Cinta Karena Mandat (Revisi)

Cinta Karena Mandat (Revisi)
Bab 13


__ADS_3

Rencana mereka gagal total alias gatot. Para orang tua malah menjadikan mereka bahan candaan. Keputusan Indra untuk menjodohkan putrinya dengan Sigit tidak goyah sama sekali akibat ulah nyeleneh mereka.


Malah ia semakin mantap dan yakin melakukan perjodohan ini. Dimata Indra, Sigit adalah anak yang bisa melindungi Muti. Hatinya sangat yakin. Entah hal apa yang begitu meyakinkannya, tapi, dia ridho jika putrinya berjodoh dengan Sigit.


Mereka berdua sama-sama cemberut. Saling mempelototi dan saling menjulurkan lidah seperti anak kecil. Danang yang merupakan sepupu Muti datang terlambat. Dia langsung ikut bergabung dalam acara itu.


"Maaf saya terlambat, baru saja dari rumah sakit karena ibu sakit"


Luna tak mengetahui jika Danang adalah sepupu Muti. Mereka hanya saling lirik tak bersuara.


"Ayo kalian berdua sini" kakek Umang menyuruh Sigit dan Muti berdampingan.


"Ngapain kek?" tanya Sigit.


"Foto lah, mau apa lagi? Kan kalian yang calon pengantinnya. Ini biar jadi bukti kalau kalian itu sudah dijodohkan"


"Gak ah kek, Muti gak mau, Muti lagi gak cantik begini kok. Kayak ondel-ondel iya" Muti semakin kesal karena akan difoto saat penampilan dirinya tak sesuai ekspektasinya.


"Siapa suruh jadi pemain ludruk begitu? Itu kan salah kamu sendiri. Sana foto berdua sama Sigit" Indra menimpali omongannya.


"Sigit juga gak mau ah kek, gara-gara ide gila Hana nih, aaahhh, hancur sudah image polisi cool ku tahun ini"


"Kalian berdua apa sudah janjian dandan begini atau bagaimana sih? Baju mereka aja samaan lho. Lihat itu batik yang dipakai Sigit dengan bawahannya Muti, ckckck, kalian memang jodoh. Gak salah om merekomendasikan kamu jadi mantu panglima, Git." Raka dan yang lain baru sadar jika baju mereka sama.


"Ayo buruan" Anin menjejerkan anaknya dengan Muti. Hana dan Luna tertawa puas melihat penampilan Sigit dan Muti.


Mereka pasrah, akhirnya mereka difoto dengan penampilan mereka yang begitu mengesankan. Bukan foto romantis yang mereka perlihatkan. Tapi lebih ke kesan foto saling ejek. Acara foto itupun selesai. Hana dan Luna serta Jihan mengunggah foto mereka berdua di akun sosmed.


Acara dilanjutkan dengan makan malam. Semua menikmati jamuan itu. Sigit melepaskan dasi kupu-kupunya dan merapikan rambutnya kembali. Karena percuma, toh dia berdandan seperti apapun keputusan orang tua tetap akan menjodohkan mereka.


Muti juga menghapus make upnya, membuat dirinya semakin cantik natural. Sigit berjalan ke teras. Dia duduk termenung masih memikirkan cara membatalkan perjodohan ini.


Apa benar dia jodoh aku? Bentukan kayak begitu? Apa yang harus aku lakukan agar perjodohan ini tak terjadi? Huft, andai ada pilihan, pasti aku saat ini ingin ditugaskan di pedalaman selama 10 tahun gak pulang-pulang. Batinnya dalam hati

__ADS_1


Anin melihat anaknya duduk sendirian, dia menyuruh Muti untuk menemani calon suaminya. "Muti, temani mas mu" perintah Anin.


Muti pasrah dan menurut. Dia menghampiri Sigit yang duduk termenung. Duduk di sebelah Sigit. "Mas! Pikirin cara ngebatalin ini kek" ucap Muti.


Sigit tersenyum kecut mendengar permintaannya. "Kamu kalau bisa, ngomong sana sama mereka semua"


Muti berdecak dan menyandarkan tubuhnya di sofa sambil bersidekap. "Kamu aja gak bisa apalagi aku mas. Kamu mau nerima wanita yang gak cinta sama kamu nantinya?"


Sigit mengerutkan keningnya. "Terus yang tadi pagi apaan kalau kamu gak cinta sama aku? Halah, ngaku aja kalau memang suka sama aku. Iya kan? Secara gitu lhoh, aku kan manis"


"Diiiihh, kepedean. Yang tadi pagi?" Muti mengingat peristiwa tadi pagi. "Aaah, itu. Mmm, itu... itu... balasan karena kamu udah mau nganterin aku dan bantu aku"


"Gitu cara kamu berterima kasih sama orang?" Sigit menghadap ke Muti dan menyannya pipinya yang ia telengkan.


Wajah Muti merona. Malu karena ditatap Sigit seperti itu. "Gak lah, hanya orang tertentu" Sigit mengangguk. Dia semakin menggoda Muti.


"Jadi aku termasuk orang tertentu dong? Siapa saja yang pernah kamu sun? Semua cowok-cowok kamu itu?"


"Hish, enggak! Cuma... Cuma... cuma kamu, Ayah, dan Humam"


"Ih, apaan sih mas? Kamu nih daritadi godain aku melulu deh"


"Lhoh, aku heran aja, kenapa ngasih tanda terima kasihnya ciuman, kenapa gak yang lain? Beliin es krim kek, coklat kek, traktir makan, atau apalah. Jangan suka ngasih hadiah begitu ke orang lain. Mereka yang untung kamu yang rugi. Kamu itu perempuan, harga diri kalian itu nomor satu. Jangan sampai dicap sebagai cewek gampangan. Aku gak mau kamu dicap sebagai cewek murahan" terang Sigit memberikan perhatian kepada Muti.


Muti merasakan hatinya berdesir saat Sigit menasehatinya dan menatapnya dalam. "Iya, gak lagi-lagi. makasih sudah perhatian ke aku"


Sigit memalingkan wajahnya saat Muti menjawab sambil menatapnya. "Siapa yang perhatian, kegeeran kamu ih!"


"Barusan apa namanya kalau bukan perhatian? Coba jelaskan ke aku, kenapa kamu sangat peduli denganku" Pipi Sigit merona merah. Dirinya terbawa suasana atau memang perhatian itu muncul dari benaknya, entahlah, hanya Sigit dan Allah yang tahu.


"Udah ah, intinya jangan pernah memberikan hadiah dari fisik kamu ke cowok lain selain ayahmu dan suamimu nanti. Paham?"


Muti mengangguk dan tersenyum. Cuma kamu satu-satunya cowok menolak hadiah fisik dariku mas, hanya kamu. Pantas Ayah begitu mendambamu menjadi menantunya. Selain kamu bertanggung jawab, kamu juga begitu peduli dan perhatian. Batin Muti dalam hati.

__ADS_1


"Ih apaan sih aku? kok muji-muji dia sih?" gumam Muti membuat Sigit terheran. "Ngomong apa tadi?"


"Ha? Eng-enggak, gak ada apa-apa kok. Masuk yuk, minta mereka sedikit mengulur waktunya untuk kita lah mas. Aku... aku belum siap menikah"


Sigit mengangguk. "Iya nanti aku ngomong sama mereka untuk memberikan kelonggaran waktu untuk kita. Ayo masuk"


Muti dan Sigit masuk ke dalam rumah kembali. Para orang tua memutuskan untuk melaksanakan pernikahan 2 minggu dari sekarang. "Baiklah, untuk mempersingkat waktu, jadi pernikahan ini akan dilaksanakan 2 minggu dari sekarang"


Muti dan Sigit sama-sama melotot mendengarnya. "Ehm, perhatian semuanya. Saya tidak mau kalau pernikahan dilakukan secepat itu" tutur Sigit.


"Lhoh, kenapa nak? Hal yang baik itu tidak bileh ditunda-tunda. Ini ibadah yang banyak pahalanya lhoh" terang Anin.


"Mah, sekarang gini deh, dulu apakah dari kalian yang dipaksa seperti ini? Tidak kan? Kalian memilih pasangan yang kalian cintai sendiri, bukan dari perjodohan. Yang mana belum ada cinta yang tumbuh pada kami berdua. Kami mohon, berikanlah kami waktu untuk saling kenal. Saling memahami isi hati kami satu sama lain. Jika cinta itu mulai tumbuh, kami akan segera melangsungkan pernikahan. Bagaimana?"


Para orang tua berembug. "Baiklah, kami menyetujui permintaan kalian. Berarti setiap hari kamu harus antar jemput Muti. Mungkin dari situ kalian bisa mulai pendekatan. Bagaimana?" tawar Indra terhadap permintaan Sigit dan Muti.


Muto berdecak. "Aku bisa pergi-pergi sendiri Yah"


"Oke kalau tidak mau, kita langsungkan 2 minggu lagi"


"Sigit setuju om, Sigit akan antar jemput Muti" jawab Sigit cepat sebelum Muti membantah.


.


.


.


.


Like


Vote

__ADS_1


Komen


Tip


__ADS_2