Cinta Karena Mandat (Revisi)

Cinta Karena Mandat (Revisi)
Bab 138


__ADS_3

Muti sudah sangat mengantuk. Sigit memberikannya obat yang diresepkan oleh dokter. Muti meminumnya. "Yank, USG lagi kapan?" tanya Sigit.


Muti menghabiskan minumnya. "Nanti umur 16 minggu mas" Sigit mdnghitung minggu per minggu. "Mak, masih 10 minggu lagi? Berarti masih 1,5 bulan dong??? Lamanya..... huhuhuhu"


Muti tertawa terbahak-bahak saat mendapati suaminya begitu. "Puasanya kok lebih lama dari puasa biasanya??? Mumet mumet mumet mumet!"


"Hahahahah, ya Allah Mas..... sabar dong yank, demi dedek lho....."


Sigit memasang wajah sedihnya. "Salahku sendiri kemarin-kemarin gak minta 5 kali ronde"


"Sabar cinta...... Mas Ali saja bisa masa suami aku gak bisa sih?? Hmmm??" Muti menahan tawanya dan mencubil pipi Sigit. Muti mulai menguap, ia membaringkan dirinya sambil memeluk Sigit.


Ponsel Sigit berbunyi, tanda ada chat yang masuk. "Siapa sih?? Ganggu saja" Sigit meraih ponselnya dan membaca chat yang masuk. Dari Ali.


Ali : Si.... Gua habis buka puasa! Nikmat luar biasa! 😝😝


"Sialan ini orang, ngledek gua mulu!" Sigit membalasnya. "Do'ain gua tahan dari nafsu dan godaan para orang-orang kayak lu!"


Muti heran dengan suaminya. "Apa sih mas?"


"Ini si Ali! Pamer sudah buka puasa! Huhuhhu..... Masih lama ya nunggu bedugnya?? Sabar Si sabar...... Cuma 10 minggu Si, 10 minggu" kata Sigit meyakinkan dirinya sendiri. Muti tertawa dalam dada bidang suaminya itu.


Sigit mengecup bibir Muti sekilas, lalu menjadi panas. "Mas...." Muti mengingatkan. Sigit menghela nafasnya berat. Berhenti sebentar sambil memejamkan mata, tapi, tangannya mulai aktif lagi. Ia bermain-main di area dada Muti.


"Mas Si....... ah....." Muti mulai kesal. Ia bangun dan turun dari ranjang. "Mau kemana yank?" tanya Sigit.


"Pindah kamar! Bahaya kalau kamu begitu terus...."


"Mau tidur dimana kamu?" tanya Sigit lagi.


"Tidur sama Mimi, biar kamu tidur sama Ayah!" Sigit melongo mendengarnya. "Yank.... hahahah..... jangan bercanda yank...... Memang kamu bisa tidur tanpa dipeluk mas terlebih dahulu??"


Muti tak menggubris ucapan Sigit. Ia tetap keluar kamar dan berjalan ke kamar tamu. "Mi, Yah....." tok tok tok.


Mimi Amira yang sedang akan melayani suaminya cepat-cepat turun dan memakai pakaiannya kembali. "Mira.... kepalang tanggung Abang ini...."


"Ada Muti bang, nanti ya? Ditunda dulu. Cepatlah pakai baju Abang" jawab Mimi Amira.


Tak lama Mimi Amira selesai berganti baju. Ceklek. Pintu terbuka. Mimi Amira berpura-pura menguap dan mengucek-ucek matanya. "Ada apa nduk?"


"Muti tidur sama Mimi saja deh, Mas Si godain Muti terus dari tadi" ucap Muti membuat Mimi Amira gelagapan. "Ayo masuk Mi, Muti ngantuk. Biar Ayah tidur sama mantu kesayangannya itu"


"Ha? I-iya" Ayah Indra yang sudah selesai berganti baju heran melihat Muti masuk ke kamar tamu. "Ngapain kamu?"

__ADS_1


"Muti mau tidur sama Mimi. Ayah sana tidur sama mantu kesayangan Ayah. Daritadi godain Muti melulu"


Ayah Indra melongo heran dengan ucapan Muti. "Sana Yah, Muti sudah ngantuk nih" Mimi Amira menyuruh suaminya pindah kamar.


Ayah Indra menghela nafasnya berat. Melangkah meninggalkan kamar dan berada di ambang pintu. "Bener nih Ayah tidur sama suami kamu?"


Muti mengangguk sambil menarik selimut. "Sekali-kali Muti mau tidur sama Mimi, biar bisa dimanjain Mimi. Sana......" usir Muti.


Ayah Indra keluar dan menutup pintu. Menuju kamar Sigit. Ceklek. "Tuh kan? Mas bilang apa..... lhah, kok Ayah? Muti kemana Yah?"


"Noh, tidur sama Mimi. Gara-gara kamu nih, Ayah jadi kepalang tanggung!" Jawab Ayah Indra sebal. Sigit mengerutkan keningnya dan berpikir. "Kamu sih?? Jangan godain anak Ayah dong! Begini kan jadinya?"


"Ya maaf Yah, niatnya tadi cuma bercanda doang, eh Muti pindah kamar beneran"


Ayah Indra berdecak. "Udah udah udah, tidur" Sigit mengangguk. Ayah Indra langsung bisa tidur dan masuk ke alam mimpi. Sedangkan Sigit tak bisa terpejam karena Ayah Indra tidur sambil ngorok.


Sigit gusar, ia bangun dan terduduk dengan wajah cemberut. Ia keluar kamar dengan memeluk guling. "Ayah ngoroknya keras banget sih, berisik jadi gak bisa tidur deh"


Menuju sofa dan merebahkan diri disana. Memejamkan mata dan tertidur. Sedang Muti bersama Mimi Amira sudah tertidur sedari tadi.


.


Luna masih memegangi ponsel sambil memakai headset. Di layar itu muncul wajah Danang. "Tadi gimana acara Hana?" tanya Danang di ujung sana.


Luna mengangguk. "Mas...."


"Hmm?"


"Kangen....." Danang tersenyum mendengarnya. "Besok mas pulang, puasa pertama mas di Semarang, setelah itu menetap lagi. Yang sini gantian dipegang manager lama"


Luna mengembangkan senyumnya. "Serius??" Danang mengangguk. "Kangennya seberapa beratnya sih? Kok seneng banget kayaknya mas mau pulang?"


Luna tertawa. "Berat...... buanget........"


"Mas juga kangen sama kamu. Pengen cepat nyanding kamu, hidup bersama-sama kamu, bangun keluarga kita" ucap Danang.


Luna mulai menguap. "Ngantuk yank?" Luna mengangguk. "Tapi gak mau berakhir video callnya"


"Hahahah. Sabar, tahan sebentar lagi. Jemput mas di bandara ya besok jam 6 pagi bisa kan?" Luna mengangguk. "Ya sudah, sudah malam yank. Bobok gih... Mas tungguin sampai kamu terlelap"


Luna mengangguk. Ia meletakkan ponselnya di tembok dan berganti posisi miring. Memejamkan mata.


Hingga benar-benar terlelap. "Selamat malam belahan jiwaku. I love you so much, Baby" Danang mengakhiri panggilan video itu.

__ADS_1


Pagi menjelang. Luna gembira sekali hari itu. Danang minta dijemput di Bandara. Ia segera berangkat ke bandara setelah persiapannya selesai. "Bun, Yah, Luna berangkat dulu" menyalami kedua orang tuanya.


"Pagi banget nak, ada razia tertib lalu lintas?" Tanya Ayah Tristan. Luna menggeleng. "Jemput calon mantu Bunda dan Ayah dulu di bandara"


"Oh, ya sudah, hati-hati. Salam buat Danang. Ayah tunggu buat main catur lagi" Luna menoleh dengan memicingkan mata.


"Kok Ayah terus sih? Giliran Luna kapan dong?" Mereka tertawa. "Ya nanti, kalau kamu sudah resmi jadi istrinya" timpal Ayah.


Luna segera melajukan mobil ke Bandara. Waktu masih menunjukkan jam enam kurang. Luna membeli sarapan di Bandara. Tak lama pesawat pun tiba. Luna sudah tak sabar bertemu dengan Danang.


Tak berselang lama, seorang pria dengan membawa koper dan tas ransel di punggungnya menghampiri polwan cantik itu. "Assalamualaikum calon istri"


"Waalaikum salam" Danang mencium kening Luna. Dan memeluknya. "Sehat kan?"


"Alhamdulillah sehat mas, sudah sarapan?" Danang menggeleng. "Ke mobil yuk, aku sudah beli roti tadi. Sini kopernya aku bawakan"


"Gak usah, biar mas yang bawa" mereka berjalan berdampingan sambil berpegangan tangan menuju mobil. Masuk ke dalam mobil.


"Nanti mobil kamu mas yang bawa ya? Pulangnya mas jemput" Luna mengangguk. "Sarapan dulu gih, aku suapin"


Danang menggigit roti sandwich yang disodorkan Luna. "Emmm..... enak. Nanti sore ikut mas dan mamah"


"Kemana?"


"Beli cincin" Luna tersenyum mendengarnya. Ia mengangguk. Tak lama ia pun sampai di Polres, bertemu dengan Sigit dan Ali yang sudah siap mengikuti apel.


"Cie..... yang sekarang antar jemput...." goda mereka bersamaan. Luna tertawa. "Dia baru balik dari Bali"


"Sst, ngapain aja tadi di mobil?" Goda Sigit. Luna menginjak kaki Sigit. "Jangan mulai deh pagi-pagi!"


.


.


.


Like


Vote


Komen


Tip

__ADS_1


__ADS_2