Cinta Karena Mandat (Revisi)

Cinta Karena Mandat (Revisi)
Bab 131


__ADS_3

Di lain tempat, Luna sengaja bangun siang, karena hari minggu, ia sedikit bebas akan tanggung jawabnya sebagai penegak hukum.


Selesai subuh, ia kembali tidur. Tak peduli dengan apa yang terjadi di rumahnya. Ia hanya fokus untuk tidur. Hingga matahari sudah tinggi, ia baru saja menggeliat.


"Ah..... nyamannya tidur tanpa ada gangguan" katanya sambil mengucek-ucek matanya. Ia melihat jam di dinding kamarnya itu. "Ha? Sudah jam 11? Kebo banget akunya! Hehehe"


Ia turun dari ranjang, menyambar handuk sambil keluar dari kamar. Menyenandungkan lagu bahagia. "Cinta.... akan kuberikan bagi hatimu yang damai.... cintaku gelora asmara, seindah lembayung senja.... tiada ada yang kuasa .. melebihi indahnya.... nikmat bercinta...."


Bunda Tari yang sedang memasak tersenyum mendengarkan anaknya bersenandung. Sudah lama sekali semenjak kejadian itu Luna menjadi bukan dirinya. Dan hari ini, semuanya kembali. Luna menjadi ceria lagi.


Luna mandi dengan sangat lama. Hingga masakan bunda Tari matang, barulah ia selesai mandi.


"Hmmmm..... wanginyaa..... masak apa sih bun?" tanya Luna yang masih menggunakan handuk kimono dan rambut yang masih basah.


"Oseng buncis, wortel, dan katek, dikasih bakso. Sama goreng cumi tepung. Buruan ganti baju. Panggil Ayah dan Danang untuk makan"


Luna mengerutkan alisnya. "Danang?" Bunda Tari mengangguk. "Buruan ah. Bunda mau beresin dapur dulu"


Luna akhirnya segera berganti baju. Setelah itu ia mencari keberadaan Ayahnya yang ternyata memang sedang bersama Danang di teras. "Dia ngapain dimari? Kan aku sudah nolak gak mau diajak jalan? Kok malah disini main catur sama Ayah??" gumam Luna.


"Skak Mat!" kata Danang memenangkan permainan. Ayah Tristan pasrah. Ia melihat Luna yang mengintip di balik pintu. "Jangan suka ngintip orang, nanti matanya kena timbilen baru tahu rasa lho" ucap Danang.


"Ih! Siapa yang ngintip??" sahut Luna. Ayah Tristan tersenyum. "Lalu kamu ngapain disitu nak?"


"Eee anuuuu.... disuruh Bunda makan Yah, masakannya sudah matang" Ayah Tristan mengangguk. Lalu berlalu ke dalam meninggalkan Danang. Ia menghampiri Danang. Dan membantunya membereskan papan catur beserta pion-pionnya.


"Ngapain disini? Aku kan sudah bilang gak mau kemana-mana" Danang tersenyum mendengarnya.


"Aku kan kesini buat main catur sama Ayah, bukan buat nemuin kamu. Tidur kayak kebo, jam 11 baru bangun, pakai acara nyanyi-nyanyi lagi, kenapa sih? Seneng banget?" cerocos Danang. Luna menjadi salah tingkah karena Danang mengetahui semuanya.


"Memang gak boleh aku nyanyi?" Danang tertawa mendapati pertanyaan itu. "Boleh lah, kenapa juga gak boleh? Aku pulang ya?" Pamit Danang setelah selesai membereskan papan catur itu.


"Makan dulu, disuruh Bunda makan" Danang mengangguk dan masuk ke dalam. Luna mengekor di belakangnya. Ayah Tristan dan Bunda Tari sudah menyantap makanannya terlebih dahulu. Danang dan Luna duduk berdampingan.


"Ambilkan nasi untuk Danang Lun" perintah Bunda Tari. Luna menggeleng. "Dia masih punya tangan Bun, jadi biar ambil sendiri"


"Luna...." kata Ayah Tristan. Luna menghela nafasnya dan mengambilkan nasi untuk Danang. Ia mengambilkan nasi 2 centong untuk Danang. "Niat banget ngerjain aku Lun?" Luna tersenyum jahil.


Mereka makan dengan tenang, Ayah Tristan dan Bunda Tari selesai terlebih dahulu. Tinggal Luna dan Danang. Luna hampir selesai, dengan cepat Danang menyendokkan makanannya pada piring Luna. "Tanggung jawab karena perutku sudah gak mampu nampung lagi" Luna melongo menatap makanan didepannya.

__ADS_1


"Ih kok aku?"


"Ya kan kamu tadi yang ngasihkan makanan banyak ke piringku" sahut Danang. Luna sudah tak sanggup lagi.


"Kamu sayang gak sih Nang sama aku?".tanya Luna tetiba membuat Danang tersedak. Ia menegak minumannya.


"Sayang lah. Kenapa?" jawab Danang. "Kalau sayang mana buktinya? Habisin makanan aku dong"


Danang tersenyum. "Kamu sayang gak sama aku?" tanya Danang ganti. Luna menggeleng. "Ya sudah, habiskan sendiri makananmu" ujar Danang tetap tak mau memakan makanan yang ada pada piringnya.


"Sayang apa gak?" tanya Danang lagi. "Iya"


"Iya apa?"


"Iya sayang sama kamu, buruan ah habisin makanannya" kata Luna dengan wajah merona. Membuat Danang senang menggodanya. "Suapin" pinta Danang.


"Ih banyak maunya ih" tolak Luna.


"Perut aku sudah kenyang Lun, tangan aku serada lemas. Makanya minta disuapin!"


"Hilih modus!" kata Luna. Danang tertawa. "Kamu juga mau dimodusin. Ayolah. aku sudah tak mampu lagi ini"


Akhirnya Luna menyuapi Danang. Hatinya kembali berdesir saat mata mereka tak sengaja saling bertemu. Danang memandangi wajah Luna dan tersenyum.


"Lusa"


"Cepet banget!" protes Luna. "Memang... gak bisa apa kamu pindah kesini lagi?" katanya.


"Kamu pengen aku disini lagi?" tanya Danang. Luna hanya diam. "Jawab dong, kamu maunya aku disini terus atau pergi ke Bali?"


"Disini!" jawab Luna judas. "Hahaha, tapi enak di Bali sih"


"Yaudah terserah!" jawab Luna sambil memanyunkan bibirnya dan menekuk wajahnya. Danang senang mendapati Luna berekspresi seperti itu. Ia mengacak-acak rambut Luna. "Nanti aku urus semuanya dulu disana, setelah itu pulang. Mau jalan gak sama aku? Mumpung aku masih disini nih"


"Mau kemana memangnya?"


"Ada deh, penting kamu mau dulu" Luna mengangguk. "Sholat dulu gih. Waktunya masuk dzuhur" Kata Danang.


Luna mengangguk. Ia segera membereskan meja makan. Danang membantunya. Lalu bergantian mengambil wudhu dan sholat berjamaah dengan Ayah Tristan dan Bunda Tari.

__ADS_1


Selesai sholat, Luna segera bersiap. "Pakai kaos sama celana training saja. Aku mau ngajakin kamu sparing basket"


"Ha? Kencan model apaan begitu?" protes Luna. Danang dan yang lain tertawa. "Memang aku bilang ngajak kamu kencan? Aku kan bilang ngajak jalan. Mengharap ya diajak kencan??" goda Danang. Membuat Luna malu.


"Ih, apaan sih!" Lalu ia berlalu mengganti pakaian. Tak lama ia pun selesai. Mereka berpamitan dan menuju ke suatu tempat. "Kita mau kemana?" tanya Luna.


"SMA"


"Ha? Kita mau sparing disana? Ih, gak modal banget siiiihhhh....." kesal Luna. Danang tertawa. "Ada yang gratis ngapain milih yang bayar?"


"Dasar!"


Tak lama mereka telah sampai di halaman SMA, meminta izin pada satpam yang berjaga dan menuju lapangan. Mereka melakukan pemanasan. Danang menarik ikat rambut Luna yang membuat rambutnya tergerai. "Ih.... gerah"


"Lebih cantik tanpa ikat rambut ini, apalagi kalau ditutup hijab" kata Danang sambil terus berlari. Setelah pemanasan dirasa cukup, mereka melakukan permainan basket one to one.


Danang selalu terkecoh dengan gerakan Luna. "Hahaha, kamu kalah. Hah hah hah. Capek. Istirahat dulu" kata Luna. Mereka duduk di bawah pohon dekat lapangan.


Tiba-tiba ada segerombolan orang menggunakan masker datang. Luna terheran akan kehadiran mereka, yang mana ia mengenali semua orang yang ada disana. Muti, Sigit, Ali, Hana, Maryam, Habib, Ayah Tristan, Bunda Tari, Mamah Ana dan Papah Arka.


Luna melihat ke arah Danang. "Berdirilah" ucap Danang. Luna berdiri. Muti dan Hana memberikan setangkai mawar merah padanya. "Ada apa sih?" tanya Luna. Mereka hanya tersenyum.


Sigit dan Ali memberikan balon untuk Luna. "Ini apa lagi?" Mamah Ana dan Bunda Tari memberikan kotak cincin dan slayer pada Danang. Papah Arka dan Ayah Tristan membentangkan spanduk dengan tulisan Will You Marry Me Aluna Lestari?


Maryam dan Habib mengabadikan momen lamaran Danang kepada Luna. Luna terkejut mendapati itu semua.


"Will you marry me Aluna Lestari?"


.


.


.


Like


Vote


Komen

__ADS_1


Tip


Maaf lama, othor sibuk gaes, othor gak ada libur....


__ADS_2