
"Jadi, 3 hari lagi Ayah dan Mimi akan akad. Proses pengajuan nikah batalyon dulu" kata Ayah Indra.
"Ayah kan jendralnya, semenit mah langsung lulus! Hehehe. Senang ih, akhirnya Muti punya Ibu dan punya saudara" katanya sambil memeluk Shanum.
"Sama, aku juga senang bisa dapat saudara. Bisa diajak curhat bareng pokoknya seru deh" kata Shanum.
Mereka semua tersenyum bahagia. Sigit melihat jam. "Yank, waktunya terapi, kita ke rumah dokter Laras sekarang saja, gak enak kalau membuat beliau menunggu" Muti dan Hana mengangguk.
Shanum, Habib, Hamka, Sigit, Muti, Hana dan Ali berangkat menuju kediaman Pak Duta. Muti dan Hana seperti biasa melakukan sesi terapi. Damar menjadi bahan interogasian oleh kawanan itu.
"Gimana Dam? Gak ngompol di celana kan waktu ketemu sama orang tuanya Mbak Maris?" ledek Sigit. Damar berdecak.
"Damar gitu lhoh! Langsung acc toh yo" bangganya pada dirinya sendiri. "Gayamu Dam!" timpal Ali.
Seorang lelaki datang bersama Amaris menenteng tas ranselnya. Damar mengenali sosok itu. Archee Putra Wicaksana, camat di salah satu daerah di Demak. Kakak dari Aylin, Amaris, dan Adelia.
Damar beranjak dari duduknya dan menghampirinya. "Assalamualaikum calon ipar, wuih makin cakep aja lu!"
"Waalaikum salam, gummy bear! Badan lu sekarang kurusan ya!" Mereka bersalaman. Damar memperkenalkan satu per satu rekan intelnya pada Archee.
"Ramai nih, Ris, tolong ransel Abang bawa masuk dong. Sekalian bawakan Abang minum ya?" Archee mencubit pipi Amaris. Damar menepisnya. "Jangan, kasihan Maris kesakitan"
Semuanya tertawa. "Alamak, sudah bucin pula Damar" kata Hamka. Mereka mengobrol dengan seru sesama lelaki.
"Gua gak papa lu jadi suami Maris, asal gak bikin dia sedih aja. Awas aja kalau sampai lu bikin dia nangis, gua gelitikin lu sampai tinggal tulang!" Ancam Archee. Membuat yang mendengarnya tertawa.
"Lu sendiri kapan?" tanya Damar.
"Nanti" jawab Archee singkat. "Do'akan saja semoga segera bertemu jodohku. Biarkan adik-adikku dulu yang berkeluarga. Aku ingin melihat mereka bahagia terlebih dahulu dengan pasangan pilihan mereka masing-masing. Hingga aku benar-benar memastikan bahwa mereka berada di samping lelaki yang tepat, yang bisa memberikan kebahagiaan untuk mereka" tersenyum sambil melihat Amaris yang berjalan mendekat ke arah mereka.
"Seorang kakak akan selalu melindungi adiknya, salut sama pak camat. Semoga segera bertemu jodohnya ya pak?" kata Ali. Archee tersenyum dan mengangguk.
Muti dan Hana telah selesai terapi. Mereka berpamitan untuk kembali pulang ke Semarang. "Bib, bareng gak?" Sigit menawarkan tumpangan bagi Habib.
Habib menggeleng. "Aku bawa mobil sendiri bang, soalnya besok mau jalan sama Maryam dan Mbak Shanum" Sigit mengangguk.
"Hati-hati kalau gitu. Kami pamit duluan ya?" Habib mengangguk. Sigit, Hamka, Muti dan Shanum satu mobil. Ali, Kakek Umang, Hana, dan Damar menjadi satu mobil. Ayah Indra tinggal sementara waktu di Magelang untuk mengurus berkas nikah.
Dalam perjalanan mereka saling bercerita. "Lucu kali ya Shan kalau kita punya adik bayik dari Mimi dan Ayah. Hihihi"
__ADS_1
"Hahaha, iya ih, nanti kita yang ngasuhnya. Seru tuh Muti" Shanum setuju dengan perkataan Muti. Sigit dan Hamka geleng kepala.
"Daripada kamu ngasuh adik kamu yang belum jelas ada dan tiada, mending kamu ngasuh yang sudah terlihat wujudnya Yank" timpal Sigit. Muti mengernyitkan dahinya.
"Ngasuh kamu maksudnya mas?" Sigit mengangguk. Hamka menoyor kepala Sigit. "Otak mesum!"
Sigit kembali tertawa. "Nanti juga kamu begitu bang! Shanum, tadi kingkong ini ngajak kamu ngobrol apaan?" tanya Sigit.
Shanum tertawa geli mengingat pertanyaan Hamka. "Nanya mau jadi istrinya apa gak? Tanpa babibu langsung ceplos gitu aja. Tanpa improvisasi, kan bikin syok Mas"
Muti dan Sigit tertawa. "Patas! Langsung ya bang? Sip lah" puji Muti. Hamka memasang wajah kesalnya.
"Ya kan aku beneran gak tahu harus ngobrol apa? Bingung dong, makanya aku tanya itu saja" jawab Hamka.
"Memang bang Hamka gak pernah ngobrol sama cewek sekali pun?" tanya Muti penasaran. "Amak, saudara, sama bawahan. Tapi kan konteksnya beda Muti, ini pertaruhan hati lho"
"Hahaha, guayamu bang bang!"
Shanum membela Hamka. "Gentel lho Bang Hamka, langsung pada intinya. Sesuai lah dengan penampilannya" Hamka merasa menang dibela oleh Shanum. Ia merapikan kerah kemejanya dan rambutnya. "Meskipun takut jarum suntik sih" imbuh Shanum.
Membuat Sigit dan Muti kembali tergelak tawanya. "Ih, kamu kok gitu? Habis melambungkan Abang tinggi terus dijatuhkan. Kan sakit.... hiks...." protes Hamka.
Tak terasa mereka telah sampai di Semarang. Muti tertidur pulas. Begitu juga dengan Shanum. "Ini mau dibangunkan atau digendong Si?" tanya Hamka.
"Istriku kalau tidur susah dibanguninnya bang, biar aku gendong saja. Shanum kamu yang gendong ya?" Hamka mengangguk. Segera Sigit turun untuk membuka pintu rumah dan kamar. Lalu menggendong istrinya. Hamka menggendong Shanum dengan cara tak biasa.
Membuat Sigit tertawa. "Lu kira calon bini lu karung beras apa gimana? Lu panggul macam begitu?"
Hamka menyengir. Dia benar-bemar buta cara memperlakukan wanita. "Begini bang" Sigit mencontohkan cara menggendongnya. "Sudah terlanjur Si, taruh mana nih?"
Sigit menunjuk kamar depan dapur. Saat akan membuka pintu, kepala Shanum terjedot dengan tembok. Membuatnya terbangun. "Aduuuuhhhh....." katanya. "Eh, siapa nih yang mau nyulik aku?" kata Shanum.
"Bukan nyulik, mindahin kamu tidur" Hamka menurunkan Shanum di depan kamar tamu. "Ih Abang kenapa begitu gendongnya....." Hamka menyengir.
"Maaf, mana yang sakit?" tanyanya. Shanum menunjuk bagian kepalanya yang terbentur tembok. Hamka mengusap-usap kepalanya. Membuat hati Shanum berdesir. Hamka memberanikan diri mengecup kening Shanum. Tapi, sebelum itu terjadi, Sigit menggodanya.
"Sstt, belum halal" katanya. Membuat Hamka memejamkan matanya karena kesal. "Nyamuk!"
Shanum tertawa sambil bersidekap. "Abang pulang ya?" Shanum mengangguk. "Si, gak ada kamar lagi? Boleh lah Abang mu ini nginap sini?" Sigit menggeleng. Ia menarik kerah kemeja Hamka. Shanum terbahak-bahak menyaksikan kedua lelaki itu.
__ADS_1
"Si, gua tidur sofa gak papa deh" rengek Hamka tetiba tak ingin pulang. "No! Balik bang. Siapkan berkas nikah kantor, beli tiket balik ke Aceh"
Hamka memanyunkan bibirnya. "Jahat lu sama senior. Pinjem mobil"
Sigit memberikan kunci mobilnya. Hamka pamit pulang.
.
Luna dan Bima kebagian razia di cafe dan bar x. Milik Danang. "Sanggup masuk gak?" tanya Bima. Luna tersenyum kecut. "Kenapa mesti gak sanggup? Dia nyakitin aku saja sanggup kok!" jawab Luna sewot.
Bima menggelengkan kepalanya. "Dasar kepala batu! Susulin sana ke Bali!"
"Ogah!" Luna turun dari mobil meninggalkan Bima. Bima menahan senyumnya. "Susah banget sih Lun bilang kalau kamu masih cinta sama dia"
Para kawanan polisi itu menggelar razia secara mendadak. Membuat yang disana sedikit takut. Bima memberikan surat tugasnya pada manager kafe saat itu. Ia dipersilahkan masuk oleh pelayan kafe itu.
Terkejut bukan main Bima melihat yang sedang menemuinya. "Danang!??" ucap Bima. Danang yang saat itu sedang sibuk dengan laptopnya mendongak melihat sumber suara yang memanggil namanya.
Danang mengingat betul wajah Bima. "Kamu? Kamu yang waktu itu sama Luna kan?" tanyanya. Bima mengangguk.
"Sejak kapan balik?" tanya Bima tak bersahabat.
"Oh, aku cuma pulang sebentar dan besok sudah balik lagi ke Bali. Mmm... Luna apa kabar?"
"Apa hak mu menanyakan kabarnya? Jangan terus menerus menjadi pengecut, aku kesini mau memberikan surat jalan untuk razia" Bima memberikan surat itu. Danang mengangguk dan mempersilahkan mereka untuk melakukan razia.
.
.
.
Like
Vote
Komen
Tip
__ADS_1