Cinta Karena Mandat (Revisi)

Cinta Karena Mandat (Revisi)
Bab 40


__ADS_3

Mereka sudah tiba di rumah Indra. Muti mempersilahkan mereka masuk. "Maaf ya, mamah sudah menginap semalam disini" kata Anin.


Muti tersenyum "Gak papa Mah, Mamah pakai kamar tamu yang bawah atau yang atas?" tanya Muti. "Atas" jawab Anin.


Muti mengangguk. "Berarti si Komandan galak dan nyebelin itu pakai kamar tamu atas mah" kata Muti judas sambil melotot ke arah Sigit.


Bagas dan Anin hanya bisa geleng kepala. "Sudaaah, kalian cepat bersih-bersih. Satu jam lagi Papah tunggu di ruang tamu"


"Mah, pinjam baju Papah dong, Sigit gak bawa baju ganti sama sekali nih" ucap Sigit. Anin menggeleng. "Papah cuma bawa satu stel nak"


"Ha? terus Sigit pakai apa dooong?" Anin dan bahu mengangkat bahu mereka tanda tak tahu. Muti hanya diam dan meninggalkannya. "Apes! Bodo amat ah! Pakai ini lagi saja" kata Sigit mengekor di belakang Muti.


Muti menuju lantai 2, ia segera ke kamarnya. Sigit mengikutinya hingga ke depan pintu. "Kamar tamu disebelah kiri" kata Muti tanpa melihat Sigit dan langsung masuk ke kamarnya dan membanting pintu kamarnya.


Sigit sampai geleng kepala dan mengelus dadanya. Ia masuk ke kamar yang dimaksud oleh Muti. Ia menuju ranjang dan menengkurapkan dirinya sebentar. Meraba sudut bibirnya yang terluka akibat tamparan keras Papahnya.


"Memang kamu pantas dapat tamparan itu Git. Kamu hampir menjadi pembunuh" ucapnya pada diri sendiri. Seseorang mengetuk pintu. Sigit bangkit dan membukanya.


Ceklek. Muti berdiri di depan kamar itu dan menyodorkan baju ganti untuknya. Tanpa sepatah kata pun. Sigit menerima baju itu. "Makasih"


Muti tak menjawab. Ia segera balik badan dan kembali menuju kamarnya. Sigit tersenyum melihatnya. "Marah, tapi masih perhatian. Dasar marmut"


Ia segera kembali ke kamar dan mandi. Mengingat ucapan Papahnya yang benar-benar marah terhadapnya.


Selesai mandi, mereka bertemu kembali di meja makan. Hanya kebisuan yang mereka ciptakan. Muti mengambil piring untuknya dan Sigit. Mengambilkan makanan untuknya dan Sigit. Lagi-lagi tanpa kata. "Makasih" ucap Sigit kembali.


Mereka makan dalam hening. Sigit duduk di depan Muti. Sesekali curi-curi pandang kepada Muti. Begitupun sebaliknya, Muti juga mencuri pandang terhadap Sigit. Tapi mereka hanya saling diam tak ingin mengungkapkan apapun.

__ADS_1


Sarapan selesai, Anin dan Bagas sudah menunggu mereka di ruang tamu. Mereka duduk berdampingan namun berjarak. Anin dan Bagas saling pandang melihat perrubahan sikap mereka.


"Oke, kita mulai menyelesaikannya satu per satu. Siapa dulu yang akan menjelaskan?" ucap Bagas mencoba menengahi permasalahan itu.


Mereka berdua diam. Membuat Anin dan Bagas geleng kepala. "Muti, Sigit? Ayo! Siapa dulu yang akan menjelaskan ke kami?" tanya Anin memaksa.


"Muti saja dulu Mah" kata Sigit. "Enak saja! Kamu saja dulu! Masalah ini ada karena ulahmu!"


"Ladies first" jawab Sigit. Anin dan Bagas makin meradang dengan sikap mereka berdua. "Stop!" bentak Bagas.


"Oke. Muti, Mamah ingin mendengar penjelasan dari kamu dulu sayang. Ayo ceritakan ke Mamah, kenapa kalian sampai batal fitting baju?" tanya Anin.


Muti mulai menceritakan kejadian yang ia lihat. "Muti melihat mas Sigit menindih tubuh perempuan itu. Hati Muti sakit Mah. Muti langsung meninggalkan polres dan bersembunyi di kediaman Danang"


"Yang kamu lihat gak seperti itu Yank" ucap Sigit. "Stop! Lanjutkan dulu cerita versimu Git" pinta Anin.


"Oke, lalu kenapa Ayah Indra bisa sampai masuk rumah sakit?" cecar Anin.


Sigit menghela nafasnya, hatinya sakit mengingat Muti berada di pelukan lelaki lain. "Sigit mencari Muti di apartemen Danang. Saat itu, Sigit melihat Muti berpelukan dengan lelaki lain. Membuat Sigit benar-benar dikuasai cemburu. Sigit kehilangan kendali dan menelpon Ayah, bilang bahwa pernikahan ini tak akan terjadi karena Muti bergonta ganti pasangan" tutur Sigit.


Anin dan Bagas memijat kening mereka. Pusing dengan kesalahpahaman yang terjadi. "Muti, jelaskan kenapa kamu sampai dipeluk pria lain?" tanya Bagas.


"Dia mantan Muti Pah, Muti juga tidak tahu ia berada di apartemen yang sama. Kami berpapasan saat Muti hendak keluar beli makan. Ia minta Muti balikan sama dia, tapi Muti menolaknya. Hati Muti sudah bukan untuknya lagi. Dia mengucapkan salam perpisahan. Dia memeluk Muti. Hanya itu"


Sigit kesal dengan pernyataan Muti. "Salam perpisahan harus pakai pelukan begitu? Murahan!" ucap Sigit pedas. Membuat hati Muti sakit dan kembali emosi. Muti meinggalkan ruang tamu dan menangis.


Anin dan Bagas sampai bingung dengan sikap putranya. "Muti, kembali duduk" kata Anin. Muti masih tak menjawab.

__ADS_1


"Muti, Mamah bilang kembali duduk disini!" Akhirnya Muti kembali dengan berurai air mata.


"Oke, kita selesaikan semuanya. Dalam hal ini, kalian berdua itu salah. Kamu sebagai laki-laki harusnya bisa lebih mengerti perasaan wanita Git. Bukan hanya kata pedas yang keluar dari mulutmu itu. Batasi pergaulanmu dengan teman wanitamu. Kamu itu sudah punya calon istri, hargai dia. Meskipun kamu tidak salah, tapi mata yang terlanjur melihat akan menyebabkan kesalahpahaman! Paham??!" Bagas menegur anaknya.


"Kamu juga Muti, kamu itu perempuan nak. Tak seharusnya gampang memberikan pelukan kepada pria lain. Ingat, kamu sudah punya calon suami. Lelaki juga akan terbakar cemburu ketika melihat wanita yang dicintainya sedang mesra dengan pria lain. Ini terakhir kali mamah dan papah mendengar kalian salah paham seperti ini. Lihat ulah kalian. Ayah kalian sampai masuk rumah sakit dan hampir saja meninggal" tutur Anin. Ponsel Bagas berdering. Handoko menelponnya mengatakan bahwa Indra sudah sadar.dan mencarinya.


"Oke, kami akan segera kesana" ucap Bagas dab mematikan sambungan telepon. "Ayah Indra sudah sadar, beliau mencari kami. Kalian selesaikan sendiri masalah kalian. Renungi setiap tindakan yang kalian lakukan. Kalian sudah dewasa, jadi bersikaplah dewasa dalam menyelesaikan suatu masalah. Paham?"


Mereka mengangguk. "Kalian boleh menemui Ayah Indra jika masalah kalian sudah selesai. Pernikahan harus tetap terlaksana. Papah dan Mamah gak mau dengar alasan apapun lagi"


Mereka diam tak menjawab. "Tanya hati kalian masing-masing, bagaimana sebenarnya perasaan kalian. Jangan mementingkan amarah, karena itu adalah hal yang disenangi setan. Paham kan? Kami pamit.ke rumah sakit dahulu" ucap Bagas.


Mereka menyalami para orang tua. Kini mereka duduk berdua diam dalam keheningan. Tak tahu harus memulai dari mana. Mereka merenungi kesalahpahaman yang terjadi.


"Maaf"


.


.


.


Like


Vote


Komen

__ADS_1


Tip


__ADS_2