
Resepsi berlangsung. Semua sibuk mempersiapkan diri. Dirias di tangan MUA profesional. Muti menggunakan pakaian adat Bugis. Dan Hana menggunakan pakaian adat Yogyakarta. Para orang tua pun tak kalah sibuk mempersiapkan diri.
Sigit dan Ali tampak sempurna dalam balutan seragam kebesaran mereka. Berjalan menuju ruang pengantin wanita dirias. Mereka masuk dan melihat istri mereka masing-masing. Saling lempar senyum.
"Capek gak dek?" tanya Ali perhatian. Hana menggeleng. "Belum mulai masa sudah capek bang"
"Ya siapa tahu" Ali berjongkok di depan perut Hana, mengelus-elusnya dan mengecupnya. "Anaknya Ayah, nanti jangan buat Ibu mual dulu ya nak. Kerjasama sama kami ya? Nanti adek bisa kenalan satu per satu dengan teman Ayah dan teman Ibu. Sehat-sehat ya anaknya Ayah dan Ibu" katanya penuh senyum dan membacakan sholawat di depan perut Hana.
Hana tersenyum dan membelai rambut Ali. "Iya Yah, adek gak akan buat Ibu mual kok. Tenang saja, asal Ayah selalu di samping Ibu"
"Pasti" jawab Ali. Muti dan Sigit tersenyum melihat kemesraan mereka. Muti bangkit dari duduknya dan menghampiri Hana.
"Han, injek kakiku dooong" pintanya sambil menyodorkan kakinya di depan kaki Hana. Membuat semuanya bingung.
"Buat apa?" tanya Ali
"Biar ketularan hamidun kayak Hana lah mas Al" jawab Muti lagi.
"Ha? Memang bisa?" tanya Ali terheran. Muti mengangkat bahunya. "Iseng-iseng berhadiah! Kata orang waktu lagi mens terus kita nginjek kaki orang yang gak mens bisa nular mens nya"
Semuanya tertawa dengan cara pikir Muti. "Itu penelitian dari mana?" sahut Sigit. Muti berdecak. "Injek saja ngapa sih?? Susah amat kebanyakan tanya!"
Hana menginjak jempol kaki Muti. "Eh" kata Muti kaget. Karena Hana menginjaknya tanpa aba-aba. "Gak sengaja. Heheheh, gitu kan yang mbak Muti maksud?" tanya Hana. Muti mengangguk.
Hana berdiri dan memeluk Muti. "Sabar mbak, semua sudah ada waktunya masing-masing. Anggap saja kalian diberi waktu pacaran halal lebih lama"
Muti membalas pelukan itu dan mengangguk. "Iya, makasih supportnya"
Damar masuk dan menyuruh mereka untuk bersiap. Mereka dibawa ke aula, upacara pedang pora akan dimulai. Hamka tampak gagah mengenakan seragam itu. Membuat Shanum semakin terpana oleh pesonanya.
MC membacakan susunan acara. "Upacara pedang pora segera dimulai, hadirin dimohon berdiri"
__ADS_1
Perwira upacara memberikan laporan kepada inspektur upacara. Hamka bertindak sebagai komandan pedang pora mulai mengatur barisan. Ia mengambil alih komando. "Siap grakk!!! Luruskan barisan!" Hamka memastikan semuanya sudah lurus. Perwira upacara memberikan laporannya kepada Inspektur upacara.
Dilanjutkan dengan laporan komandan pedang pora kepada mempelai. "Hormat grak!" Hamka dan pasukannya memberikan hormat bagi Sigit dan Ali. "Lapor! Upacara pedang pora siap dimulai!"
"Laksanakan!" jawab Sigit dan Ali. "Laksanakan!" balas Hamka.
"Semuanya! Pedang........ pora!" ucap Hamka keras nan lantang. Pasukan itu menghunuskan pedang bersatu dengan pedang lainnya. Luna berada di belakang mempelai membawa kalung bunga, bucket bunga, dan juga seragam bhayangkari.
MC mulai membacakan puisi khas acara pedang pora. Marching band mengiringi langkah mempelai itu. Hingga akhirnya, pasukan itu membentuk lingkaran yang mengelilingi mempelai. Inspektur upacara mengalungkan kalung melati kepada Sigit dan Ali, dan istrinya memberikan bucket bunga dan baju bhayangkari untuk Muti dan Hana.
Setelah itu baik Sigit maupun Ali mengecup kening istri mereka masing-masing dan naik ke pelaminan. Acara pedang pora selesai dilaksanakan dengan paripurna. Para pasukan itu berfoto dengan mempelai.
Hamka membubarkan pasukannya. Lalu menghampiri Shanum. "Abangku keren banget...." pujinya. Hamka tersenyum "Siapa dulu dong"
"Foto dulu sama mereka yuk? Mana tadi Maryam dan Habib?" Shanum celingukan. Hamka menunjuk arah kiri. "Itu sama Damar dan Maris"
Shanum melambaikan tangan. Mereka menuju tempat Shanum. Bima dan Jihan ikut bergabung. "Eh, kok berdua? Jangan-jangan......" tanya Damar menyelidik.
"Iya sudah ah!" jawab Bima cepat seakan tahu maksud Damar. "Ooo.... sudah resmii..... bilangnya gak ada apa-apa tahunya lho lho lho lho...." sahut Maryam.
Hamka mencegahnya. "Hop! Ora iso Lun, gandenganmu goleki dhisik! (Stop! Gak bisa Lun, gandenganmu cari dulu!)"
"Ih, Abang.... Sudah tahu aku gak punya gandengan. Masa gak boleh ikut bareng kalian?" Semuanya menggeleng. Maryam menarik tangan Luna dan mengarahkan pada seorang pria. "Hai mas Danang, apa kabar?" sapa Maryam.
Danang menoleh dan melihat Maryam dan Luna. "Eh, Maryam! Hai! Hai Lun...." sapa Danang canggung. Luna tersenyum tipis.
Maryam meninggalkan mereka berdua. "Mbak Luna fotonya sama mas Danang saja! Grup kami sudah full karena ketambahan Azka"
"Hei! Memang Azka pulang?" Maryam mengangguk dan berlalu. Luna dan Danang kini berhadapan. Perasaan mereka tak karuan. Senang, sedih, berdesir, sesak, ada semua. Senang karena bisa bertemu lagi, sedih karena mengingat kejadian dulu, berdesir karena rasa cinta itu tak memudar, dan sesak karena ingin bersua namun tak mampu terungkap.
Ayah Tristan dan Bunda Tari melihat mereka dari kejauhan dan tersenyum. "Kalau jodoh apa mau dikata?" kata Ayah Tristan. Bunda Tari tersenyum sambil memeluk suaminya.
__ADS_1
Mamah Ana dan Papah Arka juga tersenyum melihat mereka. Mamah Ana mendekati mereka. "Luna" sapanya. "Eh, tante" balas Luna. Mamah Ana tersenyum dan memeluk Luna.
"Tolong maafkan anak tante, bukan dia yang salah. Dan tolong beri kesempatan lagi untuknya"
Mamah Ana melepaskan pelukan itu. Luna hanya tertawa renyah. "Kesempatan apa tante? Yang bersangkutan saja gak minta dikasih kesempatan kok, tante repot-repot memintakan dia. Maaf, Luna permisi dulu"
Luna melenggang pergi meninggalkan Danang dan Mamah Ana. "Kejar!" kata Mamah Ana. Danang diam. "Kamu mau benar-benar kehilangan dia?"
Luna pergi ke luar aula, menuju rooftop dari gedung itu. Danang mengikutinya hingga ke atas. "Danang brengseeeeekkkkkk! Cowok bodoooooohh.....!!! Cowok pekok!! Hish!" umpat Luna tanpa menyadari keberadaan Danang.
Danang tersenyum melihat dan mendengar Luna mengumpat. "Kenapa aku bisa cinta sama dia siih!! Dan kenapa sampai sekarang rasaku gak pernah hilang??? Kenapa kamu gak mau berjuang lebih keras bodoh!!"
Luna menangis. Dia berjongkok sambil menutup wajahnya. Danang merasakan sakit yang luar biasa di dadanya. Ia berjalan mendekati Luna. Mengulurkan tangannya tapi tak digubris oleh Luna.
Luna berdiri. Hendak balik badan dapi sudah direngkuh terlebih dahulu oleh Danang. "Maafin aku" katanya menangis. Luna memberontak minta dilepaskan. Membuat Danang semakin erat memeluknya. "Maafin aku, aku memang orang paling pengecut. Maaf...."
"Jahat! Kamu jahat! Tahu kamu apa yang aku rasakan? Huhuhuhu" Perlahan Luna berhenti memberontak. Danang masih memeluknya.
"Cowok bodoh! cowok brengsek! cowok gila!"
Luna masih mengumpat Danang. "Maaf..... Maaf sudah melukai mu, membuat kamu menangis dan bersedih" kata Danang
.
.
.
Like
Vote
__ADS_1
Komen
Tip