
Sore menjelang, Sigit menjemput sang istri di kantornya. Ia mengemudikan mobil dalam kecepatan sedang. Kemacetan sudah terjadi dimana-mana. Ia memberitahu Muti bahwa dirinya agak telat karena padatnya jalanan.
Sedang di kantor, Jihan masih saja kesal dengan Muti. "Jihan, ih, sudah dong marahnya. Sekarang kan aku sudah sah jadi istrinya mas Sigit. Jangan cemburu gak jelas gitu deh"
Jihan menatap Muti tajam, membuat Muti susah untuk menelan salivanya. "Gak jelas? Hahaha, terus kalau kamu pikir sudah sah jadi istrinya mas Sigit apa gak ada kemungkinan kamu bakalan balikan lagi sama pak Galang??"
Muti menautkan alisnya. "Maksud kamu? Kamu nuduh aku bakalan selingkuh gitu sama pak Galang?? Eh, dengar ya Jihan, aku dulu memang playgirl. Tapi, saat ini dan selamanya yang dihatiku cuma Mas Sigit! Makasih atas penilaian kamu! Gak nyangka aku ternyata sepicik ini kamu sama aku!"
Muti mengambil tasnya dan meninggalkan Jihan dengan perasaan kesal. Ia menunggu Sigit di pintu gerbang. Jihan menyesali perkataannya. Karena cemburu, ia tega menuduh sahabatnya sendiri seperti itu.
"Astaghfirullah Jihan....., kamu bodoh banget sih sampai mencela Tia seperti itu. Bodoh bodoh bodoh" rutuk Jihan pada dirinya sendiri.
Muti menghentak-hentakkan kakinya di tanah dengan kasar. Tak habis pikir dengan ucapan Jihan. Sebuah mobil menghampirinya dari dalam gerbang. "Muti.... nunggu siapa?" tanya Galang, sang pengendara mobil.
"Nunggu suami saya pak" jawab Muti cuek. "Masih lama? Atau mau aku antar saja?" tanya Galang lagi.
Muti menggeleng. "Itu mobil suami saya sudah tiba. Permisi" kata Muti langsung masuk ke mobil Sigit. Ia menyalami Sigit dengan memasang wajah cemberut.
__ADS_1
Sigit heran dibuatnya. "Istriku yang cantik dan imut ini kenapa cemberut hmm??" tanya Sigit sambil mencubit pipi Muti.
Muti menghela nafasnya panjang, dan mengulanginya kembali. "Aku lagi sebal sama Jihan. Masa dia nuduh aku yang gak-gak coba mas?"
"Jihan? Nuduh kamu? Nuduh tentang apa sayang? Kalian bertengkar?" tanya Sigit bingung.
"Dibilang bertengkar juga gak juga mas, tapi, aduh gimana ya ngomongnya? Cuma gara-gara cemburu saja dia menuduhku yang bukan-bukan! Masa dia bilang aku bakalan selingkuh? Gila kan?" Membuat Sigit menginjak rem secara tiba-tiba. Untung saja Sigit masih berjalan di bahu jalan, jadi ada kendaraan di belakang mobil mereka.
"Kamu kenapa sih mas?" tanya Muti makin kesal. Sigit mulai melajukan mobilnya lagi, dan kali ini sudah tak di bahu jalan lagi.
"Kenapa Jihan bisa nuduh kamu bakalan selingkuh? Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Sigit dengan nada yang sangat serius membuat Muti takut. "Jawab" imbuh Sigit datar.
"Langsung ke intinya"
"KaBag aku baru mas, dan itu.... mantan pacar aku. Jihan cemburu, mengira bahwa aki bisa saja berpaling darimu. Tapi sumpah mas, aku gak ada niatan sedikitpun untuk berpaling darimu. Aku sudah insyaf dari playgirl. Please percaya aku, aku gak ada niatan untuk menghianatimu sedikitpun" jelas Muti panjang lebar.
Sigit mendengarkan penuturan istrinya. Ia sangat percaya dengan perkataan istrinya, karena terbukti selama pendekatan dengan dirinya, ia tak pernah menghianatinya. Jika masalah berpelukan dengan Humam adalah kesalahpahaman semata.
__ADS_1
"Mas.... jangan diam saja dong sayang. Jangan bilang kalau kamu juga tidak percaya sama aku" ucap Muti
Sigit tersenyum. "Mas percaya kok"
.
.
.
Like
Vote
Komen
Tip
__ADS_1
Segini dulu gaes. othor ngantuk. Pasien hari ini membludak