
Pagi menjelang, semua kembali pada aktivitasnya. Pagi itu dokter Ais visite lebih awal. Ia tersenyum ramah kepada semua orang yang menyapanya.
"Assalamualaikum, selamat pagi pengantin baru" sapa dokter Ais yang tak sengaja melihat Maryam masih tertidur dengan gayanya yang berantakan.
"Waalaikum salam, selamat pagi dokter" Dokter Ais memeriksa keadaan Muti. Membuka perban Muti dan menggantinya dengan yang baru. "Lukanya bagus, tidak ada nanah, tidak kemerahan juga, tapi masih basah jadi belum bisa diambil. Itu Maryam memang sedang halangan tidak sholat? Kok jam segini masih tidur. Biasanya kan tentara bangunnya awal" tanya dokter Ais.
Muti mengangguk mantap. "Iya dok, baru kemarin sore dia mens"
"Jangan ilfeel sama adik saya ya dok, dia memang berantakan kalau tidur. Tapi untuk urusan yang lain bisa diuji sendiri nanti" kata Sigit khawatir dengan pertanyaan dokter Ais. Dokter Ais tersenyum. "Hahaha, kalau saya sih menilai orang itu hanya dari ibadahnya mas. Kalau dia untuk urusan dengan Allah saja masih seenaknya sendiri bagaimana dengan sesama manusia? Itu sih penilaian saya. Karena jika kita sudah berurusan dengan Allah, itu artinya hati yang sedang berbicara. Bukan mulut. Dan saya lebih percaya hati"
Sigit dan Muti tersenyum. Maryam menguap. Dokter Ais tertawa. "Calon mantuku kok yo podho bobroke karo anak ku. Hahahaha. Wes lah, rapopo. Penting agamane (calon menantuku kok ya sama bobroknya seperti anak ku. Hahahaha. Sudah lah, gak papa. Penting agamanya)"
Maryam membuka mata dan melihat semua mata memandang ke arahnya. "Astaghfirullah, Bunda!" Ucap Maryam sambil menutup wajahnya malu. Ia berjalan hendak menuju kamar mandi. Tapi, baru beberapa langkah dirinya terjatuh karena menabrak kursi. Dengan tingkah konyolnya Maryam bukannya segera berdiri malah ngesot.
Semuanya tertawa melihat tingkah konyol Maryam. "Ngapain dek?" tanya Sigit. Dalam hati Maryam dongkol dengan pertanyaan Sigit.
"Eheheh, gak papa, lagi latihan jalannya suster ngesot gimana. Ternyata capek juga. Huft. Kamar mandinya jauh amat yak?" Muti sampai terpingkal-pingkal dengan tingkah Maryam.
"Bodoh jangan dikembang biakin dek, memang kakimu udah gak berfungsi sampai kamu ngesot begitu?" tanya Sigit lagi.
Maryam segera berdiri dan berlari ke kamar mandi tanpa menjawab pertanyaan Sigit. "Tuh kan? Ternyata benar dugaanku, Maryam sama bobroknya" kata dokter Ais. Muti dan Sigit semakin tertawa.
Maryam membuka pintu kamar mandi lagi. "Senang banget kalian melihatku malu?? Awas saja kalian! Huft! Bundaaa, jangan ilfeel sama Maryam ya? Jangan batalin keputusan bunda yang sudah setuju merestui hubungan Maryam sama Mas Habib. Please" wajah Maryam memelas.
Dokter Ais tertawa. "Mana mungkin bunda batalin? Bunda senang, sebentar lagi bunda punya mantu yang sama bobroknya dengan keluarga bunda"
Maryam tersenyum senang. "Maryam rapi-rapi dulu" Dokter Ais mengangguk. "Jadi, saya kapan boleh pulang dok?" tanya Muti.
"Besok boleh pulang, rawat jalannya di rumah sakit Semarang saja ya? Biar lebih gampang gitu. Terus kalian terapinya gimana?" tanya dokter Ais.
"Gampang dok, biar nanti kami yang ke rumah dokter, atau ke Magelang" kata Sigit.
"Ke rumah saya saja untuk 3 kali pertemuan ini. Dokter Laras masih pengen liburan disini soalnya. Hehehe" jelas dokter Ais.
Muti dan Sigit mengangguk.
__ADS_1
.
Luna dan Danang bergantian menjaga Muti. Ayah Indra juga ikut ke rumah sakit. "Besok Muti sudah boleh pulang Yah" kata Sigit memberitahu berita bahagia itu.
"Alhamdulillah" ucap semuanya senang. Mereka mengobrol tentang kejadian yang terjadi seharian ini. "Bosen nih, main game yuk?" kata Danang.
"Game? Game apaan?" tanya Sigit.
Danang berpikir. "Apa ya? Truth or dare? Gimana?" Mereka semua tampak saling berpandangan. "Oke, dare nya harus melakukan apa yang diminta dari si penanya. Gimana?" usul Muti semangat.
"Lhoh, kamu gak usah ikutan main Yank, bobok saja bobok" kata Sigit. Muti menggeleng. "Gak mau, aku juga bosen kali mas disuruh cuma tiduran di ranjang"
Sigit melihat Ayah Indra. Ayah Indra mengangguk. "Biarkan dia ikut main" katanya. Akhirnya Muti ikut dalam permainan itu.
Sigit menggunakan botol minum untuk sarana permainan. Mereka sudah duduk melingkar. Ayah Indra juga ikut dalam permainan itu. Botol mulai diputar dan berhenti di depan Muti.
"Truth or dare?" tanya Sigit. Muti berpikir sejenak. "Truth"
Sigit menggosok-gosokkan tangannya dan tersenyum bersemangat. "Apa yang kamu pikirkan saat pertama kali ketemu sama mas?"
"Satu"
"Nyebelin!" kata Muti jujur. Membuat semuanya tertawa. "Sampai sekarang juga masih nyebelin ya?" tanya Luna. Muti mengangguk. "Tambah galak lagi mbak sekarang. Haduuuhh"
"Galak, nyebelin tapi cinta kan?" tanya Sigit. Muti tersenyum dan memeluk Sigit. "Aaaaa.... so sweet banget sih kalian. Jadi iri deh" kata Luna.
"Sini tak peluk" Danang merentangkan tangannya untuk Luna. Ayah Indra yang menyambutnya. "Belum muhrim"
Semuanya kembali tertawa. Muti mulai memutar botol itu untuk melanjutkan permainan. Botol mengarah ke Danang. "Truth or dare?" tanya Muti. Danang berpikir sebentar. "Truth" katanya kemudian.
"Oke. Mmm, apakah saat ini kamu sedang melakukan suatu kebohongan?" tanya Muti. Semua diam menanti jawaban Danang.
Danang mengangguk. "Iya"
Semuanya tercengang mendengarkan pengakuan Danang. "Kebohongan apa itu?" tanya Muti lagi. "Eits, hanya boleh satu pertanyaan" elak Danang.
__ADS_1
Permainan berlanjut. Tapi seketika pikiran Luna terganggu dengan ucapan Danang barusan. Danang memutar botol itu lagi dan berhenti di Ayah Indra. "Uuuu, om pilih truth or dare?" tanya Danang.
"Truth dong!"
Danang menunjukkan sebuah foto. Seorang wanita. "Siapakah dia?" tanya Danang. Semuanya bergantian melihat foto seorang wanita itu. Ayah Indra tersenyum malu.
"Dia.... seorang janda. Anaknya kowad. Kakak tingkatnya Maryam. Kami dekat sebagai sahabat" terang Ayah Indra.
Muti tersenyum "Yakin cuma mau dijadikan sahabat?"
"Eits, kan hanya satu pertanyaan" elak Ayah Indra membuat Muti berdecak kesal. Ayah Indra memutar botol itu dan berhenti di Sigit.
"Dare" ucap Sigit sebelum ditanya. "Tirukan gaya penyamaran yang terkesan untukmu selama 3 menit"
Sigit mulai berdiri. Dia menirukan gaya seoerti perempuan. "Waaaahhhh, mbak Sisi muncul! Kangen aku! Sudah lama gak muncul ya mbak Si, apa kabar mbak?"
"Alhamdulillah baik" jawab Sigit menirukan suara persis perempuan. Muti dan yang lain yang baru mengetahui mbak Sisi tertawa terbahak-bahak. "Begini kalau suami aku lagi nyamar mbak Lun?"
Luna mengangguk. "Lebih parah lagi. Dia bakalan dandan cantik, pakai dress seksi, susunya itu disumpal pakai bola tenis. Bokongnya dikasih kaos kaki. Pakai wig rambut lagi. Aku punya fotonya" kata Luna membuat Sigit melotot tajam ke arahnya.
"Jangan jatuhin saudara dooong" ucap Sigit nerubah suara lagi. "Eits, belum ada 3 menit. Ulangi dari awal hukumannya" kata Ayah Indra. Luna hanya menjulurkan lidahnya menang.
Luna mencari foto itu dan menunjukkannya kepada Muti. Muti kembali terpingkal-pingkal karena melihat foto mbak Sisi. "Sakit perut aku gara-gara tertawa terus"
.
.
.
Like
Vote
Komen
__ADS_1
Tip