Cinta Karena Mandat (Revisi)

Cinta Karena Mandat (Revisi)
Bab 33


__ADS_3

Subuh berkumandang, alarm Sigit dengan lagu khasnya Terpesona, terdengar bising ditelinganya. Kakek Umang membangunkannya untuk segera bangun dan mengambil wudhu.


"Git, bangun. Ayo jamaah di masjid" Sigit mengolet tapi tak kunjung bangun. Kakek Umang mencubitnya dan akhirnya dia bangun.


"Ish ish ish, sakit keeek" rintih Sigit terkena cubitan itu. "Makanya bangun! Sudah subuh juga! Ayo buruan ke masjid sebelum iqomah"


Sigit mengangguk dan segera mengambil wudhu. Tak lama dia pun siap. Dia dan kakek Umang segera menuju masjid. Sedangkan Muti dan Hana sholat di rumah.


Selesai sholat, Muti melihat isi kulkas, sedangkan Hana memilih membersihkan rumah, karena Hana tidak bisa memasak. "Mbak Mut, bisa masak?"


"Bisa dong, aku kalau di rumah lebih sering masak sendiri Han. ART aku cuma bersihkan rumah dan ngurus baju" ucapnya sambil mengeluarkan udang, jamur, brokoli, dan wortel.


Hana menyapu sambil ber-oh ria. "Memang sudah siap jadi istri idaman nih"


Muti tersenyum menanggapi ucapan Hana. Dia mulai meracik bumbu untuk membuat capcay. Dengan bahan seadanya.


Tangannya sungguh lihai memainkan peralatan dapur itu. Hana sesekali melihat dan terkagum akan kemampuan Muti. "Mbak, kapan-kapan ajari aku masak lah. Tahu gak mbak? Diantara aku, mas Si, sama mbak Lun siapa yang paling ointar masak?"


Muti menoleh ke arah Hana dan menggeleng. "Mas Si paling jago. Dan aku sama mbak Lun gak bisa. Huaaaa. Dunia serasa kebalik coba mbaaak"


"Hahahha, iya, kapan-kapan kita belajar masak bareng. Ajak mbak Lun juga" Hana tersenyum senang. "Benar mbak? Seneng deh akunya, kan kalau sama calon ipar sendiri gratis biaya belajarnya. Hahahaha"


"Hahahah, bisa saja kamu ih"


Tak lama, Hana sudah selesai membersihkan rumah, Muti juga selesai memasak. Mereka mandi bergantian. Kakek Umang dan Sigit baru kembali dari masjid karena tadi ada kultum subuh dan mengobrol sebentar dengan bapak-bapak lingkungannya.


Sigit segera mandi karena dia juga bekerja hari ini. Mereka sarapan. Sigit menikmati makanan itu. "Enak banget sih masakannya"


Muti tersenyum mendengar ucapan Sigit. "Menohok.mas Si! Tahu aku tahu, aku gak bisa masak. Haiiissh" Kakek Umang tertawa mendengarnya.


Sigit merasakan tubuhnya gatal, bibirnya kebas. Dia membuka sayuran itu satu per satu dengan sendoknya. Matanya menyipit melihat sesuatu disana. "Mut, kamu pakai udang?"


Muti mengangguk. "Iya mas, yang lebih simpel udang, kalau ayam lama motongnya" Muti dan yang lain melihat Sigit.


Bibir Sigit sudah jontor akibat alerginya. "Muti, kamu gak tahu kalau Sigit alergi udang?" tanya kakek Umang


Muti menggeleng. "Mbak Mut, mas Si tuh alergi udang" kata Hana dan segera mengambilkan obat anti alergi untuk Sigit.


"Maaf ya maaas, aku gak tahu" Sigit tak menggubris ucapan Muti. Dia sibuk dengan rasa gatal di tubuhnya. Sampai Muti dan kakek Umang ikut membantu menggarukkan.


"Haduuuh, kenapa adek Sigit ikutan gatal sih kek? Gara-gara udang nih?"

__ADS_1


"Mau aku garukkan mas?" tanya Muti. "No! Han, buruan obatnya!" Hana berlari dan segera memberikan obat itu kepada Sigit.


Sigit segera meminumnya dan menunggu reaksinya. "Sayang, maaf ya?" ucap Muti memelas. Sigit hanya mengangguk. "Biar aku saja yang nyetir. Kamu duduk di kursi depan saja"


Sigit tak kuasa dengan rasa gatal itu. Sesekali dia menggaruknya. "Nanti belikan mas masker dulu, malu bibirnya begini"


"Iya. Aku antar kamu ke polres saja ya? Mobilmu biar aku yang bawa. Nanti siang aku ke polres, kita makan siang bareng" kata Muti. Sigit mengangguk. "Terserah kamu"


Muti membelikan masker di swalayan dekat polres. Sigit memakainya. Mereka sudah sampai di polres. "Hati-hati bawa mobilnya, yank. Mas masuk dulu"


Muti tersenyum "Iya mas, salim dulu. Maaf yaa? Bukan niat mau mengerjaimu, tapi aku beneran gak tahu"


Muti menyalami Sigit. "Iya gak papa" Sigit turun dari mobil. Muti menuju kantornya. Sigit mengikuti apel dengan memakai masker.


Membuat Luna dan Yudi penasaran. "Ndan, kenapa kok pakai masker?" tanya Luna mengekor masuk ke ruangan Sigit.


Sigit membuka maskernya, Luna tertawa melihatnya. Ia tahu jika Sigit mengalami alergi. "Kok bisa sih?" tanya Luna. "Muti masak pakai udang. Begini deh jadinya"


Yudi masuk melihat bibir jontor komandannya. "Maaaakk, kenapa itu bibir? Habis disengat lebah betina ya Ndan?"


Sigit hanya tersenyum kecut mendengarnya. "Mbak Lun, dicariin pak Danang tuh, cieee yang pagi-pagi diapelin!"


"Hush, ngawur kamu! Dia kesini mengembalikan mobilku. Sudah ah, biarkan komandan kita ini merasakan sengatan lebah betinanya. Hahahaha" Luna berlalu dari ruangan Sigit.


"Ndan, surat tilang sudah saya rekap, proses sidang jatuh hari rabu depan" jelas Yudi. Sigit mengangguk.


"Jadwalkan dan berikan kepada yang lain Yud, mungkin minggu ini aku sibuk" Yudi mengangguk. "Siap Ndan" lalu segera berlalu.


.


Luna menemui Danang di ruangannya. Danang tersenyum dan memberikan kunci mobil Luna. "Sering-sering dipanasi itu mobil Lun, jangan main tancap gas saja"


"Iya, berapa ongkosnya?" tanya Luna


"Gak usah, sudah aku bayar. Simpan saja uangmu"


Luna terperangah. "Eh, jangan Nang, berapa ongkosnya?"


"Hish dibilang gak usah ya gak usaaah. Aku pamit ya? Gak enak disini lama-lama. Nanti aku chat deh. Bisa kan ngobrol?"


Luna mengangguk. "Ya sudah lah, terima kasih. Iya bisa"

__ADS_1


"Oke, selamat bekerja" Danang berlalu meninggalkan ruangan Luna. Luna tersenyum melihat Danang.


.


Hari semakin siang, Sigit mengerjakan laporannya dengan tak fokus. Matanya benar-benar ingin terpejam.


Sigit sangat mengantuk. Akhirnya dia memilih terlelap di sofanya. Efek dari obat yang diminumnya. Dia lupa mengunci pintu ruangannya. Dia benar-benar sudah mengantuk.


Entah berapa lama dia tertidur. Muti sudah tiba di polres.dan bertemu dengan Luna yang saat itu hendak keluar makan siang. "Mbak Lun, mas Sigit ada?"


"Eh calon ibu komandan. Ada, masuk saja. Aku makan siang dulu ya" Muti mengangguk. Lalu dirinya melangkah menuju ruangan Sigit. Dia melihat Sigit sedang terlelap di sofanya.


Dia meletakkan makanan itu perlahan. Mengamati wajah Sigit dengan seksama. "Manisnyaaa, pengen tak terkam kamu maass, Hihihi" ucap Muti sambil cekikikan.


"Kamu sudah sampai?" kata Sigit tetiba. Muti tersenyum. "Sudah bangun? Mau makan sekarang?"


Sigit bangun ke posisi duduk. "Bibir mas masih jontor gak yank?" Muti menggeleng. "Sudah tidak mas"


Muti mulai membukakan makanan yang dibawanya. "Buka mulutnya" kata Muti hendak menyuapi Sigit. Sigit menautkan alisnya.


"Gak ada udangnya kan?" Muti menggeleng. Sigit membuka mulutnya dan disuapi oleh Muti. "Nanti malam berani gak tidur sendiri?"


Muti mengangguk. "Iya mas"


"Bagus deh, mas ada penggerebekan di salah satu daerah. Mantan napi berulah lagi, mencuri motor lagi" kata Sigit.


"Hmm, kabari kalau mau berangkat dan sudah selesai tugas" ucap Muti sambil membersihkan keringat di dahi Sigit. Membuat jarak semakin dekat. Debar jantung kembali tak beraturan.


Muti dan Sigit menjadi salah tingkah sendiri. "Makanlah, mas bisa makan sendiri" kata Sigit mencairkan suasana. Muti mengangguk dan mulai memakan makanannya.


.


.


.


Like


Vote


Komen

__ADS_1


Tip


__ADS_2