
Pagi itu, seperti biasanya, Sigit menjemput Muti di rumahnya. Sigit sengaja tidak sarapan dari rumah karena ingin sarapan bersama dengan Muti.
Muti memanasi mobilnya. Sigit mengucapkan salam. "Assalamualaikum, selamat pagi calon bojoku"
Muti tersenyum "Waalaikum salam. Mas, hari ini mobilku masukkan bengkel ya? Sudah waktunya perawatan dia"
Sigit mengangguk. "Iya, nanti bawa mobil kamu saja yank, hapal banget sih jadwal perawatan mobil" Muti tertawa mendengarnya. "Cemburu?"
"Ih, mana ada?"
Muti mencebik. "Mana ada, tapi begitu ekspresinya. Tenang sayang, nanti juga aku hapal jadwal perawatan kamu. Mobil saja aku rawat apalagi kamu"
"Makin pintar saja marmutku satu iniii. Negara saja aku jagain apalagi kamu" balas Sigit. Mereka masuk rumah dan tertawa. Menuju ruang makan. Muti menyiapkan makanan untuk Sigit.
Sigit melihat makanan yang tersaji. Menu lengkap. Tumis brokoli dan wortel, telur dadar, nasi putih, susu coklat kesukaannya. "Masak apa beli nih?"
"Masak dong! Enak saja bilang beli" Sigit tertawa melihat wajah Muti yang kesal. "Makasih ya sayangku, pagi ini dikasih sarapan dengan gizi super lengkap"
"Sama-sama" sambil senyum. "Jadi kan hari ini pengajuan nikah kantor?" Sigit mulai menyuapkan makanan ke dalam mulutnya. Ia mengangguk.
"Iya, nanti bareng sama bawahan mas 3 orang, gak usah tegang. Setelah nikah kantor langsung ke KUA yank. Kakek sudah janjian sama kepala KUA nya, siang nanti"
Muti mengangguk. "Oke, karena izin ku tinggal hari ini saja, mari kita tuntaskan semuanya hari ini. Mmm, mas, undangan elektronikmu kasihkan mbak Luna, jadi nanti cetak undangan fisiknya dikit saja"
Sigit mengangguk. "Sudah aku serahkan semalam. Yang diundang pakai yang fisik itu kebanyakan teman-teman Papah dan Mamah saat di Semarang"
"Ayah masa ngundang semua temen-temennya coba. Kan banyak" ucap Muti sedih. Sigit melihatnya heran. "Kok sedih?"
"Hahahah, kan capek maas" Sigit tersenyum melihat Muti. "Capek, atau gak sabar minta jatah? Hmm?"
"Hahaha, dua-duanya. Aku sudah selesai sarapan" Sigit melihat isi piring Muti yang tidak ia habiskan. "Kok dikit?"
"Takut melar, itu kebaya bisa-bisa gak muat sayang"
"Terserah kamu lah yank" Sigit segera menyelesaikan sarapannya. "Kok enak ya masakannya? Kayak masakan mamah, kamu beneran masak sendiri kan?"
__ADS_1
Muti tersenyum mendengarnya. Ia mengambil tasnya. "Itu tandanya lidahmu cocok sama masakanku sayang, ayo nikah kantor, sudah gak sabar nih pengen akad"
"Hahahhaha, dasar! Ngebet banget sih marmut..."
Mereka berjalan keluar rumah dan memakai mobil masing-masing karena mobil Muti akan dimasukkan bengkel.
.
Polres
Sigit masuk bersama Muti ke ruangannya. Luna mengikuti mereka. "Aih yang hari ini mau pengajuan nikah kantor. Ngirinya akuuu"
Sigit dan Muti tersenyum "Nganan saja lah jangan ngiri terus. Makanya, Danang suruh gercep dong!"
"Eh, mbak Luna beneran suka sama Danang?" tanya Muti. Luna hanya nyengir kuda. "Lupakan dulu masalah Danang, aku mau cerita sesuatu" kata Luna tetiba serius.
Sigit dan Muti ikut memasang ekspresi serius. "Ada apa Lun?"
Luna berdehem sebentar. "Jadi waktu kalian di Jakarta, kami operasi di dekat stasiun. Kapolres minta operasi tertib lalu lintas dan juga penggeledahan narkoba. Pas ada salah satu angkutan yang diberhentikan ada pria yang mencurigakan. Hingga dia mendorongku saat aku minta untuk menggeledah tasnya. Ia lari ke dalam stasiun. Aku mengejarnya bersama Galih dan Yudi. Tapi sayang, aku kehilangan jejaknya. Anehnya adalah kenapa salah satu anggota kita membantunya?"
Sigit menautkan alisnya. "Yang kamu maksud....?" Luna mengangguk. "Bagaimana ciri-cirinya?" tanya Sigit lagi.
"Ohh, hahaha, aku tidak bisa melihat wajahnya. Dia bermasker. Pakainya masker yang sampai leher itu lho"
Entah mengapa Sigit curiga orang yang dimaksud adalah Humam. Ia menuju mejanya dan mencetaj sketsa wajah yang dikirim oleh Luna di ponselnya. Lalu ia kembali dengan membawa kertas itu dan juga pensil.
Ia menutup bagian hidung hingga leher dengan pensil itu. Lalu menunjukkan pada Luna. "Ingat-ingat, apa seperti ini?"
Luna memperhatikan skesta itu dengan seksama. Ia memejamkan matanya membayangkan pria itu duduk di angkutan. Beberapa saat kemudian ia terbelalak. "Maksudmu Humam yang aku kejar kemarin?" Sigit mengangguk. "Orangnya sama persis dengan sketsa ini. Ya dia adalah orangnya!"
Sigit mengangguk. "Kerahkan informan dan anggota kita untuk melacak keberadaannya. Hubungi semua keamaan yang lintas sektor dengan kita. Blokade semua akses ia agar tak bisa kabur"
Luna berdiri dan memberikan hormat kepada Sigit. Berlalu meninggalkan ruangan Sigit. Sigit merenung. Itu tandanya, Humam dilindungi oleh dia? Siapa dia sebenarnya? Apakah dia masih keluarga dari Anggoro?
Seseorang mengetuk pintu. Yudi memberitahukan bahwa kapolres sudah datang, "Ndan, pak Kapolres sudah datang. Proses pengajuan nikah kantor dimajukan"
__ADS_1
Sigit mengangguk. Ia bersama Muti menuju ruang aula. Disana ada pak Kapolres beserta ibu, wakil kapolres beserta ibu dan beberapa anggota lainnya. Sigit dipersilahkan masuk terlebih dahulu.
Muti gugup. Tangannya mendadak dingin dan nafasnya sesak. Sigit menggenggam tangan calon istrinya itu. "Tenang, gak papa. Ada mas di sampingmu"
Muti tersenyum. Mereka masuk ke dalam ruangan itu. Dipersilahkan duduk oleh pak Kapolres. "Ehm, akhirnya komandan ganteng kita laku ya bu ibu pak bapak. Dapatnya bukan main. Anak orang penting"
Semua tertawa mendengarnya. "Mutiara Insani, seorang PNS di samsat kota Semarang, usia 24 tahun, anak dari pak Indrajaya dan almarhumah ibu Sani Amalia. Bu Muti, kenal dengan pak Sigit dimana?" tanya pak Kapolres.
"Ehm, bismillah, kenal karena perjodohan pak" jawab Muti singkat karena tegang. "Waaah, perjodohan to? Lha kok kamu tak jodohkan dengan anak saya gak mau pak Sigit?" timpal pak Wakapolres.
"Ah bapak bisa saja, anak bapak kan masih unyu pak, umur 17 tahun, keburu saya ketuaan pak" jawab Sigit santai. Semuanya kembali tertawa.
"Dia takut kalau adiknya alot, begitu kan pak Sigit?" timpal pak Kapolres lagi. Semua kembali tertawa lagi. "Bu Muti, gaji seorang polisi itu kecil. Ya hampir sama lah dengan gaji PNS, tugas mereka itu berat, jarang ada waktu untuk keluarga, apakah ibu siap dengan semua itu?" kini bu Kapolres bertanya pada Muti.
"Insyaallah siap bu"
"Ya jelas siap, wong sudah cinta kok. Nek ndak siap yo bakalan gagal nikah. Betul pak Sigit?" sahut ibu bhayangkari yang lain.
"Betul sekali ibu, hehehe" jawab Sigit. "Kami disini hanya berpesan kepada kalian berdua, jagalah rumah tangga kalian. Guyub rukun, kalau ada masalah segera diselesaikan" pesan pak Kapolres. Muti dan Sigit mengangguk.
"Juga, selalu diisi dengan keharmonisan, pasangan masih muda itu biasanya kalau ada masalah sedikit menggebu-gebu jika marah. Nah, jangan sampai seperti itu. Pak Sigit sebagai suami harus bisa membimbing istrinya, saben hari diajak sholat jama'ah, tadarusan, kalau ada waktu luang gunakan untuk quality time dengan keluarga. Jika terpaksa bekerja, ajak istrinya agar tidak bosan di rumah. Ngunu yo bu ibu pak bapak?" kata bu Wakapolres.
"Intinya membangun rumah tangga itu harus berdua. Tidak bisa hanya salah satu saja. Saling membutuhkan, saling memiliki, Insyaallah nanti rumah tangga itu akan adem ayem tentrem. Pak Sigit, istri itu cukup 1, banyak anak silahkan, tapi manut pemerintah yo? 2 cukup lanang wadon sami mawon. Jangan ada dusta diantara kalian" imbuh bu kapolres.
"Sudah? Ada yang ingin menambahkan?" tanya pak wakapolres. Semuanya menggeleng. "Semoga ketemunya hanya saat nikah kantor saja. Bukan saat sidang gugat cerai ya? Dengan ini saya nyatakan kalian sah nikah kantor" kata pak Kapolres. Muti dan Sigit mengucap hamdalah.
.
.
.
Like
Vote
__ADS_1
Komen
Tip