
Muti terlelap dalam sofa itu. Sigit tersadar masih berada di pangkuan Muti. Akhirnya ia bangun. Ia melihat Ayah Indra tersenyum ke arahnya. "Lhoh, Ayah ikut terbangun juga? Sigit berisik ya Yah?" tanyanya dan berjalan ke arah ranjang Ayah Indra.
"Tidak, Ayah ingin minum, haus. Tolong ambilkan" Sigit mengambilkan air untuk Ayah Indra. Ayah Indra minum.
"Ehm, Yah, boleh tidak Sigit tanya sesuatu?" tanya Sigit hati-hati. Ayah Indra mengangguk. "Apa?"
Sigit menoleh ke belakang. Memastikan Muti masih tertidur. "Sigit ingin tanya soal Humam, mantan pacar Muti. Entah kenapa, Sigit ingin mencari tahu tentang orang bernama Humam. Apakah Humam yang dimaksud adalah orang yang Sigit cari dan tetapkan sebagai buron muci*kari?"
Ayah Indra mengernyitkan dahinya. "Muci*kari? Ayah tidak punya foto Humam. Mungkin kamu punya fotonya?"
Sigit mengangguk. "Sketsa wajah, bukan foto Yah. Sebebtar, Sigit minta filenya dulu kepada Luna"
Ayah Indra mengangguk. Sigit menghubungi Luna. Tersambung. "Halo assalamualaikum Lun, kirimkan sketsa wajah muci*kari para belia yang menjadi buron itu. Oke, aku tunggu"
Mereka menunggu file dari Luna. Ponsel Sigit kembali berbunyi tanda chat masuk. Sigit membukanya. "Ini Yah" Sigit menunjukkan sketsa wajah itu kepada Ayah Indra. Ayah Indra memperhatikan dengan seksama skesta wajah itu.
"Bagaimana Yah?" tanya Sigit penasaran menunggu jawaban Ayah Indra. "Apakah dia juga buron suatu kasus di Jakarta?"
Sigit mengangguk. "Dia adalah Humam mantan pacar Muti"
Deg. Jantung Sigit serasa berhenti berdetak. "Jadi kemarin itu aku berkelahi dengan buronan yang sedang aku cari? Kenapa sampai gak bisa melihat wajahnya waktu itu? Jika saat itu aku bisa melihat wajahnya pasti kasus ini sudab selesai. Ya Allaaaah" Sesal Sigit sambil mengusap wajahnya kecewa.
"Itulah mengapa Ayah tidak pernah setuju Muti dengan Humam. Dia anak dari seorang buron yang mati tertembak. Nama Ayahnya Akbar Jayadi. Dia pernah jatuh hati terhadap Mamahmu, Anin. Ibunya bernama Mia. Dulu, saat Akbar meninggal, dia titip pesan kepada Ayah untuk menyelamatkan istri dan anaknya.
Tapi saat Ayah dan Ibunya Muti mencari keberadaannya di rumah sakit, Mia sudah dibawa oleh keluarga Anggoro. Dan jalan takdir mempertemukan kami kembali. Tapi keadaannya membuat Ayah takut. Yang Ayah takutkan adalah isi otak Mia diracuni oleh keluarga Anggoro. Hingga bisa membahayakan keselamatan Muti. Itulah mengapa Ayah tak pernah setuju hubungan mereka"
Sigit mendengar dengan seksama setiap penjelasan itu. "Itu tandanya Humam selalu berada disekitar Muti Yah. Sigit curiga, Humam memang sengaja mengikuti kemanapun Muti pergi"
"Semoga kekhawatiranmu itu tidak benar nak, mungkin dia sedang menghindari kejaran polisi" Ayah Indra coba menenangkan Sigit. Tapi sebenarnya, ia pun khawatir. "Ya sudah, pokoknya awasi Muti terus. Jangan sampai Humam berada di dekatnya. Ayah mengantuk, ingin tidur"
Sigit mengangguk. "Ayah tidur saja, biar Sigit yang berjaga" Ayah Indra mulai memejamkan matanya.
Sigit kembali ke sofa. Ia menggunakan bahunya untuk bantalan Muti. Dia menghubungi Luna.
Me : Lun, suruh om Tompel cari keberadaan Humam
Luna : Siap Ndan! Maryam di Semarang. Dia sudah pulang tuh nyariin abangnya.
__ADS_1
Me : Seriusan?? Kok dia gak telpon aku sih?
Luna : Barusan sampai. Dia rela gak pulang Bandung demi kamu tuh. Kamunya malah di Jakarta. Sudah selesai masalah kalian?
Me : Sudah, dia cuti berapa hari?
Luna : Gak tahu, tanya sendiri lah sama dia. Telpon besok aja. Dia sudah tidur, ngorok lagi. Aku sama Hana blas gak bisa tidur
Me : 😂😂 Sumpel sama sepatunya kalau masih berisik
Luna : Udah ya Si, aku ngantuk nih. Capek tadi siang habis main kejar-kejaran sama pria gak jelas
Me : Siapa?? Danang ya?? Eeeee cie cie cieeeee.....
Me : Lun, jawab dong! Jangan dibaca doang. Kampret!
Me : Ish sombongnya....... Lun! Hei Lun. Luna???
Luna tak menjawab lagi obrolan itu. Sigit tersenyum sambil menyimpan ponselnya di meja. Ia pun ikut terpejam.
.
"Pak Indra, saya tawarkan nih, mau pulang kapan?" tanya profesor ahli jantung itu. Ayah Indra tertawa mendengarnya. "Ini tawaran atau sindiran nih prof?"
Profesor itu tertawa. "Semua pasien saya manut sama ucapan saya. Lhah cuma anda yang tidak, rewel minta pulang terus" Ayah Indra kembali tertawa.
"Saya sudah sehat dok, obat saya sudah ada disini"
Profesor melihat Muti dan Sigit dan tersenyum "Pantas lah, ya sudah, saya ijinkan pulang. Ingat, jangan stress kalau tidak mau ketemu saya lagi. Muti, carikan Ayahmu pasangan agar tidak stress memikirkanmu"
Muti tertawa. "Profesor tahu saja, iya prof, saya juga sepemikiran dengan profesor. Profesor punya calon? Nanti kalau saya yang mencarikan Ayah jadinya tua-tua keladi. Hahahah"
Sigit menyenggol lengan Muti. "Hush, gak sopan. Maaf ya prof, Yah. Muti kadang kalau ngomong suka bener"
Mereka semua tertawa. "Sus, siapkan berkas kepulangannya dan obat rawat jalannya. Masih harus kontrol ya. Minum obatnya rutin"
"Iya Prof" jawab Ayah Indra.
__ADS_1
Setelah diijinkan pulang, mereka pun bersiao. Mulai dari membereskan baju hingga menyelesaikan administrasi.
Ayah Indra berjalan menuju parkiran. Diperlakukan sebagai anak bayi oleh Muti, Sigit, dan Handoko. Hingga Ayah Indra menghela nafasnya. Lalu mereka kembali ke rumah.
Tak lama, Ayah Indra sudah sampai di rumahnya. "Kalian pergilah cari baju untuk acara akad. Ayah biar ditemani oleh om Handoko"
Mereka mengangguk. Sigit dan Muti bergegas menuju butik milik teman Muti. Mereka memilih menggunakan motor agar tak terjebak dalam kemacetan Jakarta.
"Besok ke Bandung sebentar ya Yank. Aku mau mengenalkan kamu ke Papah dan Mamah sebagai calonnya mas. Meskipun kamu sudah kenal, tapi rasanya ada yang kurang kalau kamu belum menginjakkan kaki di rumah mereka. Mau kan?" tanya Sigit saat mereka berhenti di lampu merah.
Muti mengangguk. "Iya mas, sepertinya Ayah sudah bisa ditinggal kok, ada om Handoko juga"
"Oke sayang" lampu hijau kembali menyala. Mereka melanjutkan perjalanannya menuju butik itu.
Tak lama mereka sampai, mereka langsung disambut oleh pemilik butik itu sendiri, Ellida.
"Mutiiiii, lama gak ketemu, tahu-tahu mau nikaaah. Waaah, calonmu ganteng manis aduuuhh, cocoklah sama kamu" kata Ellida.
Muti dan Sigit tersenyum "Makasih El, eh langsung saja ya. Kami terburu waktu nih"
"Oke, aku juga sudah siapkan fotografer dan make up, biar kalian gak usah prewed lagiii"
"Sip dah mbaknya, makasih ya mbak" ucap Sigit memuji. Ellida hanya menyunggingkan senyumnya.
.
.
.
Like
Vote
Komen
Tip
__ADS_1