Cinta Karena Mandat (Revisi)

Cinta Karena Mandat (Revisi)
Bab 95


__ADS_3

Sore itu, Luna diperkenalkan dengan seorang lelaki, seorang pebisnis muda, ia sedang mengembangkan usahanya di bidang perhotelan dan hiburan. Ia bisa mengenal Ayah Tristan karena membutuhkan jasa bodyguard untuk mengawasi pembangunan hotelnya. Namanya terkenal dimana-mana. Dikenal sebagai seorang dermawan.


"Halo, saya Arsyandi Rangga Anggoro. Biasa dipanggil Arsya" Ia mengulurkan tangannya kepada Luna. Sedangkan Ayah Tristan dan Luna saling pandang seperti mengingat sesuatu. "Oh, maaf, saya Aluna Lestari" Luna menerima uluran tangan itu.


Mereka mulai mengobrol tentang keseharian mereka. Saling memperkenalkan pribadi masing-masing. Ada yang mengganjal di benak Luna. Kenapa nama belakangnya ada Anggoro nya? Seperti nama Yudi. Ah, tapi mana mungkin? Kan nama Anggoro banyak. Pikir Luna.


"Mas Arsya punya adik?" tanya Luna mencoba mengulik sesuatu. Arsya menggeleng. "Aku anak tunggal" Luna mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Hotelnya sudah berkembang dimana saja mas?"


"Disini, di Malang, dan di Jakarta. Tapi itu semua aku serahkan sama anak buah aku sih. Aku hanya tinggal santai menunggu pemasukan. Biasa lah, orang kaya dan sibuk ya seperti ini" Luna menahan tawanya.


Mak.... sombong amat! Gue gak tanya keles! Coba tanya dia kelahiran mana ah, siapa tahu ada info. Luna berdahem. "Mas Arsya asli Semarang?" Arsya menggeleng. "Lahir di Jakarta, besar di Semarang"


Lah, sama dong kayak si Yudi. Kelahiran Jakarta, gedenya di Semarang. "Mas Arsya stay dimana?" tanya Luna lagi.


"Disini, karena hotel yang sini kan baru proses pembangunan. Jadi ya.... disini saja dulu deh. Kalau kemarin-kemarin sih di Malang"


Luna hanya manggut-manggut saja. "Memang lokasi pembangunannya dimana sih? Kok harus butuh bodyguard untuk mengawasi proyek itu?"

__ADS_1


"Di kawasan x. Takut saja kalau ada yang hilang, atau ada kejadian ya.... yang seperti itu lah. Makanya aku sewa bodyguard"


Kawasan x? Bukannya kawasan itu sepi ya? Ngapain bangun hotel disana?


"Lun, maaf ya, aku masih ada meeting jadi harus segera pamit. Nanti kita jalan bareng. Boleh minta nomor kamu?" Luna mengangguk. Ia menyebutkan nomor ponselnya. Arsya langsung pulang tanpa pamit dengan orang tua Luna. Membuat Luna geleng kepala.


"Hadeh.... sibuk sih sibuk, tapi jangan gak pamit juga kali! Eh, tapi bentar deh, ini orang ni aneh. Bangun hotel kok di kawasan sepi. Buat apa? Lahir di Jakarta gede di Semarang, sama kayak Yudi. Nama belakangnya juga sama. Jangan-jangan....."


"Hayo! Ngapain ngomong sendirian? Si Arsya mana?" tanya Bunda Tari mengagetkan Luna. "Sudah pulang"


Bunda Tari menautkan alisnya. "Kok gak pamit?" Luna mengangkat bahunya. Ayah Tristan ikut bergabung. "Arsya mana?"


"Halah, keburu-buru macam manapun, kalau dia punya unggah ungguh itu bakalan tetap menyempatkan pamit Yah. Nah ini apa? Kita lihat nanti calon Bunda" bangganya.


Luna hanya menghela nafas dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia pergi meninggalkan mereka di taman belakang rumahnya. Melihat hamparan bunga yang disusun rapi oleh bundanya. Ia tersenyum melihatnya. "Kalian cantik banget sih...." katanya


Ia duduk di bangku taman itu sambil memelik sebuah bunga. Dimainkannya bunga itu. "Layangan sing tatas... tondo tresno ku wes pungkas.... mabur nduwur ngalang-alang.... yen nibo dadi kenangan.... kowe sing tak eman-eman.... ninggalke roso kelaran.... opo iki wes takdire.... aku ikhlas aku pasrah wes tak ngalah....." Luna menyenandungkan bait lagu yang mengartikan cintanya telah selesai dan hanya menjadi kenangan, yang disayang hanya meniggalkan luka dan ia ikhlas dan pasrah.


Malam tiba, saatnya Luna diperkenalkan dengan lelaki pilihan bundanya. Mereka sudah datang. Luna masih bersiap di kamarnya. Bunda Tari dan Ayah Tristan bercengkrama hangat dengan mereka. Tak lama Bunda Tari menyuruh Luna untuk keluar.

__ADS_1


Luna melenggang keluar kamar menuju ruang tamu. Betapa terkejutnya dia melihat lelaki yang akan dipertemukan dengannya.


"Bima?"


.


.


.


Like


Vote


Komen


Tip


Tidur hidung mampet, duduk meler terus. Hadooohhh nikmatnya pilek.... alhamdulillah

__ADS_1


__ADS_2