
"Sigit akan mengantar jemput Muti sesuai keinginan om, Sigit akan melakukan hal itu jika om minta, tapi tolong beri waktu kepada kami untuk pendekatan dan saling mengenal satu sama lain" ujar Sigit. Akhirnya semua mengangguk setuju.
Hanya itu satu-satunya cara agar ia bisa sementara waktu lolos dari perjodohan ini. Mengulur waktu.
Pertemuan dua keluarga yang akan menjodohkan anak mereka telah selesai. Para orang tua pamit pulang terlebih dahulu. Tristan tetap memantau Luna dan Danang dari jarak jauh, hanya melihat gerak-gerik yang mereka perlihatkan.
"Yah, sudah lah, biarkan mereka dekat kenapa sih? Luna sudah dewasa, sudah bisa menentukan mana yang baik mana yang buruk Ayah, jangan terlalu mengekang anak kita, kasihan dia. Ayah mau kalau sampai mental Luna jadi sakit?" Tari memperingatkan suaminya.
"Bener bang Tris, jangan kita menilai seseorang hanya dari masa lalu orang tuanya. Biarkan mereka coba dekat dulu. Kalaupun jodoh memangnya kita bisa melawan takdir dari Allah?" Anin membantu sahabatnya meyakinkan Tristan.
Tristan menghela nafasnya kasar. "Aku masih tidak yakin dengan itu anak, seperti ada yang mengganjal gitu di hati"
"Halah, mengganjal karena yang kamu selalu memikirkan kemungkinan terburuknya. Sudah lah bang, biarkan Luna belajar mencinta. Apa kamu mau Luna jadi perawan...." ucapan Salma terpotong karena mendapat senggolan dari suaminya.
"Hush jangan diteruskan. Omongan itu doa lho. Doakan Luna segera bertemu jodohnya. Sudah ayo pulang, biarkan mereka sedikit bebas. Tugas kita memantau dari jarak jauh" timpal Raka.
Semua mengangguk dan masuk ke mobil. Mereka meninggalkan rumah Muti. Tersisa para muda mudi yang ada disana.
Sigit berbicara berdua dengan Muti. "Sini hp kamu" Sigit mengambil ponsel dari tangan Muti dan mengetikkan sesuatu disana, lalu dia menempelkan ponsel Muti ke telinganya.
Gantian ponsel Sigit yang berbunyi. Dia ssgera menghentikan panggilan itu. "Ini nomor aku, simpan biar kita bisa komunikasi karena aku harus mengantar jemput kamu"
"Oke, Komandan galak" Muti mengetikkan di ponselnya nama kontak untuk Sigit.
"Marmut Playgirl" Sigit mengetik sambil mengucapkan nama kontak untuk Muti di ponselnya.
"Ih, kok marmut playgirl sih mas? Gak, gak, gak bisa, ganti, ganti, sini pinjem hp nya" Sigit menggeleng dan segera mamasukkan ponselnya ke saku celana.
"Kamu saja nulis nama kontak aku komandan nyebelin kok. Ya kamu tak juluki marmut playgirl" balas Sigit. Muti berdecak sebal dan melipat tangannya di depan perut. "Nyebelin!"
Sigit tertawa melihat tingkahnya yang masih seperti anak kecil. Dia mengacak-acak rambut Muti gemas. "Kamu kalau lagi marah gemesin banget siiiihhh" katanya mencubit pipi Muti setelah mengacak-acak rambutnya.
"Hish, sakit mas!" Muti meraih tangan Sigit dan menggenggamnya. Mereka berdua berhenti tertawa. Suasana menjadi agak canggung. "Maaf" kata Muti sambil melepaskan genggamannya.
"Gak papa, tidur sana. Aku sama mereka mau pulang. Eh, Danang sepupu kamu?" tanya Sigit.
Muti mengangguk. "Iya bisa dibilang begitu. Bunda Sani punya adik sambung namanya Ana. Bunda dan tante Ana itu satu ibu beda bapak"
__ADS_1
Sigit menganggukkan kepalanya tanda mengerti. "Kenapa memang?" tanya Muti lagi.
"Ha? Gak papa, cuma tanya saja. Anaknya gimana?" tanya Sigit lagi.
"Baik, pekerja keras, dan mandiri. Dia rumah sendiri lho. Sudah tak ikut mamah papahnya"
"Playboy gak orangnya?" Muti menggeleng. "Setahuku, Danang itu tidak mau dekat dengan perempuan. Hanya kalau dia tertarik baru akan dikejarnya. Tapi kadang tante Ana yang gak setuju"
Sigit mengangguk. "Kenapa sih?" tanya Muti penasaran karena daritadi Sigit menanyakan Danang.
"Gak papa, pengen tahu saja"
Danang menghampiri Muti dan Sigit yang masih mengobrol. "Mbak, aku pamit ya, tadi sudah pamit juga sama pakdhe kok. Semoga sampai tahap yang lebih serius" doa Danang kepada Muti dan Sigit.
Mereka tak tahu harus menjawab apa, mengamini atau tidak. Mereka hanya bisa tersenyum tipis. "Makasih ya Nang, salam buat papah mamahmu, sering-sering kek main kesini" kata Muti
"Ah, gak enak lah mbak, kalau mbak Muti yang main ke kafe itu baru cocok" sahut Danang.
"Kamu masih sendiri aja, gandengan mana gandengan?" Muti menyindir jomblo tampan dihadapannya itu. Danang hanya tersenyum dan menggaruk tengkuknya. "Nanti lah aku kenalkan, aku pamit. Mari pak Sigit"
Danang tersenyum malu. "Percuma pak, gak ada jalan buat kami. Mending saya lupakan daripada sakit hati kemudian"
"Hahaha, perjuangin dong. Luna juga sebenarnya ada rasa juga kali sama situ"
Danang tersenyum kecut. "Tetap saja kan pak? Dia tidak akan mau mengakuinya. Saya harus segera kembari ke rumah sakit gantikan papah sebentar. Permisi ya, saya buru-buru"
"Oh, oke. Saran saya, coba tetap dekati Luna" Danang tersenyum "Biar Allah saja yang mengatur"
Danang keluar dari rumah Muti. Lalu mereka pun ikut pamit. Jihan juga ikut-ikutan pamit pergi ke rumah sakit. "Tia, mobil kamu aku bawa ya?"
"Iya pakai saja. Hati-hati di jalan"
"Iya, sampai jumpa senin ya" Jihan berlalu. Hana dan Luna cipika cipiki dengan Muti.
"Kalian hati-hati juga" pesan Muti. "Tenang mbak Muti, ada komandan andalah dan polwan tangguh nih"
Muti tertawa mendengarnya. "Mas Si, salaman dulu kek, cium kening kek apa kek, gak romantis banget sih kamu?" Ledek Hana.
__ADS_1
"Gak perlu, sudah kalian wakilkan. Ayo balik ah, buruan" Sigit berjalan keluar sendirian. Luna melihat ada kunci mobil jatuh di lantai.
"Punya siapa nih?" tanya Luna. Danang menyahut. "Punya saya" lalu menyahut dari tangan Luna dan mengucapkan terima kasih.
"Makasih, permisi" kesan dingin tampak pada nada bicara dan sikap Danang. Membuat Luna sedikit terkejut dengan perubahan sikapnya.
"Lun, sepertinya kamu harus minta maaf sama dia. Entah ada apa diantara kalian, tapi sepertinya kalian harus menyelesaikan sesuatu itu" ujar Sigit yang juga merasakan hawa dingin dalam ucapan dan sikap Danang.
Luna hanya diam mematung. Apakah sikapku keterlaluan?
Mereka sudah berada di mobil dengan Luna sebagai pengemudi. Saat melewati pertigaan hampir saja dirinya menabrak seseorang dengan hoodie hitam dan topi hitam melintas tiba-tiba di depan mobilnya.
Membuat semuanya berteriak
"Awas Lun!" Sigit ikutan kaget. "Kamu kenapa sih ha? Melamun?"
"Enggak, itu orang tiba-tiba melintas, kan ya aku gak tahu Si" bantah Luna.
"Sudah, mbak Lun, mending aku gantiin nyetir, biar aku hapal jalan Semarang" Hana menawarkan saran kepada Luna. Luna akhirnya berpindah posisi.
"Mas Si, kafenya mas Danang dimana?" tanya Hana.
"Jalan wolter monginsidi no 78 Han, kamu mau kesana" jawab Sigit. Hana mengangguk. "Oke let's go. Gak ada bantahan! Semua harus ikut!" ancam Hana.
.
.
.
Like
Vote
Komen
Tip
__ADS_1