan mulai lagi. Kamu hobi banget ya godain aku. Atau.... kamu yang pengen digodain?
Marmut Playgirl : ðŸ¤ðŸ¤”
Sigit tergoda untuk melakukan panggilan video. Muti mengangkatnya.
"Assalamualaikum" Kata Sigit
"Waalaikum salam, kamu tadi habis dari kafe ya? Danang cerita ke aku"
__ADS_1
Sigit mengangguk. "Iya"
"Kok gak ngajak aku?" tanya Muti.
Sigit tersenyum mendengarnya. "Pengen banget diajak?" Muti mengangguk malu.
"Yaudah, besok kita jalan" ajak Sigit. Muti menautkan alisnya. "Kamu lagi ngajak aku kencan mas?" tanya Muti ceplas ceplos.
"Hmm? Mu-mungkin itulah istilahnya" jawab Sigit dengan pipi memerah seperti tomat rebus.
"Iiihh, kamu malu ya? Tuh pipimu sampai merah begitu"
"Hish kalau gak mau gak papa" Sigit sudab akan berubah pikiran. "Iya aku mau kencan sama kamu" jawab Muti cepat.
"Oke, besok aku jemput jam 8 pagi. Jangan lama, aku gak suka nunggu" tegas Sigit.
Muti melongo mendengar jam yang disebutkan Sigit. "Jangan bercanda deh mas, jam 8 mau ngapain?"
"Hmm? Kepagian ya? Terus biasanya jam berapa mereka pasangan-pasangan begitu mulai kencan?"
Muti tertawa mendengarnya. Ternyata Sigit polos sekali tentang percintaan, hingga jam kencan saja ia tak tahu. "Jam 10, itu saja masih sepi mallnya. Besok kita mau kemana?"
"Kemana ya? Touring mau gak? dari Semarang ke Salatiga, jangan bilang kamu takut panas ya"
"Aku gak punya perlengkapan touring"
"Besok pinjam punya Luna, beneran mau?"
Muti mengangguk. "Iya mau, meskipun kencanmu aneh, tapi ya sudahlah, cobain aja dulu"
Sigit tersenyum "Dijamin asyik deh, dan dijamin ketagihan. Ya sudah, ini sudah jam 12 malam lewat. Bobok ya marmut, karena besok kita mau kencan"
"Iya, ya sudah, selamat malam mas. Assalamualaikum"
"Waalaikum salam" Sigit tersenyum dan menyimpan ponselnya di dada. "Gak sabar nunggu besok"
.
.
.
Like
Vote
Komen
Tip
__ADS_1