
Akhirnya Ayah Indra pulang bersama para kawanan intel itu. Amira satu mobil dengan Ayah Indra yang disupiri oleh ajudannya. Sedangkan Amaris memilih bersama Sigit dan kawanan.
Ia merasa tak enak berada di tengah-tengah tantenya. "Maris, sama tante saja" kata Bu Amira nampak canggung. Amaris menggeleng.
"Maris belum pernah naik mobil beginian tante, jadi Maris mau coba" alasannya. Membuat Damar merebut kunci dari tangan Bima.
"Tukeran Bim, lu supirin senior, aku yang supirin tulang rusuk ku" kata Damar. Semuanya tertawa. Amaris tersenyum kecut mendengarnya. "Diterima saja belum kok, sudah bisa bilang tulang rusuk. Haish... Ojo baper Dam!" kata Amaris tegas. Membuat Sigit dan yang lain tertawa terbahak-bahak.
Damar menggaruk tengkuknya yabg tak gatal dan meringis. "Aku kirain sudah cocok tinggal jalan" Amaris naik ke mobil pengangkut tahanan. Damar mulai naik ke kursi kemudi.
Ayah Sigit dan Bu Amira juga naik ke mobil. Sigit, Hamka, Ali dan Bima pun sama halnya dengan mereka. Mobil melaju mulai meninggalkan kediaman sang panglima. Kembali menuju Semarang.
"Taruhan yuk!" kata Hamka semangat. Sigit dan Ali menggeleng. "Haram!" sahut mereka berdua.
Hamka berdecak. "Taruhannya bukan pakai duit, atau apapun. Cuma nebak jawaban diapa yang benar"
"Apaan?" tanya Ali mulai berubah pikiran. "Kira-kira, Damar bakalan jadi suami Amaris apa gak?"
Mereka mulai sibuk menganalisa. "Damar itu termasuk kalem lah diantara kita-kita. Nah, si Maris ini judes, galak, jutek. Gak cocok lah mereka" kata Bima.
Sigit meninju lengannya. "Itu cara menganalisis menurut siapa? Atau jangan-jangan kamu juga menaruh hati sama Amaris?"
Bima menggeleng. "Move on ternyata susah ya Ndan, mungkin itu juga yang dirasakan Luna. Makanya dia belum mau membuka hatinya untuk aku ataupun yang lain"
Ali mengelus-elus punggung Bima. "Sabar, dulu aku juga gitu. Nanti kalau sudah ketemu sama jodohnya pasti bisa buka hati sendiri"
Hamka hanya diam. Ia tak tahu banyak tentang asmara. Jadi, kali ini dia menjadi pendengar setia. "Jadi?" katanya.
"Aku sih yakin bakal jadi pasutri mereka" kata Ali. Sigit mengangguk. "Aku juga sama. Karena, saat tadi Amaris menantang Damar untuk bertemu orang tuanya, itu merupakan salah satu tanda jika Amaris juga menaruh harap pada Damar"
"Git, aku kalau ketemu Shanum harus ngapain?" tanya Hamka bodoh. Semuanya tertawa. "Seriusan ini.... Aku harus ngomong apa?? Kalian ini bukannya bantuin senior malah menertawakan" imbuh Hamka sebal.
Otak jahil Sigit mulai beraksi. "Abang kalau lagi menginterogasi seseorang biasanya tanya apa saja? Nah nanyi bisa ditanyakan deh ke Shanum"
Hamka berpikir keras. "Lu lagi gak ngerjain gua kan Si? Ya masa pertanyaan buat tersangka ditanyakan ke calon istri" Semuanya kembali tertawa. "Sumpah, gua malah jadi orang bego!"
"Nah kan, belum ketemu Shanum saja sudah jadi orang bego! Apalagi sudah ketemu bang? Makin pekok!" kata Ali tulus dari lubuk hati terdalamnya. Mereka kembali tertawa.
"Serius ah! Kalau ketemu Shanum harus ngapain?"
"Cium tangan biar romantis!" jawab Bima cepat. Hamka tersenyum mendengarnya. "Boleh juga idemu Bim! Junior andalan! Gak kayak kucrut dua di belakang ini"
Sedang di mobil tahanan itu, Amaris diam sambil melihat ke arah depan. Damar ingin mengajaknya mengobrol, tapi bingung ingin bicara tentang apa.
__ADS_1
"Fokus Dam" kata Amaris. "Iya. Ris...."
"Hmmm??"
Damar ingin bersuara tapi susah sekali keluarnya. "Tolong minum dong" akhirnya hanya kata-kata itu yang lolos dari mulutnya. Amaris mengambilkan minum untuk Damar. "Bukain dong sa....yang"
"Eh, apa tadi?" Damar nyengir. "Gak papa, bukain dong!" pinta Damar. Amaris menahan senyumnya. Dengan jelas ia mendengar Damar memanggilnya sayang. Ia membuka minum itu dan menyodorkannya untuk Damar
"Nih. Pinjam hape" pinta Amaris. Damar memberikan tasnya. "Buka aja, ada di dalam situ"
Amaris membuka tas selempang milik Damar. "Berpasword. Apa paswordnya?"
"Amdam. Hurufnya besar semua"
Amaris mengerutkan keningnya. "Amdam?" Damar mengangguk. "Amaris Damar" katanya nyengir. Membuat Amaris tertawa lepas. "Astaghfirullah.... sejak kapan kamu jadikan nama kita pasword?"
Damar cekikikan. "Sejak aku pinjem pulpen ke kamu tapi gak pernah tak balikin" Amaris geleng kepala melihatnya. Ia mengetikkan pasword itu dan terbuka. Ia mengetikkan nomornya dan menyimpan pada ponsel Damar.
Meletakkan kembali ke dalam tas dan memberikannya kembali pada Damar. "Bawa kamu saja. Archee, Aylin, Adel apa kabar?"
"Baik, bang Archee jadi camat di Demak. Kak Aylin dokter di Jakarta, Adel nerusin usaha papah"
Damar menganggukkan kepalanya. "Jadi, kamu di Jakarta sama Aylin doang?" Amaris mengangguk. "PNS?" tanya Damar lagi. Amaris menggeleng. "Masih wiyata. Do'akan biar kalau ada seleksi ASN lolos"
"Dam" panggil Amaris. "Iya?"
"Yakin kamu mau ketemu sama orang tua aku?" Damar mengangguk.
"Ris"
"Hmm?"
"Ih, jawabnya ham hem ham hem doang sih, bilang iya, atau bilang apa gitu kek, apa susahnya sih?" Amaris tertawa.
"Ris"
"Iya Damar Assegaf, ada apa?"
Damar menggaruk-garuk keningnya dan bicara dengan menahan senyum malu. "Kamu ada rasa sama aku gak sih?"
Amaris terdiam. Ia tersenyum. "Prinsipku gini ya Dam, kalau ada yang serius sama aku, maka aku akan membalas perasaan dia"
"Itu artinya?" tanya Damar. "Ya... ya... ya gitu" jawab Amaris bingung.
__ADS_1
"Gitu gimana? Aku pendam rasa ini dari SMA lho Ris. Kamu sendiri, dari SMA sudah ada rasa sama aku belum sih?"
Amaris membenarkan posisi duduknya. "Ya Allah, panas ternyata naik mobil ini. Tahu gitu tadi ikut tante Amira deh"
Damar tersenyum. "Jawab ih" paksanya. Amira menahan tawanya. "Mmm, gimana ya?"
"Jangan bikin penasaran dong!"
Amaris kembali tertawa lepas. Membuat Damar senang melihatnya. "Dari jawaban aku sudah bisa ditebak kali Dam, karena selama ini, ada yang mencoba dekat denganku, saat aku suruh temui papah dan mamah mereka pasti menghilang dan lost contact. Jadi, kalau kamu serius akan perasaan kamu ke aku, aku juga akan serius menanamkan rasa sayang dan cinta untuk mu. Puas?"
Damar tersenyum senang. "Tapi kalau papah dan mamah setuju. Kalau gak ya mau gimana lagi" Amaris mematahkan harapan Damar. Damar memasang wajah sedih bercampur cemberut. Amaris kembali tertawa.
"Semangat! Yakinkan papah dan mamah kalau kamu yang terbaik!" kata Amaris menepuk pundak Damar. Tangannya seketika diraih Damar. "Dam"
Damar tak memperdulikan panggilan Amaris. Ia mengecupnya. "Do'akan ya sayang" hati Amaris bergetar dan berdesir. "Iya, lepasin tanganku. Belum sah"
Damar menciumnya sekali lagi lalu melepasnya. Amaris membuang pandangannya ke sembarang arah. Pipinya merona merah akibat ulah Damar.
Di lain mobil, Bu Amira dan Ayah Indra sama-sama diam. Tak tahu harus bercerita tentang apa. "Mir, gimana bisnisnya?"
"Alhamdulillah tetap stabil sampai sekarang Bang, kemarin memang saat terberat. Hampir saja lepas saham peninggalan almarhum suamiku" Ayah Indra mengangguk.
"Gak capek bolak balik ngurus bisnis sendiri?"
Bu Amira menggeleng. "Demi Shanum. Ngantuk bang, aku tidur dulu ya" Ayah Indra mengangguk. Ia menepuk bahunya. "Sini"
Bu Amira tersenyum. Ayah Indra bergeser lebih dekat dengan Bu Amira. Menggenggam tangannya. Bu Amira menempelkan kepalanya di lengan Ayah Indra.
.
.
.
Like
Vote
Komen
Tip
masih dengan uwu-uwu ya.... selamat berbuka puasa.... telat othor bilangnya. hahahah
__ADS_1