
Subuh berkumandang, semua insan bersujud menghadap Ilahi. Menengadahkan tangan memohon ampun atas dosa yang mereka lakukan.
Sigit, papah Bagas, papi Tristan, dan Maryam jogging disekitaran kompleks. Sedangkan yang lain mengurus rumah. "Mi, menu paling simpel gak pakai ribet apa?" tanya Hana.
Mamah Anin yang sedang membuat dadar gulung tersenyum. "Ini simpel" jawabnya. Hana melihat dadar gulung itu begitu sempurna. "Alaaah, susah budhe.... yang lebih simpel kek"
Mami Salma menunjukkan menu tersimpel yang ada. Telur ceplok dan sambal bawang. "Pol simpel, ojo takon meneh sing luwih simpel. Makane nek biyen dikon sinau masak ki nganut. Bingung ra? (Mentok paling simpel, jangan tanya lagi yang lebih simpel. Makanya kalau dulu disuruh belajar masak itu nganut. Bingung kan?)"
Hana memanyunkan bibirnya. "Au ah gelap" katanya pasrah dan berlalu ke kamar mandi. Makanan siap terhidang di meja.
"Kak, Ali beneran orang baik kan?" tanya Mami Salma kepada Mamah Anin. "Iya lah, gak mungkin kami ini menjerumuskan Hana dapat orang yang jahat. Doakan mereka dijauhkan dari godaan rumah tangga. Hanya itu yang bisa kita panjatkan untuk kehidupan mereka kelak"
Mami Salma mengangguk. "Yang sekarang jadi pikiran aku nih Luna. Kalau benar dia nikah sama Danang, mertuanya itu lho. Aduuuhhh, gak bisa bayangin deh" imbuh Mamah Anin.
"Ih kamu, doakan yang baik juga untuk keponakan kita" jawab Mami Salma. "Itu pasti, tapi tahu sendiri kan Ana itu bagaimana? Orangnya sangat manipulatif" Mami Salma mengangguk.
"Hmm, kalaupun Ana beneran jadi mertua Luna semoga dia bisa berubah lah. Dia itu masih berpikir kalau kita ini selalu merebut miliknya. Padahal kan, memang jalan takdir dia tidak digariskan untuk memiliki mas Bagas ataupun bang Tris" jelas Mamah Anin.
"Setuju, umur wes tuo kok iseh wae dendam. Masalah kalau sudah selesai ya sudah gitu lho. Kok sampai dibawa ke anak-anaknya. Bang Tris takut kalau Luna bakalan disakiti nantinya oleh Ana. Makanya jadi lebay begitu" Yang jogging sudah kembali ke rumah. Mereka langsung menuju ruang makan.
Maryam melihat menu itu, sungguh menggiurkan. Telur dadar dengan tumis brokoli wortel kesukaannya. "Mamahku memang tahu kesukaanku"
Mereka sarapan bersama. Sigit sudah cuti untuk persiapannya besok. Selesai sarapan mereka bersantai. "Git, nanti saat belah duren langsung gaspol" kata papah Bagas membuat Mamah Anin terbatuk mendengarnya.
"Uhuk uhuk uhuk. Ya Allah si papaaah.... Itu bukan urusan kamu, biar Sigit yang mikir caranya" Semuanya tertawa.
"Git, kasih kami cucu yang buanyak. Papah tuh ya dulu cita-citanya anaknya 5. Mamah kamu saja yang gak mau" kata papah Bagas Lagi.
"Lhah, kenapa jadinya Maryam dan bang Si tok?" tanya Maryam.
"Mamahmu gak mau. Katanya malu, duta KB kok anaknya 5 gitu katanya" jelas papah Bagas.
"Sama, papi juga dulunya mau nambah satu laki-laki. Mami saja yang tidak mau" timpal papi Raka.
"Jelas lah, orang kamunya tak tanya kalau anaknya gak laki-laki gimana? ya bikin lagi. Dikira bikin adonan kue apa gimana? Hmm?" jawab Mami Salma. Ponsel Sigit berbunyi. Dari Muti. Ia meminta panggilan video.
"Assalamualaikum calon imam" sapa Muti ceria dari seberang. Semua ikut tersenyum mendengarnya. "Waalaikum salam, kenapa? Pagi sudah telpon aja. Kangen?"
Muti mengangguk. "Iya, kangen anu anu sama kamu" katanya asal. Semua memandang Sigit tajam.
"Ih, kamu kalau ngomong! Anu anu in kamu saja belum kok!"
__ADS_1
Muti tertawa. "Salah kamu sendiri dong, ditawari gak mau"
Mamah Anin merebut ponsel Sigit. "Muti...."
"Eh mamah, jadi malu. Assalamualaikum mah...."
Sigit tertawa puas. "Akhirnya ketahuan kan? Siapa yang suka godain dan digodain? Bukan Sigit yooo..... itu lho pelakunya. Si marmut!"
"Kalian ini memang ya... Muti, sudah sarapan?" tanya mamah Anin. Muti mengangguk. "Sudah mah"
"Ya sudah, nanti disana pengajian jam berapa? Mamah, mami Salma, sama Bunda Tari mau kesana"
"Jam 4 sore mah, Muti menelpon juga ingin menyampaikan ini. Semuanya diundang Ayah di rumah untuk ikut pengajian"
Mamah Anin mengangguk. "Iya, nanti kami kesana. Sudah, jangan lihat Sigit lagi. Biar kamu itu terlihat mangklingi gitu loh nak"
Muti memasang wajah sedihnya. "Nanti kalau aku mangklingi, mas Sigit gak bisa ngenali aku kan urusannya berabe mah"
Semua tertawa mendengar jawaban Muti. "Kamu itu jan wes tenan ok. Sudah ah, dipingit dulu ya sayang. Assalamualaikum" Mamah Anin mengakhiri panggilan video itu.
Hana bersiap untuk berangkat ke rumah sakit. "Hana berangkat dulu ya semuanya. Assalamualaikum" Hana menyalami semuanya dan pergi bekerja.
.
Habib lepas dinas, ia langsung menuju rumah Maryam untuk bertemu dengan keluarga Maryam. Ia mengirim pesan di grup Anak Gengster.
Me : Semuanyaa... doakan aku. Hari ini aku ujian mental dan fisik mau bertemu dengan camer 😁
Archee : ewaw, aku saja belum punya calon lho Bib, kamu malah sudah mau ketemu camer. Gercep ya? Hilal, gimana tuh? Kamu ketinggalan jauh sama Habib. Aku nyari ah 🏃♂🏃♂🏃♂
Amaris : Lhaaah.... dia pikir ada yang buang jodoh kali ya dicari. Bib sumangat! Tunjukkan kemampuanmu! Aku yakin kamu bakalan nyerah. Upss. 🤣🤣
Hilal : Semangat adekku! Kalau kamu ditolak bilang ya? Mas siap gantikan posisimu 😝😝
Aylin : 🤣🤣 Jahat banget sih kamu Lal, Bib, semangat! Kalau gagal nyari lagi! Stevi masih setia menunggumu!
Me : Terima kasih atas sanjungan dan hinaan kalian. Kalian memang terbaik dalam hal bullying. Wkwkwkw. Wegah karo Stevi. Lanang ora wadon ora kok Mbak Aylin
Adel : 😂
Archee : 😅
__ADS_1
Gandi : Wkwkwk, ckaka, Habib memang idola para LAURA. Lanang ora wedok ora 🤭
.
Habib tiba di kediaman Maryam. Papah, Mamah, dan Abang Maryam menyambutnya. "Assalamualaikum, om, tante, bang Sigit"
"Waalaikum salam. Ayo masuk" kata Mamah Anin. Habib mengangguk dan masuk ke dalam rumah.
Habib berkenalan dengan keluarga besar Maryam. Ia menjadi sedikit canggung, ia hanya berbicara jika ditanya. "Sudah sarapan?" tanya Papah Bagas.
"Sudah pah"
"Sudah siap?" tanya papah Bagas lagi. Habib mengangguk. "Oke, yok ke lapangan bola" Mereka menuju lapangan bola. Setelah itu Habib disuruh sit up dan push up.
Sigit naik di punggung Habib saat push up menambah beban Habib dan tak bisa melakukan push up sempurna. "Nyerah gak?" Habib menggeleng.
"Oke, ayo kurang 3 lagi" Sigit menahan tawanya. Selesai push up, dia lari dengan membawa ransel besar entah apa isinya. Tapi yang jelas sangat berat.
"Gimana Bib? Masih semangat?" tanya Sigit sedikit berteriak. Habib hanya mengangguk. Papah Bagas tersenyum mendengarnya. "Pantang menyerah ya dia?"
Sigit mengangguk. "Anaknya gigih pah, gimana tambah lagi?"
Papah Bagas menggeleng. "Gak usah, cukup. Setelah ini suruh dia jadi imam kita untuk sholat dhuhur. Papah mau menguji agamanya"
Sigit mengangguk. "Semangat Bib! Kurang 5 putaran lagi!"
.
.
.
Like
Vote
Komen
Tip
Maafkeun othor. Semalam ngantuk banget, capek. Hehehe
__ADS_1