
Luna masuk ke dalam kamarnya dan segera berganti baju. Ibundanya masuk dan berbicara kepada Luna.
"Astaghfirullah, Ibun! Bikin kaget saja sih? Segala masih pakai masker beras lagi, piyama putih pula. Macam mak kunti saja"
Tari malah cekikikan menirukan suara mak kunti. "Hahaha. Tadi pulang diantar siapa?" Luna membekap mulut bundanya agar tak terlalu keras bicara.
"Jangan keras-keras dong Ibun, nanti Ayah dengar. Luna diantarkan Danang" jawab Luna dengan berbisik. Tari ikut-ikutan berbisik.
"Alhamdulillah kamu mau dekat lagi dengan Danang. Ibun senang. Urusan Ayah biar Ibun yang tangani. Dengarkan apa kata hati kamu Lun, jangan takut terhadap Ayah. Bukan maksud Ibun mengajarimu menjadi durhaka, Ibun hanya ingin putri Ibun bahagia seperti yang lainnya" tutur Tari.
Luna memeluk Ibundanya. "Makasih ya Ibun. Ibun memang terbaik deh"
"Sama-sama, ya sudah istirahat gih. Ibun juga mau nyusul Ayah yang sudah ngorok" Luna mengangguk.
.
Danang baru saja tiba di apartemen miliknya. Mamahnya menunggu Danang disana. "Mamah? Mamah kenapa ada disini?" tanya Danang.
Ana tak menggubris pertanyaan Danang, dia menanyakan kepada Danang darimana. "Kamu darimana? Kenapa terlambat?" tanya Ana.
"Nganter teman dulu, tadi mobilnya mogok mah. Ayo masuk mah"
Ana ikut masuk ke apartemen Danang. Mereka berbicara lama sekali. Entah apa saja yang mereka bicarakan.
"Danang gak bisa mah" kata Danang pasrah.
"Kenapa gak bisa? Pasti bisa! Harus bisa! Sudah, mamah pulang dulu. Mamah gak mau dengar alasan dari kamu. Pokoknya kamu harus berhasil dapatkan hati Luna" Ana keluar dari apartemen Danang.
.
Sigit selesai mandi dan sholat. Dia meraih ponselnya. Mengetik chat untuk Muti.
Me : Aku sudah sampai rumah dari tadi. Tadi langsung mandi dan sholat jadi baru kasih kabar sekarang. Jangan marah ya
Marmut playgirl : Aku kira sudah lupa sama janjinya. Iya, aku gak marah kok mas. Sekarang lagi ngapain?
Me : lagi rebahan. Capek, mau minta pijit istri belum bisa karena masih jadi calon 😝
Marmut playgirl : 🤭 kasihan deh kamuuuu 😛
Me : Kamu lagi ngapain?
Marmut playgirl : lagi..... lagi mikirin bapak komandan galak!
Sigit senang bukan main. Dia memeluk bantalnya erat dan tersenyum. "Paling bisa kalau suruh godain" ucapnya.
Marmut playgirl : Mas... maaaas....
Me : Hmm, iya apa?
Marmut playgirl : aku pengen dipenjara...
__ADS_1
Me : Ha? Ih, kok ngomongnya begitu? Gak baik tahu, ucapan itu doa lho Mut
Marmut playgirl : Ih, beneran! Aku pengen dipenjara di hatimu, asalkan pelanggarannya karena mencintaimuuuu...... ea... ea.... eaaa
Me : 🤣🤣😘😘😘
Me : Kamu memang paling jago kalau suruh menggombal. Palygirl kan ya?
Marmut playgirl : 🤫 udah tobat! Gegara kena tilang cinta dari komandan galak! Gak mau lagi, nanti kena pasal lagi akohnyaaaa... Ea... Ea... eaaaaa
Me : Cieee, seriusan udah tobat?? Nanti kalau ngambek pergi ke yang lain gak??
Marmut playgirl melakukan panggilan video. Sigit segera mengangkatnya. "Assalamualaikum" sapa Muti
"Waalaikum salam" balas Sigit. "Ngapain video call?"
"Ih, kok gitu? Emang gak boleh? Aku pengen lihat wajah calon suami aku" goda Muti lagi.
Sigit tertawa. "Cie, kangen yaaaaa? Yakin sudah jatuh cinta sama mas?"
Muti melihat ke atas langit-langit kamarnya. "Jawab jujur gak ya?"
"Ih, bikin males deh! Jawab jujur dong Mut!"
"Males ah, kamu saja kalau disuruh jujur susah kok" elak Muti.
Sigit tertawa kecil. "Ya memang harus bagaimana ngomongnya? Jangan mengharapkan keromantisan dariku. Masa harus kayak anak ABG yang bilang aku mencintaimu, hoeeeekkk" Sigit memperagakan dirinya muntah.
Muti malah tertawa ngakak mendengarnya. "Gak gitu juga kali maaaas, siapa yang bilang kamu gak romantis? Memang kamu gak sadar? Kamu itu selalu ngasih perhatian ke aku, memperlakukan aku kadang seperti bocah, kadang seperti putri, itu juga romantis maaas"
Muti berdecak. "Katanya kalau lagi sama kamu gak boleh mikirin cowok laiiiin, nanti aku dikira selingkuuuuhh"
Sigit tertawa. Mereka sama-sama diam. Tak tahu apa yang harus dibicarakan lagi. "Besok kamu pulang jam berapa mas?" Muti mulai percakapan lagi.
"Besok mas pulang malam, harus ikut razia patung. Kenapa?"
"Ikut boleh? Takut di rumah sendirian. Untung ada om Tompel tadi"
Sigit menautkan alisnya. "Memang apa yang terjadi?"
"Ada bungkusan kotak, aku ragu bukanya. Om Tompel keluar dan membukanya. Katanya bangkai ayam. Sekarang om Tompel lagi menyelidiki sekitar. Karena katanya dia melihat orang dengan jaket hitam beberapa kali memperhatikan rumahku"
Sigit mendengarkan dengan seksama cerita Muti. Mungkinkah orang yang hampir kena tabrak tadi?
"Jangan takut, ada Allah yang selalu melindungi kita. Apa aku suruh Hana di rumahmu? Biar bisa menemani kamu?" kata Sigit.
Muti menggeleng. "Gak usah, kasihan Hana kalau dari rumahku ke tempat kerjanya makin jauh mas"
"Pertanda ini" Sigit mulai dengan teka-tekinya.
Muti bingung. "Pertanda apa mas? Jangan bikin makin takut ah!"
__ADS_1
Sigit tertawa. "Pertanda kalau mas disuruh segera menikahimu. Wkwkwkwkw"
"Hish! Dasar!"
"Mut, mas mau tanya. Kamu tahu kan gaji polisi berapa? Gak beda jauh dari PNS. Kecil kan? Kamu masih pengen jadi ibu bhayangkari?" tanya Sigit
Muti tersenyum. "Kamu kira kalau anak panglima.tuh semuanya keturutan gitu? Aku diajari Ayah untuk selalu mandiri dan sederhana. Eh, kok sudah sampai sini saja ngomongnya? Kamu nyatakan perasaanmu saja belum kok"
Sigit tertawa. Hatinya berdesir hebat. Keheningan sesaat terjadi lagi.
Hana entah sejak kapan berada disana, tertawa mendengar Sigit dan Muti seperti orang yang sedang jatuh cinta. "Cieeee yang lagi dilanda badai asmaraaaa. Ihiiiiiirrrrr"
Muti tertawa. "Kamu sejak kapan ada disana nguping pembicaraan kami? Malah jadi malu kan akunyaaaa"
"Hahaha, gak usah malu mbak, biasanya juga malu-maluin. Ups, canda ya mbak"
Sigit berdecak. "Balikin Han! Sana keluar!" ucap Sigit kesal.
"Iya-iya. Aku kesini mau pinjem penggaris. Penggaris aku ketinggalan"
"Noh disana. Sanaaaa" usir Sigit lagi.
Hana tertawa ketika Sigit begitu. "Monggo dilanjut pacarannya, lebih enak pacaran setelah nikah lhooo. Kenapa gak besok saja kalian nikah? Minta dimajuin sanaaaaa"
Sigit melempar bantal kepada Hana. "Sana keluar!"
Hana tertawa dan meninggalkan Sigit.
"Sudah malam, bobok gih. Berdoa dulu. Selamat malam marmut nakal!"
Muti tersenyum. "Selamat malam komandan galak! Jangan dimatikan, tunggu aku benar-benar terpejam"
Sigit mengangguk. "Iya, mas tungguin kamu sampai tidur"
Muti mulai memejamkan matanya. Sigit memandanginya. "Imut" ucapnya tak sadar dan tersenyum.
Sigit memastikan Muti benar-benar tidur dan setelah itu dia menutup telponnya. Sigit berganti menelpon om Tompel, menanyakan tentang kejadian tadi.
Om Tompel menjelaskan kejadiannya, dan berjanji kepada Sigit untuk segera menemukan orang itu.
"Om Tompel fokus terhadap Muti saja. Kalau dia muncul lagi langsung kasih kabar ke Sigit, biar Sigit yang menanganinya. Oke, terima kasih om"
.
.
.
Like
Vote
__ADS_1
Komen
Tip