Cinta Karena Mandat (Revisi)

Cinta Karena Mandat (Revisi)
Bab 7


__ADS_3

Sigit kembali kepada timnya. Dia meninggalkan Muti bersama Luna. Luna tak menjalankan perintah atasannya. Karena dia tahu, Muti memanglah orang yang akan dijodohkan dengan sepupunya itu.


Beberapa orang yang tes kencingnya positif narko*ba digelandang ke polres. Makin menambah pekerjaan mereka sebagai penegak hukum.


"3 orang positif, hadehhh, makin banyak aja jumlahnya" Sigit sudah berada di kemudi mobil Luna.


Luna datang bersama Muti dan masuk mobil. Sigit menoleh ke arah belakang karena Luna duduk di belakang dan Muti yang di depan. Muti menampakkan wajah cemberut dan kesalnya.


"Dia positif juga Lun??" tanya Sigit dengan kekhawatiran. Dia takut jika Muti benar positif narko*ba akan seperti apa jika perjodohan ini tetap berlanjut.


Muti menatap tajam kepadanya. "Sembarangan kalau ngomong! Sudah saya bilang saya ini anak baik-baik"


Sigit tertawa mendengar pernyataan yang diucapkan Muti. "Anak baik-baik? Heh, saya kasih tahu ya, kalau kamu itu anak baik-baik gak mungkin di jam selarut ini masih di tpat karaoke. Kamu tahu ini jam berapa? Hampir dini hari. Dan seorang perempuan masih di tempat karaoke di jam segini kamu bilang anak baik-baik??"


Luna hanya menjadi pendengar dari percakapan konyol mereka. "Udah Si, buruan jalan. Tinggal kita lho ini. Katamu dia gak bawa KTP makanya aku bawa ke polres"


Sigit segera menyalakan mesin mobil. "Perempuan macam apa yang akan dinikahkan denganku? Apa salah dan dosaku hingga bisa dijodohkan dengan dia, Tuhan?" Sigit bergumam sampai tak terdengar suaranya.


"Ngomong atau baca mantra sih?" Tanya Muti. Luna menahan tawanya. "Iya, komandan saya lagi ngejampi-jampi kamu biar jatuh cinta sama dia"


Muti dan Sigit saling lirik. "Ih saya gak doyan sama dukun. Manis sih, tapi nyebelin!" ucap Muti menilai Sigit.


"Saya gak tanya pendapat kamu mengenai saya"


Luna tertawa. "Ya gak papa dong nyebelin. Tapi manis kan? nanti kamu dibacain mantra cinta setiap hari sama komandan saya baru tahu rasa lhoh"


"Dih, ogah! Mending cari yang lain deh" Sigit mulai melajukan mobil kembali ke polres. Suasana menjadi hening.


Tak tahu obrolan apa yang tepat untuk memecah keheningan itu. "Ehm, pada diem-diem bae sih. Eh, kamu namanya siapa?" tanya Luna kepada Muti.


"Mutiara Insani"


Sigit hanya ber oh dalam hati. "Komandan saya namanya Sigit Nagendra Ardhitama lho. Kenal gak? Ngikuti IG nya gak? Komandan saya itu kebanyakan pengikutnya ciwi-ciwi"


Muti menautkan alisnya. Seperti pernah mendengar nama yang baru saja disebut. Lalu dia menoleh dengan cepat ke arah Sigit.


"Siapa tadi namanya komandan menyebalkan ini?" tanya Muti lagi.


"Sigit Nagendra Ardhitama"

__ADS_1


Jantung Muti tetiba berdetak kencang dengan irama tak beraturan. Ternyata dia yang akan dijodohkan denganku?? Karismatik, auranya memancaaaar. Manis sih. Gak kalah sama Humam. Tubuhnya juga, uuuuwww, pasti ada roti sobek dibalik kaos hitam ini.


Sigit merasa risih ditatap Muti seperti itu. Mereka telah sampai di polres. Lalu dengan segera mereka dibawa ke dalam ruangan penyidik.


"Muti, kamu ke ruangan komandan saja. Tunggu disana. Nanti komandan yang akan menginterogasimu sendiri" Luna mengarahkan Muti untuk menuju ruangan Sigit. "Disini dulu ya, bentar lagi Sigit kesini kok. Kamu tahu kan Sigit itu siapanya kamu kelak? Hihihi"


Muti hanya tersenyum terpaksa


Sedangkan Sigit sedang memberikan hasil laporan kepada penyidik. Dan segera kembali ke ruangannya, mengunci pintunya. Dia tak tahu jika Muti ada disana. Dia merasa gerah dan dengan cepat melepas kaos hitam itu menyisakan dada bidang dengan roti sobek yang menggoda. Kebiasaan Sigit yang selalu ia lakukan di ruangannya sendiri.


Terpesonaaaa, aku terpesonaaa, memandang memandang wajahmu yang manis.


Muti tak berkedip menyaksikan pemandangan menggiurkan itu. Hingga mulutnya menganga. Sigit berbalik dan kaget melihat Muti sedang duduk di sudut sofa ruangannya.


"Aaaaaaaaaaa" Sigit berteriak. Muti menutup telinganya. Dengan cepat Sigit memakai lagi kaosnya. "Sejak kapan disitu??? Hah hah hah. Apa yang kamu lihat tadi??"


Wajah Sigit merah padam karena ini pertama kalinya dia sedang bertelanjang dada dan dilihat oleh seorang perempuan. Muti segera menutup mulutnya.


"Iih, kok udah ketahuan sih? Lagi nikmati pemandangan enak juga. Buka lagi bajunya"


Sigit menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya. Membuat Muti tertawa. "Tenang, tenang pak komandan, aku tidak akan memperko*samu"


Muti menuruti keinginan Sigit dan duduk didepannya. "Apa?" tanya Muti dengan menyangga dagunya.


"Ehm, yang tadi lupakan dan jangan pernah cerita ke siapapun aku buka baju di ruanganku. Karena kamu gak bisa menunjukkan KTP mu maka aku akan menyidikmu. Sebutkan identitasmu"


Muti memutar bola matanya malas. "Sudah aku bilang, aku ini anak panglima TNI. Semua orang juga tahu itu. Lepaskan aku dari sini atau kamu akan mendapatkan hukuman dari Ayahku"


Sigit tersenyum kecut mendengarnya. "Hei, coba buktikan kalau kamu memang anak panglima TNI. Telpon Ayahmu aku akan berbicara dengannya"


Muti berdecak kesal. Malas sekali menelpon ayahnya. Dia meraih ponselnya dan memencet nomor ayahnya, tersambung tapi tak diangkat. Dia mulai khawatir kalau Sigit tak percaya dan tak melepaskannya dari polres.


"Gimana? Gak diangkat? Kamu ngarang cerita kan?"


"Hish! Aku gak ngarang cerita! Aku beneran anaknya panglima Indrajaya!" Muti mulai meninggikan intonasinya. Sigit sampai tersentak.


"Yang sopan kamu" Sigit memperingatkan Muti.


Muti kembali ke.mode normal. Dia berfikir siapa yang bisa ia hubungi agar membuat Sigit percaya bahwa Muti adalah benar anak sang panglima.

__ADS_1


Dia menghubungi orang lain. Bukan panggilan suara melainkan video. Diangkat!


"Halo assalamualaikum, Muti? Kenapa video tante malam-malam nak?" Anin menguap dari seberang telpon. Sigit mengenali suara itu. Segera dia merebut ponsel Muti.


"Mamah?"


Anin mengucek matanya "Sigit? Bukannya ini ponsel Muti? Kok bisa di kamu? Kamu lagi sama Muti?? Jam segini? Kalian ngapain? Jangan bawa anak gadis orang sembarangan lho sampai larut begini. Ini sudah pagi Sigit" cerocos mamahnya kepada Sigit.


Muti kembali meraih ponselnya. "Jadi beneran komandan nyebelin ini anak tante Anin???" Anin mengangguk. "Kalian mengapa bisa bersama?"


"Tante, tolong bilangkan ke Sigit kalau aku memang anaknya panglima TNI, Indrajaya"


"Muti, yang sopan kalau ngomong sama yang lebih tua. Sigit itu lebih tua 3 tahun dari kamu nak, panggil dia mas" perintah Anin dengan tegas Muti langsung kicep saat Anin berkata tegas padanya.


"I-iya tante. Tapi tolong katakan pada Sigit, eh maksud Muti mas Sigit kalau Muti tidak berbohong tante. Muti anak ayah Indra"


"Iya, berikan hpnya kepada Sigit" Muti menyerahkan ponselnya kepada Sigit. "Git, Muti memang anaknya om Indra dan almarhumah tante Sani. Kenapa dia bisa sama kamu?"


Sigit menjelaskan kronologi kejadian tadi dan Anin mengerti. "Jangan sampai om Indra dengar Muti kamu tangkap dan kamu interogasi di polres. Antarkan dia pulang ke rumahnya. Mamah ngantuk. Mau tidur lagi. Assalamualaikum"


"Eh, tapi mah...." sambungan panggilan terputus. "Waalaikum salam" ucapnya lesu.


Mereka saling berpandangan dan hening. Entah mengapa, saat saling tatap, debar jantung mereka tak karuan iramanya.


Perasaan dulu sama Humam gak begini, tapi kenapa aku jadi mati gaya ditatap dia begitu?? Aduuuuhh, gak kuat lama-lama natapnya. Batin Muti.


.


.


.


Like


Vote


Komen


Tip

__ADS_1


__ADS_2