
Ayah Indra mengajak semuanya mampir terlebih dahulu ke rumahnya. Mereka tak bisa menolak. Akhirnya mereka mampir dulu ke rumah mertua Sigit.
Sigit senyam senyum sendiri membayangkan. kejadian lalu, gara-gara Bella dan Humam dirinya sampai harus membuat Ayah Indra masuk rumah sakit. Bertengkar hebat dengan Muti.
Tapi dari sinilah, ia sadar bahwa dirinya mencintai Muti dengan tulus. Menyadari cinta yang dibawa karena mandat. Ali yang berada di sebelah Sigit heran melihat sepupu iparnya itu.
"Jangan gila sekarang, nanti aja. Sekarang makan dulu. Laper!"
Sigit berdecak. "Mulutmu Al, senang kalau lihat aku gila?" Ali tertawa. "Lha kamu ngapain coba senyam senyum sendiri?"
Sigit kembali tersenyum. "Ada cerita lah pokoknya. Tapi, dari sini aku dan Muti sadar bahwa kami saling mencintai"
Ayah Indra mendekatinya. "Hapemu aktifkan Git. Ayah diteror sama istrimu" Sigit menepok jidatnya karena lupa. Akhirnya ia meraih ponselnya dan mengaktifkannya. Ali melakukan hal yang sama.
"Ribet ya punya istri?" celetuk Hamka. Bima tersenyum kecut. "Bukan ribet bang, enak! Tiap hari ada yang nyariin"
"Alaahhhh,.... aku saban hari dicariin melulu sama Kapolda biasa aja!" balas Hamka. Damar dan Bima saling pandang dan tertawa puas.
"Ya kali istri disamakan dengan Bapak bang! Aneh ih! Makanya nikah!" sahut Damar.
"Macam kamu sudah nikah Dam, nyuruh orang nikah cepat-cepat!" timpal Bima. "Coba deh bang, buka hati buat perempuan. Kalau memang jodoh ya Insyaallah kayak mereka jadi budak cinta. Kalau gak jodoh ya kayak aku gini"
Damar dan Hamka mengelus-elus punggung Bima. "Sabar Bim, memang kalau muka pas-pasan itu susah buat dapat jodoh" kata Damar
"Sialan lu Dam!"
Sigit menerima panggilan dari istrinya. Panggilan video. "Assalamualaikum sayang" sapa Sigit.
"Waalaikum salam, maass........ kamu jahat banget sih! Hape gak diaktifkan. Kami disini itu khawatir dengan keadaan kalian! Menunggu kabar kalian! Bisa-bisanya kalian gak memberi kabar ke kami" cerocos Muti marah-marah.
"Maaf sayang, kami baik-baik saja kok, sekarang di rumah Ayah. Itu ada suara orang nangis siapa?" tanya Sigit terheran. Muti mengarahkan kameranya pada Hana.
"Ini karena kalian, gak peka banget sih jadi suami! Mana tuh mas Ali! Hana sampai gak mau makan dan nangis karena nunggu kabar dari kalian!" Ali segera menyambar ponsel Sigit.
"Pantas aku telpon gak mau angkat. Muti, tolong kasihkan Hana" Muti memberikan ponselnya pada Hana.
"Assalamualaikum istrinya Abang Ali. Kenapa menangis? Hmm? Kenapa juga gak makan? Abang ada disini sayang" bujuk Ali kepada Hana.
Hana menghapus air matanya. "Abang jahat... hiks...."
__ADS_1
"Cup sayang. Gak boleh cengeng dong! Makan dulu gih" Hana menggeleng.
"Jangan begitu, gak kasihan sama dedek di dalam rahim kamu? Nanti Abang pulang, kita periksa ke kandungan" Hana mengangguk. "Makan ya dek?" Hana mengangguk lagi.
"Abang telpon ke hape kamu, diangkat ya. Ini orang yang punya hape udah gak sabar" imbuh Ali. Sedari tadi Sigit menarik-narik lengan bajunya, membuatnya risih. Hana kembali mengangguk. "Nyoh nyoh nyoh" kata Ali menyodorkan ponsel Sigit.
Hamka, Bima, dan Damar hanya sebagai pendengar mereka. Mereka mendengarkan percakapan yang terjadi antara Sigit dan Muti.
"Kangeenn..." rengek Muti dari seberang sana. Sigit mengubah posisinya memeluk bantal sofa. "Mas juga kangeeennn.... Besok pulang kok. Kasih sun dulu dong" Muti memberikan kecupan di layar ponsel itu. Sigit menempelkannya pada pipinya. "Lagi....." rengeknya.
Hamka tertawa keras mendengarnya. Ia bergidik ngeri. "Dia kenapa jadi menjijikkan seperti ini sih?" protesnya. Ali memakan anggur sambil menghubungi istrinya. "Nanti juga lu ngrasain sendiri bang!"
Dua pria itu sibuk dengan ponsel masing-masing. Ayah Indra menjamu mereka dengan makanan. "Biarkan saja mereka, lagi kasmaran ya begitu. Ayo sekarang makan dulu"
Hamka, Bima, dan Damar makan meninggalkan mereka berdua di ruang tamu. Tak terasa sudah hampir 30 menit mereka bertelponan ria. "Yank, matikan dulu. Mas lapar mau makan"
Muti mengangguk. "Makan yang banyak ya sayangkuu.... Cepetan pulang"
"Iya ih, ya sudah. Assalamualaikum"
"Waalaikum salam" jawab Muti sambil melempar kissbye untuk suaminya. Sigit tersenyum dan menangkap kissbye itu.
"Sudah kenyang aku Si, kenyang karena mendengar omonganmu di telpon" Semuanya tertawa.
"Itu belum seberapa bang, mereka ciumab di depan umum saja pernah" timpal Ali sambil mengambil lauk. Sigit sampai terbatuk karena ucapan Ali.
"Kapan Al?" tanyanya terbodoh.
"Lhaaah... dia lupa, kemarin setelah misi? Memang kamu sama Muti gak kiss kiss di depan mata aku, Hana, kakek, Maryam?"
"Oooo itu" katanya sambil manggut-manggut. Ayah Indra tersenyum mendengarnya. Itu artinya kehidupan rumah tangga anaknya baik-baik saja. Pikirnya.
"Git, Al resepsi sebentar lagi, persiapan sudah sampai mana?" tanya Ayah Indra.
"Kemarin Sigit dan Muti sudah fitting sih Yah, tinggal Hana dan Ali. Selanjutnya pembentukan tim sangkur pora alias pedang pora. Urusan WO sudah clear semua sama Habib dan Maryam" Ayah Indra mengangguk.
"Si, masukkan bang Hamka, Damar dan juga Bima dalam grup itu. Kalian tim upacara sangkur pora. Cari pasukan untuk kami, kamu komandannya bang!" perintah Ali.
Hamka mengangguk. "Penting amplopanku tebel Al. Hahaha"
__ADS_1
"Dasar!" jawwb Ali sambil tersenyum.
Hamka mengupas jeruk "Dam, suruh sebagian anggota kita dan sebagian lagi dari anggota Polres jadi pasukan. Mau pakai drum band?" tanya Hamka.
Sigit dan Ali mengangguk bersamaan. "Oke. Bim, kamu yang melatih mereka ya. Aku hanya akan memantau" perintah Hamka lagi.
"86!" jawab Bima. Seseorang memencet bel pintu. Semuanya menoleh ke arah suara bel. Ayah Indra bangkit dan segera membukanya. "Biar Sigit saja Yah" kata Sigit mendahului ayah mertuanya.
Sigit membukakan pintu. Seorang wanita berhijab berdiri disana. "Assalamualaikum, pak Indra nya ada?"
"Waalaikum salam. Ada. Silahkan masuk. Dengan ibu siapa? biar saya panggilkan Ayah" jawab Sigit.
Ayah Indra muncul dari dalam. "Lhoh, Amira? Kok tidak bilang sudah sampai?" katanya. Perempuan bernama Amira itu tersenyum.
"Gak papa bang, aku sama Amaris, anaknya pak Duta. Yang jadi guru itu lho" Amaria datang dan mengucapkan salam. Ayah Indra tersenyum melihatnya.
"Git, kenalkan. Ini namanya Bu Amira, ini anaknya dokter Laras dan Pak Duta" Sigit menyalami Bu Amira dan menangkupkan tangan seperti yang dilakukan Amaris.
"Kok bapak bisa kenal orang tua saya?" tanya Amaris.
"Istri saya terapi sama mamahnya jenengan" Amaris dan Bu Amira mengangguk-angguk. "Ayo silahkan masuk"
Mereka masuk ke dalam rumah. Ada sesuatu yabg mengganjal hati Sigit. "Ehm.... Yah, Ayah lagi pedekate sama Bu Amira?" Ayah Indra menjadi salah tingkah.
.
.
.
Like
Vote
Komen
Tip
Yang minta anaknya pak Duta, nih Amaris muncul. Maris aja yah.... Yang lain jangan 🤣🤣
__ADS_1
Othor kagak sahur gaes.... bangun2 udah imsak.... cuma niat dan minum dikit. perut melilit. Doakan othor bisa ngetik lagi... 😁😘