Cinta Karena Mandat (Revisi)

Cinta Karena Mandat (Revisi)
Bab 135


__ADS_3

"Mbak Niken sadar dengan yang mbak ucapkan?" kata Muti.


Sigit terkejut mendapati istrinya sudah berada disana. Ia takut Muti akan salah paham seperti yang dulu terjadi karena Bella. "Sayang" katanya.


Niken menjadi kikuk saat ada Muti disana. Muti berjalan mendekati suaminya. "Mbak Niken ini wanita terhormat kan? Mbak Niken ini wanita bermoral kan? Jika iya, kenapa melakukan hal yang bisa menimbulkan fitnah mbak? Bercerita dengan lelaki yang sudah beristri? Memang situ gak punya suami? Hingga harus cerita sama suami orang lain?"


Niken sangat malu, terlebih lagi saat itu Muti berbicara dengan nada suara keras. Membuat anggota polisi yang lainnya menjadikannya pusat perhatian.


"Sekarang kalau mau curhat silahkan, mumpung ada aku disini. Buruan, mau di ruangan atau disini? Mumpung semuanya lagi kumpul tuh" Sigit mencoba menenangkan istrinya.


"Sabar yank sabar, kamu lagi sakit yank" Muti berdecak sebal. Seketika rasa tak enak badannya lenyap. "Apa sih?! Kamu mau belain dia?"


Niken sangat malu, ia memutuskan untuk pergi dari loby polres. "Maaf, permisi" katanya sambil berlari keluar dari Polres. Sigit melihat anggota polisi lainnya masih berkerumun. "Bubar! Kalian pikir tontonan atau apa? Ha?"


Semua anggota polisi itu bubar. Sigit mengajak istrinya untuk ke ruangannya. "Ke ruangan mas dulu yuk.... kita ngobrol disana"


Muti menggeleng. "Aku mau pulang!" ucapnya sambil melangkah pergi keluar dari Polres. Sigit menggaruk keningnya. "Pagi-pagi ada saja sih penyakitnya.... Yank.... tunggu!" Sigit mengekor di belakang Muti.


Ia membukakan pintu mobil untuk istrinya. Muti masuk dengan wajah cemberut. Sigit melajukan mobil kembali ke rumah. "Yank" panggil Sigit sangat berhati-hati.


Muti hanya diam tak menjawab. Ia memalingkan wajahnya. "Yank, tadi sudah periksa?" tanya Sigit lagi. Muti masih diam tak mau menjawabnya.


Sigit menghela nafasnya kasar. "Mas gak ngapa-ngapain lho sama Niken, mas juga gak tahu lho kalau dia mau ke polres, sumpah yank! Hp mas mati, lupa ngeces. Sayangku, cintaku, belahan jiwaku, jangan ngambek begini dong...."


Muti masih tak mau menjawab ucapan Sigit. Hatinya kesal, ia tak rela jika suaminya dijadikan teman curhat oleh perempuan lain. Tiba-tiba saja ia menangis. Segera ia menghapusnya karena ia ingat bahwa ada nyawa lain yang sedang berada dalam tubuhnya dan tak boleh merasakan kesedihannya.


Tenang Muti, tenang, ada calon bayi dalam rahim kamu. Kamu tidak boleh sedih, tidak boleh kesal. Kamu harus selalu happy, sabar... Maafin mamah ya sayang... Maaf kamu harus ikut merasakan kesalmya hati mamah. Muti diam membatin. Sigit tahu jika istrinya menangis. Ia memilih diam.


Tak lama mereka sampai di rumah. Muti langsung turun dari mobil dan bergegas masuk ke rumah. Om Tompel sampai heran melihat majikannya datang dengan mata sembab.


Sigit mengekor di belakangnya. "Yank... sayang! Dengarkan mas dulu...."


Muti masuk ke dalam kamar dan menguncinya. Sigit kebingungan mencari cara untuk membujuk istrinya. "Haduuuuhhh.... pusing aku!"


Baru sebentar Muti berada di dalam kamar. Rasa mual kembali menderanya. Segera ia berlari keluar kamar dan muntah di kamar mandi. Sigit melihatnya. "Muntah lagi yank?"


Muti tak menjawabnya. Ia menuntaskan muntahnya dan duduk di ruang makan. Sigit memberikannya air. "Makasih" jawabnya. Lalu Muti kembali ke kamar lagi. Sigit menghubungi Hana.


"Assalamualaikum Han, tadi Muti sakit apa?"

__ADS_1


Waalaikum salam mas, sakit? Hahah, kamu belum dikasih tahu mbak Muti?


"Belum, memang sakit apa Han? Serius banget? Kok ini muntah lagi"


Ya Allah mas Si, mbak Muti tuh gak sakit. Mbak Muti malah lagi bahagia. Karena, dia sedang hamil anak kalian. Usia kehamilannya sudah masuk 6 minggu. Eh mas, aku ada pasien lagi nih. Sambung nanti lagi ya? Wassalamualaikum.


"Wa-waalaikum salam" Sigit terkejut mendengar berita yang disampaikan Hana. Dia mengembangkan senyumnya. "Jadi.... Jadi Muti hamil? Ya Allah..... barakallah.... Alhamdulillah...." Sigit bersujud syukur hingga meneteskan air mata.


Ia segera menghampiri istrinya. Mencoba membujuknya agar mau membuka pintu kamar. "Yank.... Kita ngobrol yuk.... Mas mau nyapa calon anak kita sayang.... Jangan begini dong! Masa Papahnya mau ngobrol sama anaknya gak boleh?" Sigit berusaha membujuk Muti.


ceklek. Pintu kamar terbuka. Muti kembali ke ranjang dan duduk di tepinya. Sigit masuk dan berlutut di depannya. Ia mencium perut Muti. Menitikkan air mata lagi. Hingga Muti terbawa suasana ikut berlinang air mata haru.


"Assalamualaikum calon anak papah.... Maaf ya papah tahunya telat. Sehat-sehat di dalam ya nak.... Bantu Mamah kuat ya sayang" Ia mencium lagi perut Muti. Lalu membacakan sholawat untuk calon anak dan ibunya itu. Ia mendongakkan kepalanya. Muti membelai rambut suaminya.


"Maafin mas bikin kamu kesel. Maafin mas gak bisa nemenin kamu periksa, mas minta maaf, tolong jangan sedih-sedih lagi, jangan kesel-kesel lagi, demi anak kita sayang"


Muti menangis dan mengangguk. "Jangan pernah temui mbak Niken atau wanita manapun. Aku gak sanggup mas...."


Sigit mengangguk. "Calon anak kita yang jadi saksinya selain Allah dan malaikat di kanan dan kiri Mas. Mas janji tidak akan pernah menemui Niken ataupun perempuan lain, selain yang dekat dengan keluarga kita" Sigit menghapus air mata istrinya.


Mengacup sekilas bibir manis itu. "Jangan sedih lagi ya?" Muti mengangguk.


"Sssstttt... sudah, gak usah dibahas. Kasihan dedek kalau sampai mendengarnya. Yang sekarang jadi fokus kita adalah kehamilan kamu sayang. Mulai sekarang, kamu gak boleh melakukan aktivitas apapun di rumah ini. Itu akan jadi pekerjaan Mas"


Muti mengerutkan dahinya. "Bener?" Sigit menganguk. "Mas pengen kamu sama calon anak kita sehat selamat sampai lahiran. Kita kasih tahu orang tua kita yuk?" Muti tersenyum dan mengangguk.


Mereka melakukan panggilan video kepada Mamah Anin.


"Assalamualaikum mantu mamah, ada apa telpon di jam kerja? Penting kah? Kamu gak kerja?" Muti tersenyum.


"Mah, Muti hamil" kata Sigit membuat mamahnya terkejut karena berita bahagia itu. "Ha? Beneran?" tanya Mamah Anin tak percaya.


Muti mengangguk. "Iya mah, Muti hamil, sudah masuk 6 minggu"


"Alhamdulillah.... Barakallah nak.... Senang mamah dengarnya. Besok lusa kan 4 bulanan Hana, kita ketemu disana ya sayang...."


Muti dan Sigit tersenyum. "Iya mah, tolong kasih tahu papah juga ya mah. Takut ganggu kerjanya" Mamah Anin mengangguk.


"Ya sudah mah, kami mau kasih tahu Ayah juga" kata Sigit. "Wassalamualaikum"

__ADS_1


"Waalaikum salam"


Gantian mereka menghubungi Ayah Indra, tapi tak dijawab. Mereka menghubungi Mimi Amira.


"Assalamualaikum"


"Waalaikum salam Mi, Mimi lagi dimana? Sedang sama Ayah tidak?"


Mimi Amira tersenyum dan mengarahkan kameranya pada Ayah Indra yang sedang fokus dengan tumpukan dokumen.


"Mi, kami ingin memberitahu kabar bahagia. Muti hamil Mi"


"Alhamdulillah Ya Allah.... selamat ya sayang.... Bang, Muti hamil!" seru Mimi Amira membuat Ayah Indra langsung tersenyum gembira.


"Anak Ayah sedang hamil?" tanya Ayah Indra. Muti mengangguk. "Alhamdulillah nak.... berapa bulan?"


"6 minggu Yah"


"Barakallah.... Git, dijaga ya nak. Puasa dulu kalau bisa" pesan Ayah Indra. Sigit mengangguk. "Insyaallah Yah"


"Besok pas Hana 4 bulanan kami datang kesana. Kita bertemu disana ya sayang? Selamat ya Muti, sebentar lagi Mimi dan Ayah punya cucu" kata Mimi Amira girang.


"Iya Mi, Yah, ya sudah, kami tutup dulu ya? Assalamualaikum"


"Waalaikum salam" jawab keduanya bersamaan.


.


.


.


Like


Vote


Komen


Tip

__ADS_1


__ADS_2