Cinta Karena Mandat (Revisi)

Cinta Karena Mandat (Revisi)
Bab 55


__ADS_3

Hana, Luna, Ibun Tari dan Mami Salma keluar dan membawa minuman dan cemilan untuk semua pria yang ada di teras itu. Hana dan Luna membawa nampan berisi minuman itu. Sedangkan Ibun Tari membawa cemilan. Disusul Maryam dan Mamah Anin yang juga membawa cemilan.


"Waduh, semuanya dikeluarin nih. Jadi merepotkan tante Anin dan semuanya" kata Ali mengalihkan pembicaraan sebentar.


"Mumpung Hana ada disini, Han, kalau papi pilihkan lelaki yang baik, tulus, dan insyaallah akan mencintaimu, tetapi dia duda pekerjaannya sebagai polisi gajinya kecil, kamu bersedia mendampingi dia dari awal hingga nanti ke surga, mau tidak nduk?"


Hana terkejut mendengar pertanyaan papinya. Ali hanya menunduk tak berani menatap Hana. "Han, ditanya papi tuh. Jawab dong. Mana sih calon mantu mami?" tanya mami Salma.


"Yang ini nih calon mantumu. Baik, hafiz qur'an, ganteng, rajin" puji Mamah Anin kepada Ali. Ali menyalami mami Salma.


"Oh, hafiz qur'an seperti Sigit juga? Coba bacakan om surat al-kahfi ayat 1 sampai 7" perintah papi Raka. Ali mengangguk. Ia mengambil nafas dan melantunkan ayat suci itu. Membuat semua terpana akan keindahan suara Ali.


"Lihat? Calon imam sebaik ini mau kita lepaskan? Agamanya oke, pekerjaan oke, harta bukan masalah besar. Papi yakin dia akan bertanggung jawab pada Hana. Ali, tolong jawab keinginan om" kata papi Raka.


Ali melihat sekilas Hana. "Jika Hana bisa menerima kekurangan saya sebagai duda, insyaallah, saya siap menjadi imam untuk Hana"


"Yes!" jawab papi Raka senang. "Eh, kok yang seneng papi? Tanya anaknya dulu" Mami Salma mengingatkan suaminya.


"Han?" tanya Luna. "Hmm?" jawabnya.


"Kamu masalah tidak dengan status mas Ali yang seorang duda?" tanya Luna. Suara Hana tercekat. Ingin ia bersuara, tapi tak mampu. Hanya sebuah gelengan yang mewakili perasaannya saat ini.


"Geleng artinya tidak masalah kan Han?" tanya mamah Anin. "Iya budhe. Hana masuk dulu" wajah Hana merona merah. Ia langsung berlari ke dalam rumah.


"Pah, mbok ya kayak Om Raka, Maryam sama mas Habib begitu juga. Dipermudah gitu" kata Maryam malu-malu. Sigit dan papah Bagas saling pandang.


"Yo ora iso, kamu kan sudah terlanjur pacaran, makanya harus dikasih binsik dulu. Itu sebagai hukuman karena berani pacaran sembunyi-sembunyi di belakang kami" jawab papah Bagas. Maryam memanyunkan bibirnya membuat semuanya tertawa.


"Jadi nak Ali, segera bawa berkas nikah kantormu ke om, biar om tanda tangani, segera urus. Atau mau nikah siri dulu?" tawar papi Raka. Ali menggeleng. "Langsung saja om, takutnya ada omongan miring yang bisa menghancurkan perasaan Hana"


"Kamu sweet banget sih bang... mikirin perasaan kak Hana mulu dari tadi" celetuk Maryam. Ali hanya nyengir menanggapinya.


Luna masuk.dan mencari keberadaan Hana. Ternyata Hana berada di dalam kamar. "Sstt, seneng ya?" tanya Luna


Hana memeluk Luna. "Gak tahu juga nih, kok aku seneng banget ya papi minta bang Ali nikahin aku"

__ADS_1


"Hahaha, lucu ih. Gimana kesan pertama ketemu mas Ali?" Hana menerawang ke atas. "Mmm, gimana ya? Mbak Lun kalau dekat mas Danang suka berdesir-desir gak?"


Luna mengangguk. "Kamu begitu juga?" Hana mengangguk. "Iya mbak, aku sampai bingung. Ini aku kenapa? Kok berdesir begini"


"Hmm, selamat ya Han, aku ikut senang. Perjalanan cintamu gak serumit aku"


Hana memeluk Luna. "Sabar ya mbak Lun, aku yakin kok kamu akan bersatu sama mas Danang" Luna mengangguk dalam pelukan itu.


"Ayo keluar, kita siapkan makan malam untuk mereka" ajak Luna kepada Hana. Lalu mereka ke dapur untuk mempersiapkan makan malam. Ibun Tari sudah berada di dapur. Ia tersenyum kepada putrinya.


"Sabar menghadapi ayah ya sayang. Nanti ibun bantu bujukin ayah" kata Ibun Tari sambil berkaca-kaca.


Luna memeluk ibundanya. "Kok Ibun sedih? jangan sedih dong. Luna gak papa kok ibun. Setiap orang kan punya jalan cerita hidupnya masing-masing"


"Iya sih, tapi Ayah nih kadang kelewatan. Khawatir boleh tapi jangan sampai begini dong nak"


Mamah Anin datang dari luar, "Sudah, benar kata Luna. Sabar ya sayang. Perjuangan itu perlu. Kamu tahu dulu papi dan mami Hana juga hampir putus gara-gara papah Bagas. Tapi mereka berjuang dan akhirnya papah Bagas setuju dengan hubungan mereka"


"Aaah, Luna jadi terharu sama semuanya. Luna sayang kaliaaan" kata Luna, ia melupakan sedikit kekecewaannya terhadap Ayahnya yang hendak menolak Danang tadi.


.


"Marmutku lagi dipingit, jadi sedih deh gak bisa ketemu dia" ucapnya sebelum mengakhiri video itu. Ia menjadikannya status di sosial medianya. Semua teman Sigit melihat unggahannya. Termasuk Galih dan Yudi.


Makan malam berakhir, Ali berpamitan untuk pulang. Hana mengantarkannya sampai ke mobil. "Aku... pamit dulu ya Han? Besok aku jemput di RST, kita urus nikah kantor dulu"


Hana mengangguk "Iya bang, hati-hati di jalan. Hubungi Hana jika sudah sampai rumah"


Ali mengangguk dan masuk ke mobil. "Assalamualaikum" kata Ali. "Waalaikum salam"


Danang juga berpamitan dengan Luna dan semua keluarganya. "Om, izin besok malam minggu mau ngajak Luna jalan-jalan"


"Ditunda dulu kencannya, bantuin Hana dan Ali. Setelah Sigit dan Muti kan mereka yang akan melangsungkan akad. Ayah gak papa kalau kamu mengajak Luna kencan, tapi tahu sikon ya Nang" sindir Ayah Tristan. Danang tersenyum dan mengangguk.


"Gak papa om, Danang yang lupa. Maaf" Ayah Tristan mengangguk. "Ajak Papah dan Mamahmu untuk datang melamar Luna jika acara Hana dan Ali sudah selesai"

__ADS_1


Luna dan Danang saling berpandangan. "I-ini beneran kan om?"


Ayah Tristan mengangguk. "Tapi Ayah minta tinggalkan bisnis bar milikmu itu. Jadikan kafe saja. Bisa?"


Danang mengangguk mantap. "Bisa om bisa!" katanya senang. Luna memeluk Ayahnya. "Makasih Ayah"


Ayah Tristan mencium kening putrinya itu. "Kelemahan Ayah adalah melihatmu bersedih nak, jangan hanya karena keegoisan Ayah lantas kamu jadi sedih dan membenci Ayah"


.


Ali baru saja tiba di rumahnya. Ia segera merebahkan dirinya di sofa. Mengingat kembali keajaiban yang terjadi satu hari ini. "Mimpi apa aku semalam? Baru kenal lalu disuruh menikahi anak gadis orang? Yang bisa menerima segala kekuranganku? Ya Allah, terima kasih atas nikmat yang engkau curahkan kepada hamba"


Ia segera memberi kabar kepada orang tuanya di Rembang. Orang tua Ali senang tapi sekaligus khawatir, takut jika rumah tangga itu gagal lagi.


"Besok Bapak dan Ibu bisa datang kemari dan menginap beberapa hari disini? Aku ingin mengenalkannya pada kalian. Hmm, baiklah, Ali tunggu kedatangan Bapak dan Ibu. Assalamualaikum"


Ia mencari nomor Hana di grup. Lalu menyimpannya dengan nama kontak jodohku. Ia melakukan panggilan video kepada Hana.


"Assalamualaikum"


.


.


.


Like


Vote


Komen


Tip


Hmm, nanti lagi ya? Otak othor perlu istirahat bentar

__ADS_1


__ADS_2