Cinta Karena Mandat (Revisi)

Cinta Karena Mandat (Revisi)
Bab 12


__ADS_3

Hana sekeluarga sudah mendarat di Semarang. Anin dan Bagas yang sudah mendarat sejak 1 jam lalu menunggu mereka. Kakek Umang bersama supirnya menjemput anak-anak angkatnya itu.


Mereka saling berpelukan melepas rindu sejenak. "Kalian sehat?" Semua tersenyum dan mengangguk. "Ayah sendiri sehat?" tanya Anin sudah bersuara parau hendak menangis.


Hana langsung memberikan tisue kepada Anin. "Budhe pasti begitu kalau ketemu kakek" Anin tersenyum dan menghapus air matanya.


"Iya budhemu ini cengeng Han. Ayo segera ke mobil. Tari dan Tristan sudah menunggu di rumah" ajak kakek Umang kepada semuanya.


.


Tristan dan Tari menunggu kedatangan para sahabat sekaligus saudaranya itu. Tak sabar mendengar cerita yang seru tentang perjodohan antara Sigit dan anak Panglima TNI.


Mereka mempersiapkan makan siang untuk kedatangan para sepupunya itu. Sigit bersama Luna datang dan membantu persiapan.


Tak lama yang ditunggu pun datang. Mereka berpelukan dan menanyakan kabar. Hana berlari memeluk dua sepupunya itu. "Kangen kangen kangeen" ucapnya.


"Sama, kita juga kangen sama kamu. Kamu apa kabar Han?" tanya Sigit.


"Baik mas Si, gak nyangka yang bakalan laku duluan mas Si ini nanti. Mbak Lun, buruan cari biar gak kalah sama mas Si"


Luna berdecak. "Gundulmu Han, mbok kira cari jodoh gampang apa?" Mereka tertawa.


Tari menimpali ucapan Luna. "Sebenarnya Luna itu sudah ada yang naksir dari SMA, Ayahnya saja yang kelewat protektifnya, sampai sekarang juga si cowok itu masih ada di sekitar Luna. Benar kan Sisi sayang?"


"Hish Budheeee, jangan panggil dengan sebutan ituuuu, bisa jatuh image aku sebagai komandan terganteng abad ini" Balas Sigit tak terima dengan panggilan itu.


"Ayolah masuk dulu, ngobrol sambil minum dan nyemil kan lebih enak" ucap Tristan.


"Pantes saja bang, perutmu bukan makin rata malah makin buncit" ejek Raka kepada Tristan.


"Cocok susunya itu tuh, bukan karena ngemilnya. Benar kan Tris?" Sontak Tari melayangkan tampolan kerasnya kepada Bagas. Semua mata melotot menatap kejadian itu.


"Ada anak-anak! Dasar, otak suami kamu nih memang mesum ya Nin" mereka kembali tertawa.


"Gak dulu gak sekarang masih saja kena tampol. Kalian itu sudah pada tua mbok ya ingat umur" ucap Anin menengahi pertikaian kecil itu.


"Siapa bilang kita sudah tua? Kita masih strong!" balas Raka tak terima Anin mengatakan semuanya sudah tua. "Iya strong! Karena pakai obat kuat kan?" terang Salma membuat semua terpingkal-pingkal. Para anak-anak hanya geleng kepada mendengarkan percakapan konyol mereka.


"Apa nanti kalau kamu sudah menikah begitu Si? Yang dibicarakan tak jauh-jauh dari urusan ranjang??" tanya Luna sambil melipat tangan ke depan dada.

__ADS_1


Bukannya mendapat jawaban malah Luna mendapatkan jitakan di kepalanya. "Aduh, Sisi! Awas kamu ya!" Sigit segera berlari dan masuk ke rumah. Luna mengejarnya.


"Hmmm, cepat sekali mereka dewasa. Padahal baru rasanya kemarin Ayah memberi kado untuk mereka"


Mereka masuk ke dalam rumah dan meneruskan obrolan disana.


.


Indra memesan catering secara mendadak dari temannya yang juga seorang TNI. Dia mempersiapkan acara nanti malam. Dia juga sudah berpesan kepada Muti untuk pulang lebih awal mengingat akan ada pertemuan dengan keluarga calon suaminya.


Muti mengajak Jihan untuk ikut bersamanya pulang ke rumah. Sekaligus untuk memberikan kesaksian agar Ayahnya percaya. Mereka mampir ke toko untuk membeli baju untuk acara nanti malam.


"Katanya nolak, tapi beli baju juga" ejek Jihan. Muti berdecak. "Disuruh Ayah" lalu mereka memilih baju.


Setelah dapat mereka langsung pulang. "Ji, nanti dandanin aku yang menor biar keluarga mas Sigit pada ilfeel sama aku. Jangan bilang gak mau atau aku gak mau maafin kamu karena ninggalin aku di karaoke"


"Iya deh iya" Jihan pasrah.


.


Malam menyambut. Segala persiapan di rumah Anin sudah selesai. Lepas maghrib mereka langsung berangkat menuju alamat rumah Muti. "Kalian duluan saja. Kita bantuin Sigit siap-siap dulu" ucap Luna menyuruh para orang tua berangkat terlebih dahulu.


"Luna, ingat ya, jangan ada kabur-kaburan. Karena om tidak akan memaafkan kalian" tegas Bagas.


"Oke, kalau begitu. Bantu Sigit. Kami jalan dulu" Para orang tua membawa beberapa bingkisan untuk keluarga Muti.


Hana dan Luna segera melancarkan aksinya. Sigit hanya pasrah dengan ide kedua sepupunya itu. "Kalian yakin ini bakalan berhasil?"


"Coba aja dulu sih Si. Kalau gagal ya sudah, berartk jodohmu itu memang Muti" jawab Luna


"Tapi aku gak yakin bakalan berhasil Lun, secara om Indra tahu siapa aku"


"Udah deh mas Si, mau gak nih dibantuin? Kalau gak juga gak papa"


"Iya deh iya, tapi ini sih lebih ke kalian ngerjain aku daripada bantuin aku" Luna dan Hana hanya tertawa.


Persiapan rampung. Mereka segera menuju rumah Muti menyusul rombongan keluarganya.


.

__ADS_1


"Muti, ayo keluar nak, keluarga calon suami mu sudah datang nih" Indra memanggil anaknya yang sedari tadi melakukan persiapan tapi tak kunjung selesai.


"Ayah temui saja mereka dulu. Muti belum selesai" sahut Muti berteriak dari dalam kamarnya.


Indra akhirnya menemui keluarga Anin dan rombongan sendirian. "Muti belum selesai dandan. Masuk dulu. Lha Sigit mana?" tanya Indra yang tak melihat calon menantunya itu.


"Dia nanti sama anak-anak bang, tadi kami disuruh duluan" ucap Raka. Para perempuan meletakkan seserahan ke sudut ruangan.


"Kalian ini repot-repot sekali bawa seperti ini" ucap Indra.


"Ah, tidak merepotkan kok bang. Ini belum seberapa"


"Ya sudah, nikmati dulu jamuan yang ada. Sambil kita menunggu anak-anak kita"


Mereka mengobrol dan tertawa hangat. Tak lama Muti sudah siap untuk keluar dengan penampilannya yang waw.


Sigit pun baru saja tiba. Mereka langsung turun. Saat Sigit mengucap salam, Muti keluar dari kamarnya yang bersampingan dengan ruang tamu.


Jeng jeng jeng. Semua mata melotot tak percaya pada penampilan keduanya. Mereka tertawa menyaksikan anak-anak mereka yang bertingkah konyol.


Muti berdandan seperti jeng kelin, dengan blush on di bundar di tengah pipinya, dan lipstik yang membentuk love kecil di tengah bibirnya. Dan Sigit berdandan seperti cecep, dengan rambut jabrik 3 ke atas dan dasi kupu-kupu.


"Kalian berniat membuat kami ilfeel?" tanya Salma kepada Sigit dan Muti.


Mereka berdua mengangguk. "Gak bakalan merubah keputusan kami menjodohkan kalian. Pintar juga kamu menyamar Git, cocok tuh sama Muti yang juga pintar menyamar. Lihat saja sekarang dirinya, berdandan seperti pelawak ludruk begitu" jawab Indra.


Semua kembali tertawa. Luna dan Hana mendapat tatapan tajam dari Anin dan Bagas. Membuat mereka hanya nyengir kuda.


"Apa aku bilang? Malah jadi bahan ledekan kan?" bisik Sigit ke telinga Hana.


.


.


.


Like


Vote

__ADS_1


Komen


Tip


__ADS_2