Cinta Karena Mandat (Revisi)

Cinta Karena Mandat (Revisi)
Bab 144


__ADS_3

Damar juga buka puasa dengan kekasih tercintanya. Ia menemui Amaris di Jakarta. Amaris menjemputnya di bandara. "Tayang......" panggil Amaris kepada Damar.


"Tayang tayang....... kamu sehat?" Amaris tersenyum dan mengangguk. "Sudah batalin puasanya?" tanya Maris lagi. Damar mengangguk. "Tadi di pesawat dikasih air mineral sama kurma. Kita langsung saja ya?"


"Iya, emang mau ngajak kemana sih?"


Damar tersenyum. "Ada deh, kamu ngajak Aylin juga kan?"


"Udah aku ajak, tapi kak Aylin ada janji sama cowoknya. Jangan bilang sama papah dan mamah ya kalau dia punya cowok! Kak Aylin pengen kenal dulu katanya" Damar mengangguk.


Mereka menuju sebuah resto yang menyajikan menu hidangan laut. Jalanan agak macet, biasalah lalu lintas Jakarta yang teramat padat. "Yank, kamu gak bisa gitu ngajuin pindah ke Jakarta?" tanya Maris.


Damar menoleh. "Hmm? Kenapa?"


"Ya biar.... bisa deket aja sih.... biar kamu gak bolak balik, capek pasti kan? Biayanya juga mahal kan?" Damar tersenyum. Ia menggenggam tangan Amaris dan mengecupnya. "Bilang saja kangen, susah bener ngomongnya mbulet sana sini"


"Hahaha, ya kan malu... Eh, tangannya.... mulai aktif ya?? Lepasin!" Damar menyengir dan melepaskan tangan Amaris.


"Bima, Luna, bang Hamka, Habib bentar lagi pada mau nikah yank"


Amaris berdahem sebentar. "Te.... rus?"


"Kita kapan?" tanya Damar. Maris tersenyum mendengarnya. "Tunggu sebentar lagi ya? Kamu tahu kan pesan papah gimana?"


Damar mengangguk. "Iya, Mas ingat. Gak boleh melangkahi bang Archee dan Kak Aylin. Tapi, bang Archee pernah bilang sama mas, kalau dia bakalan lihat kalian nikah terlebih dahulu. Memastikan kalian bahagia, hingga itu terjadi, baru ia akan menikah. Piye?"


Amaris diam. Ia juga tak tahu harus menjawab apa. Damar menghela nafasnya. "Hmm, ya sudah lah. Gak usah sedih. Jalani saja dulu"


"Lebaran ke rumah lagi ya? Bawa orang tua kamu datang bersamamu" kata Maris membuat Damar tersenyum.


"Mas gak papa kok, jangan sedih dan terburu-buru. Mas pertemukan dulu kamu sama Papah dan Mamah. Setelah itu baru kita susun langkah selanjutnya"


Amaris menghela nafasnya. "Maaf ya mas, niatan baik kamu harus tertunda karena ucapan Papah" Damar menggeleng. "Bukan salah papah, setiap orang punya kepercayaan tradisi masing-masing. Sudah ah, mas gak mau kamu sedih"


Amaris mengangguk. "Cari jalan pintas yank, macetnya kok panjang banget sih?"


"Memang kita mau kemana?" tanya Maris sambil mengeluarkan ponselnya


"Ke resto Damar Wulan" Maris menautkan alisnya. "Itu resto kalau gak booking dulu memang bisa?"

__ADS_1


Damar mengangguk. "Bisa" Amaris masih terus berpikir. "Wait, itu resto kenapa namanya bisa seperti kamu ya?"


"Hahhahaha, ya kebetulan aja kali. Buruan ah cari jalan pintas" Amaris mengutak atik ponselnya dan bertemu dengan jalan pintas dan agak sedikit lenggang.


Damar mengikuti arah yang ditunjukkan Amaris. Tak lama mereka sudah sampai di resto itu. Damar turun terlebih dahulu dan membukakan pintu mobil untuk Amaris.


"Uuuwww.... serasa ratu ya aku kalau sama kamu? Hahaha, ma'acih tayangku....."


"Cama-cama...." Ucap Damar dengan tingkah menggemaskan. Mereka masuk ke resto itu dan langsung diarahkan ke meja pesanan Damar. "Ooo.... kamu sudah booking duluan ternyata?" tanya Amaris.


Damar hanya tersenyum. Pramusaji membawa menu yang ada. "Kepiting saus Padang 1, Udang goreng saus mentega 1, kwetiauw goreng 1, nasi putih 1 bakul, milkshake strawberry 1, air mineral 2, sama lemon tea 1"


Damar menyebutkan menu itu tanpa melihat buku menu. "Apal banget ya pak?" Damar hanya menyengir.


Sepasang suami istri lanjut usia datang bersama dengan anak kecil dan dibelakangnya ada seorang wanita cantik berbalut hijab besar menuju meja mereka. Amaris bingung mendapatinya.


"Yank, kenalkan, ini Mamah, Papah, mbak Wulan, dan ini anaknya. Pah, Mah, Mbak, ini yang namanya Amaris Ayu Wicaksana. Perempuan yang sejak SMA Damar taksir" Amaris sedikit terkejut karena Damar tak memberitahunya sama sekali.


"Oh, Assalamualaikum pak, bu, mbak? Hai si kecil, siapa namanya?" Tanya Amaris sambil menyalami semua keluarga Damar. "Silahkan duduk" imbuhnya.


Papah, Mamah, dan kakak Damar terkesan dengan Amaris yang sopan dan lembut. "Siapa namanya anak ganteng?"


Amaris tersenyum. "Mantan menteri pak, heheh, alhamdulillah keluarga di Magelang sehat"


"Kamu kerjanya apa dek?" tanya Mbak Wulan. "Guru mbak, masih wiyata di salah satu SMA di Jakarta"


"Waah.... pinter kamu milih calon istri Dam, bibit unggul soal kecerdasan" puji Mamah Damar. "Hehehe, ibu bisa saja. Terima kasih pujiannya bu"


"Mas, tambah orderan saja lagi. Bapak Ibu mbak sama Langit sudah pada makan?" tanya Amaris begitu perhatian kepada keluarga Damar. Mereka mengangguk. "Sudah, kami tadi sudah makan"


Pramusaji datang membawa pesanan Damar. "Makasih ya Tom" ucap mbak Wulan. Amaris mengernyitkan keningnya. "Mbak sering makan disini ya? Kok sampai tahu nama pramusajinya?"


Semuanya tertawa. "Ini resto milik keluarga kami dek, pasti Damar gak cerita ya?"


Amaris memicingkan matanya. "Mas..."


"Heheh, maaf yank, sengaja, takut dikira songong. Ayo makan. Langit mau makan lagi gak? Om suapkan nih" Langit menggeleng. "Hape" pintanya.


"Dia kecanduan hape dek, aku sampai bingung harus gimana?" ungkap Mbak Wulan. Amaris mengangguk. Ia mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan pada Langit mata orang yang menangis keluar darahnya.

__ADS_1


"Langit tahu ini kenapa?" tanya Maris. Langit menggeleng. "Ini karena kebanyakan nonton hape. Waktu itu tante ketemu sama orangnya dan dia kalau melek keluar darahnya terus"


"Ha? Bener tante? Ih, Langit takut! Gak jadi main hape Mah! Langit gak mau matanya berdarah begitu" tutur Langit. Usia langit sekitar 5 tahun jadi lebih mudah untuk diberikan pengertian.


Mbak Wulan tersenyum. "Makasih ya dek"


"Sama-sama mbak, ayolah ikut makan lagi. Masa kami makan yang lain bengong saja?"


Mamah Damar tersenyum. "Gak papa Maris, Mamah sudah kenyang benar. Nanti malah gak bisa jalan. Kalian makan yang kenyang. Mamah juga sudah bungkuskan untuk kamu bawa pulang ke rumah nanti"


"Terima kasih Buk, malah jadi merepotkan"


"Gak kok, ayo silahkan makan" Amaris dan Damar mengangguk. Maris mengisi piring Damar, telaten menyiapkan menu untuk pacarnya itu. Mereka makan dengan nikmat. Langit memperhatikan Maris.


"Kenapa sayang?" tanya Maris. "Tante, tante tahu gak bedanya tante sama Mamah?"


Amaris mengernyitkan dahinya. Ia menggeleng. "Kalau mamah itu cantiknya biasa aja, kalau tante cantiknya paripurna" Damar terbatuk mendengar keponakannya pandai merayu Amaris. Semua tertawa mendengarnya.


"Kalah gua sama anak lu Mbak! Gombalin dia aja pasti dia bilang gombal! Ini, bocil, bisa gombalin cewek gua!"


"Makanya om, banyak baca buku yang puisi dong!" Semua bingung akan ucapan Langit. "Puisi? Puitis kali!" Damar membenarkan ucapan keponakannya.


"Nah itu maksudnya"


Semuanya kembali tertawa.


.


.


.


Like


Vote


Komen


Tip

__ADS_1


Ini udah crazy lho gaes.... 🤭🤭 happy reading all 😘😘


__ADS_2