
Saat Muti sedang memasakkan mie, Sigit menunggunya di ruang tamu. Telpon masuk dari om Tompel.
"Halo assalamualaikum om" sapa Sigit menjawab panggilan itu.
Om Tompel melaporkan semua informasi yang ia dapatkan dari teman-temannya. Sigit mendengarkan dengan seksama setiap kata yang disampaikan. "Jadi dia masih berada di Semarang? Om, tolong cari tahu, apakah ada orang yang membantunya dalam perkara ini? Atau dia murni sendiri melakukan hal ini?"
Sigit mengangguk mendengarkan jawaban om Tompel. Ia melihat Muti berjalan ke arahnya. Ia segera mengakhiri panggilan telpon itu. "Oke, segera beri kabar kepadaku. Assalamualaikum"
Sigit menyimpan kembali ponselnya. Muti heran dengan sikap Sigit. "Telpon dari siapa sih?" tanyanya.
"Dari om Tompel, tak suruh ngawasin kamu lagi" jawab Sigit. "Coba lihat hpmu" Muti meminta ponsel Sigit.
Sigit mengeluarkan ponselnya kembali. "Periksa, macam penyidik saja kamu itu. Bawaannya gak percayaan banget sama calon bojomu sendiri"
Muti menirukan ucapan Sigit. "Memang kamu gak begitu? Kamu juga bawaannya curigaan terus sama aku"
"Ih, mana ada?"
"Sudah, makan mie nya, jangan ngajak gelud terus. Kalau mau ngajak gelud nanti di ranjang. Biar tahu siapa yang menang!" Muti menantang Sigit sambil memeriksa riwayat panggilan di ponsel Sigit.
Sigit melahap makanannya. "Okeh, kita buktikan! Palingan nanti kamu kalah, minta ampun sama mas!" ucapnya penuh keyakinan.
"Gak usah sombong! Buktikan saja mas ku sayaaaang!" sahut Muti tak mau kalah. Begitulah mereka, kalau tidak ada saling mencari, tapi sekalinya bersama selalu meributkan hal tak penting.
.
Sedangkan di apartemen itu, tuan muda mengikat Mia di kursi dan melakban mulutnya. Ia menunggu sang pemilik apartemen pulang. Tak lama, Humam masuk ke apartemennya.
Dilihatnya ada yang berbeda. Ia memasang sikap waspada. Saat masuk ke dalam, ia melihat ibunya disekap. Ia kaget bukan main.
"Ibu!" katanya berlari menghampiri ibunya dan mencoba melepaskan tali yang mengikat tubuh ibunya.
Tuan muda menodongkan pistolnya di kepala Humam. "Jika kamu mencoba berkhianat kepadaku maka aku akan menghabisimu dan juga ibumu!"
Humam mengangkat tangannya. "Ampun tuan, tolong jangan sakiti ibu saya" pintanya memelas kepada tuan muda.
Tuan muda menyimpan kembali pistol itu. Ia duduk di sofa yang menghadap ke arah Humam dan Mia. "Katakan, kenapa kamu masih ada di kota ini??"
"Aku ingin kabur, tapi polisi mengejarku, untung aku diselamatkan oleh adik tuan muda. Jika tidak, mungkin saat ini aku sedang berada di tahanan" jelasnya.
"Alasan! Kamu masih mencintai gadis itu?" tanya tuan muda sambil meminum cocktail itu.
Humam diam tak bisa menjawab pertanyaan tuan muda. Tuan muda itu memberi kode kepada pengawal untuk melenyapkan Mia. Humam ingin melawan tapi dirinya ditendang dari belakang.
"Jangan pernah sakiti ibuku!" ucapnya. Tuan muda tertawa keras mendengar ancaman Humam. "Berani kamu mengancamku?"
"Tolong jangan sakiti ibuku tuan, aku sudah menuruti semua keinginanmu" Humam memelas kepada tuan mudanya.
"Tidak, kamu tidak menuruti keinginanku. Kamu membangkang! Kamu mencoba berkhianat! Sudah berapa kali kusuruh kamu meninggalkan kota ini? Tapi mengapa kamu masih berkeliaran?" jawab tuan muda
__ADS_1
"Aku berjanji akan setia padamu, jadi tolong jangan sakiti ibuku. Aku akan membawa Muti untukmu. Aku berjanji aku yang akan melenyapkannya sendiri" ujar Humam sangat serius.
"Kamu bersungguh-sungguh dengan ucapanmu?" Humam mengangguk. "Oke, aku beri kamu kesempatan. Buktikan jika kamu memang peliharaanku yang setia padaku"
"Baik tuan, tolong jangan sakiti ibuku" pinta Humam lagi. Akhirnya tuan muda mengalah. Ia memberi kesempatan kepada Humam. Ia memberi kode pada pengawalnya agar melepaskan Mia.
"Aku akan memberikanmu kesempatan, jika kamu berkhianat lagi aku tak akan segan untuk menghabisimu dan ibumu. Paham??!" Mia dan Humam mengangguk. Tuan muda pergi dari apartemen itu.
Humam menghampiri ibunya. "Ibu tidak apa-apa?" tanyanya sambil memeriksa keadaan ibunya. Mia geram dengan sikap anaknya yang plin-plan. Ia menampar Humam. "Dasar anak tidak tahu diri! Jika kamu masih mencintai gadis itu, ibu sendiri yang akan membunuhnya! Ayahnya itu yang membunuh Ayahmu! Dan sekarang kamu mencintai anaknya?? Kamu pikir itu adil?? Ibu setiap hari merindukan Ayahmu dan hanya bisa menangis setiap mengingatnya, sedangkan mereka? Mereka bisa bersama dan tertawa bahagia!
Sadar kamu itu! Mereka adalah musuh kita! Mereka adalah pembunuh Ayahmu! Mereka pembunuh! Katakan padaku sekarang juga. apakah kamu tidak sanggup untuk membunuhnya? Katakan! Jika memang kamu tidak sanggup membunuhnya biar aku saja!"
Humam menggeleng, "Jangan bu, biar aku yang membalas mereka. Ibu tenanglah. Aku tidak mencintainya lagi!"
"Pembohong! Pendusta!"
"Sumpah bu. Aku akan membalaskan rasa sakit ibu. Ibu tenang saja, aku akan menghabisinya dengan tanganku sendiri" jawab Humam.
"Baiklah, ibu akan percaya. Lakukan tugasmu! Jangan membuat tuan muda marah lagi. Pergilah dari sini untuk sementara waktu dulu"
Humam mengangguk. Mia keluar dari apartemen itu. Humam terduduk dalam diam. "Apakah aku akab bisa membunuhmu dengan tanganku sendiri? Apakah aku mampu? Oh Tuhaaaan. Kenapa takdirnya harus semenyakitkan ini?? Kenapa harus dia yang aku cintai? Tidak! Dia sudah tidak mencintaiku lagi. Dia juga sudah berkhianat dengan pria lain. Dan balasan bagi pengkhianat adalah mati! Ya. itu benar. Dia harus mati!"
.
Sebuah chat masuk di ponsel Sigit dan Muti. Pesan dari Luna yang memasukkannya dalam sebuah grup.
Ali : grup apaan lagi ini Lun? Hp kok isine kebak grup tok!
Luna : Selamat datang di grup ini. Ini grup khusus untuk panitia yang akan membantu menyukseskan pernikahan Sigit dan Muti.
Danang : Lhah, aku kok juga masuk grup ini yank? Ups, sorry lupa kalau belum jadi sayangku. 😅
Hana : Pepet sampai halal mas Danaaaang... Siapa yang minta nomorku siapa?? Hmm?? Oi, calon mantennya mana nih gak nongol. Hayo ngapain hayo? 🤔
Sigit dan Muti hanya menyimak obrolan di grup.
Ali : Lha kok aku masuk? Memang aku tim sukses juga? Sebagai apa sih Lun?
Luna : masuk mas Ali, sebagai komandan resepsi pedang pora. Oke semuanya, simak baik-baik. Aku akan bagi tugas. Pelaksanaan acara akan diadakan 3 minggu lagi.
Ali, Galih, Yudi siapkan pasukan untuk pedang pora. Komandannya mas Ali
__ADS_1
Hana dan Maryam, memastikan WO bertanggung jawab dengan pekerjaan mereka. Awasi dekorasinya, kelengkapan alatnya, hitung jumlahnya
Luna dan Danang, menyebar undangan, mengurus souvenir, mengurus foto, dan mengatur keamanan.
Sigit dan Muti, memberikan kami ponakan setelah sah dinyatakan sebagai suami istri 🙈🙈😝
Hana : enaknya yang satu tim dengan calonnya, aku ngiri..... 🤭
Yudi : tenang mbak Hana, ada aku. Nanti kita berjodoh ya? 🤣
Ali : playboy cap garangan mulai beraksi! Hati-hati buat mbak Hana, siapa sih dia? Aku juga belum kenal 🤭
Galih : mas Ali ikut-ikutan saja. Jangan digubris kak Hana, mereka memang garangan semua
Maryam : Tugas kelompok 4 kok enak banget ya?? Aku boleh ikutan gak sama pasangan aku? 💃
Hana : Garangan itu apa sih? Iya, aku juga ngiri sama kelompok 4, man sih mereka gak muncul. Atau jangan-jangan mulai nyicil tugasnya? Ups mulutkuuuu
Muti : hai-hai. ramainyaaa. Maunya sih nyicil, tapi sekelompok ku gak mau kerja, maunya nanti nunggu halal 😜
Ali : Jangan menggoda lelaki adik ipaar, Nyesel sendiri nanti. Git, tunjukkan pesonamu di atas ranjang! Wkwkwk
Luna : 🤣🤣🤣, sudah ah, karena kalian ngomongnya sudah pada kemana-mana grup aku kunci ya. Tugas bisa mulai dikerjakan besok. Oke gengs, kerjo yo kerjooo
Luna mengubah setelan grup. Hanya admin yang dapat mengirimkan pesan.
Sigit dan Muti hanya tertawa membaca chat itu. "Dasar pada somplak!" kata Sigit.
.
.
.
Like
Vote
__ADS_1
Komen
Tip