Cinta Karena Mandat (Revisi)

Cinta Karena Mandat (Revisi)
Bab 134


__ADS_3

Bulan Ramadhan akan tiba sebentar lagi. Tinggal menghitung hari untuk menyambut kedatangannya. Malam itu, Muti merasa hawa dingin menyerang tubuhnya. Ia yang biasanya masih bisa menggunakan AC saat setelah hujan pun, kali ini tak bisa.


Sigit sampai harus melapisi pakaiannya dan harus menyelimutinya dobel 2. "Badan kamu rada anget Yank" kata Sigit. Muti hanya mengangguk sambil memejamkan matanya.


"Besok kita periksa ke dokter ya? Besok kamu izin gak usah berangkat saja. Nanti mas antarkan ke rumah sakit" kata Sigit lagi.


Muti hanya mampu mengangguk. Di saat yang bersamaan, Sigit mendapat pesan dari rekannya bahwa malam itu harus segera merapat ke Polres untuk penggerebekan sebuah kost yang diduga untuk tempat prosti*tusi.


"Aduh.... piye iki?" Sigit berpikir. "Yank, kalau kamu malam ini tidur di rumah kakek gimana? Mas ada tugas dadakan ik"


"Terserah kamu mas. Gendong ya? Aku beneran lemes gak kuat bangun"


"Iya, ya sudah mas siapkan dulu mobilnya" Sigit segera bergegas dan mempersiapkan mobil. Om Tompel yang ia jadikan satpam rumah membantunya. "Mbak Muti kenapa Ndan?" tanya Om Tompel.


"Lagi sakit om. Biar tidur di rumah kakek dulu deh, saya ada tugas dadakan. Om jaga rumah ya. Besok biar langsung bisa ke rumah sakit sama saya. Gak tenang saya kalau dia di rumah sendirian, kalau disana kan ada Maryam yang bisa merawatnya" Om Tompel mengangguk. Sigit menggendong istrinya dan membawanya masuk dalam mobil.


Segera menuju rumah kakek. "Kenapa tadi gak Maryam saja yang mas suruh ke rumah ya yank? Haduh..... kok jadi ngeblank begini sih" kata Sigit dalam perjalanan.


"Gak papa Mas, sudah terlanjur" jawab Muti lemah. Tak lama mereka pun tiba di rumah kakek. Sigit segera membawa masuk istrinya dan menurunkannya di ranjang. Ia berpesan pada Maryam untuk menemaninya tidur.


Sigit langsung menuju polres. Waktu menunjukkan 1 dini hari. Mereka melakukan penggerebekan di salah satu kost yang memang sudah menjadi target incaran polisi. Namun, saat penggerebekan, ada yang memberontak dan melarikan diri bersembunyi di semak-semak.


Hingga Sigit dan anak buahnya harus mengejarnya. Pukul 4 dini hari, barulah penggerebekan itu selesai. Tapi, Sigit tak bisa langsung pulang, ia harus menyelesaikan berkas laporan penggerebekan itu karena laporannya akan diminta besok pagi.


Sedang di rumah, jam 5 pagi, Muti muntah-muntah. Hana sampai terbangun dan melihat keadaannya. "Masih ingin muntah mbak?" tanya Maryam. Muti menggeleng.


Hana datang membawa teh manis hangat di tangannya. "Minum dulu mbak, Mas Si belum pulang juga?" Muti menggeleng. Ali menghubungi Sigit tapi ponselnya tak aktif. "Dimana sih lu Si, bini sakit malah gak pulang" kata Ali. "Abang coba ke polres deh, Mar, nanti antarkan mbak mu berangkat kerja kalau Abang gak bisa pulang lagi. Gak biasanya penggerebekan sampai pagi lho"


Hana menyiapkan keperluan Ali untuk berangkat ke Polres. "Bang, mungkin gak ya Mbak Muti hamil? Kok tanda-tandanya seperti mengarah kesana"


Ali memakai seragamnya. "Coba kamu cek dek, bawa dia sama kamu ke rumah sakit. Biar nanti Abang suruh Sigit nyusul kalian kesana" Hana mengangguk. Ali berpamitan dengannya. Lalu berangkat menuju polres.

__ADS_1


Maryam meminta izin kepada atasannya datang terlambat. Ia mengantarkan Hana dan Muti ke rumah sakit. "Mbak, terakhir mens kapan?" tanya Hana.


"Bulan lalu sekitar tanggal 18an atau 20an gitu Han, kenapa?" jawab Muti.


"Ini sudah mens belum?" Muti menggeleng. Mereka telah sampai di RST. "Mbak, aku langsung ya? Izinnya cuma gak ikut apel pagi" pamit Maryam pada kedua kakaknya. Mereka mengangguk.


Hana langsung mendaftarkan Muti untuk ke poli obgyn. "Kok ke obgyn Han?" tanya Muti bingung. Hana tersenyum. "Semoga hajatmu danas Si terkabul di bulan ini mbak"


Muti mengangguk ragu. "Tenang saja, sudah ada yang mengatur kehidupan kita. Ayo ke depan polinya. Hari ini yang praktek dokter senior laki-laki gak papa ya?"


Muti mengangguk. "Namanya dokter Taufiqy, dia paling disegani disini. Tapi baik kok orangnya" Mereka masih mengantri 2 pasien lagi. Muti mencoba menghubungi Sigit tapi ponselnya masih tidak aktif.


Gilirannya untuk masuk. Dokter Taufiqy menyapa Hana. "Kontrol? Kok gak sama mas Al?" tanya dokter Taufiqy.


"Bukan saya dok, kakak sepupu saya"


"Oh, saya kira jenengan. Suaminya mana?"


Muti mengangguk. Ia dipersilahkan oleh perawat untuk kencing terlebih dahulu. Lalu perawat itu memasukkan stik Hcg tes ke dalam urin Muti. Menunggu sebentar dan tersenyum. Menunjukkan pada dokter Taufiqy. "Oke, sekarang kita USG dulu"


Muti naik ke bed dan dioleskan gel dingin di bagian bawah perutnya. Dokter mulai menempelkan stik USG itu di bagian perut Muti. "Lihat? Ini kantong kehamilannya. Selamat ya bu Muti, anda hamil, sekarang memasuki usia 6 minggu" kata Dokter Taufiqy dengan penuh senyum mengembang. Muti menutup mulutnya tak percaya. Ia menangis. Hana ikut menangis menyaksikannya.


"Aku hamil Han.... Alhamdulillah ya Allah.... terima kasih Engkau telah menjawab do'a kami ya Allah...." ucap Muti.


"Selamat ya mbak, aku ikut senang dengarnya" Muti mengangguk. Dokter Taufiqy meresepkan beberapa obat untuk keluhan Muti. Lalu mereka menuju apotek. Tak lama, Muti telah selesai mengambil obatnya. Ia berpamitan pada Hana.


"Mbak, yakin pulang sendiri?" Muti mengangguk mantap. "Aku mau susulin mas Si ke polres, ngasih tahu dia tentang ini".katanya senang.


"Ya sudah hati-hati ya? Bang Al aku telpon belum bisa, kemungkinan masih apel"


"Gak papa, aku sudah pesan taksi online kok. Ya sudah, aku pulang dulu ya? Assalamualaikum"

__ADS_1


"Waalaikum salam" jawab Hana. Muti begitu gembira. Ia menuju polres menggunakan taksi online. Senyam senyum membayangkan ekspresi wajah Sigit saat mengetahui dirinya hamil.


Sedangkan di Polres, semua selesai mengikuti apel pagi. Ali mendekati Sigit. "Ponselmu aktifkan Si, istrimu tadi pagi muntah-muntah"


"Ha?" Sigit mengecek ponselnya. "Oh, pantes Al, lowbat. Muti muntah-muntah?" Tanyanya lagi. Ali mengangguk.


"Tadi diantar Maryam ke RST. Sana temui" Sigit mengangguk. Ia segera ke ruangannya untuk menyerahkan laporan ke atasannya dan segera bergegas untuk menuju RST.


Tapi saat dirinya akan keluar, ia melihat sosok perempuan yang dikenal. "Niken?"


"Hai.... Git, apa kabar?" tanya Niken.


"Baik" jawab Sigit. "Bisa aku ngobrol sama kamu sebentar?" tanya Niken lagi. Sigit mengerutkan dahinya.


"Aku.... butuh teman untuk bercerita" kata Niken. "Hanya sebentar"


Sigit hendak menolaknya, tapi Muti sudah menjawabnya terlebih dahulu. "Mbak Niken sadar dengan yang mbak ucapkan?" katanya.


Sigit terkejut mendapati istrinya sudah berada disana.


.


.


.


Like


Vote


Komen

__ADS_1


Tip


__ADS_2