
Keluarga besar Ali dan Hana juga sedang berbahagia. Mami Salma menghitungkan umur kehamilan Hana yang 2 minggu lagi akan masuk 4 bulan.
"Ini pas hari pertama puasa, kalau dimajukan gimana Yah?" tanya Mami Salma kepada kakek Umang selaku orang paling tua disana.
"Gak papa" jawab kakek Umang. "Ya sudah, di hari jum'at ini saja Mi, Pi, Pak, Buk. Kan weekend, jadi tidak mengganggu pekerjaan nantinya" sahut Ali. Mereka sepakat dan setuju.
Hana tiduran di paha Ali. "Kamu gak ada ngidam apa gitu nduk?" tanya Ibu Murni. Hana menggeleng.
"Cuma gak mau jauh saja dari Abang bu" terang Hana.
"Untung gak ngidam aneh-aneh kamu Han, dulu, waktu Mami mu hamil kamu, minta naik kebo, sekalinya gak dapat ngambek. Hadeh.... Papi sampai bingung dulu itu. Mana di Kalimantan Kebo jarang ada lagi" terang Papi Raka mengingat kejadian lalu.
Semuanya tertawa. "Anak Ali banget kalau gitu, dulu Ibu pas hamil Ali juga sama sekali gak ngidam apapun, cuma pengen dekat saja sama bapak. Sampai bapak pergi kerja ibu malah nangis"
"Dijaga yo Al, bapak karo ibuk wes ora sabar nambah putu maneh, lanang wadon podo wae, sing penting sehat tutug selamet (Dijaga ya Al, bapak sama ibuk sudah tidak sabar nambah cucu lagi, laki perempuan sama saja, yang pentinh sehat sampai waktunya selamat)" Pesan pak Darsono.
"Nggih Pak, nyuwun pandonganipun (Iya pak, minta doa restunya)" jawab Ali.
"Tapi tadi aneh ya? Waktu ada mantan istrinha Ali kenapa Hana langsung mual?" tanya Kakak pertama Ali. Semuanya juga penasaran.
Hana hanya tersenyum. "Anaknya gak pengen lihat masa lalu Ayahnya kali kak, makanya langsung mual"
Ali tertawa. "Memang ada yang sampai begitu?" Semuanya mengangguk. "Bayi dalam perut istrimu itu juga peka Al, jangan mbok pikir dia gak tahu apa-apa. Makanya, kalian hati-hati kalau sedang marah. Dia pasti bisa merespon" tutur kakak Ali yang lain.
"Insyaallah ora lah mbak"
Mami Salma menuju dapur. Melihat bahan makanan yang ada. "Ayo san besan tak bantuin masak" kata Bu Murni menyusul di belakang Mami Salma.
"Bu Murni duduk saja gak papa bu"
"Ora iso aku Bu, pengene mergawe terus je (Gak bisa aku Bu, pengennya bekerja terus ik)" Mami Salma tersenyum dan mengangguk.
Mereka memasak sambil bercengkrama tentang kehidupan mereka. Saling bertukar pikiran.
Hana tertidur di pangkuan Ali, papi Raka menyuruhnya untuk memindahkan Salma di ranjang. Ali mengangguk dan segera memindahkan istrinya agar lebih nyaman dalam tidurnya.
"Bang, disini saja" rengek Hana. Ali mengangguk. Ia membelai kepala istrinya. Lalu mengecupnya. "Manja banget sih kamu dek"
Hana tersenyum sambil terpejam. "Manja sama suami sendiri diperbolehkan sayang" Hana memeluk Ali. Ali tersenyum melihat tingkah istrinya.
"Shalallahu 'ala Muhammad.... Shalallahu 'alaihi wassalam...." Ali menyenandungkan sholawat untuk istrinya.
__ADS_1
"Bang, adek pengen makan bubur kacang ijo" kata Hana tetiba. Ali berhenti bersenandung. Ia melihat istrinya yang ternyata sudah membuka mata.
"Hahah, jangan bercanda dek... Ini siang bolong lho sayang, burjo adanya nanti malam" Hana berdecak.
"Adek pengennya sekarang abang" Ali segera mengambil kunci mobil dan bergegas pergi mencari bubur kacang hijau.
Di deoan ia bertemu dengan Maryam, Azka, dan Habib. "Mau kemana bang buru-buru amat?" tanya Azka.
"Mbak mu pengen burjo, dimana belinya Mar?"
"Coba cari di simpang lima" Kata Maryam. Ali segera berlalu mencari bubur kacang hijau.
Azka, Maryam dan Habib membawa jajanan untuk para keponakan Ali. Mereka menjadi baby sitter untuk para keponakan Ali.
"Az, habis ini balik batalyon?" tanya Maryam.
"Masih libur mbak, masih seminggu lagi. Enaknya dapat Satgas luar negeri ya begini. Hahaha. Aku pengen pindah batalyon disini saja bisa gak sih?" tanya Azka.
Maryam tersenyum. "Ada papi ngapain bingung? Hahaha? Kenapa pengen pindah juga?"
"Sepi gak ada kamu dan mbak Shan.. hahahah"
"Makanya cari jodoh!" kata Maryam. Azka tertawa. "Urusannya apa coba?"
Habib ikut nimbrung. "Enak punya pacar lah Az"
"Moh, ribet, nanti kayak mbak Mar waktu putus nyambung sama kamu mas, halah..... kesel aku nenanginnya" Azka membongkar rahasia Maryam.
Maryam memasang wajah cemberut. "Sepupu aku comel banget sih mulutnya.... Jangan dikasih tahu mas Habibnya.... nanti dia diatas angin"
Habib tertawa. "Cewek setangguh kamu bisa nangis juga dek? Berarti aku sangat berharga banget dong ya?"
Maryam menyengir. "Iya lah, hatiku wes nyemplung ning jero atimu sayang.... (Iya lah, hatiku sudah nyemplung di dalam hatimu sayang....)"
Azka berpura-pura muntah. "Sumpah,..... Enek aku dengernya...."
"Hilih.... gayamu Az, nanti kalau kamu jatuh cinta kamu juga bakalan begini" ejek Habib.
Bu Murni memanggil semuanya untuk makan. Beliau juga membangunkan Hana. "Nduk, makan dulu yuk. Suamimu kemana?"
"Lagi nyari bubur kacang hijau buk" terang Hana. Bu Murni mengernyitkan dahinya. "Ngapain nyari? Itu Ibu sama Mami mu tadi buat untuk kamu"
__ADS_1
"Ha?" jawab Salma terkejut. "Kasihan Abang dong"
Bu Murni menahan tawanya. "Biarkan saja. Biar dia juga merasakan kelimpungan mencari sesuatu"
Hana tersenyum dan mengangguk. Ia keluar bersama mertuanya. Mereka sudah sibuk mengisi piring masing-masing. Seketika Ali kembali dengan membawa bubur kacang hijau.
"Nih dek" Hana tersenyum. "Makasih ya sayang" Ali mengangguk.
"Mau dimakan sekarang?" Hana menggeleng. "Nanti saja, sekarang mauakan nasi sama sayur asem-asem daging"
Ali mengangguk. "Kamu beli apa Al?" tanya Mami Salma. Ali menunjukkan isi kresek hitam itu. "Lhaah.... ngapain beli? Mami buat kok sama ibukmu tadi"
"Ha?" jawab Ali terkejut. "Sia-sia dong" katanya lagi. Hana menggeleng. "Nanti tetap adek makan kok bang. Tenang saja"
Ali tersenyum. Maryam dan Azka iri melihat keromantisan mereka. "Manis banget sih kalian...." kata mereka bersamaan.
"Anak kecil dilarang ngiri!" sahut Ali.
Papi Raka mengubah topik pembicaraan. "Kamu kapan lamaran Mar?"
"Seminggu sebelum puasa om, biar setelah lebaran langsung cus" kata Maryam. Membuat Hana mengernyitkan dahinya.
"Cus apa?" tanya Hana. "Cus disuntik sama jarum besar" sahut Azka. Membuat Maryam mengangguk semangat. Habib sampai terbatuk-batuk mendengarnya.
"Hahahah, kenapa mas? Grogi? Belum juga aku minta di encus" kata Maryam sambil memberikan minum pada Habib.
Ali tertawa melihatnya. "Santai Bib" katanya. Habib memaksakan senyumannya. "Kamu kalau ngomong mbok ya jangan asal to dek" bisik Habib di telinga Maryam.
"Apa bisik-bisik?" tanya Hana.
"Ini, mas Habib bilang, jangan seminggu, kalau bisa besok lamaran. Biar langsung akad seperti kalian. Heheheh" jelas Maryam. Habib menepok jidatnya tak habis pikir dengan ucapan Maryam. Membuat semuanya menggelar tawa bahagia.
.
.
.
Like
Vote
__ADS_1
Komen
Tip